Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Tuberkulosis (TB)

Apa itu Penyakit Tuberkulosis? 

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis atau kuman TB. Sebagian bakteri ini menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya seperti kulit, tulang, persendian, selaput otak, usus serta ginjal yang sering disebut dengan ekstrapulmonal TBC (Chandra, 2012 & Depkes RI, 2011).

Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Tuberkulosis (TB)


Bakteri Mycobacterium Tuberculosisini adalah sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian besar dinding kuman terdiri dari asam lemak (lipid), kemudian peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA).

Kuman ini cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. Apabila penderita TB batuk atau bersin, maka kuman menyebar melalui udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei) dimana terdapat 3.000 percikan dahak dalah sekali batuk (Depkes RI, 2007).

Tanda dan Gejala Penyakit Tuberkulosis 

Tanda atau gejala penyakit Tuberkulosis atau TB pada umumnya ditandai dengan batuk berdahak secara terus-menerus selama 2 minggu atau lebih. Selain batuk, juga disertai dengan gejala lain, seperti sesak nafas, batuk darah, nyeri dada, badan lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, berkeringat pada malam hari dan demam meriang lebih dari sebulan (WHO, 2009).

Pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti terkena penyakit Tuberkulosis dilakukan dengan cara sebagai berikut (PDPI, 2006):

a. Pemeriksaan Bakteriologik 

Pemeriksaan Bakteriologik adalah pemeriksaan untuk menemukan kuman tuberkulosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH).

b. Pemeriksaan Radiologik 

Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto apiko-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform).Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif: Bayangan berawan atau nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah, kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular, bayangan bercak milier, efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang).

c. Pemeriksaan cairan pleura 

Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada penderita efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa darah.

d. Pemeriksaan darah 

Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Laju endap darah (LED) jam pertama dan kedua sangat dibutuhkan. Data ini sangat penting sebagai indikator tingkat kestabilan keadaan nilai keseimbangan biologik penderita, sehingga dapat digunakan untuk salah satu respon terhadap pengobatan penderita serta kemungkinan sebagai predeteksi tingkat penyembuhan penderita. Demikian pula kadar limfosit bisa menggambarkan biologik/daya tahan tubuh penderita, yaitu dalam keadaan supresi. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis.

e. Uji tuberkulin 

Pemeriksaan ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TB di daerah dengan prevalensi tuberkulosis rendah. Di Indonesia dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi, pemeriksaan uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik kurang berarti, apalagi pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi dari uji yang dilakukan satu bulan sebelumnya atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar sekali atau bula.

Klasifikasi Tuberkulosis 

Menurut Depkes RI (2014), Tuberkulosis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Berdasarkan lokasi anatomi 

Berdasarkan lokasi anatomi, Tuberkulosis dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Tuberkulosis paru, yaitu Tuberkulosis yang terjadi pada parenkim (jaringan) paru.
  2. Tuberkulosis ekstra paru, yaitu Tuberkulosis yang terjadi pada organ selain paru, misalnya: pleura, kelenjar limfe, abdomen, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak dan tulang.

b. Berdasarkan riwayat pengobatan 

Berdasarkan riwayat pengobatan, Tuberkulosis dibagi beberapa jenis, yaitu:
  1. Pasien baru Tuberkulosis, adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan Tuberkulosis sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun kurang dari 1 bulan (dari 28 dosis). 
  2. Pasien yang pernah diobati Tuberkulosis, adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT selama 1 bulan atau lebih (dari 28 dosis). 
  3. Pasien kambuh, adalah pasien Tuberkulosis yang pernah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis Tuberkulosis berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar-benar kambuh atau karena reinfeksi). 
  4. Pasien yang diobati kembali setelah gagal, adalah pasien Tuberkulosis yang pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir. 
  5. Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up), adalah pasien yang pernah diobati dan dinyatakan lost to follow up (klasifikasi ini sebelumnya dikenal sebagai pengobatan pasien setelah putus berobat /default). 
  6. Lain-lain, adalah pasien Tuberkulosis yang pernah diobati namun hasil akhir pengobatan sebelumnya tidak diketahui.

c. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis 

Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, Tuberkulosis dibagi dua jenis, yaitu:

1. Tuberkulosis paru BTA positif

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif, yaitu:
  • 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto thorak dada menunjukkan tuberkulosis. 
  • 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman Tuberkulosis positif. 
  • 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS yang pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2. Tuberkulosis BTA Negatif

Kasus yang tidak memenuhi definisi pada Tuberkulosis paru BTA positif. Kriteria diagnostik Tuberkulosis paru BTA negatif harus meliputi:
  • Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
  • Foto thorak abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
  • Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 
  • Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. 

Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis 

Menurut Noor (2006), pencegahan Tuberkulosis dilakukan dengan mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian, yaitu dengan cara sebagai berikut:
  1. Memberikan imunisasi pada bayi-bayi yang lahir dengan BCG dan diulang pada umur 12 bulan atau 16 bulan kemudian bila diperlukan. 
  2. Memberikan imunisasi keluarga yang terdekat, bila pemeriksaan tuberculin negative.
  3. Jangan minum susu sapi mentah, harus dimasak dahulu.
  4. Memberikan penerangan pada penderita untuk tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah atau mengeluarkan dahak di sembarang tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dan mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.

Menurut Depkes RI (2014), pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap obat anti tuberkulosis (OAT). Adapun pengobatan Tuberkulosis dilakukan sebagai berikut:

a. Pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) 

OAT harus diberikan dalam bentuk kominasi beberapa jenis obat, dalam jumlah yang cukup dan dosis yang tetap sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Pengobatan TB diberikan dalam dua tahap, yaitu:
  1. Tahap awal (intensif). Pada tahap ini penderita mendapatkan obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, kemungkinan besar pasien dengan BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. 
  2. Tahap lanjutan. Pada tahap ini penderita mendapat jenis obatlebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

b. Adanya Pengawas Minum Obat (PMO) 

Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. Tugas seorang PMO adalah mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur, mengingkatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktuyang telah ditentukan, memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan.

Adapun persyaratan untuk menjadi PMO adalah sebagai berikut:
  1. Seseorang yang dikenal, dipercaya, dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. 
  2. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.
  3. Bersedia membantu pasien dengan sukarela. 
  4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien. 

Daftar Pustaka

  • Chandra B. 2012. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Kedokteran EGC.
  • Depkes RI. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI.
  • Depkes RI. 2014. Buku Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI. 
  • PDPI. 2006. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Indah Offset Citra Grafika. 
  • Noor, N.N. 2006. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Rineka Cipta.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Tuberkulosis (TB)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel