Komunikasi Massa

Pengertian Komunikasi Massa 

Komunikasi massa adalah penyampaian informasi menggunakan media massa (media cetak dan elektronik) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen dengan maksud, tujuan dan menimbulkan efek tertentu.

Komunikasi Massa


Komunikasi Massa merupakan suatu jenis komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipat gandakan pesan-pesan komunikasi.

Berikut definisi dan pengertian komunikasi massa dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Bittner komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Ardianto dkk, 2007). 
  • Menurut Gerbner, Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri (Rakhmat, 2008).
  • Menurut Mulyana (2001), komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (majalah, surat kabar) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen.
  • Menurut Jay Black dan Frederick, komunikasi massa adalah sebuah proses di mana pesan-pesan yang diproduksi secara massal atau tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen (Nurudin, 2004:12).
  • Menurut Tan dan Wright, komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran media dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara missal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh terpencar, sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu (Liliweri. 1991).

Fungsi Komunikasi Massa 

Terdapat beberapa fungsi komunikasi massa, yaitu sebagai berikut (Ardianto dkk, 2007):
  1. Pengawasan (Surveillance). Sebagai alat bantu khalayak masyarakat guna mendapatkan peringatan dari media massa yang menginformasikan tentang ancaman. Pengawasan mengacu kepada yang kita kenal sebagai peranan berita dan informasi dari media massa. Media mengambil tempat para pengawal yang mempekerjakan pengawasan. 
  2. Penafsiran (Interpretation). Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran atau tanggapan sementara terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan. Tujuan penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut dalam komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok. 
  3. Pertalian (Linkage). Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu. 
  4. Penyebaran Nilai-Nilai (Transmission of Values). Fungsi ini juga disebut sosialisasi. Sosialisasi mengacu kepada cara, di mana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa menyajikan penggambaran masyarakat dan dengan membaca, mendengar, dan menonton maka seseorang mempelajari bagaimana khalayak berperilaku dan nilai-nilai apa yang penting. 
  5. Hiburan (Entertainment). Fungsi menghibur dari komunikasi massa tidak lain tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan melihat berita-berita ringan atau melihat tayangan-tayangan hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali.

Karakteristik Komunikasi Massa 

Menurut Ardianto dkk (2007), komunikasi massa mempunyai karakteristik khusus yang membedakannya dengan komunikasi yang lain. Komunikasi massa mempunyai karakteristrik sebagai berikut:
  1. Komunikator Terlembaga, bahwa komunikasi massa itu melibatkan lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks. 
  2. Pesan Bersifat Umum, komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditunjukan untuk semua orang dan tidak ditunjukkan untuk sekelompok orang tertentu. 
  3. Komunikasinya Anonim dan Heterogen, komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen.
  4. Media Massa Menimbulkan Keserempakan, ciri lain dari komunikasi massa yaitu kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. 
  5. Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan, hal ini menunjukkan muatan atau isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan, sedangkan untuk hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu.
  6. Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah, ini berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan ke komunikator. Dengan kata lain komunikator tidak mengetahui tanggapan para pembaca atau penonton tentang pesan yang disampaikan.
  7. Stimulasi Alat Indra Terbatas, hal ini dianggap sebagai salah satu kelemahan dari komunikasi massa. 
  8. Umpan Balik Tertunda, umpan balik sebagai respon memiliki faktor penting dalam bentuk komunikasi, sering kali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan.

Komponen Komunikasi Massa 

Komunikasi massa pada dasarnya merupakan proses komunikasi satu arah, artinya komunikasi berlangsung dari komunikator (sumber) melalui media kepada komunikan (khalayak). Menurut Ardianto dkk (2007), komunikasi massa terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut:
  1. Komunikator. Dalam komunikasi massa produknya bukan merupakan karya langsung seseorang, tetapi dibuat melalui usaha-usaha yang terorganisasikan diri beberapa partisipan, diproduksi secara massal dan didistribusikan kepada massa. 
  2. Pesan. Sesuai dengan karakteristik dari pesan komunikasi massa yaitu bersifat umum, maka pesan harus diketahui oleh setiap orang. Peranan pesan bergantung pada sifat media yang berbeda antara satu sama lainnya.
  3. Media. Media yang dimaksud dalam proses komunikasi massa yaitu media massa yang memiliki ciri khas, mempunyai kemampuan untuk memikat perhatian khalayak secara serempak (simultaneous) dan serentak (instaneous).
  4. Khalayak. Khalayak yang dituju oleh komunikasi massa adalah massa atau sejumlah besar khalayak. Karenan banyaknya jumlah khalayak serta sifatnya yang anonim dan heterogen, maka sangat penting bagi media untuk memperhatikan khalayak.
  5. Filter dan Regulator Komunikasi Massa. Dalam komunikasi massa pesan yang disampaikan media pada umumnya ditujukan kepada massa (khalayak) yang heterogen. Khalayak yang heterogen ini akan menerima pesan melalui media sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, agama, usia, budaya. Oleh karena itu, pesan tersebut akan di filter (disaring) oleh khalayak yang menerimanya.
  6. Gatekeeper (Penjaga Gawang). Dalam proses perjalanan sebuah pesan dari sumber media massa kepada penerimanya, gatekeeper ikut terlibat di dalamnya. Gatekeeper dapat berupa seseorang atau satu kelompok yang dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari sumber kepada penerima.

Model Komunikasi Massa 

Menurut Morissan (2010), terdapat empat model komunikasi massa, yaitu sebagai berikut:

a. Model Transmisi 

Model ini memiliki pandangan bahwa komunikasi adalah proses pengiriman atau transmisi sejumlah informasi atau pesan kepada penerima, dalam hal ini pesan sangat ditentukan oleh pengirim atau sumber pesan. Menurut model transmisi, komunikasi massa memiliki sifat yang dapat mengatur diri sendiri (self-regulation process) yang dipandu oleh kepentingan atau minat serta permintaan audien yang diketahui dari seleksi dan respons yang ditunjukkan atas pesan yang ditawarkan media massa. model transmisi lebih cocok diterapkan pada institusi sosial yang sudah lama berdiri seperti institusi pendidikan, agama dan pemerintahan serta cocok diterapkan pada kegiatan operasional media massa yang bersifat instruksional, informatif atau tujuan-tujuan propaganda melalui media massa.

b. Model Ritual 

Model ini disebut juga model komunikasi ekspresif karena menekankan pada kepuasan bagi pengirim dan penerima pesan. Komunikasi ekspresif terkadang membutuhkan elemen pertunjukan (performance) untuk dapat terjadinya proses komunikasi. Komunikasi ini hanya terjadi jika terdapat kesamaan pemahaman dan emosi diantara para anggotanya. Komunikasi ritual kerap digunakan dalam kampanye komunikasi terencana, misalnya dalam bidang politik atau iklan, misalnya dalam menggunakan simbol-simbol tertentu. Model ritual memiliki peran menyatukan dan memobilisasi sentimen dan tindakan. Model komunikasi massa ritual lebih dapat menggambarkan unsur-unsur komunikasi yang terdapat pada kegiatan atau aktivitas seperti kesenian, drama, hiburan, dan berbagai kegiatan komunikasi massa yang banyak menggunakan bahasa lambang (simbol).

c. Model Publisitas 

Model publisitas menganggap audien media sebagai penonton daripada penerima informasi. Model ini juga memiliki hubungan dengan persepsi media bagi audiennya yang menggunakan media untuk hiburan dan menghabiskan waktu senggang. Sering kali tujuan media massa tidak hanya mengirim informasi tertentu atau menyatukan masyarakat dalam suatu ekspresi, yang bersifat budaya,, kepercayaan, atau nilai-nilai tertentu, tetapi juga untuk sekadar menangkap atau menahan perhatian orang atas suara dan gambar. Dalam melakukan ini, media memperoleh tujuan ekonomi langsung, yaitu untuk mendapatkan keuntungan dari perhatian yang diberikan media dan tujuan ekonomi tidak langsung, yaitu menjual perhatian audience kepada pemasang iklan. Model komunikasi massa publisitas (perhatian) lebih cocok diterapkan pada kegiatan media massa yang bertujuan menarik audien sebanyak mungkin yang tercermin pada rating yang tinggi dan jangkauan yang luas serta memiliki tujuan untuk prestige (gengsi) dan pendapatan (income).

d. Model Penerimaan 

Model penerimaan memandang bahwa proses komunikasi massa sangat ditentukan oleh pihak penerima yang jumlahnya bisa sangat banyak. Dengan demikian, pesan yang diterima audien tidak selalu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pengirim. Esensi dari model penerimaan ini adalah penempatan atribusi dan kontruksi makna yang berasal dari media kepada penerima. Isi media adalah selalu terbuka dan memiliki banyak makna (polysemic). Model penerimaan mengingatkan bahwa kekuatan atau pengaruh media massa hanya bersifat berpura-pura (ilusi) karena audienlah yang pada dasarnya menentukan makna yang diinginkan.

Daftar Pustaka

  • Andranto, E., Komala, L., dan Karlinah, S., 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Refika Offset.
  • Rakhmat, Jalaludin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Karlinah. 1999. Komunikasi Massa. Jakarta: Universitas Terbuka.
  • Mulyana, Dedi. 2001. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Nurudin. 2004. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Liliweri, Alo. 1991. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya Bakti.
  • Morissan, A.M. 2010. Periklanan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta : Kencana.

Dapatkan update referensi terbaru via email:

0 Response to "Komunikasi Massa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel