Model pembelajaran pengajuan masalah (problem posing)

Pengertian Problem Posing 

Model pembelajaran pengajuan masalah (problem posing)
Problem Posing
Model pembelajaran pengajuan masalah (problem posing) merupakan metode pembelajaran dengan tujuan mengaktifkan siswa agar berpikir kritis dengan cara memancing siswa untuk menemukan masalah berdasarkan topik yang diberikan sehingga menantang dan memotivasi siswa untuk menyelesaikannya. Model pembelajaran problem posing pertama kali dikembangkan oleh ahli pendidikan Brasil, yaitu Paulo Freire pada tahun 1970 yang dituangkan dalam buku Pedagogy of the Oppressed. Sebagai strategi pembelajaran, problem posing melibatkan tiga keterampilan dasar yaitu, menyimak (listening), berdialog (dialogue), dan tindakan (action).

Berikut ini beberapa definisi atau pengertian dari model pembelajaran problem posing dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Shoimin (2014:133), Problem Posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana. Selain peserta didik menyusun pertanyaan, peserta didik juga harus mampu menyelesaikan pertanyaan yang telah dibuat dengan jawaban yang divergen. 
  • Menurut Suryosubroto (2009:203), problem posing merupakan pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan, pertanyaan tersebut kemudian dicari jawabannya baik secara individu maupun kelompok. 
  • Menurut Suyatno (2009:61), problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang artinya merumuskan masalah atau membuat masalah, Problem posing adalah pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami. 
  • Menurut Thobroni & Mustofa (2012:350), problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana sehingga mengacu pada penyelesaian soal. 
  • Menurut Huda (2012:276), pembelajaran problem posing adalah pembelajaran yang menekankan pada siswa untuk membentuk/mengajukan soal berdasarkan informasi atau situasi yang diberikan. Informasi yang ada diolah dalam pikiran dan setelah dipahami maka peserta didik akan bisa mengajukan pertanyaan. Dengan adanya tugas pengajuan soal (problem posing) akan menyebabkan terbentuknya pemahaman konsep yang lebih mantap pada diri siswa terhadap materi yang telah diberikan.
Model pembelajaran Problem Posing memiliki beberapa pengertian yaitu (Upu, 2003:17):
  1. Perumusan ulang masalah yang telah diberikan dengan beberapa cara dalam rangka menyelesaikan masalah yang rumit. 
  2. Perumusan masalah yang berkaitan dengan syarat-syarat pada masalah yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif penyelesaian masalah yang relevan. 
  3. Merumuskan atau mengajukan masalah dari situasi yang diberikan, baik sebelum, pada saat atau setelah penyelesaian.

Jenis-jenis Problem Posing 

Berdasarkan situasi/informasi, pembelajaran problem posing diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu (Zulkifli, 2003:22):
  1. Problem posing bebas. Pada situasi problem posing bebas, siswa tidak diberikan informasi yang harus dipatuhi, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk membentuk masalah sesuai dengan apa yang dikehendaki. Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan dalam pembentukan masalah. 
  2. Problem posing semiterstruktur. Pada situasi problem posing semiterstruktur, siswa diberi situasi atau informasi yang terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mencari atau menyelidiki situasi atau informasi tersebut dengan cara menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, siswa harus mengaitkan informasi itu dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang diketahuinya untuk membuat masalah. 
  3. Problem posing terstruktur. Pada situasi problem posing terstruktur, informasi atau situasinya berupa masalah atau selesaian dari suatu masalah.
Menurut Silver, terdapat tiga jenis kegiatan problem posing yang diaplikasikan dalam tiga bentuk kegiatan kognitif yang berbeda yaitu (Thobroni & Mustofa, 2012:343):
  1. Pengajuan pre-solusi (pre sulution posing), yaitu sebelum penyelesaian masalah, dimana beberapa masalah dihasilkan secara teliti dari stimulus yang disajikan seperti sebuah gambar, kisah, atau cerita, diagram, paparan dan lain-lain.
  2. Pengajuan di dalam solusi (within solution posing), yaitu selama penyelesaian masalah ketika siswa secara sengaja mengubah suatu hasil dan kondisi dari permasalahan.
  3. Pengajuan setelah solusi (post solution posing), yaitu setelah penyelesaian masalah, ketika pengalaman dari konteks penyelesaian masalah diterapkan pada situasi yang baru.

Langkah-langkah Pembelajaran Problem Posing 

Pembelajaran pengajuan masalah (problem posing) dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Suryosubroto, 2009:212):

a. Tahap Awal (perencanaan)

Pada tahap awal atau perencanaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Penyusunan rancangan kegiatan dan bahan pembelajaran.
  2. Guru mengorganisasi bahan pembelajaran dan mempersiapkannya.
  3. Guru menyusun rencana pembelajaran.

b. Tahap Inti (tindakan) 

Pada tahap inti atau tindakan, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Guru menjelaskan tentang pembelajaran yang akan diharapkan kepada siswa dengan harapan mereka dapat memahami tujuan serta dapat mengikuti dengan baik proses pembelajaran baik dari segi frekuensi maupun intensitas. Penjelasan meliputi bahan yang akan diberikan kegiatan sampai dengan prosedur penilaian yang mengacu pada ketercapaian prestasi belajar baik dari ranah kognitif maupun afektif. 
  2. Guru melakukan tes awal yang hasilnya akan menjadi dasar pengajar dalam membagi peserta didik ke dalam sejumlah kelompok. Apabila jumlah siswa dalam satu kelas adalah 30 orang. Agar kegiatan dalam kelompok berjalan dengan proporsional maka setiap kelompok terdiri atas 5 orang sehingga ada 6 kelompok. Fungsi pembagian kelompok supaya setiap kelompok terdiri atas siswa yang memiliki kecerdasan yang heterogen. 
  3. Pengajar kemudian menugaskan setiap kelompok belajar untuk meresume beberapa buku yang berbeda dengan sengaja dibedakan antarkelompok. 
  4. Masing-masing siswa dalam kelompok membentuk pertanyaan berdasarkan hasil resume yang telah dibuatnya dalam lembar problem posing I yang telah disiapkan. 
  5. Kesemua tugas membentuk pertanyaan dikumpulkan kemudian dilimpahkan pada kelompok yang lainnya. Misalnya tugas membentuk pertanyaan kelompok 1 diserahkan kepada kelompok 2 untuk dijawab dan dikritisi, tugas kelompok 2 diserahkan kepada kelompok 3, dan seterusnya hingga kelompok 6 kepada kelompok 1. 
  6. Setiap siswa dalam kelompoknya melakukan diskusi internal untuk menjawab pertanyaan yang mereka terima dari kelompok lain disertai dengan tugas resume yang telah dibuat kelompok lain tersebut. Setiap jawaban atas pertanyaan ditulis pada lembar problem posing II. 
  7. Pertanyaan yang telah ditulis pada lembar problem posing I dikembalikan pada kelompok asal untuk kemudian diserahkan pada guru dan jawaban yang terdapat pada lembar problem posing II diserahkan kepada guru. 
  8. Setiap kelompok mempresentasikan hasil rangkuman dan pertanyaan yang telah dibuatnya pada kelompok lain. Diharapkan adanya diskusi menarik di antara kelompok-kelompok baik secara eksternal maupun internal menyangkut pertanyaan yang telah dibuatnya dan jawaban yang paling tepat untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan bersangkutan.

c. Tahap Akhir/Penutup (observasi) 

Kegiatan observasi sebetulnya dilakukan bersamaan dan setelah rangkaian tindakan yang diharapkan pada siswa. Observasi yang dilakukan bersamaan dengan tindakan adalah pengalaman terhadap aktivitas dan produk dalam kelompoknya masing-masing dan terhadap kelompok lainnya. Produk yang dimaksudkan disini adalah sejauh mana kemampuannya dalam membentuk pertanyaan. Apakah pertanyaan ataupun aktivitas lebih mengarah pada aspek afektif.


Kelebihan dan Kekurangan Problem Posing 

Strategi pembelajaran problem posing mempunyai beberapa kelebihan antara lain sebagai berikut:
  1. Siswa dapat berrpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Mendidik siswa berpikir sistematis.
  3. Mendidik siswa agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan. 
  4. Siswa mampu mencari berbagai jalan dari kesulitan yang dihadapi. 
  5. Mendatangkan kepuasan tersendiri bagi siswa jika soal yang dibuat tidak mampu diselesaikan oleh kelompok lain. 
  6. Siswa akan terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
  7. Siswa berkesempatan menunjukkan kemampuannya pada kelompok lain. 
  8. Siswa mencari dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori, atau kesimpulan.
Strategi pembelajaran problem posing juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain sebagai berikut:
  1. Pembelajaran problem posing membutuhkan waktu yang lama.
  2. Membutuhkan buku penunjang yang berkualitas untuk dijadikan referensi pembelajaran terutama dalam pembuatan soal.
  3. Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan problem posing suasana kelas cenderung agak gaduh karena siswa diberi kebebasan oleh guru pengajar.

Daftar Pustaka

  • Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
  • Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rhineka Cipta.
  • Suyatno.2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pusaka.
  • Thobroni, Muhammad dan Mustofa, Arif. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
  • Upu, Hamzah. 2003. Probem Posing Dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. Bandung: Pustaka Ramadhan.
  • Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Zulkifli. 2003. Tesis: Penerapan Pendekatan Problem Posing dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Teorema Phytagoras di Kelas II SLTP Negeri 22 Surabaya. Surabaya: Unesa.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat