Pengertian, Karakteristik, Jenis dan Syarat Foto Jurnalistik

Pengertian Foto Jurnalistik 

Foto jurnalistik (Journalist Photography) adalah kombinasi antara kata dan gambar yang bernilai dan menghasilkan kesatuan komunikasi serta mengandung nilai jurnalistik seperti aktual, faktual, penting dan menarik.

Pengertian, Karakteristik, Jenis dan Syarat Foto Jurnalistik

Menurut Alwi (2004), foto jurnalistik adalah kombinasi dari kata dan gambar yang menghasilkan suatu kesatuan komunikasi saat dan kesamaan antara latar belakang dan sosial pembacanya. Sedangkan Menurut Wijaya (2011), foto jurnalistik adalah foto yang bernilai berita atau foto yang menarik bagi pembaca tertentu, dan informasi tersebut disampaikan kepada masyarakat sesingkat mungkin.

Foto jurnalistik adalah penyampaian berita, informasi, atau pesan melalui gambar. Fungsinya antara lain adalah menginformasikan (to inform), meyakinkan (to persuade), dan menghibur (to entertain). Bisa juga berarti Photographic Communication yaitu foto-foto yang mengandung nilai berita atau nilai jurnalistik yakni aktual, faktual, penting, dan menarik (Romli, 2008).

Foto jurnalistik harus memiliki kemampuan bercerita melalui gambar. Wartawan foto pun dituntut memiliki kemampuan memberikan penggambaran peristiwa melalui foto hasil jepretannya. Foto jurnalistik yang baik dapat dikatakan sebagai karya foto yang mampu menyajikan kisah cerita secara eksplisit dan implisit, tanpa harus menjelaskan isi foto yang disajikan.

Menurut Gani dan Kusumalestari (2013), karakteristik foto jurnalistik adalah sebagai berikut:
  • Foto jurnalistik adalah komunikasi melalui foto (Communication Photography). Komunikasi yang dilakukan akan mengekspresikan pandangan jurnalis foto terhadap suatu objek, tetapi pesan yang disampaikan bukan merupakan ekspresi pribadi. 
  • Medium foto jurnalistik adalah media cetak koran atau majalah, dan media kabel atau satelit juga internet seperti koran berita (wire service). 
  • Kegiatan foto jurnalistik adalah kegiatan melaporkan diri. 
  • Foto jurnalistik adalah perpaduan dari foto dan teks foto. 
  • Foto jurnalistik mengacu pada manusia, manusia adalah subjek sekaligus pembaca foto jurnallistik.
  • Foto jurnalistik adalah komunikasi dengan orang banyak (massaudiencesi). Karena itu, pesan yang disampaikan harus singkat dan harus segera diterima orang yang beraneka ragam. 
  • Foto jrunalistik merupakan hasil kerja editor foto. 
  • Tujuan foto jurnalistik adalah memenuhi kebutuhan mutlak penyampaian informasi kepada sesama, sesuai amandemen kebebasan berbicara dan kebebasan pers (freendom of speech and freendom of pressi).

Jenis-jenis Foto Jurnalistik 

Menurut Alwi (2004), terdapat sembilan jenis foto jurnalistik yang dibuat World Press Photo (WPP) yaitu badan foto jurnalistik dunia yang menjadi acuan bagi setiapfotografer dalam mengemban tugas sebagai jurnalis foto. Jenis-jenis foto jurnalistik adalah sebagai berikut:
  1. Spot Photo. Adalah foto yang dibuat dari peristiwa yang tidak terjadwal atau tidak terduga yang diambil oleh si fotografer langsung di lokasi kejadian. Misalnya, foto peristiwa kecelakaan, kebakaran, perkelahian, dan perang. Karena dibuat dari peristiwa yang jarang terjadi dan menampilkan konflik serta ketegangan, maka foto spot harus segera disiarkan. 
  2. General News Photo. Adalah foto-foto yang bisa diabadikan dari peristiwa yang terjadwal, rutin, dan bisaa.Temanya bisa bermacam-macam, yaitu politik, ekonomi, dan humor.Contoh, foto presiden menganugerahkan bintang Mahaputra, menteri membuka pameran, badut dalam pertunjukan, dan lain-lain. 
  3. People in the News Photo. Adalah foto tentang orang atau masyarakat dalam suatu berita.Yang ditampilkan adalah pribadi atau sosok orang yang menjadi berita itu.Bisa kelucuannya, nasib, dan sebagainya. Contoh, foto Ali Abbas seorang anak yang menjadi korban bom perang Irak, atau foto Juned korban kecelakaan peristiwa tabrakan kereta api, dan sebagainya. Tokoh-tokoh pada foto people in the news bisa tokoh popular atau bisa tidak, tetapi kemudian menjadi popular setelah foto itu dipublikasikan.
  4. Daily Life Photo. Adalah foto-foto tentang kehidupan sehari-hari manusia dipandang dari segi kemanusiannya (human interest). Misalnya, foto tentang pedagan asongan di stasiun kereta api.
  5. Potrait. Adalah foto yang menampilkan wajah seseorang secara close up dan mejeng. Ditampilkan karena adanya kekhasan pada wajah yang dimiliki atau kekhasan lainnya. 
  6. Sport Photo. Adalah foto yang dibuat dari peristiwa olahraga.Karena olahraga berlangsung pada jarak tertentu antara atlet dengan penonton dan fotografer, dalam pembuatan foto olahraga dibutuhkan perlengkapan yang memadai, misalnya lensa yang panjang serta kamera yang menggunakan motor drive.
  7. Science and Technology Photo. Adalah foto yang diambil dari peristiwa-peristiwa yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya, foto penemuan micro chip computer baru, foto proses pengkloningan domba, dan sebagainya. 
  8. Art and Culture Photo. Adalah foto yang dibuat dari peristiwa seni dan budaya.Misalnya, foto penari jaipong, pertunjukan Iwan Fals di panggung, dan lain sebagainya.
  9. Social and Environment. Adalah foto-foto tentang kehidupan sosial masyarakat serta lingkungan hidupnya.Contoh, foto penduduk sekitar kali manggarai yang sedang mencuci piring. 

Sedangkan menurut Oosley (1971), foto jurnalistik dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu (Gani dan Kusumalestari, 2013):

a. Nilai Kepentingan 

Menurut nilai kepentingannya, foto jurnalistik terdiri dari:
  1. Foto Hard News adalah foto jurnalistik yang sangat penting, memiliki nilai aktualitas tinggi. Foto seperti ini biasanya dimuat di halaman utama atau rubrik utama majalah berita. 
  2. Foto soft news adalah foto jurnalistik yang kurang begitu penting, namun baik juga untuk dimuat. 
  3. Filter news adalah foto jurnalistik yang berfungsi sebagai selingan atau pengisi halaman. Bila tidak memungkinkan, foto ini bisa juga di muat.

b. Penyajian 

Menurut cara penyajiannya, foto jurnalistik terdiri dari:
  1. Spot news atau foto berita adalah sebuah foto yang merekam kejadian atau peristiwa sesaat dengan waktu yang sangat singkat dan tidak berulang. Biasanya berupa foto tunggal yang berdiri sendiri menyajikan suatu peristiwa. 
  2. Photo essay atau foto esai adalah serangkaian foto yang menggambarkan berbagai aspek dari suatu masalah yang dikupas secara mendalam. 
  3. Photo sequence adalah serangkaian foto yang menyajikan suatu kejadian secara mendetail, beruntun, dan kronologis. Kejadian atau peristiwa itu terjadi dalam selisih waktu yang amat singkat (dalam bilangan menit atau bahkan detik). 
  4. Feature photograph adalah sebuah foto jurnalistik yang menyangkut kehidupan sehari-hari namun mengundang segi kemanusiaan yang menarik.

Syarat-syarat Foto Jurnalistik 

Foto jurnalistik merupakan salah satu media visual untuk merekam, mengabdikan atau menceritakan suatu peristiwa. Foto jurnalistik mempunyai sifat descriptif (menggambarkan), dan itu lebih memudahkan pembaca dalam mengetahui sebuah berita tanpa harus membacanya terlebih dahulu.

Menurut Ed Zoelverdi (1985), untuk memudahkan pembaca dalam memahami pesan komunikasi visual dari sebuah foto, terdapat beberapa syarat-syarat foto jurnalistrik yang perlu pertimbangan agar foto tersebut layak disiarkan, yaitu sebagai berikut:
  1. Informatif. Foto itu mampu menjelaskan dirinya secara ringkas, sehingga apa yang disampaikan segera dapat terbaca tanpa harus dibebani lagi dengan kata yang panjang lebar. 
  2. Hangat. Ini sesuai dengan prasyarat sebuah berita, yaitu yang ditampilkan dalam foto itu mengandung unsur kehangatan. Subyeknya bukan cerita basi karena tuntutan mutlak. 
  3. Factual. Subyek foto ini tidak diada-adakan, tetapi sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Tuntutan terhadap faktor ini sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. 
  4. Relevan. Isi yang dikandung foto secara jitu mendukung semua tema pokok cerita atau penulisan. Artinya sebagai pendamping tulisan, maka gambaran yang tersaji dalam foto tidak melenceng dari tema tulisan. 
  5. Gema. Ini akan menentukan penempatan foto. Jika rekamannya hanya mengenai kejadian local (rumah kebakaran, misalnya) maka fotonya mungkin bukan di halaman muka. Tapi jika kejadiannya itu menelan ratusan korban manusia, seperti akibat bencana alam dahsyat, yang gemanya bukan sekedar lokal, tapi lebih luas, yaitu nasional, foto ini layak dapat porsi halaman muka. 
  6. Misi. Ini menyangkut tujuan atau target pemuatan suatu foto. Ihwal bencana alam misalnya, tentu dimaksud untuk menyentuh sentuhan kemanusiaan. Ada yang bertujuan membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap hal-hal yang patut dihargai, atau sebaliknya menggugah kemauan mereka untuk mengubah apa yang secara kemasyarakatan dianggap berengsek.
  7. Otentik. Lazim juga disebut tingkat kesulitan dalam proses pemotretan. Dalam hal ini ada dua pengertian otentik. Pertama subyeknya sendiri hanya si Mat Kodak bersangkutan yang dapat, dan kedua, mesti ada 10 Mat Kodak menjepret subyek yang sama, tapi hanya satu hasil yang menunjukan sudut pandang atau moment yang berbeda. 
  8. Atraktif. Ini menyangkut sosok grafis sebuah foto yang tersaji secara menggigit atau mencekam. Penampilannya tidak hambar dan dibagian ini ada peran editing atau sumbangsih polesan Editor Foto.

Daftar Pustaka 

  • Alwi, Audi Mirza. 2004. Foto Jurnalistik. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Gani, Rita dan Kusumalestari, R.R. 2013. Jurnalistik Foto. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Wijaya, Taufan. 2011. Foto Jurnalistik dalam Dimensi Utuh. Jakarta: Sahabat.
  • Romli, Asep Syamsul M. 2008. Kamus Jurnalistik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
  • Soelarko, R.M. 1985. Pengantar Fotografi Jurnalistik. Jakarta: Karya Nusantara.
  • Ed Zoelverdi. 1985. Mat Kodak: Melihat Untuk Sejuta Mata. Jakarta: Grafiti pers.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Pengertian, Karakteristik, Jenis dan Syarat Foto Jurnalistik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel