Pengertian, Gejala, Jenis dan Pencegahan Demensia

Daftar Isi
Demensia adalah suatu kondisi atau sindrom yang disebabkan penyakit atau gangguan otak yang ditandai dengan kehilangan atau penurunan kemampuan intelektual, daya ingat, daya pikir, daya tangkap, kemampuan berhitung dan berbahasa serta daya nilai sehingga menimbulkan gangguan pekerjaan dan fungsi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian, Gejala, Jenis dan Pencegahan Demensia
Demensia
Seseorang yang menderita demensia, umumnya tidak mampu melakukan pekerjaan seperti yang ada di dalam pikirannya karena terjadi perubahan mental dalam bersosialisasi terkait proses penyakit. Beberapa hal yang ditemui dalam dimensia, yaitu kemunduran bahasa, apraxia (kesulitan dalam memanipulasi objek), agnosia (ketidakmampuan dalam mengenal objek yang dikenal), agrafia (kesulitan menggambarkan objek), dan kegagalan fungsi secara umum (Meiner, 2011).

Demensia dapat disebabkan oleh penyakit organik difusi pada hemisfer serebri, misalnya penyakit Alzheimer atau kelainan struktur subkortikal misalnya penyakit Parkinson dan Huntington (Elvira dkk, 2010).

Berikut ini beberapa pengertian demensia dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Turana (2006), demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. 
  • Menurut Watson (2003), demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik dan kehilangan kemempuan kognitif secara global dan progresif yang dihubungkan dengan masalah fisik.
  • Menurut Meiner (2011), demensia merupakan sindrom kemunduran kognitif secara berangsur-angsur dan menetap; perubahan ingatan yang diperoleh dari perubahan fungsi intelektual secara menetap (seperti: orientasi, kalkulasi, perhatian, dan keterampilan motorik) yang dicurigai mengenai beberapa bagian kognitif. 
  • Menurut Lumbantobing (1995), demensia adalah himpunan gejala penurunan fungsi intelektual, umumnya ditandai terganggunya minimal tiga fungsi yakni bahasa, memori, visuospasial, dan emosional.
  • Menurut Asrori (2014), demensia adalah kondisi yang dikarakteristikkan dengan hilangnya kemampuan intelektual yang cukup menghalangi hubungan sosial dan fungsi kerja dalam kehidupan sehari-hari.

Tanda dan Gejala Dimensia 

Menurut Hurley (1998), tanda dan gejala demensia secara umum adalah sebagai berikut:
  1. Daya ingat yang terus terjadi pada penderita demensia, "lupa" menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
  2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada.
  3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mangulang kata atau cerita yang sama berkali-kali.
  4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis yang berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang di lakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul. 
  5. Adanya perubahan tingkah laku seperti: acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.

Jenis-jenis Demensia 

Demensia dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut (Meiner, 2011):

a. Demensia Reversibel 

Demensia reversibel merupakan kejadian yang terjadi ketika individu mengalami kondisi yang menyerupai demensia. Penyebab demensia reversibel, yaitu: Obat-obatan, alkohol, kelainan metabolik, depresi, delirium, neoplasma otak (CNS neoplasm), hematoma subdural kronik dan Hidrosepalus tekanan normal.

b. Demensia Alzeimer 

Demensia Alzeimer merupakan bentuk demensia yang terjadi pada lansia dan dialami oleh 60% - 80% orang. Faktor resiko pada demensia alzeimer, yaitu: Genetik, Nutrisi (Kekurangan vitamin B12), Virus (herpes zoster, herpes simplex, atau ensepalitis) dan lingkungan (paparan zat beracun atau zat kimia).

c. Demensia Vaskular (VAD) 

Jenis ini dikenal dengan multiinfarct demensia, merupakan jenis kedua paling sering ditemukan dalam kategori demensia, banyak ditemukan pada lansia. VAD didefinisikan sebagai hilangnya fungsi kognitif akibat iskemik, lesi otak hipoperfusif, atau perdarahan akibat penyakit serebrovaskular atau kondisi patologis kardiovaskular. VAD dikaitkan dengan hilangnya progresif jaringan otak sebagai akibat dari serangkaian serangan otak kecil (infark) yang disebabkan oleh oklusi dan penyumbatan arteri ke otak.

d. Demensia Badan Lewy (DLB) 

DLB (inklusi neuronal intracytoplasmic) merupakan gangguan otak progresif yang degeneratif, yang dapat ditemukan di batang otak, di encephalon, ganglia basalis, dan korteks serebral. Individu dengan penyakit Parkinson (PD) memiliki peningkatan risiko enam kali lipat untuk pengembangan DLB dibandingkan dengan populasi umum. Faktor risiko yang terkait dengan pengembangan DLB termasuk usia lanjut, depresi, kebingungan, atau psikosis saat mengambil levodopa, dan masker wajah pada individu dengan PD didiagnosis.

e. Demensia Frontotemporal (FTD) 

FTD adalah sindrom klinis pengecualian terkait dengan non-AD kondisi patologis dan relatif jarang terjadi dalam pengaturan klinikal. Sindrom ini mencakup spektrum non-AD demensia dan ditandai oleh atrofi fokus daerah temporal yang frontal dan anterior. Patologis, FTD adalah variabel, beberapa kasus mungkin menunjukkan teupostur penyakit (dengan atau tanpa badan Pick klasik), sedangkan yang lain menunjukkan ubiquitin-positif inklusi, dan masih orang lain mungkin kurang khas histologis ciri-ciri.

Pencegahan dan Perawatan Demensia 

Demensia dapat dicegah dengan cara menurunkan resiko terjadinya demensia. Menurut Stanley (2007), hal-hal yang dapat dilakukan untuk pencegahan terjadinya demensia antara lain sebagai berikut:
  1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan. 
  2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari. 
  3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif. 
Perawatan demensia dilakukan melalui terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi. Terapi non-farmakologi yaitu terapi rehabilitasi dimana penderita dimampukan dalam mengurus kebutuhan dasarnya dengan mengoptimalkan kemampuan yang masih ada. Sedangkan terapi farmakologi bertujuan memperlambat progresivitas penyakit dalam memperbaiki fungsi berpikir dan kontrol perilaku dengan obat-obatan (Turana, 2006).

Adapun tindakan perawatan yang dilakukan terhadap penderita demensia, antara lain dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
  1. Buat kegiatan pada pagi hari sehingga klien tidak tidur terus.
  2. Kurangi stimulasi lingkungan yang menyebabkan klien terburu-buru. 
  3. Beri penerangan yang cukup pada kamar. 
  4. Temani dan beri perasaan nyaman pada saat matahari terbenam.
  5. Nyalakan lampu sebelum matahari terbenam.
  6. Yakini bahwa lingkungan nyaman bagi klien.
  7. Perhatikan keselamatan klien pada saat klien jalan-jalan. 
  8. Anjurkan klien memakai tanda pengenal seperti gelang yang bertulis alamat. 
  9. Buat jadwal aktivitas ringan klien.

Daftar Pustaka

  • Meiner, Sue. 2011. Gerontologic Nursing. USA: ELSEVIER.
  • Elvira, Sylvia D dan Hadisukanto, Gitayanti. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FK UI.
  • Turana, Yuda. 2006. Merawat Demensia. Jakarta: RS. Atmajaya.
  • Watson, Roger.2003. Perawatan Pada Lanjut Usia. Jakarta: EGC.
  • Lumbantobing. 1995. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  • Asrori. 2014. Panduan Perawatan Pasien Demensia di Rumah. Malang: UMMPress.
  • Hurley, A. C. 1998. Membenahi penyakit demensia pada lansia. Online.
  • Stanley. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.