Sejarah, Kandungan dan Manfaat Madu


Sejarah Madu

Madu
Ilustrasi Madu
Madu adalah bahan pangan manis dan kental yang berwarna emas sampai coklat gelap dengan kandungan gula yang tinggi serta rendah lemak.  Madu diproduksi sebagai cadangan makanan oleh lebah madu dengan jalan inversi enzimatis nektar bunga (White, 1978:286).

Madu sudah dikenal sebagai obat sejak ribuan tahun yang lalu.  Bogdanov dkk (2008:677) menyatakan bahwa sekitar tahun 2000 SM, madu sudah digunakan sebagai salep dan obat infeksi. Sarwono (2001:78) melaporkan bahwa salah satu fungsi madu adalah sebagai antibiotik. Selain itu tekanan osmotik pada madu meningkatkan ketahanannya dari mikroorganisme yang dapat merusak struktur madu, sehingga madu dapat disimpan dalam waktu yang lama.

Kandungan Madu

Madu dapat dikelompokan berdasarkan asal polennya menjadi madu NP (natural pollen) dan madu PS (pollen substitute). Madu NP atau yang sering disebut madu alami umumnya tersusun atas 17,1% air, 82,4% karbohidrat (38% fruktosa, 31% glukosa, 12,9% gula lain), 0,5% protein, asam amino, senyawa fenolik, vitamin, asam organik dan berbagai mineral (White 1978: 287).  Menurut Sarwono (2001:69), dari  100 gr madu mengandung 294 kalori, 9,5 gr karbohidrat, 24 gr air, 16 gr fosfor, 5 gr kalsium, dan 4 gr vitamin C.

Manfaat Madu 

Penelitian mengenai efektivitas madu dalam dunia pengobatan modern sudah banyak dilakukan.  Madu dilaporkan efektif untuk pengobatan luka, perawatan penyakit saluran cerna pada manusia, penyembuhan luka bakar, dan sebagai antibakteri (Jull dkk. 2008:175).  Menurut Nemoseck dkk. (2011:56) pemakaian madu sebagai pengganti gula dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular.  Begitu pun dengan Yaghoobi dkk. (2008:464) yang melaporkan bahwa madu dapat menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL dalam darah.

Mutu, rasa, aroma, dan komposisi kimia suatu madu sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan iklim habitat lebah madu hidup, serta diet makanan lebah tersebut (Kartini 1986: 143).  Serbuk sari (pollen) merupakan bahan makanan pokok dan sumber protein alami lebah madu.  Kandungan serbuk sari secara umum terdiri atas abu dengan berbagai macam mineral (1,8-3,7%), karbohidrat (13-37%), serat (5,3%), protein (6-28%), dan lemak (1,2-3,7%) (Kuntadi 2008: 367).

Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas madu ialah menggunakan pollen substitute (PS).  Pollen substitute (PS) berfungsi sebagai pengganti fungsi pollen alami jika jumlahnya berkurang di lapangan.  Pemberian pollen substitute pada koloni lebah berpengaruh terhadap penambahan bobot koloni, luas sarang anakan, berat lebah pekerja, mortalitas anakan lebah madu, dan produksi madu.

Menurut Sjamsuridzal dkk. (2011:22), kandungan nutrisi yang terdapat dalam pollen substitute lebih baik dibandingkan dengan serbuk sari alami, terutama kandungan senyawa proteinnya.  Jika pada serbuk sari alami kandungan proteinnya hanya berkisar 20% saja, PS memiliki kandungan protein hingga 45-50%.  Pemberian PS diduga dapat meningkatkan kandungan senyawa aktif pada madu yang berperan dalam penurunan konsentrasi trigliserida, seperti niasin.

Hasil uji kualitas madu pada lebah yang diberi diet PS (madu PS) menunjukkan aktifitas kerja enzim (41%) dan kadar niasin (20%), lebih tinggi dari madu dengan asupan serbuk sari alami (4-10%) (Black, 2006:50).  Kandungan senyawa yang lebih tinggi pada madu PS menjadikan madu PS telah terstandarisasi oleh Standar Nasional Indonesia (SNI).

Niasin merupakan salah satu vitamin utama pada madu (Alvarez-Suarez dkk. 2013:2).  Niasin (asam nikotinat) merupakan vitamin B3 yang bekerja sebagai senyawa antihiperlipidemia.  Menurut Lukasova dkk. (2011:701) niasin mampu menurunkan sintesis trigliserida, menurunkan konsentrasi kolesterol plasma darah, meningkatkan konsentrasi High-Density Lipoprotein (HDL), serta menurunkan sekresi Very Low-Density Lipoprotein (VLDL) dan Low-Density Lipoprotein (LDL).

Selain niasin, madu juga mengandung berbagai senyawa polifenol dan flavonoid (Alvarez-Suarez dkk. 2013:1).  Ricardo dkk (2001:266) melaporkan bahwa kandungan flavonoid pada madu sangat berpotensi untuk menurunkan konsentrasi kolesterol dan trigliserida plasma darah.

Daftar Pustaka

  • Alvarez-Suarez, J. M., dkk. 2013. Honey as a source of dietary antioxidants: Structures, bioavailability, and evidence of protective effects against human chronic diseases. Current Medicinal Chemistry.
  • Black, J. 2006. Honey bee nutrition: Review of research and practices. Australian Government Rural Industries Research and Development Corporation, Kingston.
  • Bogdanov, S., dkk. 2008. Honey for nutrition and health: a review. Journal of the American College of Nutrition.
  • Jull, A., N. dkk. 2008. Randomized clinical trial of honey-impregnated dressings for venous leg ulcers. British Journal of Surgery.
  • Kartini, A.A.S. 1986. Komposisi kimia biologi jenis madu Indonesia. Prosiding Lokakarya Pembudidayaan Lebah Madu Untuk Kesejahteraan Masyarakat. Perum Perhutani, Jakarta.
  • Kuntadi. 2008. Perkembangan koloni Apis mellifera L. yang diberi tiga macam serbuk sari buatan berbasis tepung kedelai (The colony development of Apis mellifera L. fed on three formulas of soybean-based Pollen Substitute). Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam.
  • Lukasova, dkk. 2011. Nicotinic acid (niacin): new lipid-independent mechanisms of action and therapeutic potentials. Cell Press.
  • Nemoseck, dkk. 2011. Honey promotes lower weight gain, adiposity, and triglycerides than sucrose in rats. Nutrition Research.
  • Ricardo, dkk. 2001. Effect of flavonoids Morin, Quercetin, and Nicotinic acid on lipid metabolism of rats experimentally fed with triton. Brazilian Archieve of Biology and Technology.
  • Sarwono, B. 2001. Lebah madu: kiat mengatasi masalah praklinis. Agro Media Pustaka, Jakarta.
  • Sjamsuridzal, dkk. 2011. Pembuatan pollen substitute sebagai pakan lebah madu menggunakan mikroorganisme dan bahan lokal. Laporan Akhir Hibah Kompetitif Penelitian Strategis Nasional. FMIPA UI, Depok.
  • White, J.W. 1978. Honey Advances in food research.
  • Yaghoobi, dkk. 2008. Natural Honey and Cardiovascular Risk Factors; Effects on Blood Glucose, Cholesterol, Triacylglycerole, CRP, and Body Weight Compared with Sucrose. The Scientific World Journal.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih