Pengertian, Kriteria, Tanda dan Pencegahan Anemia

Apa itu Anemia? 

Pengertian, Kriteria, Tanda dan Pencegahan Anemia
Ilustrasi Anemia
Anemia atau bahasa yunani berarti tanpa darah, adalah penyakit tanpa darah yang ditandai dengan kadar Hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen caring capacity). Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, kemudian hematokrit.

Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa eritrosit adalah kadar hemoglobin, disusul oleh hematokrit dan hitung eritrosit. Pada umumnya ketiga parameter tersebut saling bersesuaian. Umumnya kadar Hb pada wanita adalah 12 g/dL dan pada pria adalah 14 g/dL. Mekanisme yang menyebabkan terjadinya anemia yaitu kekurangan pembentukan sel darah merah, destruksi sel darah merah yang lebih cepat dan kehilangan darah (perdarahan).

Berikut ini beberapa pengertian anemia dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Tarwoto (2007), anemia adalah kondisi berkurangnya sel darah merah (eritosit dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin, sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan. 
  • Menurut Bakta (2006), anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer oleh penurunan kadar hemoglobin. 
  • Menurut Arisman (2007), anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit, dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal. Anemia terjadi sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. 
  • Menurut Budiyanto (2002), anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah (eritrosit) seseorang. Anemia dapat terjadi karena kurangnya hemoglobin yang berarti juga minimnya oksigen ke seluruh tubuh.

Kadar Hemoglobin dan Kriteria Anemia 

Kadar hemoglobin berdasarkan jenis kelamin dan rentang usia menurut WHO (1968) adalah sebagai berikut:
  • Laki-laki : hemoglobin < 13 g/dL 
  • Wanita dewasa tidak hamil : hemoglobin < 12 g/dL 
  • Wanita hamil : hemoglobin < 11 g/dL 
  • Anak umur 6-14 tahun : hemoglobin < 12 g/dL 
  • Anak umur 6 bulan - 6 tahun : hemoglobin < 11 g/dL
Kriteria anemia berdasarkan kadar hemoglobin menurut WHO adalah sebagai berikut:
  • Ringan sekali : Hb 10 g/dL sd Batas Normal 
  • Ringan : Hb 8 g/dL sd 9.9 g/dL 
  • Sedang : Hb 6 g/dL sd 7.9 g/dL 
  • Berat : Hb < 6 g/dL 
Departemen Kesehatan menetapkan kriteria anemia sebagai berikut :
  • Ringan sekali : Hb 11 g/dL sd Batas Normal 
  • Ringan : Hb 8 g/dL sd < 11 g/dL 
  • Sedang : Hb 5 g/dL sd < 8 g/dL 
  • Berat : Hb < 5 g/dL

Tanda-tanda Anemia 

Gejala anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau Anemic syndrome. Gejala umum anemia atau sindrom anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis Anemia pada kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa di bawah titik tertentu. Gejala ini timbul karena anoksia organ target dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan hemoglobin.

Terdapat tiga tanda-tanda Anemia secara umum, yaitu (Kurniawan dkk, 1998):
  1. Lesu, Lemah, Letih, Lelah, Lalai (5L).
  2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang.
  3. Gejala lebih lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit, dan telapak tangan menjadi pucat.
Sementara gejala khas yang menjadi ciri dari masing-masing jenis anemia adalah sebagai berikut (Handayani dan Haribowo, 2008):
  1. Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis. 
  2. Anemia defisisensi asam folat: lidah merah (buffy tongue).
  3. Anemia hemolitik: ikterus dan hepatosplenomegali. 
  4. Anemia aplastik: perdarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi.

Pencegahan anemia 

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah anemia, antara lain sebagai berikut (Tarwoto dkk, 2010):
  1. Makan makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani (daging, ikan, ayam, hati, dan telur); dan dari bahan nabati (sayuran yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan, dan tempe). 
  2. Banyak makan makanan sumber vitamin C yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya: jambu, jeruk, tomat, dan nanas.
  3. Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami haid. 
  4. Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasikan ke dokter untuk dicari penyebabnya dan diberikan pengobatan.

Daftar Pustaka

  • Tarwoto. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil, Konsep dan Penatalaksanakannya. Jakarta: Trans Info Media.
  • Bakta, I. M. 2006. Anemia Defisiensi besi dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit. Jakarta: FKUI.
  • Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Buku Kedokteran.
  • Budiyanto. 2002. Hubungan Antara Faktor Penerimaan Pelayanan Tablet Tambah Darah dan Faktor internal Ibu Hamil dengan Konsumsi tablet Tambah Darah di Kota Pekalongan. Semarang: Tesis Universitas Diponegoro.
  • Kurniawan, Ani. 2002. Gizi Seimbang Untuk Mencegah Hipertensi. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat.
  • Handayani W dan Haribowo A.S. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba medika.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat