Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Apa itu ADHD? 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah suatu kondisi yang terjadi pada anak-anak berupa gangguan dalam pemusatan perhatian, kontrol diri dan kebutuhan untuk selalu mencari stimulasi. ADHD diperlihatkan dengan ciri-ciri berupa kurang konsentrasi, tidak mempunyai perhatian, tidak dapat mengikuti perintah, hiperaktif dan impulsif.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD pertama kali dikenalkan oleh George F. Still, seorang dokter berkebangsaan Inggris dalam penelitiannya terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian, gelisah dan resah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tersebut memiliki kekurangan yang serius dalam hal kemauan yang berasal dari bawaan biologis. Gangguan tersebut disebabkan oleh sesuatu didalam diri anak dan bukan karena faktor lingkungan (Baihaqi & Sugiarman, 2006).

ADHD merupakan masalah psikologis yang banyak ditemui. Gangguan ini diperkirakan mempengaruhi 3% sampai 7% anak-anak usia sekolah atau sekitar 2 juta anak Amerika. ADHD didiagnosis 2 sampai 9 kali lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan. Walaupun kurangnya perhatian merupakan dasar dari masalah gangguan ini, namun masalah-masalah lain muncul terkait ketidakmampuan untuk duduk tenang lebih dari beberapa menit, mengganggu, temper tantrum, keras kepala dan tidak merespon terhadap hukuman (Nevid, 2005).

Berikut definisi dan pengertian Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dari beberapa sumber buku: 
  • Menurut Martaniah (2001), ADHD adalah suatu gangguan yang mengandung dua komponen yaitu: tidak mempunyai perhatian, tidak dapat mengikuti perintah yang disertai hiperaktivitas dan impulsivitas.
  • Menurut Baihaqi & Sugiarman (2006), ADHD adalah kondisi anak-anak yang memperlihatkan ciri-ciri atau gejala kurang konsentrasi, hiperaktif dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka. 
  • Menurut Rusmawati dan Dewi (2011), ADHD adalah gangguan yang menyebabkan individu memiliki kecenderungan untuk mengalami masalah pemusatan perhatian, kontrol diri, dan kebutuhan untuk selalu mencari stimulasi. 
  • Menurut Townsend (1998), ADHD adalah kelainan hiperaktivitas, kurang perhatian yang sering ditampakan sebelum usia 4 tahun dan dikarakteristikkkan oleh ketidaktepatan perkembangan tidak perhatian, impulsive dan hiperaktif. 
  • Menurut Nevid (2005), ADHD adalah gangguan perilaku yang ditandai oleh aktivitas motorik berlebih dan ketidakmampuan untuk memfokuskan perhatian.

Ciri dan Gejala ADHD 

Menurut Baihaqi & Sugiarman (2006) dan Paternotte dkk (2010), ciri-ciri atau gejala yang sering ditemukan pada anak yang mengalami gangguan ADHD adalah sebagai berikut:

a. Gangguan perhatian dan konsentrasi 

Anak-anak dengan ADHD akan sangat kesulitan mempertahankan perhatiannya pada suatu tugas tertentu. Kesulitan ini bukan disebabkan karena adanya rangsangan-rangsangan luar yang mengganggu mempertahankan perhatiannya. Anak-anak dengan ADHD mempunyai kesulitan untuk mendorong rangsangan-rangsangan tadi menjauh dari kesadarannya. Pada kriteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari gejala-gejala berikut ini: 
  1. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya. 
  2. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain. 
  3. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.
  4. Seringkali tidak mengikuti baik-baik instruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan, atau tugas ditempat kerja (bukan disebabkan karena perilaku melawan atau gagal untuk mengerti instruksi). 
  5. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan.
  6. Sering kehilangan barang/benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan, misalnya kehilangan permainan; kehilangan tugas sekolah; kehilangan pensil, buku, dan alat tulis lainnya. 
  7. Seringkali menghindar, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyentuh usaha mental yang didukung, seperti menyelesaikan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah. 
  8. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar, dan.
  9. Sering lekas lupa dan menyelesaikan kegiatan sehari-hari.

b. Hiperaktivitas 

Sejak masih muda sekali anak ADHD adalah anak-anak yang selalu bergerak. Ia terus bergerak sepanjang hari, dan tidak dapat diam duduk di kursinya. Ia tak pernah tenang, mudah tegang, dan frustrasi. Anak-anak ini sendiri di dalam hatinya selalu merasa tak tenang. Dibutuhkan banyak energi baginya untuk duduk diam dan tenang. Saat mereka sudah besar, hiperaktivitasnya akan berkurang, yang tertinggal adalah hiperaktivitas kecil misalnya mengutik-ngutik dengan jari, bergoyang-goyang, atau berputar-putar. Adapun gejala atau ciri yang ditunjukkan pada gangguan hiperaktivitas adalah sebagai berikut: 
  1. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi. 
  2. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya dimana diharapkan anak tetap duduk. 
  3. Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi dimana hal ini tidak tepat. (pada masa remaja atau dewasa terbatas pada perasaan gelisah yang subjektif. 
  4. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang. 
  5. Sering bergerak atau bertindak seolah-olah dikendalikan oleh motor. 
  6. Sering berbicara berlebihan.

c. Impulsivitas 

Anak dengan ADHD biasanya sangat impulsif. Ia memberi jawaban sebuah pertanyaan sebelum ia benar-benar mendengar, atau memulai tugas sebelum ia benar-benar membaca atau mengetahui apa yang diharapkan. Ia berdiri begitu saja di atas kursinya. Naik ke berbagai tempat tanpa rasa takut, atau memukul anak lain sebelum dia mendapatkan rasa sakit dari anak lain. Mereka akan menunjukkan pengendalian diri yang lemah dan impulsifvitas yang lebih besar. Mereka mempunyai kekurangan pada kerja sistem kontrol yang merupakan fungsi rem, yang dapat mengatur perilaku mereka. Hal ini merupakan gambaran normal dari anak-anak yang masih muda sekali. Secara normal, perkembangan fungsi ini mengikuti usia anak, tetapi tidak demikian halnya dengan anak-anak ADHD. Perkembangan ini pada anak ADHD jelas mengalami ketertinggalan.

d. Tidak selalu tidak bisa diam 

Justru yang membingungkan adalah bahwa tidak selalu anak ADHD itu tidak bisa diam, dan juga cepat beralih perhatiannya. Mereka juga dapat berkonsentrasi pada film yang menarik, atau permainan di komputer, atau pada hal-hal yang menarik baginya. Bagi orang luar hal ini akan memancing kesan bahwa, dia sebenarnya bisa mengerjakan tugas tersebut, asal mau. Anak-anak dengan ADHD tentu saja dapat berkonsentrasi, tetapi untuk itu sang anak membutuhkan banyak dorongan. Dengan kata lain jika dia pikir benar-benar menarik, maka dia akan dapat berkonsentrasi. Pada saat-saat lain, konsentrasi akan menuntut banyak energi dan ketegangan bila dibandingkan dengan anak-anak lain. Anak ADHD juga mempunyai keparahan perilaku ADHD yang beragam. Jadi mereka tidak selalu dan sama derajat keaktifannya, impulsif atau ketakmampuan berkonsentrasinya.

e. Bicara dalam hati 

Bicara dalam hati merupakan salah satu alat agar dapat menggunakan fungsi pengaturan supaya dapat mengerjakan tugas-tugas. Alat ini adalah kemampuan anak-anak yang berkembang dengan sendirinya. Perkembangan bicara dalam hati pada anak ADHD seringkali tertinggal bila dibandingkan dengan teman seusianya (begitu pula akan terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara, dan juga kadang pada penyandang disleksia). Bilamana faktor bicara dalam hati kurang berfungsi dengan baik, maka anak tersebut akan tetap perlu mendapatkan arahan dan akan sangat tergantung kepada bantuan dari luar atau orang lain. Hal ini juga merupakan alasan mengapa anak-anak ADHD sangat membutuhkan struktur. Dengan struktur tersebut ia akan dapat diarahkan. Hal ini dibutuhkan karena ia tidak bisa membawa dirinya sendiri ke dunia luar.

Faktor Penyebab ADHD 

Menurut Martin (2008), penyebab utama munculnya gejala ADHD belum ditemukan secara pasti, namun terdapat beberapa gagasan yang menjelaskan penyebab ADHD, antara lain yaitu sebagai berikut: 
  1. Faktor Keturunan dan Neurologis. Keturunan adalah faktor tunggal yang dipercaya sebagai nominator umum pada anak ADHD. Anak-anak yang mengidap ADHD empat kali lebih mungkin memiliki satu dara kandung dan orangtua yang juga mengidap ADHD daripada anak normal. 
  2. Cedera Otak. ADHD diperkirakan terjadi sebagai efek dari infeksi, luka berat, cedera, atau komplikasi lainnya yang terjadi pada otak selama masa kehamilan atau persalinan. Kerusakan pada otak dapat menyebabkan gejala hiperaktivitas, ketiadaan perhatian dan impulsivitas.
  3. Kematangan Otak yang Tertunda. Perilaku sosial anak-anak ADHD yang tidak matang sering ditemukan pada pemeriksaan-pemeriksaan neurologis, dan terdapat kesamaan antara kurang perhatian, pengendalian impuls, dan pengaturan diri anak ADHD dan anak normal. 
  4. Penyakit Medis. Penyakit bisa menyebabkan perhatian yang buruk dengan cara yang tidak spesifik. Penyakit-penyakit tertentu yang telah dihubungkan dengan gejala-gejala ADHD mencakup kekurangan zat besi, anemia, hipertiroidisme, cacing kremi, hipoglisemia dan petit mal epilepsy.
  5. Obat-obatan. Obat yang dikonsumsi juga bisa memicu gejalgejala ADHD, contohnya mencakup anti konvulsan, seperti fenobarbital dan dilantin, serta obat-obat penenang yang bisa mengurangi pemusatan perhatian dan konsentrasi. Jenis-jenis obat asma, flu atau alergi juga bisa bertindak sebagai penenang. Meskipun obat-obat tersebut tidak menjadi penyebab utama ADHD, namun jika mengonsumsi seperti obat alergi dan obat epilepsi bisa mengakibatkan ketiadaan perhatian. 
  6. Merokok. Risiko ADHD lebih tinggi pada bayi yang ibunya merokok selama masa kehamilan. Ibu yang merokok mungkin sedang mengalami gangguan perhatian, oleh karena itu risiko ADHD yang meningkat pada keturunannya bisa terjadi karena pengaruh genetis bukan karena merokok. 
  7. Bahan Tambahan Pada Makanan. Pada tahun 1974 Dr. Benjamin Feingold, seorang dokter ahli alergi anak, mengatakan bahwa separuh lebih dari semua hiperaktivitas disebabkan oleh zat pewarna, perasa buatan dan MSG (Monosodium Glutamat). Namun belum terdapat bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak normal dapat mengidap ADHD dengan mengonsumsi zat-zat tersebut.

Diagnosis ADHD 

Diagnosis ADHD harus dilakukan pemeriksaan yang mempertimbangkan situasi dan kondisi saat pemeriksaan dan kemungkinan hal yang lain yang mungkin menjadi pemicu. Pemeriksaan klinis haruslah dilakukan dengan sangat teliti meskipun belum ditemukan hubungan yang jelas antara jenis pemeriksaan yang dilakukan dengan proses terjadinya ADHD.

Menurut Saputro (2001), terdapat beberapa langkah dalam mendiagnosis anak yang mengalami gangguan ADHD, yaitu: 
  1. Mengenali gejala-gejalanya. Ada dua daftar gejala, yang pertama, untuk problem yang berhubungan dengan perhatian dan kedua, untuk hiperaktivitas dan sikap semaunya sendiri (impulsiveness). Bila ada enam atau lebih gejala-gejala tersebut dari salah satu dua daftar itu, dan bila gejala gejala ini sering tampak dan terus bertahan selama paling tidak enam bulan, maka dapat dicurigai menderita ADHD. 
  2. Menentukan kapan gejala pertama kali muncul. Bila gejala-gejala tersebut muncul sebelum anak berusia 7 tahun, maka ADHD mungkin terjadi. 
  3. Menentukan dimana gejala tersebut terjadi. Apakah perilaku anak menjadi masalah hanya ketika ia berada di sekolah atau apakah juga menjadi masalah saat berada di rumah. Bila anak mempunyai problem perilaku dalam dua tempat atau lebih, maka ADHD mungkin terjadi.
  4. Menilai tingkat keparahan gejala tersebut. Apakah perilaku anak semata-mata hanya menganggu, ataukah menyebabkan problem yang nyata bagi anak ketika di sekolah atau dalam situasi sosial. Sebelum membuat diagnosa atas ADHD, membutuhkan bukti yang jelas bahwa ADHD benar-benar menghalangi kemampuan anak untuk melakukan fungsinya di sekolah atau di rumah.
  5. Kesampingan diagnosa yang mungkin lainnya. Hal yang penting adalah memastikan bahwa problem perilaku tersebut bukan akibat problem atau kelainan lain, seperti keterlambatan perkembangan global atau problem-problem psikiatrik.

Penanganan dan Terapi ADHD 

ADHD merupakan gangguan yang bersifat heterogen dengan manifestasi klinis beragam. Sampai saat ini belum ada satu jenis terapi yang dapat diakui untuk menyembuhkan anak dengan ADHD secara total. Terapi umum pada anak ADHD terdiri dari medikasi (farmakologi) dan non farmakologi seperti konseling, terapi perilaku dan stimulasi senam otak (brain gym) yang berguna untuk meringankan efek gejala ADHD. Menurut Tanoyo (2015) dan Susanto & Sengkey (2016), penanganan dan terapi yang dapat dilakukan pada anak yang mengalami gangguan ADHD adalah sebagai berikut: 

a. Farmakologi 

Obat-obatan yang biasa digunakan untuk ADHD, dikenal sebagai stimulants, adalah methylphenidate (ritalin), dextroamphetamine (dexedrine atau dextrostat), dan pemoline (cylert). Pada kebanyakan anak, obat-obatan membantu mengurangi hiperaktivitas dan meningkatkan kemampuan untuk memfokuskan pikiran pada suatu tugas atau aktivitas, serta meningkatkan koordinasi fisik, seperti menulis dan olahraga. Obat ini bersifat psikostimulan yang dapat memperbaiki gejala-gejala inti. Namun obat ini hanya bekerja dengan waktu terbatas. Jika penggunaan jangka panjang dapat berfungsi 6-12 jam dan jangka pendek hanya 4 jam. Karena fungsi obat bertahan dalam jangka pendek, maka obat ini bersifat ketergantungan dalam penggunaannya.

b. Terapi Konseling 

Terapi konseling atau yang biasa disebut psikoterapi adalah terapi yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis, psikiater maupun tenaga ahli di bidangnya. Terapi ini sangat bermanfaat karena dapat mengurangi perilaku negatif pada anak tersebut. Namun terapi ini sangat membutuhkan biaya yang cukup tinggi karena ditangani oleh tenaga ahli di bidangnya secara langsung.

c. Terapi Perilaku 

Terapi perilaku bertujuan untuk mengurangi konflik orang tua dan anak serta mengurangi ketidakpatuhan anak. Terapi ini dilakukan oleh orang tua dan dapat melibatkan psikolog atau dokter spesialis tumbuh kembang anak, dan pekerja sosial. Terapi ini juga dapat membantu menormalisasi gangguan dan membantu penderita agar fokus pada informasi umum.

d. Stimulasi Senam Otak/Brain Gym 

Penanganan terpenting untuk ADHD adalah edukasi dan pelatihan (edu feed back). Hal tersebut dibutuhkan bertujuan agar keluarga memahami dengan benar penyebab, gejala dan penanganannya. Salah satu contoh edukasi yang diberikan ke keluarga dan anak adalah dengan memberikan stimulasi senam otak (brain gym). Memberikan stimulasi senam otak pada anak ADHA sangat bermanfaat, selain mudah dilakukan dimana saja, penerapan stimulasi brain gym juga tidak membutuhkan biaya. Jadi, orang tua diharapkan mampu menerapkan stimulasi tersebut kepada anaknya.

c. Terapi Bermain 

Sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktivitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktivitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.

Daftar Pustaka

  • Baihaqi & Sugirman. 2006. Memahami dan membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama.
  • Nevid, Jeffrey S, dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
  • Martaniah, S.M. 2001. Psikologi Abnormal dan Psikopatologi. Yogyakarta: Andi.
  • Rusmawati, D., & Dewi, E.K. 2011. Pengaruh Terapi Musik dan Gerak Terhadap Penurunan Kesulitan Perilaku Siswa SD dengan Gangguan ADHD. www.ejournalundip.ac.id.
  • Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. Jakarta: EGC.
  • Paternotte, Arga & Buitelaar, Jan. 2010. ADHD: Attention Deficit Hyperactive Disorder (Gangguan Permusatan Perhatian dan Hiperaktivitas) Tanda-Tanda, Diagnosis, Terapi, serta Penanganannya di Rumah dan di Sekolah. Jakarta: Prenada Media.
  • Martin, G.L. 2008. Terapi Untuk Anak ADHD. Jakarta: Bhuana Ilmu Komputer.
  • Saputro, Dwidjo. 2001. Penatalaksanaan Strategis Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH/ADHD). Anima (Indonesian Psychological Journal).
  • Tanoyo, D.P. 2015. Diagnosis dan Tata Laksana Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Denpasar: Ilmu Psikiatri FK Universitas Udayana.
  • Susanto, B.D., & Sengkey, L.S. 2016. Diagnosis dan Penanganan Rehabilitasi Medic pada Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Jurnal Biomedik (JBM), Vol.8, No.3.

Posting Komentar untuk "Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)"