Proses Pengolahan Air Gambut


Air gambut secara umum tidak memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI melalui PERMENKES No.416/MENKES /PER/IX/1990. Untuk proses pengolahan pada air gambut, proses yang digunakan sangat tergantung pada kondisi kualitas air bakunya, serta tingkat kualitas air olahan yang diinginkan.

Tahapan proses pengolahan yang umum digunakan terdiri dari beberapa tahapan proses yakni proses netralisasi, oksidasi untuk menghilangkan zat besi atau mangan, proses koagulasi-flokulasi, proses pengendapan, proses penyaringan atau filtrasi serta proses disinfeksi untuk membunuh kuman yang ada di dalam air.
Proses Pengolahan Air Gambut
Proses Pengolahan Air Gambut

Proses Netralisasi

Netralisasi adalah salah satu upaya agar pH air menjadi normal. Netralisasi dalam mengolah air gambut adalah mengatur pH air gambut yang bersifat asam (pH < 7) menjadi netral (pH 7-8) dengan cara pembubuhan alkali. Cara yang paling mudah dan murah adalah dengan membubuhkan CaO (kapur tohor) atau CaCO3 (batu gamping).
Tujuan proses netralisasi adalah untuk membantu efektivitas proses selanjutnya, antara lain: (Nusa Idaman Said, 2010)
  1. Pada proses Oksidasi dengan udara, pengurangan Fe dan Mn akan sangat efektif pada pH 7 – 8.
  2. Pada proses oksisdasi dengan chlorine reaksi efektif pada pH 7–8,5 (80%), sedangkan pada pH <6 dan >8,5 hanya bereaksi < 40%.
  3. Pada proses koagulasi dengan menggunakan alum akan afektif pada pH ≥ 6.
  4. Pengendapan semua logam akan terjadi pada pH ≥ 8,3; Fe pada pH 8 – 9 dan Mn pada pH 11.
Zat alkali dipakai untuk mengolah air dengan tujuan mengatur pH agar pH air menjadi netral agar proses flokulasi dan koagulasi dapat berjalan baik dan efektif. Zat-zat alkali yang sering digunakan adalah batu kapur (slake lime), soda abu, Na (HCO3). Batu kapur (slake lime) banyak digunakan karena harganya murah dan hasilnya baik. Tetapi mempunyai beberapa kekurangan yaitu kelarutan kecil dan dapat memperbesar kesadahan.

Proses Oksidasi dengan Aerasi

Proses aerasi yaitu proses malarutkan udara khususnya oksigen (O2) ke dalam air baku. Proses oksidasi ini secara luas telah digunakan untuk pengolahan air dengan kandungan zat besi (Fe) dan mangan (Mn) yang tinggi. Zat tersebut memberikan rasa pahit pada air, memberikan warna hitam pada beras yang dimasak dan memberikan noda hitam kecoklatan pada kain.

Tujuan dari dari proses aerasi adalah untuk oksidasi zat besi (Fe) dan mangan (Mn) yang terdapat dalam air baku dan selanjutnya membentuk senyawa besi dan mangan yang dapat diendapkan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gas-gas beracun yang tidak diinginkan seperti gas H2S, Methan, CO2, dan berbagai senyawa-senyawa organik yang bersifat volatil (mudah menguap) serta gas-gas beracun lainnya. Oksidasi mangan dengan oksigen dari udara tidak seefektif besi, tetapi jika kadar mangan tidak terlalu tinggi maka sebagian mangan dapat juga teroksidasi dan terendapkan.

Proses Koagulasi dan Flokulasi

Koagulasi dan flokulasi merupakan proses pengumpalan partikel-partikel halus yang tidak dapat diendapkan secara gravitasi. Sehingga agar dapat menjadi partikel yang lebih besar dan diendapkan secara gravitasi perlu dilakukan penambahan bahan koagulan  ke dalam air baku.

Proses koagulasi dibagi menjadi dua tahap, yang pertama yaitu koagulasi partikel kotoran menjadi flok-flok yang masih halus dengan cara pengadukan cepat segera setelah koagulan dibubuhkan. Tahap ini disebut proses pencampuran cepat dan proses dilakukan pada bak pencampur cepat. Tahap selanjutnya yaitu proses pertumbuhan flok agar menjadi cepat dan stabil dengan cara pengadukan lambat pada bak flokulator. Proses tersebut dinamakan flokulasi. Dengan demikian untuk proses koagulasi diperluan dua bak yaitu bak pencampur cepat dan bak pengadukan lambat.

Proses Pengendapan atau Sedimentasi

Proses sedimentasi merupakan proses pengendapan dimana masing-masing pertikel tidak mengalami perubahan bentuk ukuran maupun kerapatan selama proses pengendapan berlangsung. Partikel-partikel padat akan mengendap apabila gaya gravitasi lebih besar dari kekentalan dan gaya inersia dalam cairan. Proses sedimentasi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu:
  • Sedimentasi secara alamiah, yaitu parikel padat tersuspensi mengendap karena gaya beratnya sendiri, tanpa tambahan bahan kimia (partikel-partikel kotoran dalam air baku yang berdiameter 0.01 milimeter).
  • Sedimentasi non alamiah, yaitu partikel padat yang tersuspensi mengendap karena ada penambahan bahan lain partikel yang sangat halus dengan ukuran lebih kecil dari 0.01 milimeter sehingga partikel dapat bergabung menjadi lebih besar, berat dan stabil sehingga daya endap akibat gaya gravitasinya juga menjadi lebih besar.

Proses Filtrasi atau Penyaringan

Merupakan proses penyaringan untuk menghilangkan zat padat tersuspensi dalam air melalui media berpori. Zat padat tersuspensi dihilangkan pada waktu air melalui lapisan media filter. Pada waktu air melalui lapisan filter, zat padat terlarut bersentuhan dan melekat pada butiran gumpalan partikel atau flok yang terjadi tidak semuanya dapat mengendap.Flok-flok yang masih relatif kecil dan halus masih melayang-layang dalam air. Oleh karena itu, untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan penyaringan atau filtrasi.Filtrasi dilakukan dengan media penyaring yang terdiri dari kerikil, pasir dan arang aktif.

Daftar Pustaka

  • Jurnal Nusa Idaman Said dan Wahyu Widayat. 2010. Teknologi Pengolah Air Gambut Sederhana.
  • Kusnaedi. 2006. Mengolah Air Gambut dan Kotor untuk Air Minum. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal.17-20.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih