Definisi dan Kandungan Berbahaya dalam Makanan Jajanan


Definisi Makanan Jajanan

Makanan Jajanan
Ilustrasi Makanan Jajanan
Makanan jajanan menurut FAO (Food and agricultural organization) adalah makanan dan minuman yang dipersiapkan dan atau dijual oleh pedagang kaki lima dijalanan dan ditempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut.

Tidak banyak yang tahu apa saja standar keamanan makanan jajanan. Inilah masalah yang menyelimuti dunia jajanan anak-anak. padahal apa yang dikonsumsi anak turut menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dimasa mendatang. Selain makanan utama yang dimakan tiga kali sehari, anak-anak sangat gemar jajan. Biasanya mereka suka dengan makanan yang dijajakan di dekat sekolah atau sekitar rumah.

Ada baiknya bila anak-anak diingkatkan bahwa tidak semua makanan jajanan itu baik bagi tubuh anak. Ada juga yang berpotensi mengancam kesehatan anak-anak karena kualitas makanan itu buruk. Buruknya kualitas jajanan itu disebabkan oleh pembuatan yang kurang higienis, standar gizi rendah dan kandungan kimia yang berbahaya bagi kesehatan anak.

Kandungan Berbahaya dalam Makanan Jajanan

Rhodamin B, methanyl yellow, formalin dan boraks merupakan zat kimia yang tidak boleh dicampur dengan makanan. Hasil observasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jawa Barat, ternyata 80% dari jajanan yang di observasi mengandung bahan-bahan yang membahayakan kesehatan seperti formalin, boraks, natrium siklamat, rodhamin dan sakarin.

Rhodamin B (pewarna merah pada tekstil) dan methanyl yellow (pewarna kuning pada tekstil) adalah zat yang berbahaya. Bahan ini bila dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan pada fungsi hati bahkan kanker hati. Penggunaan bahan pewarna makanan buatan ini dalam makanan bukan hanya tidak aman, tapi juga tidak punyai nilai gizi.

Formalin biasanya dipakai untuk mengawetkan yang mati, selain itu juga untuk desinfektan, antiseptik dan penghilang bau, bila dimakan akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir di saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Pada dosis rendah formalin dapat menyebabkan sakit perut akut disertai muntah, menimbulkan depresi susunan saraf, serta kegagalan peredaran darah, tidak bisa kencing dan muntah darah.

Boraks digunakan untuk pengawet kayu, pengontrol kecoak, dan bahan pembersih. Penggunaan boraks pada dosis rendah bisa terakumulasi di otak, hati dan lemak. Untuk pemakaian dalam jumlah banyak boraks dapat mengakibatkan demam, koma, kerusakan ginjal, pingsang dan kematian. Biasanya gejala akibat keracunan boraks muncul antara tiga sampai lima hari. Gejala awalnya berupa mual-mual, muntah, diare, kenjang, dan kemudian muncul bercak-bercak pada kulit, serta kerusakan pada ginjal.

Jajanan tidak hanya mengandung bahan berbahaya tapi juga bakteri seperti Salmonella Paratyphy. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor ditemukan Salmonella Paratyphy A di 25% - 50% sampel minuman yang dijual. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasuk terlebih dahulu. Persentase penyebab diare melalui perantara makanan adalah sebesar 70%. Sumber diare terbesar terdapat pada jajanan anak-anak sekolahan seperti bakso, gado-gado, mia ayam rames, siomay, dan soto ayam. Berdasarkan penelitian WHO tersebut, jajanan tersebut banyak mengandung patogen terbanyak yaitu E. Coli (diare) 6,3%, S. Aureus 3,72% dan diketahui juga mengandung Vibrio Cholera (Kolera).

Anak-anak yang sering mengkonsumsi jajanan yang mengandung formalin, boraks, dan rhodamin B, dan zat berbahaya lain, biasanya rentan terhadap penyakit, pertumbuhan badannya juga cenderung lambat.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih