Tanda, Penyebab dan Terapi Penyembuhan Autisme

Tanda, Penyebab dan Terapi Penyembuhan Autisme
Autisme
Anak autisme merupakan anak yang mengalami gangguan perkembangan pervasif (Pervasive Developmental Disorders) yang ditandai adanya abnormalitas secara kualitatif dalam interaksi sosial dan pola komunikasi disertai minat dan gerakan yang terbatas, stereotipik, dan berulang.

Anak-anak autisme tidak mampu menjalin hubungan emosi dengan orang di sekitarnya. Kekurangan kemampuan bahasa dan pola berfikir seringkali membuat mereka sulit berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka pun sulit menerima suatu instruksi tertentu karena rendahnya daya tanggap serta kemampuan mengolah informasi. Selain itu ada beberapa autisme merasa sensitif terhadap bunyi atau suara yang terdengar di telinga, sentuhan, pandangan mata dan penciuman yang membuat anak tersebut suka bahkan takut secara berlebihan.

Ciri atau Tanda Autisme 

Menurut American Psychiatric Association, seorang anak dianggap autisme apabila memiliki tanda-tanda sebagai berikut (Danuatmaja, 2003):

a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik

  1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang memadai, seperti kontak mata, ekspresi muka kurang hidup, dan gerak-geriknya kurang tertuju. 
  2. Tidak dapat bermain dengan teman sebaya. 
  3. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. 
  4. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang labil. 

b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi

  1. Bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang (tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain selain bicara). 
  2. Jika bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
  3. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang. 
  4. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.

c. Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan

  1. Mempertahankan suatu permintaan atau lebih, dengan cara yang khas dan berlebihan. 
  2. Terpaku pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya. 
  3. Ada gerakan -gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang. 
  4. Seringkali sangat terpukau pada benda.

Sedangkan menurut Muhammad (2008:105-108), anak autisme memiliki tanda atau ciri-ciri sebagai berikut:

a. Komunikasi

  1. Perkembangan bahasa yang lambat. 
  2. Terlihat seperti mempunyai masalah pendengaran dan tidak memerhatikan apa yang dikatakan oleh orang lain.
  3. Jarang berbicara.
  4. Sulit untuk diajak berbicara.
  5. Kadang bisa mengatakan sesuatu namun hanya sebentar saja. 
  6. Pernyataan yang disampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan. 
  7. Mengeluarkan bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang lain. 
  8. Meniru perkataan atau pembicaraan orang lain (echolalia). 
  9. Dapat meniru kalimat atau nyanyian tanpa mengerti maksudnya. 
  10. Suka menarik tangan orang lain bila meminta sesuatu.

b. Interaksi Sosial

  1. Suka menyendiri. 
  2. Sering menghindari kontak mata dan selalu menghindar dari pandangan muka orang lain. 
  3. Tidak suka bermain dengan temannya dan sering menolak ajakan mereka. 
  4. Suka memisahkan diri dan duduk memojok.

c. Gangguan Indra

  1. Sensitif pada sentuhan.
  2. Tidak suka dipegang atau dipeluk. 
  3. Sensitif dengan bunyi yang keras. 
  4. Suka mencium dan menjilat mainan atau benda-bena lain. 
  5. Kurang sensitif pada rasa sakit dan kurang memiliki rasa takut.

d. Pola Bermain

  1. Tidak suka bermain selayaknya anak-anak seusianya. 
  2. Tidak suka bermain dengan rekan seusianya. 
  3. Tidak bermain mengikuti pola biasa dan suka memutar-mutar atau melempar dan menangkap kembali mainan atau apa saja yang dipegangnya.
  4. Menyukai objek-objek yang berputar, seperti kipas angin. 
  5. Apabila ia menyukai suatu benda, ia akan terus memegangnya dan dibawa-bawa ke mana saja.

e. Tingkah Laku

  1. Bersifat hiperaktif sampai hipoaktif. 
  2. Melakukan perbuatan atau gerakan yang sama berulang-ulang, seperti bergoyang-goyang, mengepak-ngepakkan tangan dan menepuk tangan, berputar-putar, mendekatkan mata ke televisi, berlari, dan berjalan mondar-mandir. 
  3. Tidak menyukai perubahan. 
  4. Dapat duduk diam tanpa berbuat apa pun dan tanpa reaksi apa pun.

f. Emosi

  1. Sering marah, tertawa, dan menangis tanpa sebab. 
  2. Mengamuk tanpa terkontrol jika tidak dituruti kemauannya atau dilarang melakukan sesuatu yang diingininya. 
  3. Merusak apa saja yang ada di sekitarnya jika emosinya terganggu. 
  4. Menyerang siapa saja yang mendekatinya jika emosinya terganggu. 
  5. Terkadang suka melukai diri sendiri. 
  6. Tidak memiliki rasa simpati dan tidak memahami perasaan orang lain.

Faktor Penyebab Autisme 

Pada sebuah penelitian, dirumuskan enam faktor-faktor penyebab autisme pada anak, yaitu sebagai berikut (Prasetyono, 2008:70):
  1. Konsumsi Obat. Pada Ibu Menyusui Beberapa jenis obat yang perlu dihindari seperti: obat anti alergi atau antihistamin, obat migrain, obat tidur dan obat penenang, obat antimuntah, hormon, antibiotik, dan beberapa jenis vitamin dalam dosis terlalu tinggi.
  2. Gangguan Susunan Saraf Pusat. Di dalam otak anak Autisme ditemukan adanya kelainan pada susunan saraf pusat di beberapa tempat seperti: pengurangan jumlah sel purkinje di dalam otak dan kelainan struktur pada pusat emosi dalam otak. 
  3. Gangguan Metabolisme (Sistem Pencernaan). Ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan gejala autisme. Suntikan sekretin dapat membantu mengurangi gangguan pencernaan. 
  4. Peradangan Dinding Usus. Sejumlah anak penderita gangguan autisme, umumnya, memiliki pencernaan buruk dan ditemukan adanya peradangan usus yang diduga oleh virus. 
  5. Faktor Genetika. Gejala autisme pada anak disebabkan oleh faktor turunan. Setidaknya, telah ditemukan dua puluh gen yang terkait dengan autisme. Akan tetapi, gejala autisme baru bisa muncul jika terjadi kombinasi banyak gen. 
  6. Keracunan Logam Berat. Kandungan logam berat ini diduga sebagai penyebab kerusakan otak pada anak autisme. Beberapa logam berat, seperti arsenik (As), antimon (Sb), kadmium (Cd), air raksa (Hg), dan timbal (Pb), adalah racun otak yang sangat kuat.

Terapi Penyembuhan Autisme 

Autisme dapat disembuhkan dengan cara terapi. Terdapat beberapa jenis terapi yang dapat digunakan sesuai dengan jenis perilaku autisme pada anak, antara lain sebagai berikut (Handojo, 2003:42):
  1. Terapi Medikamentosa adalah terapi dengan obat-obatan bertujuan memperbaiki komunikasi, memperbaiki respon terhadap lingkungan, dan menghilangkan perilaku aneh serta diulang-ulang. 
  2. Terapi biomedis adalah terapi bertujuan memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan pemberian suplemen.
  3. Terapi Wicara adalah terapi untuk membantu anak autisme melancarkan otot-otot mulut sehingga membantu anak autisme berbicara lebih baik. 
  4. Terapi Perilaku adalah metode untuk membentuk perilaku positif pada anak autis, terapi ini lebih dikenal dengan nama ABA atau metode Lovass. 
  5. Terapi Okupasi adalah terapi untuk melatih motorik halus anak autisme. Terapi okupasi untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya. 
  6. Terapi Bermain adalah proses terapi psikologik pada anak, dimana alat permainan menjadi sarana utama untuk mencapai tujuan. 
  7. Terapi Sensory Integration adalah pengorganisasian informasi melalui sensor-sensor (sentuhan, gerakan, keseimbangan, penciuman, pengecapan, penglihatan dan pendengaran) yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang bermakna.
  8. Terapi Auditory Integration adalah terapi untuk anak autisme agar pendengarannya lebih sempurna.

Daftar Pustaka

  • Danuatmaja, Bonny. 2003. Terapi Anak Autis Di Rumah. Jakarta: PuspaSwara.
  • Muhammad, J. 2008. Special Education For Special Children. Jakarta: MIzan.
  • Prasetyono. 2008. Serba-Serbi Anak Autis. Jogjakarta: DIVA press.
  • Handojo, Y. 2003. Autisma: petunjuk praktis dan pedoman materi untuk mengajaranak normal, autis dan perilaku lain. Jakarta: Buana ilmu populer.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat