Pengertian, Fungsi, Karakteristik dan Jenis Surat Kabar

Pengertian Surat Kabar 

Surat kabar, koran atau harian adalah lembaran-lembaran kertas bertuliskan kabar (berita) dan sebagainya terbagi dikolom-kolom (8-9 kolom), terbit setiap hari secara periodik (KBBI, 2003).

Menurut Efendy (1986), Surat kabar adalah lembaran yang tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan ciri-ciri, terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termassa, aktual, mengenai apa saja dan dari mana saja di seluruh dunia, yang mengandung nilai untuk diketahui khalayak pembaca.

Pengertian, Fungsi, Karakteristik dan Jenis Surat Kabar

Menurut Djuroto (2002), surat kabar adalah kumpulan berita, artikel, cerita, iklan dan sebagainya yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit secara teratur, bisa setiap hari atau seminggu satu kali.

Surat kabar merupakan media komunikasi yang berisikan informasi aktual dari berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, kriminal, seni, olahraga, luar negeri, dalam negeri, dan sebagainya. Surat kabar lebih menitik beratkan pada informasi yang berupa fakta dan peristiwa agar diketahui khalayak (Yunus, 2010).

Surat kabar adalah terjemahan dari bahasan inggris, yaitu pers. Istilah pers berasal dari kata press yang berarti percetakan atau mesin cetak. Mesin cetak inilah yang menjadi awal terbitnya surat kabar, sehingga orang mengatakan pers itu adalah persuratkabaran. Surat kabar atau pers adalah salah satu kekuatan sosial dan ekonomi yang cukup penting dalam masyarakat.

Fungsi Surat Kabar 

Surat kabar merupakan salah satu media informasi yang memiliki lima fungsi, yaitu; informasi, mendidik, mempengaruhi, menghibur dan mediasi. Adapun penjelasan masing-masing fungsi surat kabar tersebut adalah sebagai berikut:

a. Informasi (to inform) 

Fungsi utama surat kabar adalah menyampaikan informasi secepat-cepatnya kepada masyarakat yang seluas-luasnya. Setiap informasi yang disampaikan harus memenuhi kriteria dasar yakni akurat, faktual, menarik atau penting, benar, lengkap, utuh, jelas-jernih, jujur-adil, berimbang, relevan, bermanfaat dan etis.

b. Mendidik (to educate) 

Informasi yang disebarluaskan surat kabar hendaknya dalam kerangka mendidik. Inilah yang membedakan surat kabar sebagai lembaga kemasyarakatan yang lain. Sebagai lembaga ekonomi, surat kabar memang dituntut berorientasi komersil untuk memperoleh keuntungan financial. Namun orientasi dan misi komersil itu sama sekali tidak boleh mengurangi, apalagi meniadakan fungsi dan tanggung jawab sosial surat kabar. Dengan kata lain, surat kabar harus mau dan mampu memerankan dirinya sebagai guru bangsa.

c. Mempengaruhi (to influence) 

Surat kabar adalah kekuatan keempat setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Dalam kerangka ini kehadiran surat kabar dimaksudkan untuk mengawasi atau mengontrol kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif agar kekuasaan mereka tidak korup dan absolut. Untuk itulah, dalam Negara-negara yang menganut paham demokrasi, surat kabar mengemban fungsi sebagai pengawas pemerintah dan masyarakat.

d. Menghibur (to entertain) 

Keberadaan surat kabar tidak hanya sebagai informasi yang mendidik, mengkoreksi tetapi surat kabar juga harus mampu berperan sebagai media hiburan yang menyenangkan dan sehat bagi seluruh lapisan masyarakat. Artinya, apapun pesan rekreatif yang disajikan mulai dari cerita pendek hingga teka-teki silang tidak boleh bersifat negatif. Surat kabar harus menjadi sahabat setia pembaca yang menyenangkan. Oleh karena itu, berbagai sajian hiburan yang menyesatkan harus dibuang jauh-jauh dari pola pikir surat kabar sehari-hari.

e. Mediasi (to mediate) 

Mediasi yang berarti penghubung, bisa juga disebut fasilitas atau mediator. Setiap hari surat kabar melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia dalam lembaran-lembaran kertas yang tertata rapi dan menarik. Dengan kemampuan yang dimilikinya, surat kabar telah menghubungkan berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia dengan pembaca yang berbeda keberadaannya dengan kejadian yang diberitakan. Karena surat kabarlah pembaca mengetahui aneka peristiwa lokal, regional, nasional atau internasional dalam kurun waktu yang singkat dan bersamaan.

Menurut Ardianto (2007), surat kabar memiliki dua fungsi, yaitu:

a. Fungsi Primer 

  1. To inform. Menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia. 
  2. To comment. Mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam fokus berita. 
  3. To provide. Menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pasangan iklan.

b. Fungsi Sekunder 

  1. Untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang sangat diperlukan untuk membantu kondisi-kondisi tertentu. 
  2. Memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun dan cerita-cerita khusus. 
  3. Melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.

Karakteristik Surat Kabar 

Menurut Ardianto dan Erdiana (2004), surat kabar memiliki beberapa karakteristik, yaitu sebagai berikut:

a. Publisitas 

Publisitas atau publicity adalah penyebaran pada publik atau khalayak. Dengan demikian, semua aktivitas manusia yang menyangkut kepentingan umum dan atau menarik untuk umum adalah layak untuk disebarluaskan. Pesan-pesan melalui surat kabar harus memenuhi kriteria tersebut.

b. Perioditas 

Perioditas menunjuk pada keteraturan terbitnya, bisa harian, mingguan, atau dwi mingguan. Sifat perioditas sangat penting dimiliki media massa, khususnya surat kabar. Kebutuhan manusia akan informasi sama halnya dengan kebutuhan manusia akan makan, minum, dan pakaian. Setiap hari manusia selalu membutuhkan informasi. Bagi penerbit surat kabar, selama ada dana dan tenaga yang terampil, tidaklah sulit untuk menerbitkan surat kabar secara periodik.

c. Universalitas 

Universalitas menunjuk pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan dari seluruh dunia. Dengan demikian atau isi surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan, dan lain-lain. Selain itu, lingkup kegiatannya bersifat lokal, regional, nasional, bahkan internasional.

d. Aktualitas 

Aktualitas, menurut kata asalnya, berarti kini dan keadaan sebenarnya. Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan berita, karena definisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang penting atau menarik minat, atau kedua-duanya bagi sejumlah besar orang. Laporan tercepat menunjuk pada kekinian atau terbaru dan masih hangat. Fakta dan peristiwa penting atau menarik tiap hari berganti dan perlu untuk dilaporkan, karena khalayakpun memerlukan informasi yang paling baru. Hal ini dilakukan oleh surat kabar, karena surat kabar sebagian besar memuat berbagai jenis berita.

e. Terdokumentasi 

Dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan atau dibuat kliping. Misalnya karena berita tersebut berkaitan dengan instansinya, atau artikel itu bermanfaat untuk menambah pengetahuannya. Kliping berita oleh sebuah instansi biasanya dilakukan oleh staf public relations untuk dipelajari dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya karena berita tersebut dianggap sebagai masukan dari masyarakat (public eksternal).

Jenis-jenis Surat Kabar 

Menurut Sumadiria (2008), berdasarkan sirkulasi, segmentasi dan pangsa pasarnya, pers atau surat kabar dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Pers Komunitas 

Pers komunitas memiliki jangkauan wilayah sirkulasi yang sangat terbatas. Biasanya hanya mencakup satu atau beberapa Desa dalam satu Kecamatan. Kebijakan pemberitaan pers komunitas lebih banyak diarahkan untuk mengangkat berbagai potensi dan masalah aktual di Desa atau Kecamatan setempat. Fungsi yang lebih banyak dikembangkan pada pers komunitas adalah penyebarluasan informasi dan edukasi.

b. Pers Lokal 

Pers lokal hanya beredar di sebuah Kota dan sekitarnya.Salah satu ciri pers lokal ialah 80 persen isinya diisi oleh berita, laporan, tulisan dan sajian gambar bernuansa lokal. Kebijakan redaksional pers lokal lebih bertumpu pada pengembangan dimensi kedekatan geografis dan kedekatan psikologi (proximity) dalam segala dimensi aplikasinya.

c. Pers Regional 

Pers regional berkedudukan di Ibu Kota Provinsi. Wilayah sirkulasinya meliput seluruh Kota yang terdapat dalam suatu Provinsi tersebut. Dalam situasi normal, kebijakan pers regional tidak jauh berbeda dengan pers lokal, hanya saja wilayahnya lebih luas mencakup suatu Provinsi. Pers regional masih tetap tidak akan beranjak dari teori proximity dengan cara membangun dan mengembangkan kedekatan geografis dan kedekatan psikologis serta sosio kultural dengan khalayak serta kultur daerahnya.

d. Pers Nasional 

Pers nasional lebih banyak berkedudukan di Ibu Kota Negara. Wilayah sirkulasinya meliputi sebagian besar provinsi yang berada dalam jangkauan sirkulasi melalui transportasi udara, darat, sungai dan laut. Untuk memenuhi tuntutan distribusi dan sirkulasi, pers nasional lebih banyak mengembangkan teknologi sistem cetak jarak jauh. Kebijakan redaksional pers nasional lebih banyak menekan kepada masalah, isu, aspirasi, tuntutan dan kepentingan nasional secara keseluruhan tanpa memandang sekat-sekat geografis atau ikatan primordial seperti agama, budaya, dan suku bangsa.

e. Pers Internasional 

Pers internasional hadir di sejumlah Negara dengan menggunakan teknologi sistem jarak jauh dengan pola pengembangan zona atau wilayah. Sebagai contoh, Indonesia membaca majalah Times, Newsweek, atau surat kabar harian International Herald Tribune edisi Asia. Wilayah sirkulasi pers internasional lebih banyak berpusat di Ibu Kota Negara dan beberapa kota besar Negara setempat yang masuk dalam satelit pengaruhnya, baik secara politis maupun secara industri dan bisnis.

Daftar Pustaka

  • Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Effendy, O. Uchjana. 1986. Dimensi Dimensi Komunikasi. Bandung: Alumni.
  • Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Yunus, Syarifudin. 2010. Jurnalistik terapan. Bogor: Ghalia Indonesia.
  • Ardianto, Elvinaro. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbosa Rekatama Media.
  • Ardianto, E., dan Erdiana. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
  • Sumadiria, AS Haris. 2008. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Pengertian, Fungsi, Karakteristik dan Jenis Surat Kabar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel