Pengertian dan Kriteria Teks


Pengertian Teks 

Pengertian dan Kriteria Teks
Pengertian dan Kriteria Teks
Teks menurut adalah wacana (berarti lisan) yang difiksasikan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian jelas bahwa teks adalah fiksasi atau pelembagaan sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan.

Teks juga dapat diartikan sebagai seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu atau kode-kode tertentu (Alex Sobur, 2004: 53).
Salah satu definisi teks yang paling dikenal luas adalah pandangan de Beaugrande dan Dressler yang mengatakan bahwa teks adalah sebuah peristiwa komunikatif yang harus memenuhi beberapa syarat, yakni tujuh kriteria teks yang akan dikaji pada pembahasan selanjutnya.

Menurut definisi ini, tanda lalu lintas, artikel di surat kabar, argument, dan novel semuanya merupakan teks yang berhubungan dengan kaidah genre-genre atau tipe teks tertentu semua genre yang disebutkan memiliki ciri-ciri linguistik tertentu, memenuhi fungsi tertentu dan terikat pada situasi-situasi pemroduksian dan penerimaan tertentu. Oleh sebab itu, terdapat kondisi-kondisi makna yang bersifat internal teks maupun eksternal teks yang akhirnya berhadapan dengan cara mendefinisikan dan menganalisis konteks ekstralinguistik (Stefan Titscher, 2009: 34-35).

Dalam teori bahasa, apa yang dinamakan teks tidak lebih dari himpunan huruf yang membentuk kata dan kalimat, yang dirangkai dengan sistem tanda yang yang disepakati oleh masyarakat, sehingga sebuah teks ketika dibaca bisa mengungkapkan makna yang dikandungnya.

Eriyanto dalam bukunya, Analisis Wacana, menyebutkan bahwa teks hampir sama dengan wacana, bedanya kalau teks hanya bisa disampaikan dalam bentuk tulisan saja, sedangkan wacana bisa disampaikan dalam bentuk lisan maupun tertulis (Eriyanto, 2001: 3).

Kriteria Teks 

Menurut De Beaugrande dan Dressler (Stefan Titsher dkk. 2009:35), kriteria teks ada 7, yaitu:

a. Kohesi 

Berkaitan dengan komponen dan permukaan tekstual, yakni keterhubungan sintaktis teks. Rangkaian linguistik di suatu teks tidak terjadi secara kebetulan, namun memenuhi ketergantungan-ketergantungan dan kaidah-kaidah gramatikal.

Semua fungsi yang diterapkan untuk menciptakan hubungan diantara unsur-unsur permukaan dikategorikan sebagai kohesi. Beberapa cara yang digunakan untuk mencapai kohesi adalah:
  1. Perulangan atau repetisi. Dengan perulangan unsur-unsur leksikal, komponen kalimat, dan unsur linguistik yang lain, terbentuklah struktur-struktur teks.
  2. Anafora dan katafora. Anafora mengarahkan perhatian kepada apa yang dikatakan atau dibaca sebelumnya, misalnya menggunakan kata proform (kata yang secara gramatikal bisa digantikan dengan kata lain). Sedangkan katafora merujuk sesuatu yang akan terjadi kemudian melalui unsur-unsur deiktik.
  3. Elipsis. Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Tarigan, 1992: 191). Unsur-unsur struktur ini biasanya tidak bisa dipahami tanpa adanya situasi komunikatif dan pengetahuan bersama tentang dunia (praanggapan) para partisipan dalam sebuah peristiwa perbincangan. Dengan demikian, singkatan tekstual terutama tergantung pada unsur-unsur konstelasi pembicaraan (ketergantungan pada peranti retorika dalam linguistik teks tidaklah terjadi secara kebetulan, terlepas dari stylistics-nya, dari sudut pandang historis, retorika merupakan salah satu sumber paling penting bagi gramma super-sentensial).
  4. Konjungsi. Konjungsi menandakan adanya relasi atau koneksi antara peristiwa dan situasi. 

b. Koherensi (semantik tekstual)

Koherensi menyusun makna sebuah teks. Koherensi sering mengacu pada unsur-unsur teks yang tidak mesti memerlukan realisasi linguistik.

c. Intensionalitas

Berhubungan dengan sikap dan tujuan produser teks. Apa yang dia inginkan dan maksudkan dalam teks tersebut? Sejalan dengan pengertian tersebut, mengigau tidak akan dianggap sebagai teks, sebaliknya buku telepon dipandang sebagai teks.

d. Akseptabilitas

Merupakan cermin intensionalitas. Sebuah teks harus diakui oleh resipien-resipien dalam sebuah situasi tertentu. Kriteria ini tentu saja berhubungan dengan konvensionalitas dan tidak berarti bahwa resipien dapat dengan mudah menolak teks ‘secara sembarangan’. Dengan demikian, akseptabilitas berkaitan dengan tingkat kesiapan pendengar dan pembaca untuk mengharapkan sebuah teks yang berguna atau relevan. Di titik ini dapat muncul konflik-konflik komunikasi yang besar. Sebagai contoh, sebuah teks ternyata tidak bisa (tidak bisa dipahami, tidak koheren, tidak utuh, dan sebagainya), atau para pendengarnya mungkin mempertanyakan akseptabilitas teks tersebut, meski intensionalitasnya terekspresikan dengan jelas.

e. Informativitas

Mengacu pada kuantitas informasi yang baru atau yang diharapkan dalam sebuah teks. Secara bersamaan, informativitas tidak hanya berhubungan dengan kuantitas, namun juga kualitas dari hal yang ditawarkan: bagaimana materi baru itu distrukturkan dan menggunakan peranti kohesif apa.

f. Situasionalitas

Berarti bahwa konstelasi-pembicaraan dan situasi tuturan memainkan peran penting dalam pemroduksian teks (Wodak. 1989: 120). Hanya tipe teks dan gaya tuturan tertentu sajalah yang secara situasional dan kultural. Kriteria ini menggiring kearah lahirnya konsep ‘wacana’ karena wacana pada umumnya didefinisikan sebagai ‘teks dalam konteks.

g. Intertekstualitas

Intertekstualitas menyatakan bahwa suatu teks hampir selalu terkait dengan wacana sebelumnya atau wacana yang muncul secara bersamaan. Disisi lain, intertekstualitas juga menyiratkan kalau ada kriteria formal yang menghubungkan teks-teks tertentu dengan teks-teks lain dalam genre atau jenis tertentu. Dalam terminologi perencanaan teks, genre tersebut diuraikan sebagai skema atau kerangka:
  1. Ragam teks naratif (kisah, cerita, dsb) bergantung pada prinsip penataan temporal.
  2. Ragam teks argumentatif (penjelasan, artikel ilmiah, dsb) menggunakan peranti pengontrasan.
  3. Ragam teks deskriptif kebanyakan menggunakan unsur lokal (yakni unsur spasial dan temporal seperti dalam penyampaian deskripsi, gambaran dsb)
  4. Ragam teks instruktif (seperti buku paket) bersifat argumentatif dan juga enumeratif.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih