Antibiotika dan Antioksidan


Antibiotika

Antibiotika didefinisikan secara umum sebagai senyawa obat yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan mikroorganisme selain bakteri. Selain itu, senyawa antibiotika yang mampu membunuh bakteri disebut bakterisida dan senyawa antibiotika yang hanya mampu menghambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri disebut bakteristatis.
Senyawa streptomycin
Senyawa streptomycin

Antibiotika tersebar luas di alam bebas, tetapi hanya beberapa yang tidak toksik dipakai dalam pengobatan dan kebanyakan diperoleh dari genus Bacillus, Pinicillium, dan Trepomyces. Senyawa antimikroba didefinisikan sebagai senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba (Rante dkk., dan Bahi dan Anizar, 2013).

Penelitian terhadap senyawa antibiotika dari mikroorganisme diawali oleh penemuan senyawa penicillin (β-laktam antibiotika) oleh Alexander Fleming pada 1936, yang merupakan inhibitor pertumbuhan bakteri yang diproduksi oleh jamur Penicillin sp. Pada tahun 1942, Weksman melaporkan senyawa streptomycin yang diisolasi pertama sekali dari bakteri Streptomyces griseus yang kemudian digunakan untuk penyakit tuberkulosis (Bahi dan Anizar, 2013).

Antioksidan

Senyawa antioksidan merupakan suatu inhibitor yang digunakan untuk menghambat autooksidasi, yakni dapat menunda, memperlambat dan mencegah reaksi oksidasi radikal bebas dalam oksidasi lipid. Antioksidan bekerja dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif sehingga kerusakan sel akan dihambat (Rahayu dkk., 2009 dan Nurjanah dkk., 2011).

Struktur DPPH
Struktur DPPH


Terjadinya kerusakan sel dipicu oleh oxydative stress sebagai akibat ketidakseimbangan antara antioksidan endogen dengan ROS (Reactive Oxygen Species). Oxydative stress berhubungan dengan kanker, penuaan, atherosclerosis, dan inflamasi (Humaidah dkk., 2013).

Radikal superoksida, termasuk ROS, radikal hidroksil, hidrogen peroksida, dan lipid peroksida merupakan radikal yang diperlukan tubuh untuk proses signaling dan proses fagositosis bakteri, akan tetapi adanya ROS yang berlebihan diindikasikan merupakan penyebab utama dari proses penuaan dan banyak penyakit, seperti asma, kanker, penyakit kardiovaskular, katarak, inflamasi saluran pencernaan, liver, dan penyakit inflamasi lainnya.

Spesies radikal oksigen ini diproduksi secara normal oleh tubuh sebagai konsekuensi dari proses biokimia apabila terdapat kenaikan paparan xenobiotik baik dari makanan atau lingkungan pada tubuh. Mekanisme perusakan sel oleh radikal bebas berawal dari teroksidasinya asam lemak tak jenuh pada lapisn lipid membran sel, reaksi ini mengawali terjadinya oksidasi lipid berantai yang menyebabkan kerusakan membran sel, oksidasi lebih jauh akan terjadi pada protein yang berakibat fatal dengan rusaknya DNA (Cholisoh dan Utami, 2008).

Antioksidan terdapat dalam beberapa bentuk, diantaranya vitamin, mineral dan fitokimia. Berbagai tipe antioksidan bekerjasama melindungi sel normal dan menetralisir radikal bebas. Antioksidan dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu antioksidan sintetik dan antioksidan alami. Antioksidan sintetik diperoleh dari hasil sintesa reaksi kimia, seperti Butil Hidroksil Toluen (BHT), Butil Hidroksil Anisol (BHA), Ter-Butil Hidroksi Quinon (TBHQ), dan Santoquin. Sedangkan antioksidan alami merupakan hasil ekstrak bahan alami, seperti vitamin A, E, C, karotenoid, flavonoid, dan minyak esensial (Purba dkk., 2010 dan Nurjanah dkk., 2011).

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam penetapan aktivitas antioksidan dan antiradikal, di antaranya seperti DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dan CUPRAC (Cupric Ion Reducing Antioxidant Capacity). Metode DPPH merupakan metode yang sederhana, mudah, cepat, peka, serta hanya memerlukan sedikit sampel serta hasilnya dapat dipercaya (Cholisoh dan Utami, 2008).
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih