Tanaman Lengkeng

Tanaman Lengkeng
Tanaman Lengkeng
Lengkeng (Nephelium longata L.) diduga berasal dari Myanmar, kemudian menyebar ke Cina Selatan, Taiwan, dan Thailand Utara. Namun, jenis-jenis liar banyak ditemukan di Kalimantan Timur dengan nama buku, ihaw, medaru, kakus, atau mata kucing (Euphoria malesianus). Di Indonesia, lengkeng terdapat di sekitar Temanggung dan Magelang, dan beberapa tempat di Jawa Timur (Malang) (Sunarjono, 2007).

Buah lengkeng berbentuk bulat dengan ukuran kurang lebih sebesar kelereng. Buah ini bergerombol pada malainya. Kulit buahnya berwarna cokelat muda sampai kehitaman dengan permukaan agak berbintil-bintil. Daging buahnya berwarna putih bening dan berair. Rasanya sangat manis dengan aroma harum yang khas. Bijinya berbentuk bulat, terdiri dari dua keping, dan dilapisi kulit biji yang berwarna hitam. Daging bijinya sendiri berwarna putih, mengandung karbohidrat, sedikit minyak, dan saponin.

Syarat Tumbuh

a. Iklim

Lengkeng lebih cocok ditanam di dataran dengan ketinggian antara 200-600 m dpl yang bertipe iklim basah dengan musim kering tidak lebih dari empat bulan. Air tanah antara 50-200 cm. Curah hujan 1.500-3.000 mm per tahun dengan 9-12 bulan basah dan 2-4 bulan kering. Suhu malam yang dingin (15-20o C) selama musim kemarau mendorong tanaman berbunga (Sunarjono, 2007)

b. Media Tumbuh

Budidaya lengkeng sebaiknya dilakukan secara intensif pada tanah yang terkena sinar matahari langsung dengan membuat lubang tanam. Tanah untuk menanam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Memiliki pH 5-6,5.
  2. Subur dan gembur, banyak mengandung zat organik.
  3. Tidak mengandung hama dan penyakit yang dapat menular melalui tanah.
  4. Memiliki drainase yang baik, air tidak menggenang tetapi cukup air terutama di musim kemarau (Saputra, 2008).

Morfologi Tanaman Lengkeng

Morfologi tanaman adalah ilmu yang mengkaji berbagai organ tanaman, baik bagian-bagian, bentuk maupun fungsinya. Secara klasik, tumbuhan terdiri dari tiga organ dasar yaitu akar, batang, dan daun.

a. Daun dan batang

Lengkeng memiliki habitus yang sangat menarik, bentuk kanopi seperti payung. Berdaun rimbun, mirip daun rambutan kapulasan yaitu berukuran kecil, panjang (dengan daun meruncing), dan berwarna hijau gelap. Batangnya bercabang banyak, arah cabang mendatar dan rapat (Sunarjono, 2007).

b. Bunga

Bunga lengkeng berumah dua, tetapi ada pula yang berumah satu (hermaprodit). Tanaman jantan hanya mempunyai benang sari (staminate) saja tanpa menunjukkan adanya putik (pistil) (Sunarjono, 2007).

c. Buah

Bentuk buah umumnya bulat hingga lonjong dan berwarna hijau. Setelah matang (tua), buah berwarna kecokelatan. Bijinya satu, bulat, dan berwarna kehitaman. Biji tidak dapat disimpan lama karena cepat berkecambah setelah dilepas dari dagingnya. Daging buah terasa manis sekali dan harum (Sunarjono, 2007).

d. Akar

Tanaman lengkeng berakar tunggang dan akar samping berjumlah banyak, panjang, dan kuat (Sunarjono, 2007).

Karakteristik Fisik dan Kimia Lengkeng

Selain memiliki rasa yang lezat, lengkeng juga kaya akan nutrisi . Secara umum dalam 100 gram daging buah lengkeng mengandung nilai gizi yang cukup bagus sebagai mana yang tertera dalam tabel 1 berikut ini:

Kandungan Nutrisi Lengkeng
Kandungan Nutrisi Lengkeng 

Taksonomi Lengkeng

Secara taksonomi, tanaman lengkeng dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Lengkeng jantan, yang hanya mempunyai bunga jantan saja. Jenis lengkeng ini hanya memiliki benang sari saja. Benang sari merupakan alat kelamin jantan yang menghasilkan serbuk sari yang berfungsi sebagai inti sperma bagi berlangsungnya penyerbukan.
  2. Lengkeng betina, yang hanya mempunyai bunga betina saja. Jenis ini hanya mempunyai bakal buah yang berisi bakal biji (ovulum) yang mengandung sel telur.
  3. Lengkeng yang mempunyai dua jenis bunga, baik bunga jantan maupun betina, sehingga dapat berbunga dan berbuah. Proses penyerbukan dilakukan oleh satu pohon sehingga pohon itu mampu menghasilkan buah.
  4. Lengkeng hermaprodit, yaitu lengkeng yang mempunyai bunga yang mengandung benang sari dan putik secara bersama-sama (Saputra, 2008).

Lengkeng Varietas Unggul Nasional

Varietas unggul tanaman diperoleh melalui serangkaian penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan varietas dengan sifat-sifat yang diinginkan, seperti potensi hasil tinggi, tahan terhadap tekanan biotik dan abiotik tertentu, sesuai dengan selera konsumen, dan lain-lain.

Di Indonesia cukup banyak ditemukan varietas lengkeng yang berbeda satu dengan yang lain. Dari sekian banyak varietas lengkeng tersebut, ada yang telah ditetapkan dan dilepas sebagai varietas unggul nasional antara lain :
  1. Lengkeng Itoh, adalah lengkeng introduksi dari Thailand, merupakan lengkeng dataran tinggi, dapat berbunga di dataran rendah dengan perlakuan tertentu. Kelebihan dari lengkeng ini adalah buah berukuran sedang, daging buah tebal, biji kecil, rasa manis dan kering.
  2. Lengkeng Selarong, merupakan keturunan dari lengkeng Bandungan (dataran tinggi) yang telah beradaptasi cukup lama di daerah dataran rendah. Berkembang baik di daerah Selarong (ketinggian tempat ± 20 m dpl). Berbuah setahun sekali pada bulan Juni-Juli, berukran kecil sampai sedang dan mempunyai rasa manis.
  3. Lengkeng Diamond River, merupakan lengkeng introduksi dari Thailand. Daya adaptasi cukup luas, dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, tetapi lebih banyak berkembang di dataran rendah. Berbuah genjah, bibit dari perbanyakan vegetative dapat menghasilkan buah saat umur 1 tahun sedangkan bibit dari biji dapat berbuah saat umur 2-3 tahun. Rasa buah manis dan daging buah basah. Berbuah 2-3 kali setahun. Saat ini, daerah Demak, Semarang, dan Pontianak merupakan sentra populasi lengkeng Diamond River di Indonesia. Buah lengkeng ini banyak dijumpai mulai dari pasar tradisional sampai supermarket, dan biasa disebut dengan lengkeng “Bangkok” (Sugiyatno, 2007).
  4. Lengkeng Pringsurat, merupakan lengkeng yang pertama-tama dikembangjan di Indonesia. Lengkeng Pringsurat telah dilepas dengan nama varietas Batu pada tahun 1997. Lengkeng jenis ini banyak ditemukan di daerah Temanggung dan Ambarawa. Biji agak kecil, rasa buah manis, mudah mengelupas (nglontok), dan beraroma harum (Sugiyatno, 2007).

Daftar Pustaka

Saputra, Sumarno Dwi dan Isto Suwarno. 2008. Panduan Budidaya Lengkeng Super. Lily Publisher. Yogyakarta
Sugiyatno, A. Dan Baiq D. Mariana. 2007. Studi Keragaman Morfologi Beberapa Varietas Lengkeng di Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika. Batu 
Sunarjono, Hendro. 2007. Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Penebar Swadaya. Jakarta