Kesulitan Belajar

Pengertian Kesulitan Belajar

Kesulitan Belajar
Ilustrasi Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, keadaan tersebut dipengaruhi oleh cepat lambatnya daya tangkap seseorang terhadap suatu pelajaran dan cepat daya tangkap dipengaruhi oleh konsentrasi. Ada banyak hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan belajar yang sering kita jumpai dalam aktivitas sehari-hari yang disebut kesulitan belajar.

Kesulitan belajar adalah suatu ketidakmampuan nyata pada orang-orang yang mempunyai intelegensi rata-rata hingga superior tetap belajarnya kurang baik, kurang memuaskan (Abdurrahman, 1999).

Kesulitan belajar (learning difficulty) tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu, kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.

Faktor-Faktor Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering bolos dari sekolah.

Ahmadi (1991) mengemukakan fakto-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam 2 golongan yaitu:

a. Faktor internal 

Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi :
  1. Faktor fisologi (yang bersifat jasmani) seperti sakit atau tidak fit.
  2. Faktor psikiologis (yang bersifat rohani) seperti tingkat kecerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.

b. Faktor eksternal 

Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa yang meliputi :
  1. Faktor non sosial seperti keluarga, keadaan ekonomi, alat pelajaran, kondisi gedung, kurikulum, waktu sekolah dan disiplin kerja, orang tua.
  2. Faktor sosial seperti media massa, teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.

Diagnosis Kesulitan Belajar

Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan jenis penyakit yakni jenis kesulitan belajar siswa.

Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai diagnosis kesulitan belajar.

Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:
  1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
  2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar
  3. Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
  4. Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakiki kesulitan belajar yang dialami siswa.
  5. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

Pemecahan Masalah Kesulitan Belajar

Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut:
  1. Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
  2. Memerlukan dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
  3. Menyusun program perbaikan khususnya remedial teaching (pengajaran perbaikan)
  4. Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.

Daftar Pustaka

  • Abdurrahman, M., 1990, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.
  • Ahmadi, Rohani, 1991, Pengolahan Pengajaran. Cetakan Ketiga, Jakarta : Rineka Cipta.
  • Wardani, dkk, 2002, Penelitian Tindakan Kelas, Indonesia: Universitas Terbuka