Efikasi Diri dan Cara Menumbuhkannya


Apa itu Efikasi Diri

Self-efficacy
Iluastrasi Efikasi Diri
Efikasi diri diperkenalkan dan dikembangkan oleh Bandura. Efikasi Diri didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap kemampuan yang ada pada dirinya yang dijadikan dasar dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk mencapai hasil tertentu (Feist & Feist, 1998). Lebih jauh Ghufran & Risnawita (2012) mengatakan bahwa efikasi Diri pada diri merupakan suatu aspek pengetahuan mengenai diri yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia sehari-hari. Efikasi diri yang dimiliki individu dapat mempengaruhi sikap dan tindakannya guna mencapai tujuan yang diinginkannya, termasuk dalam memperhitungkan berbagai risiko yang akan terjadi.

Efikasi diri merupakan suatu penilaian atau persepsi subjektif individu terhadap kemampuan dirinya dalam mengorganisir dan memutuskan tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai performa yang diinginkan (Bandura, 1986). Penilaian tersebut sangat bersifat subjektif karena menekankan pada keyakinan individu sebagai hasil persepsinya tentang kemampuan yang ia miliki. Keyakinan tersebut bisa menentukan bagaimana individu berperilaku, berpikir, dan bagaimana reaksi emosionalnya pada situasi tertentu.

Pervin & John (1997) mengatakan bahwa efikasi diri merupakan suatu unsur yang bisa mengubah getaran pemikiran biasa yang sangat terbatas menjadi suatu bentuk padanan yang masuk ke dalam koridor spiritual, sehingga dapat memotivasi diri sendiri, mengenali emosi diri sendiri dan orang lain serta memiliki kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain oleh Goleman (2000) disebut sebagai kecerdasan emosional.

Konsep efikasi diri menjelaskan tentang terjadinya proses interpretasi individu terhadap situasi khusus yang pada akhirnya nanti dapat mempengaruhi perilaku individu (Ghufran & Risnawita, 2012). Hal tersebut menjelaskan bahwa efikasi diri atau efikasi diri adalah cara pandang seseorang terhadap baik atau buruk kualitas dirinya sendiri, dan efikasi diri dapat dibangun sesuai dengan karakteristik dan bersifat khusus (Ratna, 2008). Cara pandang individu dalam usaha untuk memunculkan keyakinan terhadap dirinya dapat dipengaruhi oleh kepercayaan yang ada pada diri individu tersebut. Efikasi diri menurut Baron & Byrne (1991) adalah evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensi dirinya untuk dapat melakukan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan yang dialaminya.

Bandura (1997) mengungkapkan perbedaan Efikasi diri yang dimiliki oleh setiap individu terletak pada tiga kognisi atau dimensi, yaitu:
  1. Magnitude atau tingkat kesulitan tugas, berhubungan dengan kesulitan tugas dimana individu akan memilih tugas berdasarkan pada tingkat kesulitannya. 
  2. Generality atau generalitas, berkaitan erat dengan luas bidang tingkah laku, dimana individu merasa yakin akan kemampuannya berdasarkan pengalaman sebelumnya. 
  3. Strength atau kekuatan berhubungan dengan keyakinan seseorang tentang sejauh mana ia yakin akan dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.


Bandura (1997) mengingatkan bahwa efikasi diri atau efikasi diri tidak berkaitan dengan kecakapan yang dimiliki oleh seseorang, tetapi berkaitan dengan keyakinan mengenai hal yang dapat dilakukannya dengan kecakapan yang ia miliki seberapa pun besarnya.

Cara menumbuhkan dan mengembangkan efikasi diri

Terdapat empat sumber informasi utama yang dapat dipakai sebagai alat untuk menumbuhkan dan mengembangkan efikasi diri pada diri individu, yaitu;
  1. Pengalaman keberhasilan atau mastery experience.
  2. Pengalaman orang lain atau vicarious experience.
  3. persuasi verbal atau verbal persuasion.
  4. Kondisi fisiologis atau physiological state


Ghufran & Risnawita (2012) memberikan penjelasan dari masing-masing sumber informasi utama dimaksud, antara lain;

a. Pengalaman keberhasilan (mastery experience)

Merupakan sumber informasi efektif dalam mempengaruhi efikasi diri pada diri individu, karena didasarkan pada pengalaman-pengalaman baik berupa keberhasilan dan kegagalan pribadi individu tersebut secara nyata. Efikasi diri individu dapat ditingkatkan melalui pengalaman keberhasilan, tetapi bisa menurun jika individu mempunyai pengalaman akan kegagalan. Dengan terjadinya serangkaian keberhasilan nyata, maka efikasi diri akan kuat dan berkembang karena pada umumnya pengaruh negatif dari berbagai kegagalan akan berkurang. Bahkan, kegagalan dapat diatasi dengan usaha-usaha tertentu untuk memperkuat motivasi diri,

b. Pengalaman orang lain (vicarious experience)

Keberhasilan orang lain dengan kemampuan yang setara atau sebanding dalam mengerjakan suatu tugas, dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan efikasi diri guna melaksanakan tugas yang sama. Begitu pula sebaliknya, kegagalan yang terjadi pada orang lain akan dapat menurunkan penilaian individu terhadap kemampuannya, dan individu akan mengurangi usahanya,

c. Persuasi verbal (verbal persuasion)

Individu diarahkan dengan saran, nasihat, dan bimbingan agar ia dapat meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai suatu tujuan. Bandura (1997) berpendapat, persuasi verbal tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap efikasi diri karena kurang memberikan pengalaman langsung yang dapat dirasakan atau dialami oleh individu. Pengaruh sugesti berupa nasihat akan cepat lenyap apabila seseorang dalam kondisi tertekan, mengalami kegagalan terus-menerus, dan adanya pengalaman yang tidak menyenangkan,

d. Kondisi fisiologis atau physiological state

Individu akan menjadikan informasi sebagai dasar atas kondisi fisiologis untuk menilai kemampuannya. Ketegangan fisik dalam situasi yang menekan akan dipandang individu sebagai suatu tanda ketidak mampuan karena hal itu dapat melemahkan prestasi kerja individu. Efikasi diri individu bukan sekedar prediksi tentang tindakan yang akan dilakukan oleh individu di masa yang akan datang. Keyakinan individu akan kemampuannya merupakan determinan tentang bagaimana individu bertindak, pola pemikiran, dan reaksi emosional yang dialami dalam situasi tertentu.

Pervin & John  (1997) mengemukakan bahwa efikasi diri dapat berpengaruh terhadap seleksi, usaha dan ketekunan, emosi dan coping. Pengaruh terhadap seleksi (pemilihan tindakan) dapat diartikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari individu harus dapat membuat suatu keputusan setiap saat mengenai apa yang harus dilakukan dan seberapa lama individu bisa melakukan tindakan tersebut. Keputusan yang dibuat sebagian dipengaruhi oleh efikasi diri atau efikasi diri.

Individu akan menghindari tugas atau situasi yang diyakini di luar dari kemampuan dirinya, sebaliknya individu akan mengerjakan aktivitas yang diyakininya bahwa ia mampu untuk mengatasi (Bandura, 1986). Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki kecenderungan memilih tugas yang lebih sukar dan mengandung tantangan daripada individu yang memiliki efikasi diri rendah (Pervin & John, 1997).

Efikasi diri dapat menentukan usaha dan ketekunan, terutama dalam menghadapi hambatan dan pengalaman yang kurang menyenangkan (Compeau & Higgins, 1995). Individu dengan efikasi diri yang kuat akan menjadi lebih giat, bersemangat, dan tekun dalam usaha yang dilakukannya untuk menguasai tantangan. Individu dengan efikasi diri lemah akan merasa tidak yakin dengan kemampuannya terhadap usaha yang dilakukannya, dan mudah menyerah ketika menghadapi hambatan (Bandura, 1986).

Pola pemikiran dan reaksi emosional dapat dipengaruhi oleh pola pikir dan reaksi emosional, serta penilaian individu akan kemampuannya. Individu dengan efikasi diri rendah merasa tidak yakin akan kemampuannya dalam mengatasi tuntutan lingkungan, dan akan memandang kesukaran menjadi lebih hebat daripada yang sesungguhnya. Individu dengan efikasi diri tinggi merasa memiliki kemampuannya untuk melakukan suatu usaha guna memenuhi tuntutan lingkungan, sekalipun ada hambatan (Bandura, 1986).

Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki suasana hati lebih baik yang ditunjukkan dengan rendah-nya tingkat kecemasan atau depresi ketika mengerjakan tugas daripada individu yang efikasi dirinya rendah (Pervin & John 1997).
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih