Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Tunadaksa (Pengertian, Jenis, Karakteristik, Faktor Penyebab dan Rehabilitasi)

Apa itu Tunadaksa? 

Tunadaksa adalah suatu kondisi dimana terjadi ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya yang disebabkan kelainan atau kecacatan sistem otot, tulang atau persendian sehingga mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi dan perkembangan keutuhan pribadi. Kelainan yang terjadi dapat disebabkan oleh penyakit, luka akibat kecelakaan atau pertumbuhan yang tidak sempurna pembawaan sejak lahir.

Tunadaksa (Pengertian, Jenis, Karakteristik, Faktor Penyebab dan Rehabilitasi)

Istilah tunadaksa berasal dari kata Tuna yang artinya rugi, kurang dan kata daksa berarti tubuh. Sehingga tunadaksa merupakan sebutan halus bagi orang-orang yang memiliki kelainan fisik, khususnya anggota badan, seperti kaki, tangan atau bentuk tubuh. Penderita tunadaksa merupakan seseorang yang mengalami kesulitan akibat kondisi tubuhnya sendiri sehingga membutuhkan bantuan untuk orang lain.

Seseorang yang menyandang tunadaksa membutuhkan rehabilitasi sebagai sarana pemulihan penyandang cacat tubuh yang diakibatkan kerusakan pada gangguan pada tulang otot. Selain tempat untuk penyembuhan secara fisik, penyembuhan secara mental dengan memotivasi, dan tempat bersosialisasi antar sesama penyandang cacat dan penyandang cacat dengan masyarakat sekitar. Hal ini diharapkan menciptakan rasa percaya diri dan kesejahteraan hidup bermasyarakat.

Berikut definisi dan pengertian tunadaksa dari beberapa sumber buku: 
  • Menurut Somantri (2006), tunadaksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir. 
  • Menurut Efendi (2008), tunadaksa adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna.
  • Menurut Hikmawati (2011), tunadaksa adalah seseorang yang mempunyai kelainan tubuh pada alat gerak yang meliputi tulang, otot, dan persendian baik dalam struktur atau fungsinya yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara layak. 
  • Menurut Karyana dan Widiati (2013), tunadaksa adalah penyandang bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang, dan persendian yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi.
  • Menurut Aziz (2015), tunadaksa adalah mereka yang mengalami kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang, dan persendian karena kecelakaan atau kerusakan otak yang dapat mengakibatkan gangguan gerak, kecerdasan, komunikasi, persepsi, koordinasi, perilaku, dan adaptasi sehingga mereka memerlukan layanan informasi secara khusus.

Jenis-jenis Tunadaksa 

Menurut Aziz (2015), kelainan yang dikategorikan sebagai tunadaksa diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Tunadaksa Ortopedi 

Tunadaksa ortopedi (orthopedically handicapped), merupakan penyandang tunadaksa yang mengalami kecacatan tertentu pada bagian tulang, otot tubuh maupun persendian. Jenis tunadaksa ini adalah mereka yang mengalami kelainan, kecacatan, ketunaan tertentu pada bagian tulang, otot tubuh, ataupun daerah persendian baik yang dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh kemudian (karena penyakit atau kecelakaan) sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi tubuh secara normal.

Adapun jenis-jenis penyandang tunadaksa dalam kelompok kelainan sistem otot dan rangka atau tunadaksa ortopedi adalah sebagai berikut: 
  1. Poliomyelitis, merupakan suatu infeksi pada sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh virus polio yang mengakibatkan kelumpuhan dan bersifat menetap. Sedangkan dilihat dari sel-sel motorik yang rusak, kelumpuhan karena polio dibedakan menjadi empat, yaitu tipe spinal merupakan kelumpuhan pada otot leher, sekat dada, tangan dan kaki. Tipe bulbair merupakan kelumpuhan fungsi motorik pada satu atau lebih syaraf tepi dengan ditandai adanya gangguan pernafasan. Tipe bulbispinalis yaitu gabungan antara tipe spinal dan bulbair. Serta tipe encephalitis yang biasa disertai dengan demam, kesadaran menurun, tremor dan terkadang kejang.
  2. Muscle dystrophy, merupakan jenis penyakit yang mengakibatkan otot tidak berkembang karena mengalami kelumpuhan yang bersifat progresif dan simetris. Penyakit ini ada hubungannya dengan keturunan. 
  3. Spina bifida, merupakan jenis kelainan pada tulang belakang yang ditandai dengan terbukanya satu tiga ruas tulang belakang dan tidak tertutupnya kembali selama proses perkembangan. Akibatnya fungsi jaringan saraf terganggu dan dapat mengakibatkan kelumpuhan.

b. Tunadaksa saraf 

Tunadaksa saraf (nurologically handicapped) merupakan penyandang tunadaksa yang mengalami kelemahan pada gerak dan fungsi salah satu atau beberapa alat geraknya yang disebabkan oleh kelainan pada saraf di otak. 

Menurut derajat kecacatannya, tudadaksa saraf dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 
  1. Ringan, dengan ciri-ciri, yaitu dapat berjalan tanpa alat bantu, bicara jelas dan dapat menolong diri sendiri. 
  2. Sedang, dengan ciri-ciri: membutuhkan bantuan untuk latihan berbicara, berjalan, mengurus diri dan menggunakan alat-alat khusus. 
  3. Berat, dengan ciri-ciri: membutuhkan perawatan tetap dalam ambulasi, bicara dan tidak dapat menolong diri sendiri. 
Menurut letak kelainan otak dan fungsi gerak: 
  1. Spastik, dengan ciri-ciri seperti ada kekakuan pada sebagian atau seluruh ototnya. 
  2. Dyskenesia, yang meliputi a'hetosis (penderita memperlihatkan gerak yang tidak terkontrol), rigid (kekakuan pada seluruh tubuh sehingga sulit dibengkokkan), tremor (getaran kecil yang terus menerus pada mata,tangan atau kepala). 
  3. Ataxia, adanya gangguan keseimbangan, jalannya gontai, koordinasi mata dan tangan tidak berfungsi. 
  4. Jenis campuran, seseorang mempunyai kelainan dua atau lebih dari tipe-tipe kelainan diatas.

Karakteristik Penyandang Tunadaksa 

Menurut Aziz (2015), seorang penyandang tunadaksa memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Karakteristik Kognitif 

Implikasi dalam konteks perkembangan kognitif ada empat aspek yang turut mewarnai yaitu: pertama, kematangan yang merupakan perkembangan susunan saraf misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan susunan saraf tersebut. Kedua, pengalaman yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungan dan dunianya. Ketiga, transmisi sosial yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial. Keempat, ekuilibrasi yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak. Wujud konkrit dapat dilihat dari angka indeks kecerdasan (IQ). Kondisi ketunadaksaan sebagian besar menimbulkan kesulitan belajar dan perkembangan kognitif.

b. Karakteristik Inteligensi 

Untuk mengetahui tingkat inteligensi anak tunadaksa dapat digunakan tes yang telah dimodifikasi agar sesuai dengan anak tunadaksa. Tes tersebut antara lain hausserman Test (untuk tunadaksa ringan), illinois test dan peabody picture vocabulary test.

c. Karakteristik Kepribadian 

Ada beberapa hal yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian anak tunadaksa atau cacat fisik, diantaranya: pertama, terhambatnya aktivitas normal sehingga menimbulkan perasaan frustrasi. Kedua, timbulnya kekhawatiran orangtua biasanya cenderung over protective. Ketiga, perlakuan orang sekitar yang membedakan terhadap penyandang tunadaksa menyebabkan mereka merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Efek tidak langsung akibat ketunadaksaan yang dialaminya menimbulkan sifat harga diri rendah, kurang percaya diri, kurang memiliki inisiatif atau mematikan kreativitasnya. Selain itu yang menjadi problem penyesuaian penyandang tunadaksa adalah perasaan bahwa orang lain terlalu membesar-besarkan ketidakmampuannya.

d. Karakteristik Fisik 

Selain potensi yang harus berkembang, aspek fisik juga merupakan potensi yang harus dikembangkan oleh setiap individu. Akan tetapi bagi penyandang tunadaksa, potensi itu tidak utuh karena ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Secara umum perkembangan fisik tunadaksa dapat dinyatakan hampir sama dengan orang normal pada umumnya kecuali pada bagian-bagian tubuh yang mengalami kerusakan atau terpengaruh oleh kerusakan tersebut.

e. Karakteristik Bahasa/Bicara 

Setiap manusia memiliki potensi untuk berbahasa, potensi tersebut akan berkembang menjadi kecakapan berbahasa melalui proses yang berlangsung sejalan dengan kesiapan dan kematangan sensori motoriknya. Pada penyandang tunadaksa jenis polio, perkembangan bahasa atau bicaranya tidak begitu normal, lain halnya dengan penyandang cerebral palsy. Gangguan bicara pada penyandang cerebral palsy biasanya berupa kesulitan artikulasi, phonasi, dan sistem respirasi.

Faktor Penyebab Tunadaksa 

Menurut Murtie (2014), terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya tunadaksa, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Faktor kelahiran 

Beberapa masalah dalam kelahiran yang menyebabkan tunadaksa yaitu, 
  1. Pinggul ibu yang terlalu sempit membuat bayi menjadi sulit keluar dan terjepit. 
  2. Pemberian injeksi yang berlebihan untuk mendorong bayi keluar mempengaruhi sistem saraf otaknya. 
  3. Treatment untuk mengeluarkan bayi yang dilakukan secara ditarik juga mempengaruhi saraf bayi.

b. Faktor kecelakaan 

Faktor kecelakaan bisa menjadi hal yang utama penyebab tunadaksa pada seseorang. Kecelakaan bisa terjadi pada masa bayi, misalnya terjatuh pada saat digendong. Bisa juga terjadi pada saat anak sudah bisa berjalan, misal terjatuh dari tangga, terjatuh dari sepeda atau mengalami kecelakaan dengan orang lain.

c. Terkena virus 

Tunadaksa juga bisa disebabkan oleh virus yang mungkin menggerogoti tubuhnya. Sehingga salah satu atau beberapa organ tubuh menjadi tidak berfungsi. Misalnya polio dan beberapa virus lainnya.

Pelayanan dan Rehabilitasi Tunadaksa 

Menurut Murtie (2014), penanganan yang dapat dilakukan terhadap anak penyandang tunadaksa adalah sebagai berikut: 
  1. Orangtua perlu menyadari dan menerima sepenuhnya keadaan anak.
  2. Mencari info yang sebanyak-banyaknya tentang hal yang terkait dengan penanganan terhadap penyandang tunadaksa. 
  3. Memberikan ruang gerak dan sekolah yang sesuai bagi anak agar mereka mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya. 
  4. Stimulasi kemampuan anak dalam bidang yang dikuasai dan digemarinya.
Penyandang tunadaksa sebaiknya dilakukan terapi di pusat rehabilitasi penyandang tunadaksa. 
Adapun fasilitas-fasilitas yang tersedia di pusat rehabilitasi penyandang tunadaksa antara lain adalah sebagai berikut: 
  1. Medis. Dokter spesialis ortopedi, yang menata program rehabilitasi yang meliputi upaya promotif yaitu berusaha meningkatkan kesembuhan tuna daksa, preventif yaitu pencegahan kerusakan yang dimana terkait dengan permasalahan tulang belakang, dan kuratif yaitu mengobati tuna daksa dengan media obat atau terapi.
  2. Fisioterapi. Fasilitas fisioterapi melaksanakan upaya pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab atas kapasitas fisik dan kemampuan fungsional. Fasilitas ini didukung dengan elektro terapi, aktino terapi, mekano terapi, terapi latihan, dan nebulizer. 
  3. Terapi okupasi. Terapi okupasi bertujuan mempertahankan dan meningkatkan kemandirian terutama kemampuan fungsi aktivitas kehidupan sehari-hari. Terapi ini juga melatih dan memberikan terapi pada gangguan koordinasi, keseimbangan aktivitas lokomotor dengan memperhatikan efektivitas serta efisiensi. Disamping itu okupasi ini melatih pemakaian alat adaptif fungsional (adaptive device). Berbagai kegiatan dari terapi okupasi ini adalah latihan koordinasi, latihan aktivitas kehidupan sehari-hari, melatih pemakaian fungsional dan adaptif serta berbagai fasilitas simulasi untuk penyandang cacat. 
  4. Psikologi. Kegiatan dari fasilitas psikologi adalah melaksanakan pemeriksaan dan evaluasi psikologis, memberikan bimbingan, dukungan dan terapi psikologis bagi pasien dan keluarganya serta mengupayakan pemeliharaan motivasi pasien menuju tujuan rehabilitasi. 5. Elektro terapi. Terapi yang merangsang sensor motorik dengan pemijatan pada sendi-sendi yang mengalami gangguan dalam bergerak atau sakit. 
  5. Petugas sosial medik. Petugas sosial medik bertugas mengevaluasi, menganalisa, dan memberikan alternatif penyelesaian masalah sosial ekonomi pasien, serta memberikan saran dan mencari peluang untuk mengatasi masalah pendanaan bagi pasien yang membutuhkan. Di samping itu, petugas sosial medis memberikan informasi tentang peraturan dan ketentuan yang berlaku di rumah sakit, serta instansi lain yang terkait dengan bidang sosial. 
  6. Hydroteraphy. Terapi yang menggunakan media air pada kolam, berfungsi sebagai meringankan pergerakan otot-otot dan relaksaksi.

Daftar Pustaka

  • Somantri, Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.
  • Efendi, Mohammad. 2008. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Hikmawati, Fenti. 2011. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Karyana, Asep dan Widiati, Sri. 2013. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunadaksa. Jakarta: Luxima Metro Media.
  • Aziz, Safrudin. 2015. Pendidikan Seks Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Gava Media.
  • Murtie Afin. 2014. Ensiklopedia Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Maxima.

Posting Komentar untuk "Tunadaksa (Pengertian, Jenis, Karakteristik, Faktor Penyebab dan Rehabilitasi)"