Akulturasi (Pengertian, Jenis, Strategi, Faktor Pendukung dan Penghambat)

Daftar Isi
Akulturasi adalah suatu proses perubahan sosial dan budaya yang terjadi karena adanya kontak antara dua atau lebih kelompok budaya, nilai, kepercayaan dan praktek-praktek tertentu sehingga unsur-unsur yang berbeda tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam budaya sendiri. Akulturasi adalah adaptasi progresif seseorang, kelompok, atau kelas dari suatu budaya pada elemen-elemen budaya asing (ide, kata-kata, nilai, norma, perilaku).

Akulturasi (Pengertian, Jenis, Strategi, Faktor Pendukung dan Penghambat)


Akulturasi merupakan suatu fenomena yang merupakan hasil ketika suatu kelompok individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda datang dan secara berkesinambungan melakukan kontak dari perjumpaan pertama, yang kemudian mengalami perubahan dalam pola budaya asli salah satu atau kedua kelompok tersebut.

Akulturasi budaya menunjuk pada perilaku individu atau kelompok individu yang berinteraksi dengan budaya tertentu, sementara akulturasi psikologis menunjuk pada dinamika intrapersonal dalam diri tiap individu yang menghasilkan berbagai reaksi berbeda antara yang satu dengan yang lain, meskipun mereka berada dalam wilayah akulturasi yang sama.

Berikut definisi dan pengertian akulturasi dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Berry (2005), akulturasi adalah proses perubahan budaya dan psikologis yang terjadi sebagai akibat kontak antara dua atau lebih kelompok budaya dan anggota masing-masing kelompok etnik. 
  • Menurut Mulyana dan Rakhmat (2005), akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosiobudaya yang baru. 
  • Menurut Syarbaini dan Rusdiyanta (2009), akulturasi adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan dari suatu kebudayaan asing yang sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. 
  • Menurut Nugroho dan Suryaningtyas (2010), akulturasi adalah suatu tingkat dimana seorang individu mengadopsi nilai, kepercayaan, budaya dan praktek-praktek tertentu dalam budaya baru.

Jenis dan Aspek Akulturasi 

Terdapat tiga jenis akulturasi, yaitu sebagai berikut:
  1. Blind acculturation. Akulturasi jenis ini terjadi ketika orang-orang dengan budaya yang berbeda tinggal secara berdekatan satu sama lain dan pola-pola budaya dipelajari secara tidak sengaja.
  2. Imposed acculturation. Akulturasi jenis ini terjadi ketika terdapat unsur pemaksaan pada posisi suatu budaya oleh budaya lain. 
  3. Democratic acculturation. Akulturasi jenis ini terjadi ketika representasi tiap budaya menghormati budaya lainnya.
Menurut Berry (2005), akulturasi dapat diukur berdasarkan beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Cultural Maintenance 

Cultural Maintenance merupakan perilaku individu dalam mempertahankan budaya dan identitas dari daerah asalnya. Perilaku tersebut dapat tampak dalam kegiatan yang dilakukan sehari-hari, misalnya saja dalam berkomunikasi (penggunaan bahasa), penggunaan pakaian, penggunaan lambang-lambang budaya, dan lain sebagainya.

b. Contact and Participation 

Contact and Participation merupakan tindakan individu untuk melakukan kontak dan berpartisipasi dengan kelompok mayoritas bersama dengan kelompok budaya lainnya. Perilaku-perilaku dalam beradaptasi terhadap budaya yang berbeda mencakup peran dari status kelompok, identifikasi, pertemanan (friendships), dan penilaian ideologi.

Perilaku pertemanan (friendships) merupakan salah satu cara dalam melakukan kontak dengan anggota kelompok lain yang dapat meningkatkan persepsi dan evaluasi dari kelompok lain. Pertemanan (friendships) dapat meningkatkan emosi positif yang mengarah pada perilaku yang lebih baik dari kelompok lain. Outgroup friendships atau pertemanan dengan kelompok lain akan menurunkan tingkat prasangka, meningkatkan rasa simpati, dan meningkatkan kepedulian terhadap situasi dan masalah yang dihadapi oleh kelompok budaya lain.

Strategi Akulturasi 

Menurut Rahmita dan Subandi (2015), terdapat empat strategi akulturasi yang biasanya dialami oleh individu, yaitu sebagai berikut:

a. Integrasi (integration) 

Integrasi yaitu individu tetap mempertahankan budaya asli mereka tetapi individu juga ingin berpartisipasi terhadap budaya luar yang masuk ke dalam budaya mereka. Baik budaya asli dan budaya luar diterima oleh individu. Nilai-nilai budaya asli tetap dipertahankan dan nilai-nilai budaya luar juga ikut diadopsi yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku individu tersebut. Salah satu perubahan yang terjadi, misalnya mereka dapat berbicara dua bahasa atau lebih.

b. Asimilasi (assimiliation) 

Asimilasi yaitu individu hilang kontak (tidak memiliki kontak) dengan budaya asli mereka tetapi individu lebih memilih mengadakan kontak dengan budaya luar. Jadi, individu menolak budaya asli mereka dan secara menyeluruh mengasimilasi budaya luar. Terjadi perubahan dalam perilaku mereka, yaitu mengikuti nila-nilai budaya luar. Mereka mengurangi interaksi dengan orang-orang dari budaya asli mereka, mereka berbicara menggunakan bahasa dari budaya luar ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang dari budaya asli mereka sendiri.

c. Separasi (separation) 

Separasi yaitu individu mempertahankan nilai-nilai budaya asli mereka dan menolak nilai-nilai budaya luar yang masuk. Individu hanya mengadakan interaksi dengan budaya asli mereka tetapi tidak mengadakan interaksi dengan budaya luar. Jenis ini merupakan kebalikan dari asimilasi. Individu tersebut menggunakan bahasa asli mereka dalam berinteraksi dengan orang-orang dari budaya luar serta dari budaya mereka sendiri.

d. Marginalisasi (marginalization) 

Marginalisasi yaitu individu memutuskan untuk menolak budaya asli dan budaya luar. Individu tidak mempertahankan budaya asli mereka tetapi juga tidak menerima budaya luar. Maka dari itu, tidak terjadi perubahan dalam diri individu yang disebabkan oleh budaya luar, tetapi individu juga tidak berusaha mempertahankan budaya asli mereka.

Faktor Pendukung dan Penghambat Akulturasi 

Menurut Berry (2005), akulturasi memiliki faktor pendukung dan penghambatnya. Beberapa faktor yang menjadi pendukung terjadinya akulturasi antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Kapan kontak mulai terjadi, ketika kontak terjadi pada saat awal-awal kehidupan kemungkinan besar menerima resiko kecil sedangkan ketika perpindahan atau merantau dilakukan pada masa tua kemungkinan besar resiko akan diterimanya. 
  2. Gender, wanita memiliki resiko lebih besar menerima masalah daripada pria. Faktor yang berpengaruh adalah status dan keadaan yang berbeda antara daerah asli dan daerah rantauan yang akhirnya menuntut wanita untuk menggunakan satu peran yang berlaku di masyarakat tersebut dan penyelesaian yang dilakukan memungkinkan untuk timbul konflik terhadap budaya aslinya. 
  3. Pendidikan, merupakan faktor yang selalu berhubungan dengan penyesuaian diri yang positif. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka semakin rendah tingkat stress yang dialami. Pendidikan berkaitan dengan identifikasi masalah, penyelesaian masalah, berkaitan dengan faktor-faktor pelindung diri seperti status, jabatan, dukungan sosial kemudian pendidikan juga membuat individu membiasakan diri untuk berperilaku dengan ciri masyarakat asli yang merupakan awal dari proses akulturasi misalnya terhadap bahasa, sejarah, nilai, norma dan kultur sosial. 
  4. Status, pengalaman umum yang dialami para perantau adalah kombinasi antara kehilangan status dan keterbatasan gerak. Kualifikasi frekuensi status pergi lebih tinggi daripada status datang tetapi ada kemungkinan juga terdapat perbedaan dalam kualifikasi yang bisa berlanjut pada kehilangan status dan resiko stress. Dalam hal ini kualifikasi pribadi atau personal yang membawa pada proses akulturasi, tetapi juga ada interaksi yang terjalin antara perantau dan masyarakat asli. Masalah kehilangan status dan keterbatasan gerak biasanya terjadi pada saat berjalannya akulturasi. 
  5. Alasan merantau, dipengaruhi oleh dua motivasi yaitu push dan pull motivation. Pull motivation adalah individu merantau karena keinginannya dan memiliki harapan yang positif dari daerah rantauannya yang akan menghasilkan sikap yang proaktif. Sedangkan push motivation, individu memilih untuk merantau karena dipaksa, tidak sengaja dan memiliki harapan yang negatif yang akan menghasilkan sikap yang reaktif. 
  6. Seberapa jauh perbedaan antara dua budaya yang melakukan kontak, semakin jauh perbedaan yang dirasakan antar budaya tersebut maka semakin tinggi kemungkinan menimbulkan konflik. 
  7. Personal factor, misalnya self efficacy, locus of control, introvert/ekstrovert
Menurut Fajar (2009), hambatan-hambatan dalam proses akulturasi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut:
  1. Mengabaikan perbedaan antara individu dan kelompok yang secara kultural berbeda. Ini terjadi dalam hal nilai, sikap dan kepercayaan. Individu dengan mudah mengakui dan menerima perbedaan gaya rambut, cara berpakaian, dan makanan. Tetapi dalam hal nilai-nilai dan kepercayaan dasar, menganggap bahwa pada dasarnya manusia itu sama itu tidak benar. Bila mengasumsikan kesamaan dan mengabaikan perbedaan secara implisit mengkomunikasikan kepada lawan bicara bahwa ia yang benar dan cara orang lain tidak penting. 
  2. Mengabaikan perbedaan antara kelompok kultural yang berbeda. 
  3. Melanggar adat kebiasaan kultural. Setiap kultur itu mempunyai aturan komunikasi sendiri-sendiri. Aturan ini menetapkan mana yang patut dan mana yang tidak patut. 
  4. Menilai perbedaan secara negatif. Adanya perbedaan di antara kultur-kultur tidak boleh menilai perbedaan itu sebagai hal yang negatif. 
  5. Kejutan budaya. Kejutan budaya mengacu pada reaksi psikologis yang dialami seseorang karena di tengah suatu kultur yang sangat berbeda dengan kulturnya sendiri.

Daftar Pustaka

  • Berry, J.W. 2005. Acculturation: Living successfully in Two Cultures. International Journal of Intercultural Relations.
  • Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Rusdiyanta dan Syarbaini, Syahrial. 2009. Dasar-dasar Sosiologi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Nugroho, R.A., dan Suryaningtyas, V.W. 2010. Akulturasi Antara Etnis Cina dan Jawa: Konvergensi atau Divergensi Ujaran Penutur Bahasa Jawa. Semarang: Seminar Nasional Pemertahanan Bahasa Nusantara.
  • Rahmita, S.G., dan Subandi. 2015. Akulturasi para Self-Initiated Expariated. Yogyakarta: Jurnal Psikologi.
  • Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Yogyakarta: Graha Ilmu.