Pengertian, Aspek dan Penyebab Kesepian (Loneliness)

Apa itu Kesepian?

Kesepian atau loneliness adalah suatu keadaan mental dan emosional yang dicirikan dengan perasaan kehampaan, merasa sunyi, tidak memiliki teman, terisolasi dan tidak adanya seseorang yang memahami akibat dari ketidaksesuaian hubungan sosial yang diharapkan dengan kenyataan kehidupan interpersonal yang menyebabkan terhambatnya atau berkurangnya hubungan sosial yang dimiliki seseorang.

Pengertian, Aspek dan Penyebab Kesepian (Loneliness)

Orang yang kesepian merasa terasing dari kelompoknya, tidak merasakan adanya cinta di sekelilingnya, merasa tidak ada yang peduli dengan dirinya dan merasakan kesendirian, serta merasa sulit untuk mendapatkan teman. Kesepian cenderung untuk menjadi tidak bahagia dan tidak puas dengan diri sendiri, tidak mau mendengar keterbukaan intim dari orang lain dan cenderung tidak membuka diri, merasakan kesia-siaan (hopelessness), dan merasa putus asa.

Kesepian merupakan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang dihasilkan dari tingkat memadai atau rendahnya kualitas hubungan sosial. Kesepian menjadi pengalaman yang umum di seluruh rentang kehidupan dengan sebanyak 80 persen anak-anak dan remaja dan 40 persen orang yang berusia di atas 65 tahun melaporkan merasa kesepian.

Berikut definisi dan pengertian kesepian (loneliness) dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Bruno (2000), kesepian adalah suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan dengan adanya perasaan-perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. 
  • Menurut Baron (2005), kesepian adalah suatu reaksi emosional dan kognitif terhadap dimilikinya hubungan yang lebih sedikit dan lebih tidak memuaskan daripada yang diinginkan oleh orang tersebut. 
  • Menurut Rahman (2013), kesepian merupakan bentuk kegelisahan subjektif yang dirasakan pada saat suatu hubungan sosial kehilangan ciri-ciri pentingnya baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
  • Menurut Santrock (2002), kesepian adalah ketika merasa bahwa tidak seorang pun memahami dengan baik, merasa terisolasi, dan tidak memiliki seorang pun untuk dijadikan pelarian, saat dibutuhkan atau saat stres. 
  • Menurut Taylor, dkk (2000), kesepian merupakan perasaan ketidaknyamanan yang dirasakan individu ketika hubungan sosial yang ada kurang secara kuantitas dan kualitas.

Aspek-aspek Kesepian 

Menurut Deaux, dkk (1993), aspek-aspek kesepian atau loneliness adalah sebagai berikut:

a. Desperation (putus asa) 

Desperation adalah suatu keadaan dimana individu merasakan kepanikan, dan ketidakberdayaan dalam dirinya sehingga merasa ditinggalkan yang akhirnya dapat menimbulkan keinginan untuk melakukan tindakan yang nekat. Berdasarkan indikator yang spesifik dari desperation adalah:
  1. Putus asa, yaitu memiliki harapan sedikit dan siap melakukan sesuatu tanpa memperdulikan bahaya pada diri sendiri maupun orang lain. 
  2. Merasa ditinggalkan, yaitu ditinggalkan atau dibuang seseorang.

b. Impatient boredom (tidak sabar dan bosan) 

Inpatient boredom adalah keadaan dimana individu merasakan kebosanan pada diri sendiri sebagai akibat dari ketidaksabarannya ataupun kejenuhannya terhadap diri. Berdasarkan indikator impatient boredom seperti:
  1. Tidak sabar, yaitu menunjukkan perasaan kurang sabar, sangat menginginkan sesuatu. 
  2. Sering marah (filed with anger), yaitu perasaan negatif yang dominan secara perilaku, kognitif, maupun fisiologi sewaktu seseorang membuat pilihan sadar untuk mengambil tindakan.

c. Self-deprecation (mengutuk diri) 

Self-deprecation yaitu suatu tindakan ketika seorang individu tidak mampu menyelesaikan masalahnya yang membuat individu meremehkan atau merendahkan diri sendiri yang mengacu pada ketidaksukaan ekstrim atau membenci diri sendiri atau menjadi marah bahkan berprasangka pada diri sendiri, indikator self-deprecation diantaranya:
  1. Menyesali diri, yaitu perasaan kasihan atau simpati pada diri sendiri. 
  2. Sulit berkonsentrasi, yaitu ketidakmampuan memberikan perhatian penuh terhadap sesuatu.

d. Depression (depresi) 

Depression merupakan gangguan suasana hati yang berupa perasaan yang merosot seperti muram, sedih perasaan tertekan dan menarik diri dari orang lain, serta kurang tidur. Indikator depression seperti:
  1. Sedih, yaitu perasaan yang mendalam dan dalam waktu yang lama, murung dan muram, perasaan tidak nyaman dan terpuruk yang menyebabkan penderitaan. 
  2. Mengasingkan diri, yaitu menjauhkan diri sehingga menyebabkan seseorang tidak bersahabat.
  3. Sensitif, yaitu mudah dilukai secara emosional.

Jenis-jenis Kesepian 

Menurut Santrock (2002), terdapat dua bentuk kesepian berdasarkan kondisi sosial, yaitu:
  1. Kesepian emosional (emotional loneliness), adalah suatu bentuk kesepian yang muncul ketika seseorang tidak memiliki ikatan hubungan yang intim, orang dewasa yang lajang, bercerai, dan ditinggal mati oleh pasangannya sering mengalami kesepian jenis ini. 
  2. Kesepian sosial (social loneliness), adalah suatu bentuk kesepian yang muncul ketika seseorang tidak memiliki keterlibatan yang terintegrasi dalam dirinya, tidak ikut berpartisipasi dalam kelompok atau komunitas yang melibatkan adanya kebersamaan, minat yang sama, aktivitas yang terorganisasi, perang- peran yang berarti. Suatu bentuk kesepian yang dapat membuat seseorang merasa diasingkan, bosan dan cemas.

Menurut Weiten dan Lloyd (2008), berdasarkan durasi kesepian dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
  1. Transient Loneliness, yaitu perasaan kesepian yang singkat dan muncul sesekali, yang banyak dialami individu ketika kehidupan sosialnya sudah cukup layak. Transient Loneliness hanya berlangsung sebentar saja, seperti ketika mendengarkan sebuah lagu atau ekspresi yang mengingatkan pada seseorang yang dicintai yang telah pergi jauh.
  2. Transitional Loneliness, yaitu ketika individu yang sebelumnya sudah merasa puas dengan kehidupan sosialnya. Seseorang menjadi kesepian setelah mengalami gangguan dalam jaringan sosialnya tersebut (misalnya meninggalnya orang yang dicintai, bercerai atau pindah ke tempat baru). 
  3. Chronic Loneliness, adalah kondisi ketika individu merasa tidak dapat memiliki kepuasan dalam jaringan sosial yang dimilikinya setelah jangka waktu tertentu. Kesepian kronis berlangsung dalam waktu yang lama dan tidak dapat dihubungkan dengan stressor yang spesifik. Orang yang mengalami Kesepian kronis bisa saja berada dalam kontak sosial namun tidak memperoleh tingkat intimasi dalam interaksi tersebut dengan orang lain.

Menurut Deaux dkk (1993), berdasarkan sifatnya kesepian dibagi menjadi dua bentuk, yaitu:
  1. Trait loneliness, yaitu kesepian yang cenderung menetap (stable pattern), sedikit berubah, dan biasanya dialami oleh orang yang memiliki self-esteem yang rendah, dan memiliki sedikit interaksi sosial yang berarti. 
  2. State loneliness, yaitu kesepian yang bersifat temporer, biasanya disebabkan oleh pengalaman-pengalaman dramatis dalam kehidupan seseorang.

Faktor Penyebab Kesepian 

Menurut Brehm, dkk (2002), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kesepian pada seseorang, yaitu:
  1. Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki seseorang. Hubungan seseorang yang tidak adekuat akan menyebabkan seseorang tidak puas akan hubungan yang dimiliki. Ada banyak alasan seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang dimiliki, merasa tidak puas dengan hubungan yang tidak adekuat. 
  2. Terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Kesepian juga dapat muncul karena terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan. Sehingga orang tersebut tidak mengalami kesepian. Tetapi di saat lain hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah mengubah apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut. 
  3. Self-esteem. Kesepian berhubungan dengan self-esteem yang rendah. Orang yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang beresiko secara sosial. Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan menghindari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus akibatnya akan mengalami kesepian. 
  4. Perilaku interpersonal. Kesepian juga disebabkan oleh perilaku interpersonal akan menentukan keberhasilan individu dalam membangun hubungan yang diharapkan. Dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian, orang yang mengalami kesepian menilai orang lain secara negatif, tidak begitu menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan orang lain secara negatif, dan cenderung memegang sikap-sikap yang bermusuhan.

Daftar Pustaka

  • Bruno, F.J. 2000. Menaklukkan Kesepian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Baron, R. 2005. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
  • Rahman, A.A. 2013. Psikologi Sosial: Integrasi Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan Empirik. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Santrock, J.W. 2002. Life Span Development - Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.
  • Taylor C, Lillis C, Le More P. 2000. Fundamentals of nursing the art and science of nursing care B. Philadhelpia: Lippincott.
  • Deaux, Dane dan Wrightsman, S. 1993. Social Psychology in the 90’s. California: Wadsworth Publishing Company.
  • Weiten, W. & Lloyd, M.A. 2006. Psychology Applied Modern Life: Adjustment In The 21 st Century. California: Thomson Higher Education.
  • Brehm, dkk. 2002. Intimate Relationships. New York: The Mc Graw-Hill Company.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Pengertian, Aspek dan Penyebab Kesepian (Loneliness)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel