Gempa Bumi

Gempa Bumi
Gempa Bumi
Gempa bumi adalah suatu gerakan tiba-tiba atau suatu rentetan gerakan tiba-tiba dari tanah yang bersifat transient (sambung menyambung) yang berasal dari suatu daerah terbatas dan menyebar dari titik tersebut ke segala arah. Gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi yang terakumulasi.

Pembangkit utama gempa bumi adalah pergerakan lempeng tektonik. Akibat pergerakan lempeng maka di sekitar perbatasan lempeng akan terakumulasi energi, jika lapisan batuan telah tidak mampu menahannya maka energi akan terlepas yang menyebabkan terjadinya deformasi pada lapisan kerak bumi yang di sebut gempa bumi tektonik.

Bentuk energi yang dilepaskan saat terjadi gempa bumi antara lain adalah energi deformasi gelombang. Energi deformasi dapat dilihat pada perubahan bentuk volume sesudah terjadinya gempa bumi, seperti misalnya tanah naik, tanah turun, pergeseran batuan, dan lain-lain. Sedangkan energi gelombang akan menggetarkan medium elastis disekitarnya dan akan mejalar ke segala arah.

Jalur Gempa Bumi

Terdapat tiga jalur utama gempa bumi yang merupakan batas pertemuan dari beberapa lempeng tektonik aktif :

1. Jalur Gempa Bumi Sirkum Pasifik

Jalur ini dimulai dari Cardilleras de Los Andes (Chili, Ecuador dan Caribia), Amerika Tengah, Mexico, California British Columbia, Alaska, Alautian Islands, Kamchatka, Jepang, Taiwan, Philipina, Indonesia, Polynesia dan berakhir di New Zealand.

2. Jalur Gempa Bumi Mediteran atau Trans Asiatic

Jalur ini dimulai dari Azores, Mediteran (Maroko, Portugal, Italia, Balkan, Rumania), Turki, Kaukakus, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Burma, Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Laut Banda) dan akhirnya bertemu dengan jalur Sirkum Pasifik di daerah Maluku.

3. Jalur Gempa Bumi Mid-atlantic 

Jalur ini mengikuti Mid Atlantic ridge yaitu Spitsbergen, Iceland dan Atlantik Selatan.Sebanyak 80% dari gempa didunia, terjadi di jalur Sirkum Pasifik yang sering disebut sebagai Ring of Fire karena juga merupakan jalur vulkanik. Sedangkan pada jalur Mediteran terdapat 15% gempa dan sisanya sebanyak 5% tersebar di Mid Atlantic serta tempat-tempat lainnya.
     

Jalur Gempa Bumi Indonesia 

Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terhadap gempa bumi karena letak  Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu  lempeng Australia,  Eurasia dan Pasifik. Lempeng Australia dan lempeng kontinen Eurasia bertemu di sepanjang barat Sumatera-Selatan Jawa-Nusa Tenggara dan berakhir di laut Banda sebagian belok ke utara di Sulawesi, kemudian dari Nusa Tenggara sebagian terus ke timur Maluku dan Papua. Hanya pulau Kalimantan yang relatif tidak ada sumber gempa kecuali sedikit bagian timur.

Tektonik Indo-Australia dan Eurasia berada di laut merupakan sumber gempa dangkal dan menyusup ke arah utara sehingga di bagian barat berturut-turut ke utara dan di sekitar Jawa–Nusa Tenggara merupakan sumber gempa menengah dan dalam.

Gempa-gempa dangkal di bagian timur Indonesia selain berasosiasi dengan pertemuan lempeng juga disebabkan oleh patahan-patahan aktif, seperti patahan Palu-Koro, patahan Gorontalo, patahan Sorong dan patahan Seram. Beberapa tempat di Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Papua rentan terhadap bencana gempa bumi baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung seperti tsunami dan longsor.

Parameter Gempa Bumi

Setiap kejadian gempa bumi akan menghasilkan informasi seismik berupa rekaman sinyal berbentuk gelombang yang setelah melalui proses manual atau non-manual akan menjadi data bacaan fase (phase reading data). Informasi seismik selanjutnya mengalami proses pengumpulan, pengolahan dan analisis sehingga menjadi parameter gempa bumi. Parameter-parameter dasar gempa bumi tersebut meliputi:

1. Origin Time (OT)

Waktu kejadian gempa bumi (Origin Time) adalah waktu terlepasnya akumulasi tegangan (stress) yang berbentuk penjalaran gelombang seismik.

2. Kedalaman Sumber Gempa (h)

Kedalaman sumber gempa adalah jarak hiposenter dihitung tegak lurus dari permukaan bumi. Kedalaman dinyatakan oleh besaran jarak dalam satuan km.

3. Jarak episenter (∆)

Jarak episenter (∆) dihitung dengan selisih S–P dalam table waktu jalar IASPEI 91 untuk kedalaman pusat gempa diasumsikan Brustle.W (1986) memperkirakan ∆ (km) ~ 8 (ts-tp) detik.

4. Magnitude Gempa

Ukuran kekuatan gempa bumi berdasarkan energi yang dilepaskan di pusat gempa bumi atau hiposenter disebut magnitude. Magnitude dinyatakan dalam skala Richter (SR) dan dilambangkan dengan M. Kekuatan gempa bumi dinyatakan dengan besaran magnitude dalam skala logaritma basis 10. Suatu harga magnitude diperoleh sebagai hasil analisis tipe gelombang seismik tertentu (berupa rekaman getaran tanah yang tercatat paling besar) dengan memperhitungkan koreksi jarak stasiun pencatat ke episenter.

Daftar Pustaka

Stevanus Yusus Daniel Manimwarba. 2011. Skripsi: Penentuan Tingkat Seismisitas dengan Perhitungan Variasi B-Value terhadap  Waktu (Temporal dan Ruang (Spatial) pada Daerah Jayapura. Universitas Cendrawasih: Jayapura