Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Fear of Missing Out (FoMO) - Pengertian, Aspek, Dampak dan Faktor yang Mempengaruhi

Apa itu Fear of Missing Out? 

Fear of Missing Out (FoMO) adalah kecemasan dan ketakutan yang dialami oleh individu ketika orang lain mengalami pengalaman atau kejadian menarik yang terjadi di tempat lain, sementara individu tersebut tidak mengikuti suatu kejadian tersebut. Kecemasan ini distimulasi oleh hal-hal yang tertulis di dalam media sosial seseorang yang menyebabkan individu selalu berusaha untuk tetap terhubung dan mengetahui apa yang orang lain lakukan.

Fear of Missing Out (FoMO) - Pengertian, Aspek, Dampak dan Faktor yang Mempengaruhi

Fear of Missing Out (FoMO) merupakan kecemasan dan ketakutan untuk tetap terhubung dengan seseorang melalui aktivitas yang dilakukan di media sosial agar tidak ketinggalan hal-hal menarik di luar sana dan atau takut dianggap tidak eksis dan up to date. Fear of missing out (FoMO) menimbulkan perasaan kehilangan, stres, dan merasa jauh jika tidak mengetahui peristiwa penting individu atau kelompok lain. Individu yang mengalami FoMO tidak akan mengetahui secara spesifik mengenai apa yang hilang, tetapi akan merasakan kehilangan ketika orang lain memiliki momen yang berharga.

Fear of Missing Out (FoMO) terbentuk karena rendahnya kebutuhan dasar psikologis dalam pengguanan media seperti internet. Kebutuhan dasar psikologis adalah sumber tendensi motivasi intrinsik proaktif yang melekat dan mengarahkan individu untuk mencari hal-hal baru, mengejar tantangan yang optimal, melatih dan memperluas kemampuan, mengeksplorasi dan belajar. Sindrom FoMO membentuk emosi negatif yang mempengaruhi perilaku, yang mana berhubungan dengan keterlibatan sosial yang membuat individu selalu terhubung dengan media sosial.

Berikut definisi dan pengertian Fear of Missing Out (FoMO) dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut kamus Oxford, Fear of Missing Out (FoMO) adalah kecemasan akan adanya peristiwa menarik yang terjadi di tempat lain, dimana kecemasan ini terstimulasi oleh hal-hal yang ditulis di dalam media sosial seseorang. 
  • Menurut Alt (2015), Fear of Missing Out (FoMO) adalah fenomena ketika individu merasa ketakutan orang lain memperoleh pengalaman yang menyenangkan namun tidak terlibat secara langsung sehingga menyebabkan individu berusaha untuk tetap terhubung dengan apa yang orang lain lakukan melalui media dan internet. 
  • Menurut Przybylski dkk (2013), Fear of Missing Out (FoMO) adalah kecemasan yang dialami individu ketika orang lain mengalami pengalaman berharga, sementara individu tersebut tidak mengalaminya. FoMO ditandai dengan adanya keinginan untuk terus berhubungan dengan apa yang orang lain lakukan. 
  • Menurut JWT Intelligence (2011), Fear of Missing Out (FoMO) adalah ketakutan pada individu yang apabila individu lainnya mengikuti suatu kejadian yang dianggap menyenangkan, namun individu tersebut tidak bisa mengikuti suatu kejadian tersebut.

Aspek-aspek Fear of Missing Out 

Menurut Przybylski dkk (2013), sindrom FoMO atau Fear of Missing Out memiliki beberapa aspek, yaitu sebagai berikut: 

  1. Self. Kebutuhan psikologis ini berkaitan dengan kompetensi dan autonomi. Kompetensi merupakan keyakinan individu untuk melakukan tindakan secara efektif dan efisien, sedangkan autonomi bermakna sebagai kemampuan individu dalam menentukan sebuah keputusan. Apabila kebutuhan psikologis akan self tidak terpenuhi, maka individu cenderung menyalurkan melalui internet untuk mendapatkan berbagai macam informasi dan berhubungan dengan orang lain. 
  2. Relatedness. Merupakan kebutuhan pada seseorang agar selalu merasa terhubung, tergabung, pada kebersamaan dengan individu lain. Ketika kebutuhan relatedness tidak dapat dipenuhi, seseorang akan merasakan perasaan khawatir dan mencoba mencari tahu pengalaman dan aktivitas yang dilakukan oleh orang lain seperti halnya melalui internet.

Sedangkan menurut JWT Intellegence (2011), aspek-aspek Fear of Missing Out (FoMO) adalah sebagai berikut: 

  1. Comparison with friends, adalah munculnya perasaan negatif karena melakukan perbandingan dengan teman maupun orang lain. 
  2. Being left out, munculnya perasaan negatif karena tidak dilibatkan dalam suatu kegiatan atau perbincangan. 
  3. Missed experiences, munculnya perasaan negatif karena tidak dapat terlibat dalam suatu aktivitas. 
  4. Compulsion, perilaku mengecek secara berulang aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang bertujuan untuk menghindari perasaan tertinggal berita terkini.

Dampak Fear of Missing Out 

Menurut Przybylski dkk (2013), dampak atau efek buruk yang ditimbulkan oleh sindrom FoMO atau Fear of Missing Out antara lain adalah sebagai berikut:

a. Individu selalu mewajibkan diri untuk mengecek media sosial 

Seorang yang FoMO memiliki rutinitas untuk melihat media sosial milik rekan lain. Ia merasa harus selalu up to date dengan apa yang sedang diperbincangkan, apa yang dilakukan, dan apa yang dipublikasikan di media sosial oleh user lainnya. Mereka memiliki rasa takut yang berlebihan apabila dikatakan sebagai kudet (kurang update). Selain itu, mereka akan menderita jika status media sosialnya sepi dari pengunjung, sedikitnya jumlah like dan komentar. Mereka akan merasa senang bahkan bangga jika ada yang memberikan komentar di akun media sosialnya dan mereka memiliki kebutuhan untuk selalu eksis dan ada setiap saat di dunia virtual. Kebutuhan ini seolah-olah menjadi hantu yang selalu muncul setiap bangun dan menjelang tidur.

b. Individu selalu memaksa diri berpartisipasi dalam semua kegiatan 

Mendatangi sebuah acara atau sebuah tempat merupakan suatu perlombaan bagi seorang FoMO yakni untuk meningkatkan harga dirinya melalui berbagai posting terkait dengan kegiatan yang diikutinya. Pengidap FoMO melakukannya untuk mendapat pujian dan eksistensi diri yang berlebihan. Bahkan, tidak hanya menghadiri, ia juga akan berusaha membuat keberadaannya diakui dan berbeda dari yang lainnya dengan cara ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Ada kebutuhan untuk menuliskan semua hal yang diikuti dan dihadiri pada status Facebook, Path, Twitter, maupun Instagram miliknya.

c. Individu selalu membuat panggung pertunjukan sendiri 

Panggung itu bisa di front-stage (online) bisa juga di back-stage (offline), dan di panggung itulah individu merepresentasikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Pengidap FoMO menunjukkan bahwa media sosial adalah panggung pertunjukan baginya guna memberikan kesan yang berbeda dan unik dibandingkan dengan user lainnya. Oleh karena itu, semua status Facebook, cuitan di Twitter, foto di Path dan Instagram, bahkan data diri di Linkedin pun berjejer dengan prestasi dan capaian dirinya. Hal ini dikarenakan individu yang tidak ingin eksistensinya dikalahkan oleh orang lain.

d. Individu selalu merasakan diri yang berkekurangan dan menginginkan yang lebih 

FoMO muncul salah satunya karena adanya keterasingan diri di dunia offline sehingga pengidap FoMO mencari pengakuan di dunia online. Namun, ketika di dunia online pun ia tetap merasa terasing, maka timbul keinginan yang bersifat destruktif seperti mencoba mengganggu user lain, bahkan membuat akun palsu sampai meretas akun lainnya. Selain itu keterasingan tersebut akan menggerogoti jiwa pengidap FoMO yang bisa mengakibatkan stres, depresi, dan kelainan mental lainnya.


Faktor yang Mempengaruhi Fear of Missing Out 

Menurut JWT Intelligence (2011), terdapat beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi terjadinya sindrom FoMO atau Fear of Missing Out, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Keterbukaan informasi di media sosial 

Media sosial, gadget dan fitur pemberitahuan lokasi sesungguhnya menjadikan kehidupan saat ini semakin terbuka dengan cara memamerkan apa yang sedang terjadi di saat ini. Laman media sosial terus dibanjiri dengan pembaharuan informasi yang real-time, obrolan terhangat dan gambar atau video terbaru. Keterbukaan informasi saat ini mengubah kultur budaya masyarakat yang bersifat privasi menjadi budaya yang lebih terbuka.

b. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis akan relatedness 

Relatedness (kedekatan atau keinginan untuk berhubungan dengan orang lain) adalah kebutuhan seseorang untuk merasakan perasaan tergabung di dalam kelompok, terhubung, dan kebersamaan dengan orang lain. Kondisi seperti pertalian yang kuat, hangat dan peduli dapat memuaskan kebutuhan untuk pertalian, sehingga individu merasa ingin memiliki kesempatan lebih dalam berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap penting dan terus mengembangkan kompetensi sosialnya. Apabila kebutuhan psikologis akan relatedness tidak terpenuhi dapat menyebabkan individu merasa cemas dan mencoba mencari tahu pengalaman dan apa yang dilakukan oleh orang lain, salah satunya melalui media sosial.

c. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologi akan self 

Kebutuhan psikologis akan self (diri sendiri) berkaitan dengan competence dan autonomy. Kebutuhan psikologis akan self penting untuk kompetensi, keterkaitan, dan otonomi, serta penurunan tingkat suasana hati yang positif dan kepuasan hidup secara signifikan terkait dengan tingkat FoMO yang lebih tinggi. Apabila kebutuhan psikologis akan self tidak terpenuhi, maka individu akan menyalurkannya melalui media sosial untuk memperoleh berbagai macam informasi dan berhubungan dengan orang lain. Hal tersebut akan menyebabkan individu terus berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada orang lain melalui media sosial.

d. Social one-upmanship 

Social one-upmanship merupakan perilaku dimana seseorang berusaha untuk melakukan sesuatu seperti perbuatan, perkataan atau mencari hal lain untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dibandingkan orang lain. FoMO disebabkan karena dipengaruhi adanya keinginan untuk menjadi paling hebat atau superior dibanding orang lain. Aktivitas memamerkan secara daring di media sosial menjadikan pemicu munculnya FoMO pada orang lain.

e. Peristiwa yang disebarkan melalui fitur hashtag 

Media sosial memiliki fitur hashtag (#) yang memungkinkan pengguna untuk memberitahukan peristiwa yang sedang terjadi saat ini. Misalnya, pada saat reuni 212 yang dilakukan di tugu monas. Ketika pada saat yang bersamaan banyak pengguna media sosial memamerkan aktivitasnya dengan menuliskan #Reuni212, maka peristiwa tersebut akan masuk ke daftar topik pembicaraan yang sedang marak dibicarakan, sehingga pengguna media sosial lainnya dapat mengetahui. Hal demikian akan mengakibatkan perasaan tertinggal bagi individu yang tidak ikut serta dalam melakukan aktivitas tersebut.

f. Kondisi deprivasi relatif 

Kondisi deprivasi relatif adalah kondisi yang menggambarkan perasaan ketidakpuasan seseorang saat membandingkan kondisinya dengan orang lain. Individu biasanya melakukan penilaian atas dirinya dengan cara membandingkan dengan orang lain. Perasaan missing out dan tidak puas dengan apa yang dimiliki, muncul ketika para penggunanya saling membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain di media sosial.

g. Banyak stimulus untuk mengetahui suatu informasi 

Di zaman yang serba digital saat ini, sangat memungkinkan seseorang untuk terus dibanjiri dengan topik-topik menarik tanpa perlu adanya usaha keras untuk mendapatkannya. Di sisi lainnya munculnya stimulus-stimulus yang ada mengakibatkan keingintahuan untuk tetap mengikuti perkembangan terkini. Keinginan untuk terus mengikuti perkembangan saat inilah yang memunculkan Fear of Missing Out.

Daftar Pustaka

  • Oxford Dictionary. Oxford Dictionaries Online. www.oxforddictionaries.com
  • Alt, D. 2015. College Students’ Academic Motivation, Media Engagement and Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior.
  • Przybylski, A., dkk. 2013. Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computer in Human Behavior.
  • JWT Intelligence. 2011. Fear Of Missing Out (FoMO). New York: JWT Intelligence.

Posting Komentar untuk "Fear of Missing Out (FoMO) - Pengertian, Aspek, Dampak dan Faktor yang Mempengaruhi"