Bangunan Tahan Gempa


Filosofi perencanaan bangunan tahan gempa yang diadopsi hampir seluruh negara di dunia mengikuti ketentuan berikut ini (Daniel Rumbi Teruna, 2007):
  1. Pada gempa kecil bangunan tidak boleh mengalami kerusakan 
  2. Pada gempa menengah komponen struktural tidak boleh rusak, namun komponen non-struktural diijinkan mengalami kerusakan 
  3. Pada gempa kuat komponen struktural boleh mengalami kerusakan, namun bangunan tidak boleh mengalami keruntuhan. 
Dinding geser
Dinding geser 
Oleh karena itu, merujuk revisi peraturan baru bangunan tahan gempa di Indonesia, dalam perancangan suatu gedung beton setidaknya harus mengacu pada peraturan SNI 03-2847-2002, yaitu Tata cara perencanaan struktur beton untuk bangunan gedung, dan SNI 03-1726-2002, yaitu Tata cara perencanaan ketahana gempa untuk bangunan gedung, sedangkan untuk bagian-bagian yang tidak ada dalam peraturan SNI 2002, selama belum terbit peraturan baru dapat menggunakan referensi yang lain.

Struktur penahan gempa yang kita kenal adalah struktur rangka pemikul momen khusus (SRPMK) atau struktur rangka pemikul momen menengah (SRPMM) dan gabungan antara portal dengan dinding geser (sistem ganda).

Struktur portal sebagai penahan gempa tidak efisien untuk membatasi defleksi lateral akibat gaya gempa, karena dimensi portal (balok dan kolom) akan bertambah besar jika kita merencanakan gedung bertingkat banyak. Dinding geser sebagai dinding struktural sangat efektif dalam memikul gaya lateral dan membatasi defleksi lateral, karena kekuatan dinding geser dapat mengontrol simpangan horizontal yang terjadi serta dapat mengontrol stabilitas struktur secara keseluruhan. Disamping itu, dinding geser dapat mereduksi jumlah dan jarak penulangan pada kolom dan balok.

Sistem ganda merupakan konfigurasi struktur gedung dengan rangka ruang lengkap yang dilengkapi dinding struktural atau shearwall. Sistem ini dapat digunakan untuk perancangan suatu gedung tingkat tinggi pada daerah zone gempa menengah.

Kestabilan pembebanan Sistem Rangka Gedung dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Kestabilan gravitasi 

Bangunan tahan gempa ditahan oleh rangka ruang berupa balok dan kolom. Rangka ruang didisain untuk memikul beban gravitasi secara lengkap, yang berarti bahwa rangka ruang yang terdiri dari balok dan kolom tidak boleh runtuh akibat perubahan bentuk lateral inelastis oleh beban gempa rencana. Sedangkan untuk pemikul beban lateral atau geser didistribusikan pada dinding struktural (DS) beserta balok perangkainya. Walau dinding struktural direncanakan untuk memikul seluruh beban lateral, rangka ruang harus tetap diperhitungkan terhadap efek simpangan lateral dinding struktural oleh beban lateral. Mengingat struktur rangka tiap lantai menyatu dengan dinding struktural melalui lantai dan balok perangkai. Efek ini dinamakan “syarat kompaktibilitas deformasi”. (Rachmat Purwono, 2005)

Kestabilan Lateral 

Bangunan  tahan gempa menggunakan sistem struktural utama yang menahan beban lateral dapat dibagi menjadi 2 subsitem, yaitu:

a. Subsistem horisontal 

Plat lantai sebagai diafragma kaku yang menahan gaya lateral akibat beban lateral akibat angin atau gempa dan menyalurkan gaya-gaya  ini ke sistem vertikal yang kemudian meneruskannya ke dalam tanah.

b. Subsistem vertikal 

Berupa dinding geser, pengekang silang, ataupun rangka kaku. Beban lateral disalurkan ke sistem pendukung gaya lateral (dinding geser) melalui plat lantai. Secara struktural dinding geser dapat dianggap sebagai balok lentur kantilever vertikal yang terjepit bagian bawahnya pada pondasi atau basemen. Oleh karena itu, dinding geser selain menahan geser juga menahan lentur.

Panjang dinding horisontal dinding geser biasanya 3-6 meter, dengan ketebalan kurang lebih 30. Dengan ketebalan yang berbeda ini maka dinding geser ini bersifatnya kaku, sehingga deformasi atau lendutan horisontalnya kecil.

Daftar Pustaka

  • Purwono M.Sc , Prof. Ir. Rachmat. 2005. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa (edisi kedua). Surabaya : ITS Pers
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih