Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Ketimpangan Pendapatan (Pengertian, Penyebab dan Pengukuran)

Apa itu Ketimpangan Pendapatan? 

Ketimpangan pendapatan adalah suatu konsep yang menjelaskan perbedaan kemakmuran, standar hidup, serta pendapatan yang diterima atau dihasilkan oleh individu atau rumah tangga dalam masyarakat sehingga mengakibatkan tidak meratanya distribusi antar wilayah disebabkan oleh perbedaan faktor produksi dan sumber daya yang tersedia.

Ketimpangan Pendapatan (Pengertian, Penyebab dan Pengukuran)

Ketimpangan pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan relatif, yaitu perhitungan kemiskinan berdasarkan proporsi distribusi pendapatan daerah. Ketimpangan pendapatan mencerminkan pemerataan hasil pembangunan suatu daerah atau negara baik yang diterima masing-masing orang ataupun dari kepemilikan faktor-faktor produksi dikalangan penduduknya. Ketimpangan pendapatan lebih besar terjadi di negara-negara yang baru memulai pembangunannya, sedangkan bagi negara maju atau lebih tinggi tingkat pendapatannya cenderung lebih merata atau tingkat ketimpangannya rendah.

Menurut Sukirno (2006), terdapat dua konsep mengenai pengukuran ketimpangan pendapatan, yaitu konsep ketimpangan absolut dan ketimpangan relatif. Konsep ketimpangan absolut merupakan konsep pengukuran ketimpangan yang menggunakan parameter dengan suatu nilai mutlak. Sedangkan konsep ketimpangan relatif merupakan konsep pengukuran ketimpangan distribusi pendapatan yang membandingkan besarnya pendapatan yang diterima oleh seseorang atau sekelompok anggota masyarakat dengan besarnya total pendapatan yang diterima oleh masyarakat secara keseluruhan.

Berikut definisi dan pengertian ketimpangan pendapatan dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Smith dan Todaro (2006), ketimpangan pendapatan adalah terdapatnya perbedaan pendapatan yang diterima atau dihasilkan oleh masyarakat sehingga mengakibatkan tidak meratanya distribusi pendapatan nasional di antara masyarakat. 
  • Menurut Baldwin (1986), ketimpangan pendapatan adalah perbedaan kemakmuran ekonomi antara yang kaya dengan yang miskin, hal ini tercermin dari adanya perbedaan pendapatan. 
  • Menurut Kuncoro (2006), ketimpangan pendapatan adalah standar hidup yang relatif pada seluruh masyarakat, karena kesenjangan antar wilayah yaitu adanya perbedaan faktor produksi dan sumber daya yang tersedia. 
  • Menurut Sukirno (2006), ketimpangan pendapatan merupakan suatu konsep yang membahas tentang penyebaran pendapatan setiap orang atau rumah tangga dalam masyarakat.

Penyebab Ketimpangan Pendapatan 

Menurut Hajiji (2010), ketimpangan pendapatan dapat ditentukan oleh tingkat pembangunan suatu negara, heterogenitas etnis, dan adanya kediktaktoran dan pemerintahan yang gagal di suatu negara. Ketimpangan pendapatan akan terjadi pada tahap awal pertumbuhan ekonomi. Pada masa ini distribusi pendapatan akan memburuk, namun, di tahap selanjutnya, distribusi pendapatan akan mengalami peningkatan dan ketimpangan akan terkikis, sehingga nantinya akan menciptakan masyarakat yang lebih setara.

Menurut Todaro (2006), semakin tidak merata pola distribusi pendapatan, semakin tinggi pula laju pertumbuhan ekonomi karena orang-orang kaya memiliki rasio tabungan yang lebih tinggi dari pada orang orang miskin sehingga akan meningkatkan aggregate saving rate yang diikuti oleh peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Arsyad (2010), terdapat delapan faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan pendapatan dalam suatu daerah, yaitu sebagai berikut:
  1. Pertumbuhan penduduk yang tinggi mengakibatkan menurunnya pendapatan perkapita. 
  2. Inflasi dimana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara proporsional dengan pertambahan produksi barang-barang.
  3. Ketidakmerataan pembangunan antar daerah. 
  4. Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal (Capital Insentive), sehingga persentase pendapatan modal dari kerja tambahan besar dibandingkan dengan persentase pendapatan yang berasal dari kerja, sehingga pengangguran bertambah. 
  5. Rendahnya mobilitas sosial. 
  6. Pelaksanaan kebijakan industri substitusi impor yang mengakibatkan kenaikan harga-harga barang hasil industri untuk melindungi usaha-usaha golongan kapitalis. 
  7. Memburuknya nilai tukar (term of trade) bagi negara sedang berkembang dalam perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai akibat ketidakelastisan permintaan negara-negara maju terhadap barang-barang ekspor negara sedang berkembang. 
  8. Hancurnya industri kerajinan rakyat seperti pertukangan, industri rumah tangga, dan lain-lain.

Pengukuran Ketimpangan Pendapatan 

Terdapat beberapa metode yang biasa digunakan dalam pengukuran ketimpangan pendapatan, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Distribusi ukuran (size distribution) 

Menurut Todaro dan Smith (2006), distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income) merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga.

Secara umum mengukur ketimpangan yang pertama dihitung dengan menghitung berapa persen pendapatan yang diterima oleh 40 persen penduduk miskin. Selanjutnya dapat diukur dengan melakukan perbandingan persentase pendapatan yang diterima oleh 40 persen orang miskin dengan persentase yang diterima oleh 20 persen orang kaya. Tingkat ketimpangan berat apabila 40 persen penduduk paling miskin menerima kurang dari 12 persen pendapatan nasional. Tingkat ketimpangan ringan apabila 40 persen penduduk miskin menerima diatas 17 persen pendapatan nasional.

Menurut Hudiyanto (2014), derajat ketimpangan pendapatan berdasarkan distribusi ukuran yaitu:
  • Tingkat ketimpangan berat, apabila 40 persen penduduk paling miskin menerima kurang dari 12 persen pendapatan nasional. 
  • Tingkat ketimpangan sedang, apabila 40 persen penduduk paling miskin menerima antara 12-17 persen dari pendapatan nasional. 
  • Tingkat ketimpangan ringan, apabila 40 persen penduduk paling miskin menerima diatas 17 persen dari pendapatan nasional.

b. Kurva Lorenz 

Kurva Lorenz merupakan suatu kurva yang digunakan untuk menganalisis distribusi pendapatan perorangan. Kurva lorens dikenalkan oleh Conrad Lorens, seorang ahli statistika dari Amerika Serikat pada tahun 1905. Kurva lorens menggambarkan hubungan antara kelompok-kelompok penduduk dan pangsa (share) pendapatan mereka. Kurva ini menggambarkan hubungan antara persentase jumlah penduduk dengan persentase pendapatan yang diterima (Arsyad, 2010).

Kurva Lorenz
Kurva Lorenz
Menurut Todaro dan Smith (2006), kurva Lorenz memperlihatkan hubungan kuantitatif aktual antara persentase penerimaan pendapatan dengan persentase pendapatan total yang benar-benar mereka terima selamanya, misalnya satu tahun. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya melambangkan persentase kumulatif pendapatan nasional, sedangkan sisi datarnya mewakili persentase kumulatif penduduk. Kurvanya sendiri ditempatkan pada diagonal utama bujur sangkar tersebut. Kurva Lorenz yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan distribusi pendapatan nasional yang semakin merata. Sebaliknya, jika kurva Lorenz semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung), maka ia mencerminkan keadaan yang semakin buruk, distribusi pendapatan nasional semakin timpang dan tidak merata.

Keadaan yang paling ekstrim dari ketidakmerataan sempurna misalnya keadaan dimana seluruh pendapatan hanya diterima oleh satu orang, yang akan ditunjukkan oleh berhimpitnya kurva Lorenz tersebut dengan sumbu horizontal bagian bawah dan sumbu vertikal sebelah kanan. Oleh karena itu tidak ada suatu negarapun yang mengalami kemerataan sempurna atau ketidakmerataan sempurna dalam distribusi pendapatannya, maka kurva-kurva Lorenz untuk setiap negara terletak disebelah kanan kurva diagonal. Semakin tinggi derajat ketidakmerataan kurva Lorenz itu akan semakin melengkung (cembung) dan semakin mendekati sumbu horizontal sebelah bawah (Maipita, 2014).

c. Indeks Gini 

Indeks gini dikenal juga dengan gini ratio (rasio gini) atau koefisien gini. Indeks gini diciptakan oleh Corrado Gini pada tahun 1912 dalam karyanya berjudul Variabilità e mutabilità. Indeks gini dihitung dengan menggunakan kurva lorenz, caranya adalah membandingkan atau membagi bidang yang dibatasi oleh garis regional dalam kurva lorenz dengan garis lengkung sebagai penyimpangan atas diagonal. Angka yang didapat kemudian disebut indeks atau koefisien atau rasio gini. Indeks gini berkisar 0 dan 1. Gini sebesar 0 menunjukkan kemerataan sempurna dimana semua orang mempunyai pendapatan yang persis sama. Sedangkan gini indeks 1 berarti ada ketidakmerataan yang sempurna (Todaro dan Smith, 2006).

Indeks Gini juga dapat menunjukkan ketidaksetaraan melalui alat analisis rasio seperti pendapatan per kapita dan produk domestik bruto. Selain itu, Indeks Gini dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketidakmerataan distribusi pendapatan penduduk di berbagai sektor dan negara. Indeks Gini dapat menunjukkan perubahan distribusi pendapatan dalam suatu negara selama periode waktu tertentu, sehingga mampu menunjukkan peningkatan atau penurunan dari ketimpangan pendapatan di suatu negara tersebut.

Gambar kurva indeks gini beserta rumusnya adalah sebagai berikut:
Kurva Indeks Gini
Kurva Indeks Gini
Rumus Indeks Gini

Keterangan:
G = Gini Ratio Pi = Persentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i
Qi = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas-i
Qi-1 = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i
k = Banyaknya kelas pendapatan

Menurut Sastra (2017), indeks gini membagi tingkat ketimpangan pendapatan menjadi lima tingkat, yaitu:
  1. Ketimpangan sangat tinggi (Rasio Gini = 0.8). 
  2. Ketimpangan tinggi (0,6-0,79). 
  3. Ketimpangan sedang (0,4-0,59). 
  4. Ketimpangan rendah (0,2-0,39). 
  5. Ketimpangan sangat rendah (<0,2).

d. Bank Dunia 

Menurut Bank Dunia, ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan masyarakat dari kelompok yang berpendapatan rendah dibandingkan dengan total pendapatan penduduk. Terdapat tiga klasifikasi ketimpangan pendapatan menurut Bank Dunia, yaitu:
  1. Ketimpangan Tinggi. 40% penduduk berpendapatan rendah dan menerima < 12% dari total pendapatan. 
  2. Ketimpangan Sedang. 40% penduduk berpendapatan rendah dan menerima 12%-17% dari total pendapatan. 
  3. Ketimpangan Rendah. 40% penduduk berpendapatan rendah dan menerima > 17% dari total pendapatan.

Daftar Pustaka

  • Sukirno, Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Kencana.
  • Todaro, M.P., dan Smith, S.C. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
  • Baldwin, Robert E. 1986. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta: Bina Aksara.
  • Kuncoro, Murdrajat. 2006. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Hajiji, Ajid. 2010. Keterkaitan Antara Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan dan Pengentasan Kemiskinan di Propinsi Riau 2002-2008. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
  • Todaro, M.P. 2006. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.
  • Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
  • Hudiyanto. 2014. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakrta.
  • Maipita, Indra. 2014. Mengukur Kemiskinan dan Distribusi Pendapatan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
  • Sastra, Eka. 2017. Kesenjangan Ekonomi Mewujudkan Keadilan Sosial di Indonesia. Jakarta: Mizan Publika.

Posting Komentar untuk "Ketimpangan Pendapatan (Pengertian, Penyebab dan Pengukuran)"