Pencegahan, Penatalaksanaan dan Pengukuran Obesitas


Pencegahan obesitas

Pencegahan obesitas
Ilustrasi Pencegahan Obesitas

Obesitas merupakan salah satu faktor penyebab penyakit tidak menular (noncommunicable disease) yang dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup (WHO, 2014). Pada tingkat individual (WHO, 2014), obesitas dapat dicegah dengan:
  1. Membatasi asupan makanan yang mengandung lemak dan karbohidrat.
  2. Meningkatkan konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan, termasuk tumbuhan polong-polongan, gandum murni dan kacang-kacangan.
  3. Melakukan aktivitas fisik secara teratur (60 menit perhari untuk anak-anak dan 150 menit perhari untuk dewasa).

Selain itu, pencegahan juga perlu dilakukan pada tingkat masyarakat (WHO, 2014), yaitu :
  1. Mendukung individu untuk mengikuti pencegahan di atas, melalui komitmen politik berkelanjutan dan kerja sama dari banyak pihak publik dan swasta.
  2. Memberikan sarana untuk pelaksanaan aktivitas fisik dan menyediakan pilihan makanan sehat yang dapat dijangkau oleh semua masyarakat, terutama masyarakat miskin.

Industri makanan juga memiliki peran penting dalam mensukseskan promosi kesehatan ini (WHO, 2014), dengan cara :
  1. Mengurangi kandungan gula, garam dan lemak pada makanan olahan.
  2. Menyediakan pilihan makanan yang sehat dan bergizi yang terjangkau bagi konsumen.
  3. Melakukan sistem pemasaran yang bertanggung jawab, terutama bagi anak-anak dan remaja.
  4. Memastikan ketersediaan makanan yang sehat dan mendukung adanya aktivitas fisik yang teratur di tempat kerja.

Peran serta lingkungan dan komunitas yang mendukung promosi kesehatan dapat membantu masyarakat untuk mengubah gaya hidup menjadi gaya hidup sehat, sehingga dapat mencegah obesitas.

Sedangkan menurut Soeria (2013), langkah-langkah untuk mencegah obesitas yaitu :
  1. Makan makanan pokok cukup 3 kali sehari, pagi, siang, dan menjelang malam, secara teratur.
  2. Hindari konsumsi makanan camilan, manisan dan sejenisnya.
  3. Usahakan jangan makan sebelum tidur.
  4. Perbanyak makan sayuran segar dan buah-buahan, hindari mengkonsumsi makanan siap saji.
  5. Sebaiknya menggunakan bahan makanan yang berkadar lemak rendah.
  6. Berolahraga secara teratur sehingga lemak dalam tubuh terbakar yang keluar bersama keringat.
  7. Kunyah makanan dengan baik sebelum ditelan.
  8. Jangan makan sambil nonton tv atau chatting sehingga lupa seberapa banyak makanan yang dikonsumsi.
  9. Hindari makanan yang mengandung garam atau kadar garam berlebihan karena garam akan membantu tubuh menyimpan air dalam skala lebih besar sehingga berat badan bertambah.
  10. Jangan konsumsi minuman beralkohol karena kadar gula dan kalori dalam alkohol akan mempercepat kegemukan.

Penatalaksanaan Obesitas

Penatalaksanaan obesitas dilakukan untuk menurunkan berat badan. Program penurunan berat badan akan berhasil jika pasien memiliki motivasi tinggi dan keinginan kuat untuk menurunkan  berat badan. Program penurunan berat badan akan gagal jika pasien tidak memiliki kedua hal tersebut sehingga komitmen dan kesiapan pasien perlu diperhatikan.

Menurut Sukasah (2007), evaluasi kesiapan pasien dapat dilihat dari:
  1. Alasan atau motivasi untuk menurunkan berat badan.
  2. Usaha yang pernah dilakukan untuk menurunkan berat badan.
  3. Dukungan dari keluarga dan teman.
  4. Pengertian akan manfaat dan risiko yang akan diperoleh.
  5. Kemauan dalam aktivitas fisik.
  6. Waktu yang tersedia.
  7. Hal yang dapat menghambat seperti keterbatasan dana.

Jika pada evaluasi terlihat bahwa pasien masih ragu ragu, maka sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter psikiatri untuk meningkatkan motivasinya. Begitu juga dengan pasien obesitas yang disebabkan kondisi psikis dan emosi, contohnya pasien yang makan berlebih ketika stres, sebaiknya berkonsultasi pula dengan dokter psikiatri.

Setelah memiliki motivasi yang kuat, pasien dapat berkonsultasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi, terutama jumlah kalori dalam sehari yang diperlukan untuk menurunkan berat badan.

Program penurunan berat badan juga perlu dilengkapi dengan aktivitas fisik. Sebaiknya pasien melakukan aktivitas fisik selama 30-40 menit, 3-5 kali seminggu. Pasien juga perlu berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam untuk mengetahui status kesehatan pasien secara menyeluruh, baik sebelum maupun selama mengikuti program penurunan berat badan (Sukasa, 2007).


Cara Pengukuran Obesitas

Salah satu cara yang biasa dilakukan untuk mengukur obesitas adalah dengan mengukur Body Mass Index (BMI) atau Indeks Masa Tubuh (IMT). BMI dapat digunakan baik pada laki-laki dan perempuan. BMI diukur dengan cara membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan kuadrat dalam satuan meter (kg/m2). Berdasarkan klasifikasi BMI, seseorang dikatakan obesitas apabila BMI lebih dari 30kg/m2 (WHO, 2014).

Klasifikasi Obesitas berdasarkan BMI
Klasifikasi Obesitas berdasarkan BMI

Pada obesitas sentral, pengukuran lebih baik menggunakan lingkar pinggang daripada BMI. Pengukuran antropologi lingkar pinggang dilakukan dengan mengukur keliling perut dimulai dari pertengahan krista illiaka dengan tulang iga terakhir secara horizontal. Dikatakan obesitas sentral apabila didapatkan lingkar pinggang ≥90 cm pada laki-laki dan ≥80 cm pada perempuan (Gotera, et. al. 2006).
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih