Penggunaan, Bahaya, Pencegahan dan Pengujian Formalin

Daftar Isi
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehida (CH2O) yang bersifat tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam Formalin terkandung 37% Formaldehid, 15% Methanol dan sisanya adalah air. Formalin biasanya digunakan sebagai pengawet dalam bidang industri (Ali dan Faisal, 2009).
Penggunaan, Bahaya, Pencegahan dan Pengujian Formalin
Formalin
Formalin juga dikenal dengan nama lain yaitu Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formaldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene glycol.

Formalin merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03 yang pada suhu normal dan tekanan atmosfer dan mudah larut dalam air, etanol dan eter. Didalam air formaldehid akan membentuk ikatan hidrogen antara atom hidrogen dengan gugus karbonil pada senyawa formaldehid dan air. Adanya ikatan hidrogen ini menyebabkan kenaikan titik didih sehingga menyebabkan formalin lebih stabil pada suhu ruang dibandingkan dengan senyawa formaldehid murni yang pada suhu berupa gas.

Penggunaan dan Larangan Formalin

Penggunaan formalin antara lain sebagai pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih lantai, gudang, pakaian dan kapal, pembasmi lalat dan serangga lainnya, bahan pembuat sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak. Selain itu formalin juga digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas, bahan pembentuk pupuk berupa urea, bahan pembuatan produk parfum, bahan pengawet dan pengeras produk dan pencegah korosi.

Formalin merupakan bahan pengawet makanan ilegal berbahaya yang bersifat karsinogen. Pada industri makanan, formalin digunakan untuk memperpanjang umur simpan dari makanan karena formalin merupakan senyawa anti mikroba yang efektif dalam membunuh bakteri, bahkan virus sekalipun. Formalin sudah dilarang sejak tahun 1982 yang kemudian pelarangan penggunaanya pada industri makanan dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988 dan Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang Perlindungan Pangan.

Bahaya Formalin bagi Kesehatan 

Konsumsi formalin dalam tubuh secara berkala dapat terakumulasi didalam sel tubuh dan dapat bereaksi dengan protein seluler (enzim) dan DNA (mitokondria dan nukleus). Penggunaan formalin dalam makanan sangat berdampak buruk pada tubuh baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek (Mahdi, 2008).

Formalin sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa Luka bakar pada kulit, Iritasi pada saluran pernapasan, reaksi alergi dan bahaya kanker. Dampak formalin pada kesehatan manusia antara lain adalah sebagai berikut (Puspitojati, 2013):
  1. Akut. Efek pada kesehatan manusia langsung terlihat seperti iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing.
  2. Kronik. Efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang, seperti iritasi kemungkinan parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, sistem saraf pusat, menstruasi dan pada hewan percobaan dapat menyebabkan kanker sedangkan pada manusia diduga bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). 
  3. Terhirup. Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan pernapasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang. Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan, kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gatal-gatal, penglihatan kabur, dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan konsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata. 
  4. Tertelan. Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipertensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat dan ginjal.

Pencegahan dan Penanganan Terkena Formalin 

Hal-hal yang dilakukan untuk pencegahan agar tidak terkena bahaya formalin antara lain adalah sebagai berikut (Astawan, 2006):
  1. Hindari makan, minum dan merokok selama berkerja.
  2. Mencuci tangan sebelum makan. 
  3. Jangan menyimpan formalin di lingkungan bertemperatur di bawah 150 C atau di atas 60 C. 
  4. Tempat penyimpanan formalin harus terbuat dari baja tahan karat, alumunium murni, polietilen atau polyester yang dilapisi fiberglass.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan jika sudah terkena atau terpapar formalin adalah sebagai berikut (Yudarwanto, 2006):
  1. Bila terkena hirupan atau terkena kontak langsung formalin, tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan penderita dari daerah paparan ke tempat yang aman. 
  2. Bila penderita sesak berat, gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernapasan buatan.
  3. Bila terkena kulit lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau detergen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Jika terdapat bagian kulit yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yang kering, steril dan longgar.
  4. Bila terkena mata, bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit atau ke dokter.
  5. Bila tertelan segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya tersebut.
  6. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Pengujian Analisis Kandungan Formalin 

Untuk mengetahui keberadaannya dalam makanan formalin dapat dideteksi dengan menggunakan beberapa metode diantaranya metode reagensia schiff, metode asam kromatofat, metode titrasi asam basa dan metode pereaksi nash (Ichya’uddin, 2014).

a. Reagensia Asam Kromatofat 

Salah satu metode yang biasa digunakan dalam mendeteksi senyawaan formaldehida adalah pereaksi asam kromatofat. Asam kromatofat merupakan salah satu diantara pereaksi yang banyak digunakan dalam analisis senyawaan formaldehida. Kelebihan dari metode asam kromatofat yang digunakan ini adalah asam kromatofat dapat bereaksi secara selektif terhadap senyawaan formaldehida (formalin). Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah menggunakan asam sulfat panas yang berbahaya dan korosif. Senyawa formalin apabila ditambah dengan asam kromatrofat dalam asam sulfat disertai dengan pemanasan beberapa menit akan terjadi pewarnaan violet.

b. Metode Reagensia Schifft 

Tes Schiff merupakan tes awal reaksi kimia organik yang dikembangkan oleh Hugo Schiff, dan relatif umum digunakan untuk mendeteksi senyawa organik aldehida, dan dapat juga digunakan dalam pewarnaan jaringan biologi. Dalam penggunaannya sebagai tes kualitatif untuk aldehida, sampel yang akan diuji ditambahkan ke dalam reaksi Schiff akan terjadi perubahan warna magenta, ketika aldehida hadir dalam karakteristik bahan tersebut.

c. Titrasi Asam Basa 

Formalin dapat ditentukan kadarnya secara titrasi asam-basa dengan menambahkan hidrogen peroksida dan NaOH 1 N dan pemanasan hingga pembuihan berhenti, dan dititrasi dengan HCl 1 N menggunakan indikator fenolftalein.

d. Pereaksi Nash 

Salah satu metode yang banyak digunakan juga dalam analisis formalin adalah dengan penambahan pereaksi Nash. Reaksi antara pereaksi nash dan formaldehida serta pemanasan 30 menit akan menghasilkan warna kuning yang mantap, yang kemudian diukur pada panjang gelombang 415 nm.

Daftar Pustaka

  • Ali, Khomsan dan Faisal, Anwar. 2009. Makan Tepat Badan Sehat. Jakarta: Hikmah.
  • Mahdi, C. 2008. Uji kandungan Formalin, Borak dan Pewarna Rhodamin pada Produk perikanan dengan metode spot test. Jurnal Berkala Ilmiah Perikanan Vol.3. Malang: Universitas Brawijaya.
  • Puspitojati, Endah. 2013. Bahaya Penggunaan Formalin Pada Makanan. Online: academia.edu.
  • Astawan, M., 2006. Mengenal Formalin dan Bahayanya. Jakarta: Penebar.
  • Judarwanto, W. 2006. Pengaruh Formalin Bagi Sistem Tubuh. Online: puterakembara.org.
  • Ichya’uddin , M.  2014. Analisis Kadar Formalin dan Uji Organoleptik Ikan Asin di Beberapa Pasar Tradisional di Kabupaten Tuban.  Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.