Hipotermia (Pengertian, Jenis, Tanda, Penyebab dan Penanganan)

Apa itu Hipotermia? 

Hipotermia adalah suatu kondisi suhu tubuh yang berada di bawah rentang normal tubuh (< 35°C atau 95°F) yang disebabkan lepasnya panas karena konduksi, konveksi, radiasi atau evaporasi. Pada bayi yang baru lahir, hipotermia terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas disebabkan pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf yang mengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.

Hipotermia (Pengertian, Jenis, Tanda, Penyebab dan Penanganan)

Hipotermia merupakan suatu tanda bahaya karena dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung paru dan kematian. Hipotermia menyebabkan penurunan viskositas darah dan kerusakan intraselular (intracellular injury). Bayi yang mengalami hipotermi akan mengalami penurunan kekuatan menghisap ASI, wajahnya akan pucat, kulitnya akan mengeras dan memerah dan bahkan akan mengalami kesulitan bernapas, sehingga bayi baru lahir harus tetap dijaga kehangatannya.

Berikut definisi dan pengertian hipotermia dari beberapa sumber buku:
  • Menurut Maimunah (2005), hipotermia adalah temperatur tubuh yang rendah, seperti yang disebabkan oleh pemajanan terhadap cuaca dingin, atau keadaan tubuh yang diinduksi dengan cara menurunkan metabolisme dan dengan demikian menurunkan kebutuhan oksigen. 
  • Menurut Tanto dkk (2014), hipotermia adalah penurunan suhu inti tubuh menjadi < 35°C (atau 95°F) secara involunter. Lokasi pengukuran suhu inti tubuh mencakup rektal, esofageal, atau membran timpani. 
  • Menurut Setiati dkk (2014), hipotermia adalah lepasnya panas karena konduksi, konveksi, radiasi, atau evaporasi. Local cold injury dan frostbite timbul karena hipotermia menyebabkan penurunan viskositas darah dan kerusakan intraselular (intracellular injury). 
  • Menurut Surasmi (2008), hipotermia adalah peristiwa yang terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf yang mengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.

Jenis-jenis Hipotermia 

Menurut Tanto dkk (2014), berdasarkan etiologinya, hipotermia dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

a. Hipotermia primer 

Hipotermia primer terjadi apabila produksi panas dalam tubuh tidak dapat mengimbangi adanya stres dingin, terutama bila cadangan energi dalam tubuh sedang berkurang. Kelainan panas dapat terjadi melalui mekanisme radiasi (55-65%), konduksi (10-15%), konveksi, respirasi dan evaporasi. Pemahaman ini membedakan istilah hipotermia dengan frost bite (cedera jaringan akibat kontak fisik dengan benda/zat dingin, biasanya <0°C).

b. Hipotermia sekunder 

Hipotermia sekunder terjadi karena adanya penyakit atau pengobatan tertentu yang menyebabkan penurunan suhu tubuh. Berbagai kondisi yang dapat mengakibatkan hipotermia antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Penyakit endokrin (hipoglikemi, hipotiroid, penyakit Addison, diabetes melitus, dan lain-lain).
  2. Penyakit kardiovaskuler (infark miokard, gagal jantung kongestif, insufisiensi vascular, dan lain-lain). 
  3. Penyakit neurologis (cedera kepala, tumor, cedera tulang belakang, penyakit Alzheimer, dan lain-lain).
  4. Obat-obatan (alkohol, sedatif, klonidin, neuroleptik).
Sedangkan menurut Dwienda (2014), hipotermia dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu:
  1. Hipotermia sedang. Merupakan hipotermia akibat bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah, waktu timbulnya hipotermia sedang adalah kurang dari 2 hari dengan ditandai suhu 32°C-36°C, bayi mengalami gangguan pernapasan, denyut jantung kurang dari 100x/menit, malas minum dan mengalami letargi selain itu kulit bayi akan berwarna tidak merata atau disebut cutis marmorata, kemampuan menghisap yang dimiliki bayi lemah serta kaki akan teraba dingin. 
  2. Hipotermia berat. Hipotermi ini terjadi karena bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah cukup lama akan timbul selama kurang dari 2 hari dengan tanda suhu tubuh bayi mencapai 32°C atau kurang, tanda lain seperti hipotermia sedang, kulit bayi teraba keras, napas bayi tampak pelan dan dalam , bibir dan kuku bayi akan berwarna kebiruan, pernapasan bayi melambat, pola pernapasan tidak teratur dan bunyi jantung melambat. 
  3. Hipotermia dengan suhu tidak stabil. Merupakan gejala yang timbul tanpa terpapar dengan suhu dingin atau panas yang berlebihan dengan gejala suhu bisa berada pada rentang 36-39°C meskipun dengan suhu ruangan yang stabil.

Tanda-Tanda Hipotermia 

Menurut Saifuddin (2006), gejala awal hipotermia adalah apabila suhu bayi baru lahir < 36ºC atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 32ºC-36ºC). Disebut hipotermia berat apabila suhu tubuh bayi < 32ºC. Penilaian tanda-tanda hipotermia pada bayi baru lahir meliputi bayi tidak mau minum/menetek, bayi tampak lesu atau mengantuk, tubuh bayi teraba dingin, dalam keadaan berat denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema).

Tanda-tanda hipotermia sedang antara lain meliputi aktifitas bayi berkurang (letargis), tangisan bayi lemah, kulit berwarna tidak rata (Cutis mamorata), kemampuan menghisap lemah dan kaki teraba dingin. Tanda-tanda hipotermia berat sama dengan hipotermia sedang antara lain bibir dan kuku kebiruan, pernafasan lambat, pernafasan tidak teratur dan bunyi jantung lambat. Untuk mengukur hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat mengukur suhu hingga 25°C. Hipotermia dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan berlanjut dengan kematian.

Penyebab Terjadinya Hipotermia 

Menurut Saifuddin (2006), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hipotermia, yaitu sebagai berikut:
  1. Evaporasi. Kehilangan panas karena penguapan cairan ketuban yang melekat pada permukaan tubuh bayi yang tidak segera dikeringkan. Contohnya: air ketuban pada tubuh bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan serta bayi segera dimandikan. 
  2. Konduksi. Kehilangan panas karena panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin seperti; meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan di atas benda tersebut. 
  3. Konveksi. Kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Kehilangan panas juga terjadi jika konveksi aliran udara dan kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
  4. Radiasi. Kehilangan panas tubuh yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi karena benda tersebut akan menyerap radiasi panas tubuh bayi.
Selain itu terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya hipotermia, yaitu sebagai berikut:
  1. Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang berlebihan, seperti lingkungan dingin, basah atau bayi yang telanjang, cold linen, selama perjalanan dan beberapa keadaan seperti mandi, pengambilan sampel darah, pemberian infus serta pembedahan. Juga peningkatan aliran udara dan penguapan.
  2. Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh yang relatif luas, kurang lemak, ketidaksanggupan mengurangi permukaan tubuh, yaitu dengan memfleksikan tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan hilangnya panas yang lebih besar. 
  3. Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti defisiensi brown fat, misalnya bayi preterm, kecil masa kelahiran, kerusakan sistem saraf pusat sehubungan dengan anoksia, intra kranial hemorrhage, hipoksia dan hipoglikemi.

Pencegahan dan Penanganan Hipotermia 

Menurut Affandi (2007), beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan terjadinya hipotermia adalah sebagai berikut:
  1. Keringkan bayi dengan seksama. Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera lahir untuk mencegah kehilangan panas disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi. Keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu. 
  2. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, serta segera mengganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban. 
  3. Selimuti bagian kepala. Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
  4. Tempatkan bayi pada ruangan yang panas. Suhu ruangan atau kamar hendaknya dengan suhu 28°C - 30°C untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi. 
  5. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir. Pemberian ASI lebih baik ketimbang glukosa karena ASI dapat mempertahankan kadar gula darah. 
  6. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir. Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak berpakaian) sebelum melakukan penimbangan terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering.
Menurut Rahayu (2017), penanganan bayi yang mengalami hipotermia dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
  1. Bayi yang telah mengalami hipotermi memiliki risiko besar untuk terjadi kematian, sehingga ketika terjadi hipotermi maka tindakan yang harus dilakukan pertama adalah hangatkan bayi dengan penyinaran atau inkubator. 
  2. Selanjutnya cara yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap orang yaitu dengan metode kanguru, yaitu metode dengan memanfaatkan panas tubuh dari ibu. Bayi ditelungkupkan di dada ibu sehingga terjadi kontak langsung dengan kulit ibu. Untuk menjaga kehangatan maka bayi dan ibu harus berada dalam satu pakaian atau bahkan selimut, sehingga suhu bayi tetap hangat di dekapan ibu. 
  3. Apabila setelah dilakukan tindakan tersebut, bayi tetap masih dingin, maka selimuti bayi dan ibu dengan pakaian atau selimut yang telah disetrika terlebih dahulu, dilakukan secara berulang sampai suhu tubuh bayi kembali hangat. 
  4. Bayi yang mengalami hipotermi biasanya akan mengalami hipoglikemia, sehingga ibu harus memberikan bayinya ASI sedikit-sedikit tetapi sering. Bila bayi tidak mau menghisap atau reflek hisapnya lemah, maka diberikan infus glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kg per hari.

Daftar Pustaka

  • Maimunah. 2005. Kamus Istilah Kebidanan. Jakarta: EGC.
  • Tanto, C.L., dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Medika Aesculapius.
  • Setiati S, dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.
  • Surasmi, Asrining. 2008. Perawatan Bayi Beresiko Tinggi. Jakarta: EGC.
  • Dwienda, O. 2014. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi/Balita dan Anak Prasekolah untuk Para Bidan. Yogyakarta: Deepublish.
  • Saifuddin, A.B. 2006. Buku Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  • Afandi. 2007. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: EGC.
  • Rahayu, A.P. 2017. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: Selemba Medika.

Posting Komentar untuk "Hipotermia (Pengertian, Jenis, Tanda, Penyebab dan Penanganan)"