Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konservatisme Akuntansi (Pengertian, Jenis, Metode Pengukuran dan Faktor yang Mempengaruhi)

Apa itu Konservatisme Akuntansi

Konservatisme akuntansi adalah suatu sikap dan pandangan akuntansi berdasarkan sikap pesimistik dalam menghadapi ketidakpastikan laba atau rugi yang dilakukan dengan prinsip meminimalisasi laba kumulatif yang dilaporkan dengan cara memperlambat pengakuan pendapatan, mempercepat pengakuan biaya, merendahkan nilai aset dan meninggikan penilaian utang.

Konservatisme Akuntansi (Pengertian, Jenis, Metode Pengukuran dan Faktor yang Mempengaruhi)

Konservatisme akuntansi merupakan sikap atau aliran dalam menghadapi ketidakpastian untuk mengambil tindakan atau keputusan atas dasar munculan (outcome) yang terjelek dari ketidak pastian tersebut. Sikap konservatif juga mengandung makna sikap berhati-hati dalam menghadapi resiko dengan cara bersedia mengorbankan sesuatu untuk mengurangi atau menghilangkan resiko.

Menurut FASB Statement of Concept No.2, konservatisme akuntansi adalah reaksi hati-hati menghadapi ketidakpastian yang melekat dalam perusahaan untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko intern dalam lingkungan bisnis sudah cukup dipertimbangkan. Ketidakpastian dan risiko tersebut harus dicerminkan dalam laporan keuangan agar nilai prediksi dan kenetralan bisa diperbaiki. Pelaporan yang didasari kehati-hatian akan memberi manfaat yang terbaik untuk semua pemakai laporan keuangan.

Konservatisme merupakan kecenderungan akuntan untuk mempersyaratkan tingkat verifikasi yang lebih tinggi dalam mengakui good news sebagai keuntungan daripada bad news sebagai kerugian. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi perbedaan tingkat verifikasi antara bad news dan good news di dalam perusahaan maka semakin konservatif laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan.

Berikut definisi dan pengertian konservatisme akuntansi dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Anggraini dan Trisnawati (2008), konservatisme akuntansi adalah memilih prinsip akuntansi yang mengarah pada minimalisasi laba kumulatif yang dilaporkan yaitu mengakui laba lebih lambat, mengakui pendapatan lebih cepat, menilai aset dengan nilai terendah dan menilai kewajiban dengan nilai yang tinggi. 
  • Menurut Soewardjono (2010), konservatisme akuntansi adalah implikasi prinsip akuntansi yang mengakui biaya atau rugi yang memungkinkan akan terjadi, tetapi tidak segera mengakui pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan terjadinya besar. 
  • Menurut Widayati (2011), konservatisme akuntansi adalah pandangan yang pesimistik dalam akuntansi. Akuntansi yang konservatif berarti bahwa akuntan bersikap pesimis dalam menghadapi ketidakpastian laba atau rugi dengan menggunakan prinsip memperlambat pengakuan pendapatan, mempercepat pengakuan biaya, merendahkan penilaian aset dan meninggikan penilaian utang. 
  • Menurut Belkaoui (2012), konservatisme akuntansi adalah suatu sikap pesimistis secara umum ketika memilih teknik akuntansi untuk pelaporan keuangan, yaitu prinsip yang mengimplikasikan bahwa nilai terendah dari aktiva dan pendapatan serta nilai tertinggi dari kewajiban dan beban yang sebaiknya dipilih untuk dilaporkan. 
  • Menurut Almilia (2007), konservatisme akuntansi adalah apabila ada beberapa alternatif akuntansi yang seharusnya dipilih adalah alternatif yang paling kecil kemungkinannya untuk melaporkan aset atau pendapatan yang lebih besar dari yang seharusnya.


Dasar Munculnya Konservatisme Akuntansi 

Menurut Handojo (2012), terdapat beberapa alasan yang mendasari dilakukannya prinsip konservatisme dalam akuntansi, yaitu: 

  1. Kecenderungan untuk bersikap pesimis dianggap perlu untuk mengimbangi optimisme yang mungkin berlebihan dari para manajer dan pemilik sehingga kecenderungan melebih-lebihkan dalam pelaporan relatif dapat dikurangi. 
  2. Laba dan penilaian (valuation) yang dinyatakan terlalu tinggi (over-statement) lebih berbahaya bagi perusahaan dan pemiliknya daripada penyajian yang bersifat kerendahan (under-statement) dikarenakan resiko untuk menghadapi tuntutan hukum karena dianggap melaporkan hal yang tidak benar menjadi lebih besar. 
  3. Akuntan kenyataannya lebih mampu memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan mampu mengkomunikasikan informasi tersebut selengkap mungkin yang dapat dikomunikasikan kepada para investor dan kreditor, sehingga akuntan menghadapi dua macam risiko yaitu risiko bahwa apa yang dilaporkan ternyata tidak benar dan risiko bahwa apa yang tidak dilaporkan ternyata benar.


Jenis-jenis Konservatisme Akuntansi 

Menurut Subramanyam dan Wild (2010), terdapat dua macam konservatisme, yaitu:

a. Konservatisme tak bersyarat (unconditional conservatism) 

Konservatisme tak bersyarat adalah bentuk akuntansi konservatisme yang diaplikasikan secara konsisten dalam dewan direksi. Hal ini mengarah pada nilai aset yang lebih rendah secara perpectual. Contoh dari konservatisme tak bersyarat adalah akuntansi untuk penelitian dan pengembangan (R&D). Beban R&D dihapuskan ketika sudah terjadi, meskipun ia mempunyai potensi ekonomis. Oleh karena itu, aset bersih dari perusahaan yang melakukan R&D secara insentif akan selalu lebih rendah (understated).

b. Konservatisme bersyarat (conditional conservatism) 

Konservatisme bersyarat adalah bentuk akuntansi konservatisme yang mengacu pada pepatah lama semua kerugian diakui secepatnya, tetapi keuntungan hanya diakui saat benar-benar terjadi. Contoh konservatisme bersyarat adalah menurunkan nilai aset seperti PP&E atau goodwill apabila nilainya mengalami penurunan secara ekonomis, yaitu pengurangan potensi arus kasnya meningkat di kemudian hari, maka kita tidak dapat serta merta menaikkan nilainya karena laporan keuangan hanya mencerminkan kenaikan potensi arus kas selama periode secara perlahan, dan hal itu dilakukan apabila arus kas benar-benar terjadi.


Faktor yang Mempengaruhi Konservatisme Akuntansi 

Menurut Watts (2003) dan Winelti (2012), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan konservatisme masih layak untuk diterapkan dalam akuntansi, yaitu sebagai berikut:

a. Pengontrakan (contracting) 

Pengontrakan sebagai pendorong timbulnya praktek konservatisme merupakan sumber yang paling dahulu muncul dan memiliki argumentasi yang telah berkembang dengan sempurna. Adanya konservatisme akan membatasi perilaku opportunistik manajer dan konservatisme merupakan suatu penyeimbang bila terdapat bias manajerial dengan tuntutan verifikasi yang bersifat asimetris sehingga dengan adanya usaha menyeimbangkan antara tindakan opportunistik manajer dengan kewajiban melakukan verifikasi terlebih dahulu akan menyebabkan pelaporan tidak akan bersikap berlebihan namun juga tidak kerendahan. Di sisi lain, konservatisme dapat meningkatkan nilai perusahaan karena konservatisme membatasi pembayaran kepada pihak manajer atau pihak lain (shareholders) yang bersifat opportunistik.

Manajemen akan memperoleh insentif lebih besar jika mereka mampu mencapai kinerja perusahaan yang optimal yang dapat terlihat diantaranya melalui laporan keuangan perusahaan yang mencatat keuntungan yang besar. Pemberian insentif kepada manajemen yang didasarkan pada keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut dapat mendorong manajemen untuk melakukan tindakan manipulatif. Yaitu dengan membesar-besarkan keuntungan yang diperoleh serta aset yang dimiliki perusahaan dan mengecilkan jumlah kerugian dan kewajiban yang harus ditanggung perusahaan, agar manajemen dapat memperoleh insentif yang besar. Tindakan manajemen tersebut, pada akhirnya dapat mengorbankan kesejahteraan pemilik perusahaan bahkan mengorbankan nilai perusahaan itu sendiri.

b. Litigasi (litigation) 

Lingkungan hukum yang berlaku pada suatu wilayah tertentu mempunyai dampak yang signifikan dalam kebijakan manajer dalam melaporkan kondisi keuangan perusahaannya. Dalam hal ini, manajer akan menyeimbangkan biaya litigasi yang akan timbul dengan manfaat yang diperoleh dari pelaporan keuangan dengan kebijakan akuntansi yang agresif. Sehingga, perusahaan yang beroperasi pada wilayah dengan lingkungan hukum yang ketat akan cenderung menerapkan kebijakan akuntansi yang konservatif.

Terkait dengan litigasi atau tuntutan hukum maka litigasi lebih kecil kemungkinannya terjadi bagi perusahaan yang meng-understate net asset dibanding meng-overstate net aset. Masalah-masalah hukum yang umumnya menjerat auditor dan perusahaan karena terjadinya kebangkrutan yang merugikan investor umumnya terjadi karena adanya overstatement dan bukan understatement. Selain itu, investor cenderung bersifat risk averse sehingga understatement lebih dirasa aman dibanding overstatement yang beresiko lebih menyesatkan bagi pengambilan keputusan seorang investor dibandingkan kondisi understatement.

c. Biaya Politik (political cost) 

Biaya politik muncul akibat konflik kepentingan antara manajer dengan pemerintah sebagai pihak ketiga yang memiliki wewenang untuk mengalihkan kekayaan perusahaan kepada masyarakat sesuai peraturan yang berlaku. Bagi perusahaan yang mampu menghasilkan profit makan pengakuan yang asimetris antara gains dan losses (menunda pengakuan pendapatan dan mempercepat pengakuan beban) akan mengurangi present value dari pajak (menunda pembayaran pajak) dan meningkatkan nilai perusahaan. Penentu standar akuntansi dan otoritas regulator juga diuntungkan dengan sedikitnya kemungkinan datangnya kritik karena terjadinya perusahaan yang melakukan overstate nilai net asset dibandingkan bila perusahaan melakukan understate dari nett asset-nya.


Metode Pengukuran Konservatisme Akuntansi 

Menurut Watts (2003) dan Pujiati (2013), pengukuran konservatisme akuntansi dapat dilakukan melalui tiga metode, yaitu: 

a. Net asset measures 

Tingkat konservatisme dalam laporan keuangan tercermin dalam aset yang understatement dan kewajiban yang overstatement. Proksi pengukuran ini menggunakan rasio market to book value of equity yang mencerminkan nilai pasar ekuitas relatif terhadap nilai buku ekuitas perusahaan. Book value dihitung menggunakan nilai ekuitas pada tanggal neraca yaitu tanggal 31 Desember dan Market value diukur menggunakan harga penutupan saham pada tanggal pengumuman agar dapat merefleksikan respon pasar atas laporan keuangan. Rasio yang bernilai lebih dari satu mengindikasikan bahwa terdapat penerapan prinsip konservatisme karena perusahaan mencatat nilai buku perusahaan lebih rendah dari nilai pasarnya. Adapun rumus yang digunakan dalam mengukur konservatisme akuntansi dengan metode nilai buku atau nilai asset persaham yaitu: 

Net asset measures Konservatisme Akuntansi

Rasio ini merupakan perbandingan antara nilai pasar ekuitas dengan nilai buku ekuitas. Rasio yang bernilai lebih dari 1, mengindikasikan akuntansi yang konservatif karena perusahaan mencatat nilai perusahaan lebih rendah dari nilai pasarnya.

b. Earning/accruals measure 

Pada tipe ini, konservatisme diukur dengan menggunakan akrual, yaitu selisih antara laba bersih dari kegiatan operasional dengan arus kas. Semakin kecil ukuran akrual suatu perusahaan, menunjukkan bahwa perusahaan tersebut semakin menerapkan prinsip akuntansi yang konservatis. Terdapat dua jenis akrual, yaitu operating accrual yang merupakan jumlah akrual yang muncul dalam laporan keuangan sebagai hasil dari kegiatan operasional perusahaan dan non-operating accrual yang merupakan jumlah akrual yang muncul diluar hasil kegiatan operasional perusahaan. Adapun rumus accruals measuresebagai adalah sebagai berikut:

Rumus Accruals Konservatisme Akuntansi

Keterangan: 

  • CONACCit : Konservatisme Akuntansi 
  • NIit : Laba bersih ditambah depresiasi dan amortisasi perusahaan i pada tahun t 
  • CFOit : Arus kas dari aktivitas operasi perusahaan i pada tahun t

Accruals measure adalah metode pengukuran konservatisme dengan melihat kecederungan dari akumulasi akrual selama beberapa tahun. Akrual yang dimaksud adalah perbedaan antara laba bersih sebelum depresiasi atau amortisasi dan arus kas kegiatan operasi. Jika selisih antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi bernilai negatif, maka perusahaan tersebut dikategorikan konservatif dan sebaliknya. Hal ini disebabkan karena laba lebih rendah dari cash flow yang diperoleh oleh perusahaan pada periode tertentu.

c. Earning/stock return relation measures 

Stock market price (harga pasar saham) berusaha untuk merefleksikan perubahan nilai aset pada saat terjadinya perubahan baik perubahan atas rugi ataupun laba dalam nilai asset stock return tetap berusaha untuk melaporkannya sesuai dengan waktunya. Kejadian yang diperkirakan akan menyebabkan kerugian bagi perusahaan dan harus segera diakui sehingga mengakibatkan kabar buruk lebih cepat terefleksi dalam laba dibandingkan kabar baik. Ia memprediksikan bahwa pengembalian saham dan earnings cenderung merefleksikan kerugian dalam periode yang sama, tapi pengembalian saham merefleksikan keuntungan lebih cepat daripada earnings. Perhitungan konservatisme Earning/stock return relation measures dihitung dengan rumus:

Earnings stock return relation measures Konservatisme Akuntansi

Keterangan : 

  • NI : Laba bersih sebelum extraordinary item dibagi dengan nilai pasa ekuitas pada awal tahun RET : Return saham 
  • NEG : Variabel indikator, bernilai satu jika RET negatif dan bernilai nol jika RET positif 
  • ß2 : Mengukur ketepatan waktu dari laba dengan respon terhadap return positif (goodnews) 
  • ß3 : Mengukur ketepatan waktu dari laba incremental dengan respon terhadap return negative (badnews).

Menurut metode di atas, maka sebuah perusahaan dikatakan menerapkan konservatisme akuntansi apabila ß3 sebagai interaksi antara Return saham i tahun t dan dummy variabel return menunjukkan hasil positif. Hal ini didasarkan pada asumsi pasar dimaka pasar saham lebih cepat berekasi terhadap bad news dari pada good news.

Daftar Pustaka

  • Anggraini, Fivi dan Trisnawati, Ira. 2008. Pengaruh Earnings Management terhadap Konservatisma Akuntansi. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol.10, No. 1.
  • Suwardjono. 2010. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
  • Widayati, Endah. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Perusahaan terhadap Konservatisma Akuntansi. Semarang: Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universtas Diponegoro.
  • Belkaoui, A.R. 2012. Teori Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
  • Almilia, L.S. 2007. Pengujian Size Hypothesis dan Debt/Equity Hypothesis yang Mempengaruhi Tingkat Konservatisma Laporan Keuangan Perusahaan dengan Tehnik Analisis Multinomial Logit. Jurnal Bisnis dan Akuntansi.
  • Handojo, Irwanto. 2012. Sekelumit Konservatisme Akuntansi. Jakarta: STIE Trisakti.
  • Subramanyam dan Wild. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Watts, R.L. 2003. Conservatism in Accounting Part I: Explanations and Implications. Working Paper, University of Rochester.
  • Winelti, R., dkk. 2012. Pengaruh Struktur Kepemilikan, Debt Covenant dan Growth Opportunities terhadap Konservatisme Akuntansi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Padang: Universitas Negeri Padang.
  • Pujiati, L. 2013. Pengaruh konservatisme dalam Laporan Keuangan terhadap Earnings Response coefficient. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi.

Posting Komentar untuk "Konservatisme Akuntansi (Pengertian, Jenis, Metode Pengukuran dan Faktor yang Mempengaruhi)"