Model Pembelajaran SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual)

Pengertian Model Pembelajaran SAVI 

Model Pembelajaran SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual)
Somatic, Auditory, Visual, Intellectual
SAVI merupakan singkatan dari Somatic, Auditory, Visual dan Intellectual. SAVI adalah model pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki peserta didik. Terdapat empat unsur dalam pembelajaran SAVI yaitu Somatis (belajar dengan bergerak dan berbuat), Auditori (belajar dengan mendengar dan berbicara), Visual (belajar dengan mengamati dan menggambarkan) dan Intelektual (belajar memecahkan masalah).

Berikut ini beberapa pengertian Model Pembelajaran SAVI berdasarkan beberapa sumber buku:
  • Menurut Hermowo, SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga), Auditori (bersifat suara), Visual (bersifat gambar), dan intelektual (bersifat merenungkan), yaitu sebuah pembelajaran yang melibatkan hampir seluruh indra untuk membantu melatih pola pikir siswa dalam memecahkan masalah kritis, logis, cepat, dan tepat (Firti, 2012:17). 
  • Menurut Meier (2002:91), model pembelajaran Somatis Auditori Visual dan Intelektual (SAVI) menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dengan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar dalam pembelajaran.
  • Menurut Ngalimun (2012:166), SAVI merupakan kependekan dari Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-out), aktivitas fisik di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media, dan alat peraga; dan Intellectually yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

Teori yang mendukung model pembelajaran Somatis Auditori Visual dan Intelektual (SAVI) adalah model pembelajaran Accelerated Learning (AL), yaitu: teori otak kanan/kiri, teori otak three in one, pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestik). Model pembelajaran SAVI menganut aliran kognitif modern yang menyatakan belajar yang paling baik adalah melibatkan emosi, seluruh tubuh, dan semua indra.

Unsur-unsur Model Pembelajaran SAVI 

Unsur-unsur pembelajaran SAVI adalah belajar Somatic, belajar Auditory, belajar Visual, dan belajar Intellectual. Jika keempat unsur SAVI ada dalam setiap pembelajaran, maka siswa dapat belajar secara optimal. Menurut Meier (2002:92), penjelasan unsur-unsur model pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

a. Somatis 

Somatic berasal dari bahasa yunani yang berarti tubuh. Belajar somatis berarti belajar dengan indera peraba, kinestetis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan tubuh sewaktu belajar secara berkala. Meier juga menguatkan pendapatnya dengan menyampaikan hasil penelitian neurologis yang menemukan bahwa pikiran tersebut diseluruh tubuh. Jadi dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran somatis mereka menggunakan tubuh sepenuhnya.

b. Auditory 

Pikiran auditory lebih kuat dari apa yang kita sadari. Telinga bekerja terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditory. Dan ketika membuat suara sendiri dengan berbicara, maka beberapa area penting di otak pun menjadi aktif. Dalam merancang pelajaran yang menarik bagi saluran auditory yang kuat dalam diri pembelajar, maka dengan cara mendorong pembelajaran untuk mengungkapkan dengan suara. Pembelajaran auditory merupakan belajar paling baik jika mendengar dan mengungkapkan kata-kata.

c. Visual 

Ketajaman setiap orang itu kuat, disebabkan oleh pikiran manusia lebih merupakan prosesor citra dari prosesor kata. Citra karena konkrit mudah untuk di ingat dan kata, karena abstrak sehingga sulit untuk di simpan. Di dalam otak banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indera yang lain. Pembelajaran visual belajar paling baik jika dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar dan gambar dari segala macam hal ketika sedang belajar. Dengan membuat yang visual paling tidak sejajar dengan yang verbal sehingga dapat membantu pembelajar untuk belajar lebih cepat dan baik.

d. Intelektual 

Intelektual adalah bagian dari yang merenung, mencipta, memecahkan masalah yang membangun makna. Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru dan belajar. Pada intelektual identik dengan melibatkan pikiran untuk menciptakan pembelajarannya sendiri. Belajar bukanlah menyimpan informasi tetapi menciptakan makna., pengetahuan dan nilai yang dapat dipraktikkan oleh pikiran belajar.

Prinsip-prinsip Model Pembelajaran SAVI 

Model pembelajaran SAVI memiliki prinsip gerakan dan prinsip yang sama dengan Accelerated Learning (AL). Adapun prinsip-prinsip model pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut (Suyatno,2007:33-34):
  1. Pembelajaran melibatkan seluruh pikiran dan tubuh.
  2. Pembelajaran berarti berkreasi bukan mengkonsumsi.
  3. Kerjasama membantu proses pembelajaran
  4. Pembelajaran berlangsung pada benyak tingkatan secara simultan.
  5. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri dengan umpan balik.
  6. Emosi positif sangat membantu pembelajaran. 
  7. Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis.


Langkah-langkah Model Pembelajaran SAVI 

Menurut Meier (2002), langkah-langkah model pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

a. Tahap Persiapan (Preparation) 

Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk belajar. Tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat para pembelajar, memberi mereka peranan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar. Hal-hal yang dilakukan pada tahap persiapan adalah sebagai berikut:
  1. Melakukan apersepsi dan menjelaskan tujuan pembelajaran (auditori).
  2. Membagi kelas dalam beberapa kelompok (somatis).
  3. Membangkitkan minat, motivasi siswa dan rasa ingin tahu siswa (auditori).

b. Tahap penyampaian (Presentation) 

Tahap penyampaian mempunyai tujuan untuk membantu siswa menemukan materi belajar yang baik dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Tahap penyampaian dalam belajar bukan hanya sesuatu yang dilakukan fasilitator, melainkan sesuatu yang secara aktif melibatkan siswa untuk menciptakan pengetahuan disetiap langkahnya.

Fungsi tahap ini adalah membantu pembelajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
  1. Menyampaikan materi dengan cara memberi contoh nyata (somatis dan auditori).
  2. Dari contoh guru menjelaskan materi secara rinci (auditori).

c. Tahap Pelatihan (practice) 

Tujuan tahap penelitian membantu siswa mengintegrasikan dan memadukan pengetahuan atau keterampilan baru dengan berbagai cara yaitu mengajak siswa berpikir, berkata dan berbuat mengenai materi yang baru dengan aktivitas pelatihan pemecahan soal.

Fungsi tahap ini adalah membantu pembelajar mengintegrasi dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara.

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pelatihan adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan lembar soal untuk diselesaikan dengan berdiskusi sesuai dengan kelompoknya masing-masing (visual dan intelektual).
  2. Meminta beberapa siswa mewakili kelompok untuk menampilkan hasil pekerjaanya dan meminta yang lain menanggapi hasil pekerjaan temannya dan memberi kesempatan untuk bertanya (somatis, auditori, visual, intelektual).
  3. Menilai hasil pekerjaan siswa dan meralat jawaban apabila terdapat kesalahan terhadap hasil pekerjaannya (auditori).

d. Tahap Penampilan (Performance) 

Tujuan dalam penampilan hasil adalah membantu pelajar menerapkan dan mengembangkan pengetahuan serta kererampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga pembelajar tetap melekat dan prestasi terus meningkat.

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap penampilan adalah sebagai berikut: yaitu dengan: 
  1. Memberi suatu evaluasi yang berupa lembar soal untuk mengetahui dan mengembangkan tingkat pemahaman serta keterampilan siswa setelah proses pembelajaran (somatis dan intelektual).
  2. Menegaskan kembali materi yang telah diajarkan kemudian menyimpulkan dan memberikan PR (auditori).

Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran SAVI 

Menurut Shoimin (2014:182) kelebihan dan kekurangan pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut :

a. Kelebihan Model Pembelajaran SAVI

  1. Meningkatkan kecerdasan secara terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intelektual. 
  2. Ingatan siswa terhadap materi yang dipelajari lebih kuat, karena siswa membangun sendiri pengetahuannya. 
  3. Suasana dalam pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa merasa diperhatikan sehingga tidak bosan dalam belajar. 
  4. Memupuk kerja sama, dan diharapkan siswa yang lebih pandai dapat membantu siswa lain yang kurang pandai. 
  5. Menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan efektif. 
  6. Mampu meningkatkan kreativitas dan kemampuan psikomotor siswa. 
  7. Memaksimalkan konsentrasi siswa. 
  8. Siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat.
  9. Melatih siswa untuk terbiasa berfikir dan mengemukakan pendapat dan berani menjelaskan jawabannya. 

b. Kekurangan Model Pembelajaran SAVI

  1. Penerapan pembelajaran ini membutuhkan kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran yang menyeluruh dan harus sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga membutuhkan biaya pendidikan yang relatif besar. 
  2. Karena siswa terbiasa diberi informasi terlebih dahulu sehingga kesulitan menemukan jawaban atau-pun gagasannya sendiri.

Daftar Pustaka

  • Meier, Dave. 2002. The Accelarated Learning Hand Book. Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Penelitian. Bandung: Kaifa.
  • Suyatno. 2007. Aneka Model Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surabaya: Unesa. 
  • Ngalimun. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin: Aswaja Pressindo.
  • Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat