Kedisiplinan Bagi Siswa


Dasar dan Tujuan Kedisiplinan

Kedisiplinan bagi siswa
Ilustrasi Kedisiplinan
Keyakinan bahwa siswa (anak) memerlukan disiplin milai sejak dulu sudah ada, tetapi terdapat perubahan dalam sikap mengenai mengapa mereka memerlukannya. Pada masa lampau, dianggap bahwa disiplin perlu menjamin bahwa siswa akan menganut standart yang ditetapkan masyarakat (sekolah) dan yang harus dipatuhi anak agar ia tidak ditolak masyarakat (sekolahnya). Sekarang telah diterima bahwa siswa membutuhkan displin, bila mereka ingin bahagia, aman, menjadi orang yang baik penyesuaiannya. Melalui displin mereka dapat belajar berperilaku dengan cara yang diterima oleh anggota kelompok sosial mereka.

Tujuan kedisiplinan ialah membentuk perilaku sedemikian rupa hingga ia akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat ia diidentifikasikan. Dan dengan adanya disiplin pula setiap individu dapat memperoleh perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban diantara satu dan yang lainnya. Disamping itu pelaksanaan disiplin diharapkan dapat menciptakan individu yang mandiri, bertanggung jawab dan tidak tergantung pada orang lain.

Senada dengan diatas, menurut Piet A. Sahertian tujuan dari disiplin antara lain adalah  (Sahertian, 1994:127) :

  1. Menolong anak menjadi matang pribadinya dan mengubah dari sifat ketergantungan kearah kemandirian.
  2. Mencegah timbulnya persoalan-persoalan disiplin dan menciptakan situasi dan kondisi dalam belajar siswa agar mengikuti segala peraturan yang ada dengan penuh perhatian.

Macam-macam Kedisiplinan

Terdapat tiga macam kedisiplinan yaitu (Imron, 1995:183) :

  1. Kedisiplinan yang dibangun berdasarkan  konsep autoritarian. Menurut konsep ini, seseorang mempunyai disiplin manakala mau menurut saja terhadap perintah dan anjuran atasan tanpa banyak menyumbangkan pikiran-pikirannya. Kedisiplinan semacam ini bersifat menekan, mengawasi, memaksa dan akibatnya merusak penilaian yang bersangkutan. Dengan menerapkan disiplin diatas, maka akan berakibat tidak terdorongnya siswa (anak) untuk dengan mandiri mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan tindakan mereka. Sebaliknya, mereka hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikan perilaku mereka sendiri. Disiplin semacam ini sering pula disebut dengan disiplin tradisional.
  2. Kedisiplinan yang dibangun berdasarkan konsep permissive. Menurut konsep ini seseorang (siswa) diberikan kebebasan seluas-luasnya didalam sekolah. Aturan-aturan sekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat, membiarkan siswa dalam situasi yang sulit untuk ditanggulangi oleh mereka sendiri tanpa bimbingan atau pengendalian. Siswa sering tidak diberi batas-batas atau kendala yang mengatur apa saja yang boleh dilakukan, mereka diizinkan untuk mengambil keputusan sendiri dan berbuat sekehendak mereka sendiri. Disiplin semacam ini sering disebut disiplin liberal.
  3. Kedisiplinan yang dibangun berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali atau kebebasan seluas-luasnya kepada seseorang (siswa) untuk berbuat apa saja tetapi konsekuensi terhadap perbuatan itu haruslah ia tanggung. Dalam konsep ini penerapan kedisiplinan menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu siswa mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode semacam ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin dari pada aspek hukumannya. Falsafah yang mendasari kedisiplinan semacam ini adalah falsafah bahwa bertujuan mengajar siswa mengembangkan kendali atas perilaku mereka sendiri sehingga mereka akan melakukan yang benar. Disiplin semacam ini sering pula disebut dengan disiplin modern.

Teknik-teknik Dalam Pembinaan Kedisiplinan Siswa

Dalam rangka pembinaan disiplin siswa, Sriwati Sunarjo mengemukakan tiga teknik yang diantaranya adalah:

  1. Teknik pengendalian dari luar. Teknik ini diartikan sebagaipengawasan berupa bimbingan dan penyuluhan. Pengawasan sebagai teknik pengendalian dari luar dilakukan secara ketat, dan biasanya disertai dengan hukuman bagi siswa yang melanggar.
  2. Teknik pengendalian dari dalam. Teknik ini berkaitan dengan pendekatan positif terhadap disiplin, yaitu siswa taat disiplin, patuh pada peraturan yang dilakukan di sekolah dengan menumbuhkan kesadaran diri.
  3. Teknik pengendalian kooperatif. Teknik ini dilakukan melalui pemimpin dan siswa bersama-sama menegakkan disiplin. Kedua belah pihak menunjukkan kesadaran akan tujuan bersama. Melalui suasana kooperatif itu, kedua belah pihak berusaha untuk mencapai tujuan dengan masing-masing menunjukkan sikap disiplin.

Pentingnya Kedisiplinan Bagi Siswa

Untuk menanamkan kedisiplinan sebagai unsur pertama dari moralitas kepada sisiwa diperlukan peran penting dari sekolah atau lingkungan sekolah dimana disiplin sekolah berfungsi sebagai moralitasnya.

Kebiasaan kehidupan bersama dalam sekolah serta ketertarikan kepada sekolah merupakan persiapan alamiah yang dialami oleh anak untuk mendapatkan sentimen-sentimen yang lebih tinggi dimasyarakat luas. Itulah yang ingin dikembangkan dalam diri si anak.

Untuk menanamkan kedisiplinan kepada siswa terlebih dahulu kepala sekolah yang menjadi pemimpin pendidikan dalam sekolah tersebut harusmemahami psikologi siswa untuk menerima satu otoritas atau aturan baru dalam kehidupannya. kita tahu bahwa sifat anak mudah berubah dengan cepat dan tidak stabil. Kemarahannya mudah berkobar, tetapi juga mudah reda. Persahabatan membalik menjadi kebencian atau sebalikya. Dengan psikologis seperti itu, diperlukan adanya keteraturan yang merupakan unsur pertama dari kedisiplinan. Sifat kedua yang dimiliki anak adalah anak tidak mempunyai perasaan bahwa kebutuhan-kebutuhannya mempunyai hambatan, artinya sikap keinginannya harus terlaksana, dengan gambaran seperti ini anak (siswa) membutuhkan kedisiplinan dan penguasaan diri.

Daftar Pustaka


  • Ali Imron, 1995, Pembinaan Guru di Indonesia, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
  • Piet A Sahertian, 1994, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih