Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketidakamanan kerja (Job Insecurity)

Ketidakamanan kerja atau job insecurity adalah suatu kondisi psikologis seseorang (karyawan) berupa perasaan tegang, gelisah, khawatir, stres, dan merasa tidak pasti untuk mempertahankan kelanjutan pekerjaan karena ancaman dari situasi dan kondisi lingkungan pekerjaan sebagai suatu keadaan dari pekerjaan yang terus menerus tidak menyenangkan.

Ketidakamanan kerja (Job Insecurity)

Job insecurity merupakan ketidakamanan yang dihasilkan dari ancaman terhadap kontinuitas atau keberlangsungan kerja seseorang. Job insecurity berhubungan dengan rasa takut seseorang akan kehilangan pekerjaannya atau prospek akan demosi atau penurunan jabatan serta berbagai ancaman lainnya terhadap kondisi kerja yang berasosiasi dengan menurunnya job satisfaction.

Job insecurity adalah cerminan derajat kepada karyawan yang merasakan pekerjaan mereka terancam dan merasakan ketidakberdayaan untuk melakukan segalanya tentang itu. Ancaman ini dapat terjadi pada aspek pekerjaan atau keseluruhan pekerjaan. Karyawan yang mengalami job insecurity dapat mengganggu semangat kerja sehingga efektivitas dan efisiensi dalam melaksanakan tugas tidak dapat diharapkan dan mengakibatkan turunnya produktivitas kerja.

Berikut definisi dan pengertian ketidakamanan kerja atau job insecurity dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Munandar (2001), job insecurity adalah ketidakberdayaan untuk mempertahankan kelanjutan pekerjaan karena ancaman dari situasi dari pekerjaan. 
  • Menurut Smithson dan Lewis (2000), job insecurity adalah kondisi psikologis seseorang (karyawan) yang menunjukkan rasa bingung atau merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah-ubah (perceived impermanance). 
  • Menurut Sverke dan Hellgren (2002), job insecurity adalah ketidakamanan yang dirasakan seseorang akan kelanjutan pekerjaan dan aspek-aspek penting yang berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri. 
  • Menurut Halungunan (2015), job insecurity adalah pandangan subjektif seseorang mengenai situasi atau peristiwa yang mengancam pekerjaan di tempatnya bekerja. 
  • Menurut Wening (2005), job insecurity adalah kondisi ketidakberdayaan untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam situasi kerja yang mengancam.
  • Menurut Ermawan (2007), job insecurity adalah bentuk kegelisahan pekerjaan sebagai suatu keadaan dari pekerjaan yang terus menerus dan tidak menyenangkan. 
  • Menurut Hanafiah (2014), job insecurity adalah perasaan tegang gelisah, khawatir, stres, dan merasa tidak pasti dalam kaitannya dengan sifat dan keberadaan pekerjaan selanjutnya yang dirasakan pada pekerja.

Aspek-aspek Job Insecurity 

Menurut Rowntree (2005), terdapat beberapa aspek dalam ketidakamanan kerja atau job insecurity, yaitu sebagai berikut: 

  1. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Rasa cemas dan khawatir karyawan yang mendapat ancaman negatif tentang pekerjaannya. Ancaman kehilangan pekerjaan merupakan persepsi seseorang mengenai kejadian-kejadian negatif yang dapat mempengaruhi pekerjaannya. Semakin penting dan semakin besar kemungkinan kejadian negatif tersebut terjadi maka semakin tinggi tingkat ancaman. 
  2. Ketakutan akan kehilangan status sosial di masyarakat. Seseorang yang merasa terancam mengenai pekerjaannya akan merasa cemas dan khawatir akan kehilangan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakat, misalnya kedudukan, kekayaan, keturunan dan pendidikan. 
  3. Rasa tidak berdaya. Rasa tidak berdaya yaitu ketidakmampuan karyawan dalam menangani dan mencegah munculnya ancaman yang berpengaruh terhadap kelangsungan pekerjaannya.

Adapun menurut Sugiarti (2006), aspek-aspek dari ketidakamanan dalam bekerja atau job insecurity adalah sebagai berikut: 

  1. Ketakutan pekerja yang dipandang sebagai kelanjutan dari peran pekerja. Peran pekerja akan mengalami ketidakamanan dalam bekerja karena kerancuan peran atau tugas dari perusahaan atau perubahan yang terjadi dalam organisasi atau perusahaan karena adanya krisis dalam perusahaan atau organisasi. 
  2. Kondisi atau perlakuan perusahaan atau organisasi. Kondisi fisik dan perekonomian perusahaan sangat mungkin menimbulkan ketidakamanan dalam bekerja karena dengan kondisi perekonomian perusahaan sangat mungkin menimbulkan ketidakamanan dalam bekerja karena dengan kondisi perekonomian perusahaan yang buruk dan banyaknya pengurangan pekerja yang terjadi pada perusahaan akan menimbulkan ketidak nyamanan atau ketidakamanan dalam bekerja. 
  3. Pekerja dalam study lay off. Pekerja yang berada dalam masa study lay off atau dalam proses penyelidikan atas kesalahan dalam bekerja yang apabila terbukti bersalah akan berakhir pada lay off atau pemecatan.

Indikator Job Insecurity 

Menurut Ashford (1989), ketidakamanan dalam bekerja atau job insecurity memiliki beberapa indikator, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Seberapa pentingnya aspek kerja tersebut bagi individu mempengaruhi tingkat insecure atau rasa tidak aman terhadap aspek kerjanya seperti peluang untuk promosi dan kebebasan untuk menjadwalkan pekerjaan.
  2. Ancaman yang dirasakan terhadap aspek-aspek pekerjaan seperti kemungkinan untuk mendapat promosi, mempertahankan tingkat upah yang sekarang atau memperoleh kenaikan upah. Individu yang menilai aspek kerjanya terancam maka ia akan merasa gelisah dan tidak berdaya. 
  3. Tingkat kepentingan yang dirasakan individu mengenai potensi setiap peristiwa negatif yang akan mengancam pekerjaannya. Contohnya: diberhentikan sementara atau dipecat. 
  4. Tingkat ancaman kemungkinan terjadinya peristiwa peristiwa yang secara negatif akan mempengaruhi keseluruhan kerja individu misalnya dipecat atau dipindahkan ke kantor cabang lain. 
  5. Ketidakberdayaan yang dimiliki individu karena hilangnya kontrol terhadap pekerjaannya.

Dampak dan Akibat Job Insecurity 

Menurut Irene (2008) dan Novliadi (2009), terdapat beberapa dampak dan akibat yang ditimbulkan dari ketidakamanan dalam bekerja atau job insecurity, yaitu sebagai berikut: 

  1. Stres. Job insecurity dapat menimbulkan rasa takut, kehilangan kemampuan, dan kecemasan. Pada akhirnya, jika hal ini dibiarkan berlangsung lama karyawan dapat menjadi stres akibat adanya rasa tidak aman dan ketidakpastian akan kelangsungan pekerjaan. 
  2. Keinginan untuk mencari pekerjaan baru. Suatu kondisi ketika karyawan merasa terancam dengan keberlanjutan masa depan pekerjaannya maka karyawan memiliki keinginan untuk mencari pekerjaan yang baru, sehingga membuat ia merasa aman akan pekerjaan barunya. Hal ini akan masuk akal bagi karyawan yang khawatir terhadap kesinambungan pekerjaan mereka, kemudian mencari kesempatan karir yang lebih aman. 
  3. Komitmen dan rasa percaya karyawan terhadap perusahaan. Job insecurity memiliki hubungan yang negatif dengan komitmen kerja dan rasa percaya karyawan terhadap perusahaan. Hal ini disebabkan karena karyawan merasa kehilangan kepercayaan akan nasib mereka pada perusahaan dan lama kelaman ikatan antara karyawan dan organisasi menghilang. 
  4. Kepuasan kerja yang rendah. Persepsi terhadap job insecurity akan berhubungan secara negatif dengan pengukuran kepuasan kerja. Karyawan yang merasa terancam dengan keberlanjutan masa depan pekerjaan maka menimbulkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan. 
  5. Motivasi kerja. Hasil penelitian mengenai job insecurity dan work intensification menunjukkan individu dengan job insecurity tinggi memiliki motivasi yang lebih rendah dibandingkan individu yang job insecurity-nya rendah. Pengurangan jumlah karyawan yang dilakukan perusahaan juga didapatkan hasil bahwa karyawan mengalami penurunan motivasi, semangat, rasa percaya diri, dan kesetiaan, serta terjadi peningkatan stres, skeptis, dan kemarahan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Job Insecurity 

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketidakamanan dalam bekerja atau job insecurity, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Karakteristik demografis 

Karakteristik demografis dapat meliputi usia, jenis kelamin, masa kerja, status pernikahan dan tingkat pendidikan. Pria memiliki tingkat job insecurity yang lebih tinggi dibandingkan wanita karena berkaitan dengan peran pria sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, sehingga pria akan lebih tegang ketika menghadapi kehilangan pekerjaan. Usia memiliki hubungan positif dengan job insecurity dimana semakin tinggi usia seseorang semakin tinggi tingkat job insecurity.

b. Konflik peran (role conflict) 

Ketika seorang individu dihadapkan dengan ekspetasi peran yang berlainan, hasilnya adalah konflik peran (role conflict). Konflik ini muncul ketika seorang individu menemukan bahwa untuk memenuhi syarat satu peran dapat membuatnya lebih sulit untuk memenuhi peran lain. Pada tingkat ekstrem, hal ini dapat meliputi situasi–situasi di mana dua atau lebih ekspetasi peran saling bertentangan.

c. Perubahan organisasi (organizational change) 

Merupakan berbagai kejadian yang yang secara potensial dapat mempengaruhi sikap dan persepsi karyawan sehingga dapat menyebabkan perubahan yang signifikan dalam organisasi. Kejadian-kejadian tersebut antara lain meliputi merger, perampingan (downsizing), reorganisasi, teknologi baru, dan perubahan manajemen.

d. Locus of Control 

Locus of control merupakan hal yang berhubungan dengan bagaimana individu menginterpretasikan ancaman yang berasal dari lingkungan. Tenaga kerja yang locus of control internal cenderung menganggap lingkungan memberikan pengaruh yang rendah dan lebih percaya pada kemampuannya sendiri untuk menghadapi ancaman apapun yang berasal dari lingkungan. Sebaliknya tenaga kerja locus of control eksternal menganggap lingkungan memberikan peran yang lebih besar terhadap nasibnya dibandingkan dengan kemampuannya sendiri.

e. Nilai pekerjaan 

Nilai dari suatu pekerjaan dimaknai secara berbeda oleh masing-masing orang. Bagi kebanyakan individu, pekerjaan merupakan faktor pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kebutuhan sosial. Namun pekerjaan tidak hanya dianggap sebagai sumber pendapatan, tetapi juga memungkinkan individu untuk melakukan hubungan sosial, mempengaruhi struktur waktu, dan berkontribusi dalam perkembangan pribadi individu tersebut. Oleh karena itu ancaman akan kehilangan pekerjaan dapat menimbulkan job insecurity dalam diri pekerja tersebut.

Daftar Pustaka

  • Munandar, A.S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Smithson, Janet dan Lewis. 2000. Is Job Insecurity Changing The Psychological Contract?. Personnel Review Journal.
  • Sverke, M. & Hellgren, J. 2002. The Nature of Job Insecurity: Understanding Employment Uncertainty On The Brink of A New Millennium. Applied Psychology: An International Review.
  • Halungunan, Hadia. 2015. Pengaruh Job Insecurity Terhadap Occupational Self-Efficacy Pada Karyawan PT. Sandang Asia Maju Abadi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
  • Wening, Nur. 2005. Pengaruh Ketidak Amanan Kerja (Job Insecurity) Sebagai Dampak Rekstruturisasi Terhadap Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi dan Intensi Keluar Survivor. Jurnal Empirika, Vol.18, No.1.
  • Ermawan, D. 2007. Hubungan Antara Job Insecurity dan Konflik Peran Dengan Komitmen Organisasi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
  • Hanafiah, Mohammad. 2014. Pengaruh Kepuasan Kerja dan Ketidakamanan Kerja (Job Insecurity) dengan Intensi Pindah Kerja (Turnover) pada Karyawan PT.Buma Desa Suaran Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau. eJournal Psikologi.
  • Rowntree, J. 2005. Job Insecurity and Work Intensification. Online: www.jrf.org.uk.
  • Sugiarti. 2006. Hubungan Antara Kepuasan Kerja dengan Job Insecurity pada Guru Negeri dan Guru Swasta. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Ashford, S.J., Lee, C. & Bobko, P. 1989. Content, Cause, and Consequences of Job Insecurity: A Theory-Based Measure and Substantive Test. Academy of Management Journal.
  • Irene, Jessica. 2008. Hubungan antara Occupational Self-Efficacy dan Job Insecurity pada Tenaga Kerja Outsourcing. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Ferry, Novliadi. 2009. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Organisasi Pembelajar dengan Job Insecurity pada Karyawan. Medan: Universitas Sumatera Utara.