Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Vaksin dan Vaksinasi (Pengertian, Sejarah, Bentuk, Jenis dan Manfaat)

Apa itu Vaksin? 

Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu (Peraturan Menteri Kesehatan No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi).

Vaksin dan Vaksinasi (Pengertian, Sejarah, Bentuk, Jenis dan Manfaat)

Istilah Vaksin berasal dari bahasa latin, yaitu Variolae vaksin cinae yang artinya cacar sapi. Vaksin pertama kali ditemukan dan dikembangkan pada tahun 1798 oleh Edward Jenner, seorang dokter dari Berkeley - Inggris. Jenner menemukan bahwa orang yang minum susu dari sapi cacar relatif kebal terhadap penyakit cacar. Dia mengambil eksudat dan sekresi dari sapi yang terkena cacar dan dimasukkan ke dalam tubuh laki-laki berusia 8 tahun bernama James Phipps. Hasil yang dilakukan menunjukkan bahwa setelah divaksinasi anak laki-laki tersebut tidak mengidap penyakit cacar. Jenner mempublikasikan penemuannya pada tahun 1798 dan vaksinasi segera diterima (Mandal, 2008).

Vaksin merupakan produk biologis yang dihasilkan dari mikroorganisme hidup, dan meningkatkan kekebalan terhadap penyakit baik mencegah atau mengobati penyakit. Vaksin diberikan dalam bentuk cair, baik suntikan, bahkan melalui mulut. Vaksin merupakan formula yang terbuat dari bagian tubuh virus, virus mati, atau virus hidup yang diinjeksikan ke dalam tubuh manusia guna memperoleh suatu sistem imun (kekebalan) secara alamiah.

Bentuk Vaksin 

Menurut Irnaningtyas (2013), vaksin untuk virus dibagi menjadi dua jenis, yaitu vaksin virus mati dan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Adapun penjelasan dari dua bentuk vaksin virus adalah sebagai berikut:

a. Vaksin virus mati 

Vaksin virus mati dibuat dengan cara memurnikan sediaan virus melalui tahap-tahap tertentu dan merusak sedikit protein virus sehingga virus menjadi tidak aktif. Formalin dengan kadar rendah biasanya digunakan untuk merusak protein virus. Vaksin virus mati dapat merangsang pembentukan antibodi tubuh terhadap protein selubung virus sehingga meningkatkan daya resistensi tubuh. Namun demikian, ada beberapa kelemahan penggunaan vaksin virus mati, antara lain yaitu sebagai berikut:

  1. Diperlukan ketelitian yang tinggi pada saat pembuatan vaksin untuk memastikan bahwa tidak ada virus yang virulen. 
  2. Respon sel terhadap vaksin biasanya lemah.
  3. Imunitas yang diperoleh hanya bersifat sementara sehingga perlu dilakukan injeksi berulang kali. 
  4. Dapat merangsang hipersensitivitas pada infeksi berikutnya (menyebabkan terjadinya resistensi virus). Hal ini disebabkan adanya respon imun yang tidak seimbang terhadap antigen permukaan virus yang tidak sesuai dengan infeksi virus secara alamiah.

b. Vaksin virus hidup yang dilemahkan 

Vaksin virus hidup dibuat dari virus mutan yang memiliki antigen yang sama dengan virus liar, tetapi memiliki kemampuan patogen yang sangat lemah. Pembuatan strain virus lemah pada awalnya dilakukan dengan cara memilih strain virus secara alami pada biakan. Akan tetapi, kini pembuatan strain virus lemah dilakukan dengan cara manipulasi laboratorium agar terjadi perubahan genetik secara terencana.

Penggunaan vaksin virus hidup memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan penggunaan vaksin hidup antara lain tubuh memperoleh imunitas seperti imunitas yang terjadi secara alamiah, karena virus akan bereproduksi terus sehingga memicu terbentuknya antibodi tubuh. Sementara kelemahan penggunaan vaksin hidup, antara lain sebagai berikut:

  1. Terjadi risiko virulensi balik yang lebih besar selama perkembangbiakan virus di dalam vaksin. Walaupun hal ini tidak terbukti sebagai masalah, tetapi potensi tetap ada. 
  2. Penyimpanan dan keterbatasan hidup vaksin sebelum masa kedaluwarsa. Akan tetapi, masalah ini dapat diatasi dengan stabilisator virus, misalnya penambahan MgCl2 untuk vaksin polio. 
  3. Terjadinya pencemaran virus lain di dalam vaksin. 
  4. Adanya gangguan replikasi virus vaksin akibat adanya infeksi virus luar yang terjadi secara bersamaan, sehingga menyebabkan berkurangnya efektivitas vaksin.

Berdasarkan proses produksi yang digunakan, vaksin dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut: 

  1. Vaksin hidup (Live attenuated vaccine). Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan, masih antigenik namun tidak patogenik. Contohnya adalah virus polio oral. Oleh karena vaksin diberikan sesuai infeksi alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang biak di epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan kekebalan lokal. Sekresi antibodi IgA lokal yang ditingkatkan akan mencegah virus liar yang masuk ke dalam sel tubuh. 
  2. Vaksin mati (Killed vaccine/Inactivated vaccine). Vaksin mati jelas tidak patogenik dan tidak berkembang biak dalam tubuh. Oleh karena itu diperlukan pemberian beberapa kali. 
  3. Rekombinan. Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gena epitop bagi sel penerima vaksin. 
  4. Toksoid. Bahan bersifat imunogenik dibuat dari toksin kuman. Pemanasan dan penambahan formalin biasanya digunakan dalam proses pembuatannya. Hasil dari pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid, dan merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. 
  5. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines). Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian.

Jenis-jenis Vaksin 

Menurut Kemenkes R1 (2013), vaksin dapat dikemas dalam bentuk tunggal maupun kombinasi. Contoh kemasan vaksin tunggal adalah BCG, Polio, Hepatitis B, Hib, campak. Sedangkan contoh kemasan vaksin kombinasi adalah DPT (Diptheri, Pertusis, Tetanus), MMR (campak, gondong, campak jerman), tetravaccine (kombinasi DPT dan polio suntik).

Vaksin yang digunakan pada program imunisasi di Indonesia saat ini berjumlah delapan jenis, yaitu vaksin BCG, vaksin DPT, vaksin TT, vaksin Polio (Oral PolioVaccine), vaksin Campak, vaksin Hepatitis B, dan vaksin DPT-HB. Adapun penjelasan dari masing-masing jenis vaksin dasar tersebut adalah sebagai berikut:

a. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) 

Vaksin BCG adalah vaksin bentuk kering yang mengandung Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan. Vaksin BCG digunakan untuk kekebalan aktif terhadap tuberkulosa. Kemasan dalam vial, beku kering, 1 box berisi 10 vial vaksin. Setiap vial vaksin dilarutkan dengan 4 ml pelarut NaCl 0,9% = 80 dosis, namun efektivitas pemakaian di lapangan 2-3 dosis. Setiap satu vial dilarutkan dalam 1 ml pelarut sama dengan 10 dosis (1 dosis = 0,1 ml) untuk orang dewasa atau anak-anak usia 12 bulan dan lebih dari 12 bulan atau 20 dosis (1 dosis = 0,05 ml) untuk bayi dan anak-anak usia dibawah 12 bulan. Vaksin yang sudah dilarutkan harus dibuang setelah 4-6 jam.

b. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus) 

Vaksin jerap DPT adalah vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi dan teradsorbsi ke dalam 3 mg/ml alumunium fosfat. Vaksin DPT digunakan untuk memberikan kekebalan secara simultan terhadap difteri, tetanus, dan batuk rejan.

c. Vaksin TT (Tetanus Toxoid) 

Vaksin jerap TT adalah vaksin yang mengandung toxoid tetanus yang telah dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml alumunium fosfat. Vaksin TT dipergunakan untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir dengan mengimunisasi WUS (Wanita Usia Subur) atau ibu hamil, juga untuk pencegahan tetanus pada ibu bayi.

d. Vaksin DT (Difteri Tetanus) 

Vaksin jerap DT adalah vaksin yang mengandung toxoid difteri dan tetanus yang telah dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Vaksin DT digunakan untuk memberikan kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus. Vaksin DT berbentuk cairan dengan setiap vial berisi 10 dosis.

e. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine = OPV) 

Vaksin Oral Polio hidup adalah Vaksin Polio Trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2, dan 3. Vaksin polio digunakan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap poliomyelitis.

f. Vaksin Campak 

Vaksin Campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Vaksin Campak digunakan untuk memberikan kekebalan secara aktif terhadap penyakit campak. Vaksin berbentuk beku kering dengan setiap vial berisi 10 dosis.

g. Vaksin Hepatitis B 

Vaksin Hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat non-infecious, berasal dari HbsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorpha) menggunakan DNA rekombinan. Vaksin Hepatitis B digunakan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, tapi tidak dapat mencegah infeksi virus lain seperti virus Hepatitis A atau C yang diketahui dapat menginfeksi hati.

h. Vaksin DPT-HB 

Vaksin mengandung DPT-HB berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktif serta vaksin hepatitis B yang merupakan subunit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious. Vaksin DPT-HB digunakan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis dan Hepatitis B. Warna vaksin putih keruh seperti vaksin DPT.

Selain dari delapan jenis vaksin untuk imunisasi dasar di atas, masih terdapat empat jenis vaksin untuk imunisasi tambahan, yaitu: 

  1. Vaksin Meningokokus. Vaksin ini diberikan kepada semua calon jemaah haji yang akan berangkat beribadah ke Mekkah. Dosis pemberian adalah 0,5 ml diberikan secara subcutan pada lengan atas. Vaksin ini merupakan vaksin beku kering dengan pelarut menempel pada vial. 
  2. Japanese Enchephalitis (JE). Dosis pemberian adalah 0,5 ml sebanyak 3 kali, diberikan secara subcutan pada lengan atas.
  3. Haemofilus Influenzae (Hib). Dosis pemberian adalah 0,5 ml sebanyak 2-3 kali tergantung produsen vaksin, diberikan intramuscular pada paha tengah luar untuk bayi dan lengan atas luar untuk anak-anak yang lebih tua. 
  4. Vaksin Anti Rabies (VAR) / Serum Anti Rabies (SAR). Diberikan jika terkena virus rabies lewat gigitan atau cakaran hewan penderita rabies atau luka yang terkena air liur hewan penderita rabies. Pemberian dengan cara intramuscular.

Manfaat Vaksinasi 

Setiap anak akan berisiko mendapat penyakit, dan virus berbahaya akan menular dan menyebar di lingkungannya. Dengan tidak melakukan pencegahan melalui vaksin maka risiko datangnya wabah penyakit berbahaya akan lebih tinggi. Ketika sebagian kecil anggota masyarakat terkena penyakit yang menular, maka masyarakat yang telah tervaksinasi dapat terlindungi dari penyakit tersebut. Namun berbeda apabila masyarakat tidak melakukan vaksinasi, maka wabah penyakit akan mudah tersebar dan berkembang biak karena tidak ada pencegahan melalui vaksinasi.

Vaksinasi atau imunisasi sangat penting untuk mencegah beberapa penyakit atau mengurangi risiko terhadap beberapa penyakit berbahaya. Adapun beberapa manfaat dari vaksinasi atau imunisasi adalah sebagai berikut: 

  1. Manfaat untuk anak. Mencegah penyakit berbahaya yang menyerang dikemudian hari dengan membangun antibodi pada tubuh karena vaksin yang diberikan pada saat vaksinasi atau imunisasi. 
  2. Manfaat untuk keluarga. Dengan melakukan vaksinasi, maka kecemasan terhadap anaknya dari ancaman penyakit dan biaya pengobatan bila anak sakit tidak menjadi beban pikiran. Membuat rasa nyaman dan aman membiarkan anak menjalani aktivitas sehari-hari.
  3. Manfaat untuk masyarakat. Masyarakat akan merasa aman karena dilingkungannya terbebas dari penyebaran penyakit-penyakit menular yang berbahaya karena mayoritas masyarakat telah melakukan vaksinasi atau imunisasi. 
  4. Manfaat untuk negara. Memperbaiki tingkat kesehatan negara dan menciptakan masyarakat yang kuat dan sehat untuk membantu membangun negara menjadi lebih baik yang jauh dari wabah penyakit.

Posting Komentar untuk "Vaksin dan Vaksinasi (Pengertian, Sejarah, Bentuk, Jenis dan Manfaat)"