Jenis, Sistem dan Faktor Penyebab Perubahan Kurs (Nilai Tukar)

Apa itu Kurs (Nilai Tukar) 

Kurs (Nilai Tukar)
Kurs (Nilai Tukar)
Harga satu mata uang terhadap mata uang lainnya disebut kurs atau nilai tukar (exchange rate). Kurs menggambarkan harga dari suatu mata uang terhadap mata uang negara lainnya, juga merupakan harga dari suatu aktiva atau harga aset (asset price). Kurs merupakan salah satu hal yang penting dalam perekonomian terbuka, karena memiliki pengaruh yang sangat besar bagi neraca transaksi berjalan maupun variabel-variabel makro ekonomi lainnya.

Berikut ini beberapa pengertian Kurs (Nilai Tukar) dari beberapa sumber buku:
  1. Menurut Nopirin (1996:163), Kurs adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, maka akan mendapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang tersebut. 
  2. Menurut Krugman (1999), kurs atau exchange rate adalah sebuah mata uang dari suatu negara yang diukur atau dinyatakan dalam mata uang lainnya. 
  3. Menurut Todaro (2000), kurs adalah suatu tingkat, tarif, harga dimana Bank Sentral bersedia menukar mata uang dari suatu negara dengan mata uang dari negara-negara lain.
  4. Menurut Samuelson (2001:620), kurs mata uang asing atau Valas adalah harga mata uang asing dalam satuan mata uang domestik. 

Jenis-jenis Kurs (Nilai Tukar) 

Kurs atau nilai tukar Valuta dalam berbagai transaksi atau pun jual beli terdiri dari empat jenis, yaitu (Fischer, 1992):
  1. Selling Rate (kurs jual) yakni kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk penjualan Valuta asing tertentu pada saat tertentu. 
  2. Middle Rate (kurs tengah) adalah kurs tengah antara kurs jual dan kurs beli Valuta asing terhadap mata uang nasional, yang ditetapkan oleh bank sentral pada suatu saat tertentu.
  3. Buying Rate (kurs beli) adalah kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk pembelian Valuta asing tertentu pada saat tertentu.
  4. Flat Rate (kurs flat) adalah kurs yang berlaku dalam transaksi jual beli bank notes dan traveller chaque, dimana dalam kurs tersebut sudah diperhitungkan promosi dan biaya-biaya lainnya.


Sistem Kurs (Nilai Tukar) 

Menurut Kuncoro (2001:26-31), ada beberapa sistem kurs mata uang yang berlaku di perekonomian internasional, yaitu:


a. Sistem kurs mengambang (floating exchange rate) 

Sistem kurs ini ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa upaya stabilisasi oleh otoritas moneter. Di dalam sistem kurs mengambang dikenal dua macam kurs mengambang, yaitu:
  1. Mengambang bebas (murni) dimana kurs mata uang ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar tanpa ada campur tangan pemerintah. Sistem ini sering disebut clean floating exchange rate, di dalam sistem ini cadangan devisa tidak diperlukan karena otoritas moneter tidak berupaya untuk menetapkan atau memanipulasi kurs. 
  2. Mengambang terkendali (managed or dirty floating exchange rate) dimana otoritas moneter berperan aktif dalam menstabilkan kurs pada tingkat tertentu. Oleh karena itu, cadangan devisa biasanya dibutuhkan karena otoritas moneter perlu membeli atau menjual Valas untuk mempengaruhi pergerakan kurs.

b. Sistem kurs tertambat (peged exchange rate) 

Pada sistem ini, suatu Negara mengaitkan nilai mata uangnya dengan suatu mata uang negara lain atau sekelompok mata uang, yang biasanya merupakan mata uang negara partner dagang yang utama menambatkan ke suatu mata uang berarti nilai mata uang tersebut bergerak mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya. Jadi sebenarnya mata uang yang ditambatkan tidak mengalami fluktuasi tetapi hanya berfluktuasi terhadap mata uang lain mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya.


c. Sistem kurs tertambat merangkak (crawling pegs) 

Dalam sistem ini, suatu negara melakukan sedikit perubahan dalam nilai mata uangnya secara periodic dengan tujuan untuk bergerak menuju nilai tertentu pada rentang waktu tertentu. Keuntungan utama sistem ini adalah suatu negara dapat mengatur penyesuaian kursnya dalam periode yang lebih lama dibanding sistem kurs tertambat. Oleh karena itu, sistem ini dapat menghindari kejutan-kejutan terhadap perekonomian akibat revaluasi atau devaluasi yang tiba-tiba dan tajam.

d. Sistem sekeranjang mata uang (basket of currencies) 

Banyak negara terutama negara sedang berkembang menetapkan nilai mata uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang. Keuntungan dari sistem ini adalah menawarkan stabilitas mata uang suatu negara karena pergerakan mata uang disebar dalam sekeranjang mata uang. Seleksi mata uang yang dimasukkan dalam keranjang umumnya ditentukan oleh peranannya dalam membiayai perdagangan negara tertentu. Mata uang yang berlainan diberi bobot yang berbeda tergantung peran relatifnya terhadap negara tersebut. Jadi sekeranjang mata uang bagi suatu negara dapat terdiri dari beberapa mata uang yang berbeda dengan bobot yang berbeda.

e. Sistem kurs tetap (fixed exchange rate) 

Suatu Negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas nama uangnya dan menjaga kurs ini dengan menyetujui untuk menjual atau membeli valas dalam jumlah tidak terbatas pada kurs tersebut. Kurs biasanya tetap atau diperbolehkan berfluktuasi dalam batas yang sangat sempit.

Faktor Penyebab Perubahan Kurs (Nilai Tukar) 

Naik turunnya nilai tukar mata uang atau kurs valuta asing bisa terjadi dengan berbagai cara, yakni bisa dengan cara dilakukan secara resmi oleh pemerintah suatu negara yang menganut sistem managed floating exchange rate, atau bisa juga karena tarik menariknya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan di dalam pasar (market mechanism) dan umumnya perubahan nilai tukar mata uang tersebut bisa terjadi karena empat hal, yaitu:
  1. Depresiasi (depreciation), adalah penurunan harga mata uang nasional berbagai terhadap mata uang asing lainya, yang terjadi karena tarik menariknya kekuatan-kekuatan supply dan demand di dalam pasar (market mechanism). 
  2. Appresiasi (appreciation), adalah peningkatan harga mata uang nasional terhadap berbagai mata uang asing lainnya, yang terjadi karena tarik menariknya kekuatan-kekuatan supply dan demand di dalam pasar (market mechanism). 
  3. Devaluasi (devaluation), adalah penurunan harga mata uang nasional terhadap berbagai mata uang asing lainnya yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah suatu negara. 
  4. Revaluasi (revaluation), adalah peningkatan harga mata uang nasional terhadap berbagai mata uang asing lainnya yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah suatu negara.
Menurut Hamdy hady (2010:109-116), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi nilai tukar (kurs), yaitu:


a. Supply dan demand foreign currency 

Valas (forex) sebagai benda ekonomi mempunyai permintaan dan penawaran pada bursa valas. Sumber-sumber penawaran (Supply) valas terdiri dari:
  1. Ekspor barang dan jasa yang menghasilkan Valas.
  2. Impor modal (capital import) dan transaksi Valas lainnya dari luar negeri ke dalam negeri. 
Sedangkan sumber-sumber dari permintaan (demand) Valas terdiri dari:
  1. Impor barang dan jasa yang menghasilkan valas.
  2. Ekspor modal (capital import) dan transaksi Valas lainnya dari dalam negeri ke luar negeri.

b. Posisi BOP (Balance Of Payment) 

Balance of Payment (neraca pembayaran internasional) adalah suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang semua transaksi ekonomi internasional yang meliputi perdagangan, keuangan, dan moneter antara penduduk suatu negara dan penduduk suatu luar negeri untuk suatu periode tertentu (biasanya satu tahun). Catatan transaksi ekonomi internasional yang terdiri atas ekspor dan impor barang, jasa, dan modal pada suatu periode tertentu akan menghasilkan suatu posisi saldo positif (surplus) dan negatif (defisit) atau ekuilibrium.


c. Tingkat inflasi 

Perubahan laju inflasi dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran Valuta yang kemudian mempengaruhi nilai tukar.

d. Tingkat suku bunga 

Hampir sama dengan pengaruh tingkat inflasi, maka perkembangan atau perubahan tingkat bunga pun dapat berpengaruh terhadap kurs Valas. Perubahan suku bunga relatif mempengaruhi inflasi dan sekuritas-sekuritas asing yang selanjutnya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap Valuta asing dan nilai tukar.

e. Tingkat pendapatan (Income) 

Seandainya kenaikan pendapatan masyarakat di Indonesia tinggi sedangkan kenaikan jumlah barang yang tersedia relatif kecil, tentu impor barang akan meningkat. Peningkatan impor ini akan membawa efek kepada peningkatan demand valas yang pada gilirannya akan mempengaruhi kurs valas.

f. Pengawasan pemerintah 

Faktor pengawasan pemerintah yang biasanya dijalankan dalam berbagai bentuk kebijakan moneter, fiskal, dan perdagangan luar negeri untuk tujuan tertentu mempunyai pengaruh terhadap kurs valas atau forex rate.


g. Ekspektasi dan spekulasi 

Adanya harapan bahwa tingkat inflasi akan menurun atau sebaliknya juga dapat mempengaruhi kurs valas. Adanya spekulasi atau isu defaluasi Rupiah karena defisit current account yang besar juga berpengaruh terhadap kurs valas dimana valas secara umum mengalami apresiasi. Pada dasarnya, ekspektasi dan spekulasi yang timbul dimasyarakat akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valas yang pada akhirnya akan mempengaruhi kurs valas, demikian pula halnya dengan isu atau rumor.

Daftar Pustaka

  • Krugman, Paul R. Obstfeld, Maurice. and Melitz, Marc J. 2012. International Economics: Theory and Policy. Ninth Edition. Boston: Pearson Education, Inc.
  • Krugman, Paul And Maurice Obstfeld. 1999. Ekonomi Internasional: Teori Dan Kebijakan. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.
  • Nopirin. 1996. Ekonomi Moneter: Edisi 2. Yogyakarta: BPFE-UGM.
  • Todaro. M.P.. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (H.Munandar, Trans. Edisi Ketujuh ed.). Jakarta: Erlangga.
  • Samuelson, Paul A. & Nordhaus, William D.. 1991. Ekonomi Edisi 12. Jakarta: Erlangga.
  • Dornbusch Rudiger dan Stanley Fischer. 1992. Makroekonomi. Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.
  • Kuncoro, Mudrajad. 2001. Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Pertama. Yogyakarta: UPP AMP YPKN.
  • Hamdy, Hady. 2010. Manajemen Keuangan Internasional. Jakarta: Mitra Wacana Media.


Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih