Pneumonia


Pengertian Pneumonia

Pneumonia
Ilustrasi Pneumonia
Pneumonia merupakan inflamasi akut pada parenkim paru (bronkiolus, duktus dan kantung alveolus, dan alveoli) yang mengganggu pertukaran udara (Muscari, 2005). Pneumonia adalah inflamasi atau infeksi pada parenkim paru. (Betz, 2002).

Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi, penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi.(Hidayat, A. A, 2006).

Klasifikasi Pneumonia

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi pneumonia sebagai berikut (Rasmailah, 2004):
  1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing). 
  2. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat 
  3. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.

Etiologi Pneumonia

Secara etimologi, pneumonia dijelaskan sebagai berikut (muscari, 2005):
  1. Pneumonia paling sering diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus, atau mikoplasma, atau aspirasi benda asing. 
  2. Organisme utama penyebab pneumonia bakteri pada bayi berusia kurang dari 3 bulan adalah Streptococcus pneumoniae, Streptococcus grup A, Stafilococcus, basil gram-negatif, basil enterik, dan Chlamydia.Pada anak-anak berusia antara 3 bulan dan 5 tahun, S. pneumoniae, H. influenzae (menurun sejak diberikan vaksin), dan Staphylococcus merupakan organisme umum penyebab pneumonia bakteri. 
  3. Pneumonia virus lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia bakteri.penyebab paling seriang pneumonia virus pada bayi adalah RSV.Adeno-associated virus, virus influenza dan para influenza merupakan organisme yang biasanya menyebabkan pneumonia virus pada anak-anak yang lebi besar. 
  4. Pneumonia mikoplasma mirip dengan pneumonia virus, kecuali bahwa organisme Mycoplasma lebih besar dibandingkan virus.pneumonia mikoplasma terjadi lebih sering pada anak-anak berusia lebih dari 5 tahun.

Patofisiologi Pneumonia

  1. Penumonia biasanya diawali dengan infeksi ringan pada saluran pernafasan bagian atas.seiring dengan perkembangan penyakit terjadi peradangan parenkim. 
  2. Pneumonia bakteri paling sering menyebabkan gangguan lobularis dan kadang-kadang konsolidasi; pneumonia virus biasanya menyebabkan peradangan jaringan interstisial.(Muscari, 2005)

Tanda dan gejala Pneumonia

Tanda-tanda pneumonia dibagi menjadi pneumonia bakteri, Pneumonia virus dan pneumonia mikoplasma (Muscari, 2005):

a. Tanda dan gejala pneumonia bakteri 

  1. Demam tinggi.
  2. Tanda dan gejala pernafasan, antara lain batuk(nonproduktif sampai produktif dengan sputum berwarna putih),takipnea, ronkhi, ronkhi basah, perkusi tumpul, nyeri dada, retraksi, pernafasan cuping hidung, dan pucat atau sianosis(berganung tingkat keparahan). 
  3. Iritabilitas, gelisah, dan letargi. 
  4. Mual, muntah, anoreksia, diare, dan nyeri abdominal. 
  5. Tanda-tanda meningeal (meningismus) 

b. Tanda dan gejala Pneumonia virus 

  1. Bervariasi mulai dari demam ringan, batuk ringan, dan malaise sampai demam tinggi, batuk parah, dan pingsan. 
  2. Batuk non produktif atau produktif dengan sputum berwarna putih. 
  3. Ronkhi atau Ronkhi basah yang halus. 

c. Tanda dan gelala pneumonia mikoplasma 

  1. Awitan atau insidensi tersembunyi 
  2. Demam, menggigil, malaise, sakit kepala, anoreksia, dan mialgia. 
  3. Batuk berat, rhinitis, dan sakit tenggorokan 
  4. Batuk berkembang dari non prodoktif menjadi batuk produktif denagan sputum seromukoid yang kemudian menjadi mokopurulen atau mengandung darah. 

Uji laboratorium dan diagnotik Pneumonia

Untuk melihat kondisi pneumonia dapat dilakukan uji laboaturium dan diagnotik sebagai berikut (Betz, 2002):
  1. Kajian foto toraks-diaknostik digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan status pulmoner (untuk mengkaji perubahan pada paru). 
  2. Nilai analisis gas darah-untuk mengevaluasi stasus kardio plumer sehubungan dengan oksigensi 
  3. Hitung darah lengkap dengan hitung jenis digunakan untuk menetapkan danya anemia, infeksi, proses inflamasi 
  4. Pewarnaan gram (darah) untuk seleksi awal antimikroba 
  5. Tes kulit untuk tuberkulin mengesampingkan kemungkinan TB jika anak tidak berespons terhadap pengobatan 
  6. Jumlah leukosit leokositosis pada pneumonia bakterial 
  7. Tes fungsi paru digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan beratnya penyakit, dan membantu mendiognosis keadaan 
  8. Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi 
  9. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agens penyebabnya seperti virus dan bakteri 
  10. Kultur cairan pleura spesimen cairan dari rongga pleura untuk menetapkan agens penyebab seperti bakteri dan virus 
  11. Bronkoskopi digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabangcabang utama dari pohon trakebronkil; jaringan yang diambil untuk uji diaknostik, secara terapeutik digunakan untuk menetapkan dan mengangkat benda asing 
  12. Biopsi paru selama torakotomi, laringan paru selama torakotomi, jaringan paru dieksis untuk melakukan kajian diagnstik. 

Penatalaksanaan Medis Pneumonia

Pengobatan medis mencakup memperbaiki oksigensi dengan oksigen dan terapi pernapasan. Digunakan anti biotik secara IV untuk mengobati pneoumonia bakteri berdasarkan kultur dan uji sensitivitas. Jika terjadi efusi pleura, mungkin diperlukan torasentesis atau drainase selang toraks.(Betz, 2002)

Pengobatan ditujukan kepada pemberantasan mikroorganisme penyebabnya. Walaupun adakalanya tidak diperlukan antibiotika jika penyebabnya adalah virus, namun untuk daerah yang belum memiliki fasilitas biakan mikroorganisme akan menjadi masalah tersendiri mengingat perjalanan penyakit berlangsung cepat, sedangkan di sisi lain ada kesulitan membedakan penyebab antara virus dan bakteri. Selain itu, masih dimungkinkan adanya keterlibatan infeksi sekunder oleh bakteri.

Masalah lain dalam hal perawatan penderita Pneumonia adalah terbatasnya akses pelayanan karena faktor geografis. Lokasi yang berjauhan dan belum meratanya akses tranportasi tentu menyulitkan perawatan manakala penderita pneumonia memerlukan perawatan lanjutan (rujukan) (Setiowulan, 2000).

Daftar Pustaka

  • Betz, Cecily. L, 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik edisi 3; EGC
  • Hidayat A. A. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Tehknik analisis data. Jakarta; Salemba Medika
  • Muscari, 2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik edisi 3; EGC
  • Rasmalia, 2007. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian ISPA. Jurnal Bogor, (Online), Vol 2 No. 1
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih