Pengaruh Gender terhadap Penggunaan Komputer


Pengaruh gender terhadap penggunaan komputer
Ilustrasi Pengguaan Komputer
Teori-teori yang berasal dari psikologi dan sosiologi menyatakan bahwa disparitas gender dalam kompetensi dan penggunaan teknologi informasi terjadi karena adanya pembentukan peranan berdasarkan sex (Mira, 1987).

Jika masyarakat mengasosiasikan komputer dengan karakteristik pria, maka perempuan akan menghindari teknologi informasi. Hal ini akan menyebabkan perempuan mengalami ketakunggulan di tempat kerja.

Agosto (2004) berpendapat bahwa masyarakat menciptakan asosiasi antara komputer dan maskulinisme. Walaupun teknologi informasi (komputer) telah dikenalkan sejak dini baik pada perempuan maupun pria, pria akan melanjutkan ketertarikannya pada penggunaan teknologi informasi daripada perempuan, sehingga menciptakan senjangan gender baik dalam hal pengalaman maupun pengetahuan mengenai TI.

Pernyataan-pernyataan tersebut di atas sesuai dengan teori nurture dimana adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakikatnya adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.

Penelitian awal mengenai gender (Macoby & Jacklin, 1974) menemukan adanya perbedaan gender dalam beberapa area :
  1. Pria lebih superior dalam penalaran visual spasial
  2. Pria lebih superior dalam keahlian kuantitatif dan pemecahan masalah;
  3. Perempuan lebih superior dalam komprehensif verbal, kefasihan kata, dan komunikasi;
  4. Perempuan cenderung menghindari resiko (khususnya resiko ekstrim) dalam situasi ketakpastian (gambling);
  5. Perempuan lebih mudah dibujuk untuk mengubah keputusan yang mereka buat;
  6. Perempuan cenderung kurang yakin dengan keputusan yang dibuatnya.
Seorang pria cenderung merasa memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dalam bidang matematika, komputer, ilmu pemasaran, aksi kewirausahaan dan kemampuan kognitif lainnya (Ackerman, 2001 oleh Endres dan Chowdhury, 2008).

Selain itu pria juga merasa memiliki kemampuan lebih dari wanita pada tugas yang lebih kompleks, ketidakpastian peluang dan pengambilan keputusan keuangan (Berber dan Odean, 2001 oleh Endres dan Chowdhury, 2008).

Beberapa penelitian selanjutnya mebuktikan bahwa beberapa “bukti” tersebut tak valid. Salah satunya dilakukan oleh Smith (1999) yang memberikan hasil sebagai berikut (dalam Damai Nasution, 2008) :
  1. Setting pengujian yang maskuline. Perempuan menunjukkan performa yang lebih baik pada pengujian female mengenai penalaran matematis (contoh perhitungan kalori dan vitamin pada program diet) dibandingkan pada pengujian male seperti pendakian gunung dan militer.
  2. Sifat dari masalah.
  3. Umur.
Powel dan Johnson (1995) mengobservasi perbedaan gender terhadap TI dalam bidang sistem decision-support. Penelitian mereka menghasilkan temuan bahwa perbedaan gender berasosiasi dengan :
  1. Kemampuan dan motivasi.
  2. Perilaku terhadap resiko dan kepercayadirian.
  3. Gaya keputusan.
Beberapa penelitian secara spesifik mencoba meneliti isu gender pada ketakutan dan perilaku terhadap komputer. Sebagai contoh, Qureshi dan Hoppel (1995) membuktikan bahwa variabel-variabel demografi seperti gender, status, IPK, jurusan, pengalaman komputer sebelumnya, dan antisipasi masa depan mempengaruhi bagaimana perasaan pengguna terhadap komputer.

Harrison dan Rainer (1992) meneliti perbedaan individual terhadap keahlian menggunakan komputer dan membuktikan bahwa gender, umur, pengalaman komputer sebelumnya, ketakutan terhadap komputer, dan gaya kognitif berkaitan dengan tingkat keahlian komputer. Pada survey yang dilakukan oleh Elder, Gardner dan Ruth (1987) menemukan bahwa perempuan cenderung mengalami teknostres (burnout fisik dan emosi yang disebabkan ketakmampuan beradaptasi dengan teknologi baru) dalam menggunakan komputer dibandingkan pria.

Kaplan (1994) melaporkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Logitech of Fremont di California menunjukkan bahwa pria dan perempuan memandang komputer secara berbeda. Perempuan cenderung berpikir bahwa komputer menyenangkan dibandingkan pria.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dattero dan Galup (2004) menemukan bahwa perempuan cenderung menyukai sistem yang dikembangkan dengan bahasa pemrograman COBOL dan pria lebih menyukai menggunakan sistem yang dikembangkan dengan bahasa pemrograman Java atau C++. Selain itu, ditemukan juga bahwa perempuan lebih menyukai menggunakan sistem yang sudah ada dibandingkan harus mengembangkan sistem yang baru.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih