Pengertian, Penilaian dan Perhitungan Penyusutan

Pengertian Penyusutan 

Penyusutan atau depresiasi adalah proses pengalokasian sebagian harga dari perolehan aset tetap berwujud atau beban yang dikeluarkan secara berkala selama waktu pemakaian aset tersebut yang dibebankan setiap periode akuntansi secara sistematik dan rasional.

Pengertian, Penilaian dan Perhitungan Penyusutan

Semua jenis aset tetap kecuali tanah, makin berkurang kemampuannya untuk memberikan jasa bersamaan dengan berlalunya waktu. Berkurangnya kapasitas yang tersedia berarti berkurangnya nilai aset tetap yang bersangkutan.

Tujuan penyusutan adalah mencapai prinsip pengaitan (matching principle), yakni mengaitkan pendapatan pada satu periode akuntansi dengan beban dari barang-barang dan jasa yang dikonsumsi guna menghasilkan pendapatan tersebut. Penyusutan untuk setiap periode akuntansi diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan.

Berikut definisi dan pengertian penyusutan dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Baridwan (2008), penyusutan adalah sebagian dari harga perolehan aset tetap yang secara sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi. 
  • Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2009), penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama masa manfaatnya. 
  • Menurut Martani (2012), penyusutan adalah metode pengalokasian biaya aset tetap untuk menyusutkan nilai aset secara sistematis selama periode manfaat dari aset tersebut.
  • Menurut Weygandt dkk (2007), penyusutan adalah alokasi biaya dari asset tetap menjadi beban selama masa manfaatnya berdasarkan cara yang sistematis dan rasional. 
  • Menurut Soemarso (2005), penyusutan adalah pengakuan adanya penurunan nilai aktiva tetap berwujud.
  • Menurut Dunia (2013), penyusutan adalah proses mengalokasikan atau memindahkan harga perolehan (cost) dari aset tetap ke akun beban (expense) selama jangka waktu pemakaian dari asset tetap tersebut.

Faktor Penyebab Penyusutan 

Menurut Warren dkk (2006), terdapat dua faktor yang menyebabkan terjadinya penyusutan, yaitu:
  1. Penyusutan fisik. Penyusutan fisik (physical depreciation) terjadi dari kerusakan dan keausan ketika digunakan dan karena pengaruh cuaca. 
  2. Penyusutan fungsional. Penyusutan fungsional (functional depreciation) terjadi jika aktiva tetap yang dimaksud tidak lagi mampu menyediakan manfaat dengan tingkat seperti diharapkan.

Sedangkan menurut Kieso dan Weygandt (2003), penyebab terjadinya penyusutan pada aset tetap yaitu:
  1. Faktor fisik, seperti bencana alam atau habisnya umur fisik. Faktor fisik adalah keausan, dekomposisi dan bencana yang membuat sulit bagi aktiva yang bersangkutan untuk berprestasi secara tak terbatas, faktor fisik ini menentukan batas luar untuk umur kegunaan dari suatu aktiva. 
  2. Faktor ekonomi (keusangan). Faktor ekonomi dan fungsional mengurangi umur kegunaan suatu aktiva. Terdapat tiga kategori faktor ekonomi dan fungsional, yaitu: tidak memadai, penggantian dan keusangan.

Penilaian Biaya Penyusutan 

Menurut Lubis (2009), penilaian biaya penyusutan dapat dilihat dari tiga faktor, yaitu:
  1. Harga Perolehan. Harga perolehan (cost) adalah jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli aktiva tersebut sampai aktiva itu dapat digunakan oleh perusahaan.
  2. Perkiraan Umur Kegunaan. Perkiraan umur kegunaan (usefull life) adalah periode dimana perusahaan dapat memanfaatkan aktiva tersebut. Atau Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset tersebut oleh entitas. Umur kegunaan biasanya ditetapkan dalam jumlah tahun, jumlah unit produksi, jumlah kilometer yang ditempuh dan ukuran-ukuran yang lain.
  3. Nilai Residual. Nilai residual (residu) atau biasa disebut nilai sisa yang merupakan nilai kas yang diharapkan dari aktiva tetap tersebut pada akhir masa kegunaannya.

Metode Perhitungan Penyusutan

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), metode penyusutan yang digunakan untuk aset harus direview minimum setiap akhir tahun buku, dan apabila terjadi perubahan yang signifikan dalam ekpektasi pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut, maka metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), terdapat tiga metode perhitungan penyusutan, yaitu sebagai berikut:

a. Metode garis lurus (straight-line method) 

Metode garis lurus adalah suatu metode perhitungan penyusutan aset tetap dan setiap periode akuntansi diberikan beban yang sama secara merata. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana mengasumsikan adanya penggunaan yang konstan dari suatu aset selama masa manfaatnya. Metode ini merupakan metode yang mendasarkan alokasi dari fungsi waktu penggunaan aset. Berdasarkan metode ini biaya depresiasi dihitung dengan mengalokasikan nilai aset yang didepresiasikan selama masa manfaat aset secara sama untuk setiap periodenya.

Rumus yang digunakan untuk menghitung biaya penyusutan adalah sebagai berikut:
Adapun rumus untuk menentukan tarif penyusutan adalah sebagai berikut:

b. Metode pembebanan menurun (diminishing balance method) 

Metode pembebanan menurun adalah beban penyusutan makin menurun dari tahun ke tahun. Pembebanan yang makin turun didasarkan pada anggapan bahwa semakin tua, kapasitas aset dalam memberikan jasanya akan semakin menurun juga. Metode pembebanan menurun memberikan pembebanan biaya depresiasi yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dari umur aset dan pembebanan yang rendah pada tahun-tahun akhir.

Terdapat dua metode perhitungan yang digunakan dalam metode saldo menurun, yaitu:

1. Metode jumlah angka tahun (sum of the year method) 

Metode Jumlah Angka Tahun merupakan metode depresiasi yang dihasilkan dari penghapusbukukan yang bersifat menurun dimana biaya depresiasi tahunan ditentukan dengan mengalihkan biaya depresiasi dengan fraksi tahun sebagai tarif pembebanan depresiasi. Tarif pembebanan depresiasi merupakan rasio dengan denominatornya adalah jumlah tahun penggunaan aset (misalnya aset dengan masa manfaat 5 tahun memililki denominator 15 (5+4+3+2+1) dan numeratornya adalah jumlah tahun sisa pada awal tahun yang belum didepresiasikan (misalkan pencatatan beban depresiasi pada akhir tahun ketiga maka numeratornya adalah 3).

2. Metode saldo menurun (declining balance method) 

Metode Saldo Menurun merupakan metode yang membebankan depresiasi dengan nilai yang lebih tinggi pada awal periode dan secara gradual akan berkurang pada tahun-tahun selanjutnya. Pada metode ini beban depresiasi merupakan perkalian nilai buku aset dengan tarif depresiasi yang dinyatakan dengan presentasi dimana besarnya presentase biaya dua kali lipat dari persentase garis lurus (misalkan aset dengan umur lima tahun memiliki tarif 40%, dua kali lipat dari tarif garis lurus sebesar 1/5 atau 20%). Berbeda dengan metode sebelumnya, pada metode ini nilai yang didepresiasikan tidak dikurangkan dengan nilai residunya (nilai perolehan aset).

c. Metode jumlah unit produksi (sum of the unit of production method) 

Metode jumlah unit produksi adalah suatu metode penghitungan penyusutan aset tetap, beban penyusutan pada suatu periode akuntansi dihitung berdasarkan beberapa banyak produk yang dihassilkan periode akuntansi tersebut dengan mempergunakan aset tetap tersebut. Metode ini mengasumsikan pembebanan depresiasi sebagai fungsi dari penggunaan atau produktivitas aset, bukan dilihat dari waktu penggunaan aset. Berdasarkan metode ini umur dari aset akan didepresiasikan berdasarkan jumlah output yang diproduksi (unit produksinya) atau berdasarkan input yang digunakan (seperti jam kerja).


Perhitungan penyusutan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menentukan tarif
penyusutan untuk setiap unit produksi dan tahap kedua menentukan beban penyusutan untuk suatu periode akuntansi dengan mengalikan tarif penyusutan perunit dengan jumlah unit produksi yang sesungguhnya digunakan selama periode tersebut.

Daftar Pustaka

  • Baridwan, Zaki. 2008. Sistem Akuntansi Penyusunan Prosedur dan Metode. Yogyakarta: BPPE
  • Ikatan Akuntansi Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan, PSAK No. 1, Penyajian Laporan keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Martani, Dwi. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Jakarta: Salema Empat.
  • Weygandt, dkk. 2007. Accounting Principles, Pengantar Akutansi. Jakarta: Salemba Empat.
  • Soemarso. 2005. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Salemba Empat.
  • Dunia, Firdaus A. 2013. Pengantar Akuntansi. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Warren, M. James, Reeve, E. Philip, Fees. 2006. Pengantar Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
  • Kieso, Weygandt S. Carl, dan Wairfield. 2002. Akuntansi Keuangan Menengah. Jakarta: Erlangga.
  • Lubis, Arfan I. 2009. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Pengertian, Penilaian dan Perhitungan Penyusutan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel