Penyakit Kusta


Definisi Penyakit Kusta

Kuman Kusta
Kuman Kusta
Istilah kusta berasal dari bahasa sangsekerta, yakni kushtha yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874, sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen (zulkifli, 2003).

Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium lepra (M. leprae) yang pertama kali menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran napas bagian atas, sistim retikuloendotelia, mata, otot, tulang dan testis (Amirudin dalam Harahap, 2000).

Mycobacterium leprae merupakan salah satu kuman yang berbentuk basil dengan ukuran 3-8 Um x 0,5 Um, tahan asam dan alkohol. Penelitian dengan mikroskop elektron tampak bahwa M. leprae mempunyai dinding yang terdiri atas 2 lapisan, yakni lapisan padat terdapat pada bagian dalam yang terdiri atas peptidoglikan dan lapisan transparan pada bagian luar yang terdiri atas lipopolisakarida dan kompleks protein-lipopolisakarida.

Dinding polisakarida ini adalah suatu arabinogalaktan yang diesterifikasi oleh asam mikolik dengan ketebalan 20nm. Tampaknya peptidoglikan ini mempunyai sifat spesifik pada M.leprae, yaitu adanya asam amino glisin, sedangkan pada bakteri lain mengandung alanin. M. leprae ini merupakan basil gram positif karena sitoplasma basil ini mempunyai struktur yang sama dengan basil gram positif yang lain yaitu mengandung DNA dan RNA.

Cara Penularan Penyakit Kusta

Cara penularan penyakit kusta yang pasti belum diketahui, tetapi menurut sebagian ahli melalui saluran napas (inhalasi) dan kulit (kontak langsung yang lama dan erat).

Kuman mencapai permukaan kuit melalui folikel rambut, kelenjar keringat dan diduga juga melalui air susu ibu. Tempat implantasi tidak selalu menjadi lesi pertama. Timbulnya penyakit kusta pada seseorang tidak mudah sehingga tidak perlu ditakuti. Hal ini bergantung pada beberapa faktor antara lain sumber penularan, kuman kusta, daya tahan tubuh, sosial ekonomi dan iklim.

Sumber penularan adalah kuman kusta utuh (solid) yang berasal dari pasien kusta tipe MB (Multi Basiler) yang belum diobati atau tidak teratur berobat. Insiden tinggi pada daerah tropis dan sub tropis yang panas dan lembab. Kusta dapat menyerang pada semua umur, anak-anak lebih rentan dari pada orang dewasa. Frekuensi tertinggi pada orang dewasa ialah umur 25- 35 tahun, sedangkan pada kelompok anak umur 10-12 tahun (Mansjoer, et.al.,2000).

Klasifikasi penyakit kusta

Dari sisi medis, Kusta diklasifikasikan berdasarkan banyak faktor, hal tersebut bertujuan untuk mempermudah cara penanganan dari penyakit kulit ini.

1. Kusta Pausibasilar (PB) 

Tanda-tandanya: Bercak putih seperti panu yang mati rasa, artinya bila bercak putih tersebut disentuh dengan kapas, maka kulit tidak merasakan sentuhan tersebut, ciri-cirinya seperti : Permukaan bercak kering dan kasar, Permukaan bercak tidak berkeringat, Batas (pinggir) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil. Kusta tipe kering ini kurang/tidak menular, namun apabila tidak segera diobati akan menyebabkan cacat. Umumnya, orang mengira bercak putih seperti tanda-tanda di atas adalah panu biasa, sehingga pemeriksaan pun tidak segera dilakukan sebelum akhirnya orang tersebut telah mengalami Kusta pada level lebih lanjut. Sehingga, pemeriksaan dan pengobatan semenjak dini ke Puskesmas atau pun Rumah Sakit terdekat pun sangat dianjurkan. Pengobatan kusta tipe PB ini cenderung lebih sebentar daripada tipe basah.

2. Kusta Multibasilar (MB) 

Tanda-Tandanya: Bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, pada permukaan bercak sering ada rasa bila disentuh dengan kapas. Pada permulaan tanda dari tipe kusta basah sering terdapat pada cuping telinga dan muka. Kusta tipe basah ini dapat menular, maka bagi yang menderita penyakit tipe kusta tipe basah ini harus berobat secara teratur sampai selesai seperti yang telah ditetapkan oleh dokter. Namun, umumnya kendala yang dihadapi adalah pasien tidak mentaati resep dokter, sehingga selain mereka tidak menjadi lebih baik, mereka pun akan resisten terhadap obat yang telah diberikan. Untuk Kusta MB ini menular lewat kontak secara langsung dan lama.

Pengobatan penyakit kusta

Dalam hal pengobatan pada penderita penyakit kusta, adalah tujuan yang harus dicapai untuk menyembuhkan penderita kusta dan mencegah timbulnya cacat. Pada penderita tipe pausi basiler yang berobat dini dan teratur akan cepat sembuh tampa menimbulkan cacat. Akan tetapi bagi penderita yang sudah dalam keadaan cacat permanen pengobatan hanya dapat mencegah cacat yang lebih lanjut.

Bila penderita kusta tidak makan obat secara teratur, maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali, sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan syaraf yang dapat memperburuk keadaan. Dalam pengobatan penyakit kusta ini perlu juga diperhatikan pemutusan mata rantai penularan dari penderita kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain.

Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta, sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh, dan tanda-tanda penyakit menjadi kurang aktif dan akhirnya hilang. Dengan hancurnya kuman, maka sumber penularan dari penderita terutama tipe multi basiler (MB) keorang lain terputus (Hiswani , 2001) .

Daftar Pustaka

  • Harahap M. (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta
  • Hiswani. (2001). Kusta Salah Satu Penyakit Menular Yang Masih Dijumpai di Indonesia,http ://library.usu.ac.id/
  • Mansjoer A., Suprohaita, Wardani, W, I. & Setiowulan, W. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, ed. 3, jillid II, Media aesclapius, FK-UI: Jakarta
  • Zulkifli .(2003). Penyakit kusta dan Masalah Yang Ditimbulkannya, http://library.usu.ac.id.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih