Pengertian, Jenis dan Tahapan Halusinasi


Pengertian Halusinasi

Halusinasi
Ilustrasi Halusinasi
Halusinasi adalah gangguan penyerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat individu sadar dengan baik. (Stuart & Sundenn, 1998).

Halusinasi, atau salah persepsi indrawi yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal yang nyata, mungkin melibatkan salah satu dari lima indra. (Townsend, 2002).

Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar, pada pasien dalam keadaan sadar.

Jenis-jenis Halusinasi

Halusinasi dibagi menjadi beberapa jenis, yitu sebagai berikut (Maramis, 2004):
  1. Halusinasi penglihatan (visual, optik) adalah perasaan melihat sesuatu objek tetapi pada kenyataannya tidak ada. 
  2. Halusinasi pendengaran (auditif, akustik) adalah perasaan mendengar suara-suara,berupa suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik. 
  3. Halusinasi penciuman (olfaktorik) adalah perasaan mencium sesuatu bau atau aroma tetapi tidak ada. 
  4. Halusinasi pengecapan (gustatorik) adalah kondisi merasakan sesuatu rasa tetapi tidak ada dalam mulutnya, seperti rasa logam. 
  5. Halusinasi peraba (taktil) adalah kondisi merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat bergerak di bawah kulitnya. 
  6. Halusinasi kinestetik adalah kondisi merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota badannya bergerak.

Proses Terjadinya Halusinasi

Pada gangguan jiwa skhizofrenia, halusinasi pendengaran merupakan hal yang paling sering terjadi, dapat berupa suara-suara bising atau kata-kata yang dapat mempengaruhi tingkah laku, sehingga dapat menimbulkan respon tertentu seperti bicara sendiri, marah, atau berespon lain yang membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Hal serupa dapat bersikap mengamati orang lain yang tidak bicara atau benda mati yang seakan-akan berbicara padanya. Halusinasi merupakan tanda khas dari gangguan skhizofrenia dan merupakan manifestasi dari metankolia involusi, psikosa, depresi, dan sindrom otak organik. (Nasution, 2003).

Tahapan Halusinasi

Halusinasi dapat dibagi menjadi beberapa tahapan (Dalami, et al, 2009), yaitu:

a. Sleep Disorder

Sleep Disorder adalah halusinasi tahap awal sesorang sebelum muncul halusinasi.
  1. Karakteristik. Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. Masalah makin terasa sulit karena berbagai stressor terakumulasi dan support system yang kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk. 
  2. Perilaku. Klien susah tidur dan berlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal, dan menganggap menghayal awal sebagai pemecah masalah.

b. Comforthing

Comforthing adalah halusinasi tahap menyenangkan: Cemas sedang.
  1. Karakteristik. Klien mengalami perasaan yang mendalam seperti cemas, kesepian, rasa bersalah, takut, dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan cemas. Klien cenderung mengenali bahwa pikiran-pikiran dan pengalaman sensori berada dalam kendali kesadaran jika cemas dapat ditangani. 
  2. Perilaku. Klien terkadang tersenyum, tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, diam dan berkonsentrasi.

c. Condemning

Condemning adalah tahap halusinasi menjadi menjijikkan: Cemas berat.
  1. Karakteristik. Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Klien mungkin merasa dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain. 
  2. Perilaku. Ditandai dengan meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas otonom seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian dengan lingkungan berkurang, dan terkadang asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realita.

d. Controling

Controling adalah tahap pengalaman halusinasi yang berkuasa: Cemas berat.
  1. Karakteristik. Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Isi halusinasi menjadi menarik. Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori halusinasi berhenti. 
  2. Perilaku. Perilaku klien taat pada perintah halusinasi, sulit berhubungan dengan orang lain, respon perhatian terhadap lingkungan berkurang, biasanya hanya beberapa detik saja, ketidakmampuan mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat.

e. Conquering

Conquering adalah tahap halusinasi panik: Umumnya menjadi melebur dalam halusinasi.
  1. Karakteristik. Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Halusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik. 
  2. Perilaku. Perilaku panik, resiko tinggi mencederai, bunuh diri atau membunuh. Tindak kekerasan agitasi, menarik atau katatonik, ketidak mampuan berespon terhadap lingkungan.

Daftar Pustaka

  • Dalami, E., Suliswati., Rochimah., Suryati, K, R. & Lestari, W. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Penerbit: Trans Media,Jakarta.
  • Maramis, W, F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya.
  • Nasution, Saidah, S. 2003. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perubahan Sensori Persepsi: Halusinasi. http://usupress.usu.ac.id.
  • Stuart & Sundeen. 1998. Buku Saku Keperwatan Jiwa, Edisi 3. EGC: Jakarta.
  • Townsend, C, Mary. 2002. Psychiatric Mental Health Nursing Consepts of Care,ed.4. Davis Company. Philadelphia.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih