Perilaku Menyontek (Pengertian, Jenis, Aspek dan Faktor Penyebab)

Daftar Isi
Menyontek (cheating) adalah perilaku atau perbuatan curang yang dilakukan untuk menghindari kegagalan hasil ujian atau nilai akademis menggunakan cara tidak jujur seperti; melihat hasil jawaban orang lain, menulis catatan kecil di meja, telapak tangan, atau sobekan kertas yang tersembunyi, melihat buku pedoman, catatan atau media elektronik (Hand Phone).

Perilaku Menyontek (Pengertian, Jenis, Aspek dan Faktor Penyebab)

Menyontek merupakan segala macam kecurangan yang dilakukan pada saat tes dengan cara-cara yang bertentangan dengan peraturan dalam memperoleh suatu keuntungan, yaitu memperoleh jawaban untuk mendapat nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai yang mungkin diperoleh dengan kemampuan sendiri.

Menyontek juga dapat diartikan memberikan, menggunakan ataupun menerima segala informasi, menggunakan materi yang dilarang digunakan dan memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur ataupun suatu proses untuk mendapatkan suatu keuntungan yang dilakukan pada tugas-tugas akademik.

Berikut definisi dan pengertian menyontek dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Lestari (2005), menyontek adalah perilaku yang dilakukan untuk menghindari kegagalan dari nilai akademis dengan cara yang tidak jujur yaitu suka tengak-tengok saat ujian, mendekati teman yang pandai, memilih tempat duduk yang dibelakang dan pojok, membuat catatan kecil di kertas, tisu, di dinding, bahkan menggunakan handphone untuk saling tukar jawaban dikelas sebelah. 
  • Menurut Hartanto (2012), menyontek adalah kegiatan menggunakan bahan atau materi yang tidak diperkenankan atau menggunakan pendampingan dalam tugas-tugas akademik yang bisa memengaruhi hasil evaluasi atau penelitian. 
  • Menurut Alawiyah (2011), menyontek adalah perbuatan curang yang dilakukan dalam dunia pendidikan, baik itu meniru tulisan atau pekerjaan orang lain dengan perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang terbaik dalam ujian, seperti; menulis contekan di meja atau telapak tangan, menulis di sobekan kertas yang di sembunyikan di lipatan baju, melihat buku pedoman atau buku catatan, atau menyontek melalui media lain seperti HP sewaktu ujian.
  • Menurut Anderman dan Murdock (2007), menyontek adalah memberikan, menggunakan ataupun menerima segala informasi, menggunakan materi yang dilarang digunakan dan memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur ataupun suatu proses untuk mendapatkan suatu keuntungan yang dilakukan pada tugas-tugas akademik.

Jenis-jenis Perilaku Menyontek 

Menurut Alhadza (2007), yang termasuk dalam kategori menyontek antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes atau ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, arisan (saling tukar) mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test.

Menurut Anderman dan Murdock (2007), terdapat empat jenis perilaku menyontek, yaitu:
  1. Social Active. Social Active adalah mengambil dan meminta jawaban dari orang lain. Dalam kondisi ini pelajar tersebut mengandalkan pelajar lain untuk menyontek. Contohnya: pada saat dilakukan tes klasikal atau ujian, seorang pelajar meminta jawaban kepada pelajar lainnya. 
  2. Social Passive. Social Passive adalah pada dasarnya pelajar tidak ingin terlibat dalam aktivitas menyontek. Menyontek terjadi ketika peran pelajar tersebut pasif dan diandalkan oleh pelajar lain untuk menyontek. Contohnya: ketika dilakukan tes klasikal atau ujian, pelajar membiarkan pelajar yang lain untuk melihat hasil pekerjaan nya, atau bahkan pasrah dalam memberikan contekan.
  3. Indivualistic Opportunistic. Individualistic Opportunistic adalah kegiatan menyontek yang dilakukan oleh individu-individu yang impulsive atau melakukan kegiatan menyontek dengan tiba-tiba dan tidak merencanakan sebelumnya. Contohnya: membuka buku atau menggunakan internet handphone saat tes klasikal atau ujian berlangsung.
  4. Independent Planned. Independent Planned adalah individu dengan sengaja melakukan sendiri kegiatan menyontek yang akan dilakukanya pada saat tes klasikal atau ujian dan mengandalkan dirinya sendiri. Contohnya: membawa materi-materi atau catatan- catatan ke dalam ruangan tes klasikal atau ruang ujian dengan sengaja.
Sedangkan menurut Gonzaga (2013), menyontek merupakan bentuk perilaku ketidak-jujuran akademis (academis dishonesty) antara lain yaitu:
  1. Manipulasi (Fabrication), yaitu pemalsuan data, informasi atau kutipan-kutipan dalam tugas-tugas akademis. 
  2. Plagiarism (Plagiarm), yaitu sebuah tindakan mengadopsi atau memproduksi ide, atau kata-kata dan pernyataan orang lain tanpa menyebutkan nara sumbernya.
  3. Pengelabuan (Deceiving), yaitu memberikan informasi yang keliru, menipu terhadap guru berkaitan dengan tugas-tugas akademis, memberikan alasan palsu tentang mengapa ia tidak menyerahkan tugas tepat pada waktunya, atau mengaku telah menyerahkan tugas padahal sama sekali belum menyerahkan. 
  4. Menyontek berbagai macam cara untuk memperoleh atau menerima bantuan dalam latihan akademis tanpa sepengetahuan guru.
  5. Sabotase (Sabotage), yaitu tindakan untuk mencegah dan menghalang-halangi orang lain sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan tugas akademis yang mesti mereka kerjakan. Tindakan ini termasuk didalamnya, menyobek atau menggunting lembaran halaman dalam buku-buku di perpustakaan, ensiklopedia, dan lain-lain atau secara sengaja merusak hasil karya orang lain.

Aspek-aspek Perilaku Menyontek 

Menurut Nurmayasari dan Murusdi (2015), perilaku menyontek terdiri dari beberapa aspek, yaitu:

a. Perilaku (behavior) 

Pada konteks menyontek, perilaku spesifik yang akan diwujudkan merupakan bentuk-bentuk perilaku menyontek yaitu menggunakan catatan jawaban sewaktu ujian atau ulangan, mencontoh jawaban siswa lain, memberikan jawaban yang telah selesai kepada siswa lain dan mengelak dari aturan-aturan.

b. Sasaran (target) 

Objek yang menjadi sasaran dari perilaku spesifik dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu orang tertentu atau objek tertentu (particular object), sekelompok orang atau sekelompok objek (a class of object) dan orang atau objek pada umumnya (any object). Pada konteks menyontek objek yang menjadi sasaran perilaku dapat berupa catatan jawaban, buku, telepon genggam, kalkulator maupun teman.

c. Situasi (situation) 

Situasi yang mendukung untuk dilakukannya suatu perilaku (bagaimana dan dimana perilaku itu akan diwujudkan). Situasi dapat pula diartikan sebagai lokasi terjadinya perilaku. Pada konteks menyontek perilaku tersebut dapat muncul jika siswa merasa berada dalam situasi terdesak, misalnya: diadakan pelaksanaan ujian secara mendadak, materi ujian terlalu banyak atau adanya beberapa ujian yang diselenggarakan pada hari yang sama sehingga siswa merasa kurang memiliki waktu untuk belajar. Situasi lain yang mendorong siswa untuk menyontek adalah jika siswa merasa perilakunya tidak akan ketahuan, meskipun ketahuan hukuman yang diterima tidak akan terlalu berat.

d. Waktu (time) 

Waktu terjadinya perilaku yang meliputi waktu tertentu, dalam satu periode atau tidak terbatas dalam satu periode, misalnya: waktu yang spesifik (hari tertentu, tanggal tertentu, jam tertentu), periode tertentu (bulan tertentu) dan waktu yang tidak terbatas (waktu yang akan datang).

Faktor Penyebab Perilaku Menyontek 

Menurut Hartanto (2012), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku menyontek, yaitu:
  1. Adanya tekanan untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Pada dasarnya setiap siswa memiliki keinginan yang sama, yaitu mendapatkan nilai yang baik (tinggi). Keinginan tersebut terkadang membuat siswa menghalalkan segala cara, termasuk dengan menyontek. 
  2. Keinginan untuk menghindari kegagalan. Ketakutan mendapatkan kegagalan di sekolah merupakan hal yang sering dialami oleh siswa. Kegagalan yang muncul ke dalam bentuk (takut tidak naik kelas, takut mengikuti ulangan susulan) tersebut memicu terjadinya perilaku menyontek. 
  3. Adanya persepsi bahwa sekolah melakukan hal yang tidak adil. Sekolah dianggap hanya memberikan akses ke siswa-siswa yang cerdas dalam berprestasi sehingga siswa-siswi yang memiliki kemampuan menengah merasa tidak diperhatikan dan dilayani dengan baik.
  4. Kurangnya waktu untuk menyelesaikan tugas sekolah. siswa terkadang mendapatkan tugas secara bersama. Waktu penyerahan tugas yang bersamaan tersebut membuat siswa tidak dapat membagi waktunya.
  5. Tidak adanya sikap menentang perilaku menyontek di sekolah. Perilaku menyontek di sekolah kadang-kadang dianggap sebagai permasalahan yang biasa baik oleh siswa maupun oleh guru. Karena itu, banyak siswa membiarkan perilaku menyontek atau terkadang justru membantu terjadinya perilaku ini.

Daftar Pustaka

  • Lestari, S. 2005. Studi Kualitatif Pengalaman Menyontek pada Siswa. Jurnal Penelitian Humaniora. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • Hartanto, Dody. 2012. Bimbingan dan Konseling Menyontek. Jakarta: Indeks
  • Alawiyah, Hasnatul. 2011. Pengaruh Self Efficacy, Konformitas, Goal Orientation Terhadap Perilaku Mencontek (Cheating) Siswa MTS Al-Hidayah Bekasi. Jakarta: Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Anderman, E.M., dan Murdock, T.B. 2007. Psychology of Academic Cheating. New York: Academic Press Inc.
  • Alhadza, Abdullah. 2007. Masalah Perilaku Menyontek (cheating) di Dunia Pendidikan. Online: www.depdiknas.go.id
  • Gonzaga. 2013. Tema Pendidikan Karakter Kolese Gonzaga, Kejujuran Komunikasidan Kesederhanaan (honesty, comunication and simplicity). Online: www.kolesegonzaga.com
  • Nurmayasari, Kiki dan Murusdi, Hadjam. 2015. Hubungan Antara Berpikir Positif dan Perilaku Menyontek pada Siswa Kelas X SMK Koperasi Yogyakarta. Jurnal Fakultas Psikologi, Vol.3, No.1.