Permasalahan dan Perlindungan Daerah Pantai


Permasalahan daerah pantai

Permasalahan Daerah Pantai
Permasalahan Daerah Pantai
Aktivitas gelombang dan pasang surut air laut, menurut Triatmodjo (2012:15) dapat mengakibatkan permasalahan daerah pantai sebagai berikut:
  1. Erosi Pantai/Abrasi, dapat merusak kawasan permukiman, objek wisata bila ada dan prasarana kota yang berupa mundurnya garis pantai. Erosi pantai dapat terjadi secara alami oleh serangan gelombang atau oleh kegiatan manusia yang menebang hutan bakau, pengambilan karang, pembangunan lain di daerah pantai.
  2. Pembelokan dan pendangkalan muara sungai,  yang dapat menyebabkan tersumbatnya aliran sungai yang dapat mengakibatkan banjir di daerah hulu.
  3. Sedimentasi di daerah pantai menyebabkan  majunya pantai sehingga dapat menyebabkan masalah pada drainase yang kemungkinan dapat menyebabkan di wilayah tersebut tergenang.
  4. Pencemaran lingkungan oleh limbah dari kawasan industri ataupun permukiman yang dapat merusak ekologi pantai.
  5. Penurunan tanah dan intrusi air asin diakibatkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan sehingga menyebabkan air laut masuk ke rongga air tanah. Sehingga air di wilayah tersebut terasa asin atau payau.
Sektor pariwisata menjadi sektor yang strategis untuk menambah pendapatan daerah. Akan tetapi juga menimbulkan masalah ekologi pantai. Dengan adanya pariwisata maka banyaknya pengunjung yang datang tidak semuanya dapat terkendali untuk menjaga keindahan pantai, selain itu lingkungan sekitar yang dibangun tempat penginapan atau fasilitas lain juga dapat merusak dan mencemari wilayah pantai.

Permasalahan pantai yang lainnya adalah erosi atau abrasi pantai yang dapat menimbulkan mundurnya garis pantai. Mundurnya garis pantai dapat merugikan kehidupan masyarakat setempat, karena lahan untuk permukiman semakin menyusut. Untuk mengurangi kerusakan lingkungan maka perlu adanya upaya-upaya khusus yang perlu dilakukan untuk melindungi pantai dari abrasi.

Perlindungan Daerah Pantai

Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai dari abrasi antara lain: memperkuat pantai agar mampu menahan gelombang laut; mengubah transport sedimen sepanjang pantai; mengurangi energi gelombang  yang sampai ke pantai; mereklamasi pantai yang terkena abrasi.

Selanjutnya secara umum pelindung pantai menurut Triatmodjo (2012:105-158) dapat dibedakan menjadi 2 yaitu pelindung alami dan buatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada rincian sebagai berikut:

a. Pelindung alami

  1. Hutan bakau/mangrove. Hutan bakau/mangrove dapat berfungsi sebagai peredam gelombang laut, sehingga pantai dapat terlindung dari erosi/abrasi. Hutan magrove ini lebih bagus diterapkan pada pantai yang berlumpur. Dalam upaya ini perlu banyak menanam pohon bakau agar pantai tetap terlindungi.
  2. Bukit pasir. Bukit pasir yang terbentuk secara alami atau dapat menjadi tanggul alam dapat menahan gelombang pantai. Bukit pantai terbentuk oleh proses sedimentasi dalam waktu yang sangat lama menjadi bukit pemecah gelombang.
  3. Karang pantai. Karang pantai dapat menjadi tembok penahan gelombang pantai secara alami. Karang pantai yang bagus adalah karang pantai yang masih hidup, sehingga bila rusak terkena gelombang maka dapat tumbuh lagi pada saat gelombang sudah mereda.

b. Pelindung buatan

  1. Revetmen. dinding pantai dan dinding penahan. Revetmen, dinding pantai dan dinding penahan adalah bangunan yang berfungsi untuk menahan gelombang laut agar tidak merusak pantai. Ketiga pelindung buatan tersebut pada fungsinya sama, hanya saja berbeda pada cara dan bahan pembuatannya. Ada yang menggunakan beton, batu, besi atau kayu.
  2. Pemecah gelombang. Pemecah gelombang merupakan bangunan yang berfungsi untuk memecar gelombang laut sehingga energi yang dihantarkan oleh gelombang laut semakin kecil. Pemecah gelombang pada umumnya dibagi menjadi 2 yaitu pemecah gelombang lepas pantai dan pemecah gelombang sambung pantai.
  3. Groin dan Jetty. Groin dan Jetty merupakan bangunan tegak lurus di pantai yang berfungsi sebagai pencegah sedimentasi pantai. Bangunan ini digunakan pada pantai yang mempunyai sedimentasi tinggi yang dapat merusak ekologi pantai. Sehingga perlu adanya bangunan Groin dan Jetty untuk menahan aliran sedimentasi ke pantai.
  4. Isi pasir/Supply pasir . Isi pasir dilakukan pada pantai yang terkena abrasi atau erosi. Dengan menambah pasir di pantai tersebut, dan dilakukan pula dengan upaya pelindung lain dapat menjaga pantai dari abrasi. Abrasi pantai dapat terjadi bila mana pasir di wilayah tersebut kurang terisi sehingga mudah larut tergerus erosi pantai.

Daftar Pustaka

Triatmodjo, Bambang. 2012. Perencanaan Bangunan Pantai. Yogyakarta: Beta Offset.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih