Pengertian dan Jenis-jenis Aktiva

Pengertian Aktiva 

Pengertian dan Jenis-jenis Aktiva
Aktiva
Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2004:2).

Aktiva yang dimaksud tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang. Serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets) misalnya goodwill, hak paten, hak menerbitkan dan sebagainya.

Berikut ini merupakan pengertian aktiva dari beberapa sumber:
  1. Menurut Djarwanto (2001:15), aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan, bentuk-bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas kekayaan atau jasa yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan. 
  2. Menurut Soemarso (2009:44), aktiva adalah bentuk kekayaan yang dimiliki perusahaan dan merupakan sumber daya (resources) bagi perusahaan untuk melakukan usaha. Sumber pembelanjaan menunjukkan siapa yang membelanjakan kekayaan, maka aktiva harus selalu sama dengan sumber pembelanjaannya. Pihak yang menyediakan sumber pembelanjaan mempunyai hak klaim terhadap aktiva perusahaan. 
  3. Menurut Baridwan (2004:271), aktiva atau harta adalah benda baik yang memiliki wujud maupun yang semu dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan diperoleh manfaat ekonomisnya.
  4. Menurut Sugiri (2009:137), aktiva adalah kekayaan yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan pada pihak lain, atau untuk tujuan administratif, diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Jenis-jenis Aktiva 

Aktiva dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar. Berikut penjelasan masing-masing jenis aktiva tersebut:

a. Aktiva Lancar 

Aktiva Lancar adalah kas dan aktiva lain yang secara wajar dapat direalisasi sebagai kas dan dijual serta digunakan selama satu tahun (atau dalam siklus normal perusahaan jika lebih dari satu tahun) (Wild, 2004:186). Aktiva lancar dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu (Djarwanto, 2004:25):
  1. Kas, yaitu berupa uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai operasi perusahaan. 
  2. Investasi jangka pendek (temporary investment), yaitu berupa obligasi pemerintah, obligasi perusahaan-perusahaan industri dan surat-surat hutang, dan saham perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali, dikenal dengan investasi jangka pendek. 
  3. Wesel tagih (notes receivable), yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu promes. 
  4. Pihutang dagang (account receivable), meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseroan yang timbul karena penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit. 
  5. Penghasilan yang masih akan diterima (accrual receivable), yaitu penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa-jasanya kepada pihak lain tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan tagihan. 
  6. Persediaan barang (inventories), yaitu barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca. 
  7. Biaya yang dibayar di muka, yaitu pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi biaya atau jasa dari pihak lain itu belum dinikmati oleh perusahaan pada periode yang sedang berjalan.

b. Aktiva Tidak Lancar 

Aktiva tidak lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perusahaan selama periode melebihi periode kini (Wild, 2004:257). Aktiva tidak lancar dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
  1. Investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang dapat berupa saham dan obligasi dari dan pinjaman kepada perusahaan lain; harta kekayaan yang tidak digunakan dalam operasi rutin perusahaan seperti gedung yang disewakan kepada pihak lain; dana yang diperuntukkan untuk tujuan khusus selain pembayaran utang jangka pendek dan pinjaman kepada anak perusahaan. 
  2. Aktiva Tetap. Aktiva tetap (Fixed cost) merupakan harta kekayaan yang berwujud, yang bersifat relatif permanen, digunakan dalam operasi reguler lebih dari satu tahun, dibeli dengan tujuan untuk tidak dijual kembali (Djarwanto 2004:27). Contoh aktiva tetap antara lain: Tanah (Land), Bangunan atau gedung (Building), Mesin-mesin (Machinery), Perabot dan peralatan kantor (Office furniture and fixtures), Perabot dan peralatan toko (Store furniture and fixtures), Alat pengangkutan (Delivery Equipment), dan Sumber-sumber alam (Natural resources). 
  3. Aktiva tidak berwujud. Aktiva tidak berwujud berupa hak-hak yang dimiliki perusahaan. Hak-hak ini diberikan kepada penemunya, penciptanya, atau penerimanya. Pemilikan hak ini dapat karena menemukan sendiri atau diperoleh dengan jalan membeli dari penemunya, misalnya hak cipta, leashold, franchises, hak patent, good will, trademark, biaya organisasi. 
  4. Beban biaya yang ditangguhkan. Beban biaya yang ditangguhkan adalah pengeluaran-pengeluaran atau biaya yang mempunyai manfaat jangka panjang dimana pembebanannya sebagai biaya usaha berlangsung untuk beberapa tahun atau periode misalnya biaya pemasaran, biaya penelitian.

Daftar Pustaka

  • Ikatan Akuntan Indonesia. 2004. Standart Akuntansi Keuangan 2004. Jakarta: Salemba Empat.
  • Djarwanto PS. 2001. Pokok-pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Kedelapan. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
  • Djarwanto PS. 2004. Pokok-pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
  • Soemarso, S.R. 2009. Akuntansi Suatu Pengantar Buku ke 2. Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
  • Baridwan, Zaki. 2004. Intermediate Accounting, Edisi Kedelapan. Yogyakarta: BPFE.
  • Sugiri, Slamet. 2009. Akuntansi Suatu Pengantar 2, Edisi Kelima. Yogjakarta: UPP STIM YKPN.
  • Wild, John J. 2003. Financial Statement Analysis. Jakarta: Salemba Empat.


Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih