Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Fobia (Pengertian, Karakteristik, Jenis, Penyebab dan Penanganan)

Apa itu Fobia? 

Fobia adalah rasa takut yang tidak proporsional terhadap bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi yang tidak sebanding dengan ancamannya dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar yang berakibat pada reaksi menghindar ketika bertemu atau mengalami objek atau situasi penyebab fobia.

Fobia (Pengertian, Karakteristik, Jenis, Penyebab dan Penanganan)

Istilah fobia berasal dari kata Yunani, yaitu phobos, yang artinya takut kepada musuh-musuhnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya (Depdiknas, 2002).

Fobia merupakan ketakutan yang tidak terkendali, irasional, dan terus-menerus dari objek tertentu, situasi, atau kegiatan. Dalam kasus fobia, rasa takut dipicu oleh stimulus yang tidak benar-benar menakutkan atau mengancam keselamatan diri. Sedangkan jika stimulus tersebut memang benar-benar berbahaya atau mengancam, ini tidak termasuk fobia lagi melainkan rasa takut yang wajar.

Fobia menjadi sesuatu yang tersimpan dalam diri manusia seperti kekuatan yang mendorong manusia dan menjadi penentu dalam tindakannya, atau sebaliknya menjadi bahaya yang melemahkan manusia itu sendiri. Hal yang aneh tentang fobia adalah biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan yang luar biasa. Orang dengan fobia mengalami ketakutan untuk hal-hal yang biasa yang untuk orang lain sudah tidak dipikirkan lagi.

Berikut definisi dan pengertian fobia dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Davison, dkk (2006), fobia adalah penolakan yang mengganggu yang diperantarai oleh rasa takut yang tidak proporsional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar. 
  • Menurut Purnama (2016), fobia adalah sebentuk kekeliruan menginterpretasikan (memersepsikan) informasi yang tidak lengkap atau tidak jelas. Informasi ini lalu dimaknai sebagai hal mengancam dan disertai dengan keyakinan bila peristiwa atau pengalaman negatif itu akan berulang kembali di masa depan. Akibatnya akan muncul reaksi menghindar ketika bertemu atau mengalami objek penyebab fobia. 
  • Menurut Nevid, dkk (2005), fobia adalah rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi yang tidak sebanding dengan ancamannya. Orang dengan gangguan fobia tidak kehilangan kontak dengan realitas, mereka biasanya tahu bahwa ketakutan mereka itu berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Ciri-ciri dan Karakteristik Fobia 

Menurut Nevid, dkk (2005), ciri-ciri penderita fobia antara lain adalah sebagai berikut: 

  1. Ciri-ciri fisik. Seperti adanya salah satu gejala kegelisahan, kegugupan, gemetaran, berkeringat, pusing, pingsan, sulit berbicara, sesak nafas, jantung cepat, jantung melambat, merinding, panas dingin, lemas, mual, mau buang air kecil, wajah merah, mudah marah, atau sejenisnya. 
  2. Ciri-ciri behaviorial. Seperti adanya salah satu gejala perilaku menghindar, melekat atau dependen, terguncang, atau sejenisnya. 
  3. Ciri-ciri kognitif. Seperti adanya salah satu gejala di pikiran khawatir, keyakinan sesuatu mengerikan akan terjadi, waspada berlebihan, ketakutan akan kehilangan kontrol diri, berpikir bahwa dunia mengalami keruntuhan, berpikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalikan, berpikir semua membingungkan, tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu, berpikir akan segera mati, khawatir akan ditinggal sendirian, sulit berkonsentrasi, atau sejenisnya.

Sedangkan menurut Durand (2006), beberapa karakteristik yang muncul pada penderita fobia, antara lain adalah sebagai berikut: 

  1. Ketakutan yang terlihat menyolok dan menetap, yang eksesif dan tidak masuk akal, terhadap objek atau situasi tertentu (misalnya, ketinggian, binatang, darah, dan lain-lain), yang berlangsung setidak-tidaknya selama 6 bulan. 
  2. Respons cemas dan ketakutan ketika menghadapi objek atau situasi yang fobik. 
  3. Menyadari bahwa ketakutannya eksesif dan tidak masuk akal atau ada distres yang menyolok karena memiliki fobia dimaksud. 
  4. Situasi atau objek yang fobik dihindari atau dihadapi dengan kecemasan atau distres yang intens.

Jenis-jenis Fobia 

Menurut American Psychiatric Association (2000), secara umum fobia diklasifikasikan dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Agorafobia 

Istilah Agorafobia berasal dari bahasa latin, yaitu agora yang berarti pasar di luar ruang. Agorafobia ditandai oleh ketakutan yang hebat yang membuat tidak berdaya akan tempat atau situasi yang sulit untuk meloloskan diri atau sulit untuk mendapatkan pertolongan apabila terjadi serangan cemas. Akibatnya, orang dengan agorafobia membatasi geraknya sebatas tempat yang dirasa aman, biasanya di dalam rumah. Individu yang menderita agoraphobia cemas tentang berbagai tempat atau situasi di luar kenyamanan dan keamanan rumah mereka, meskipun hal ini dapat diperluas ke tempat-tempat lain di dekat atau sekitar daerah setempat. Tempat-tempat ini dikenal sebagai zona nyaman.

b. Fobia Sosial 

Fobia sosial dikenal juga sebagai gangguan anxietas sosial, fobia sosial adalah ketakutan akan diamati dan dipermalukan di depan publik. Fobia sosial merupakan ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain. Hal ini bermanifestasi sebagai rasa malu dan tidak nyaman yang sangat berlebihan di situasi sosial yang kemudian mendorong orang untuk menghindari situasi sosial dan ini tidak disebabkan karena masalah fisik atau mental (seperti gagap, jerawat, atau gangguan kepribadian). Individu menghindari situasi dimana ia mungkin dievaluasi dan dikritik, yang membuatnya merasa terhina dan dipermalukan dan menunjukkan perilaku kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan.

c. Fobia Spesifik 

Fobia spesifik ditandai oleh ketakutan yang tidak rasional akan objek atau situasi tertentu. Gangguan ini termasuk gangguan medik yang paling sering didapati, namun demikian sebagian kasus hanyalah ringan dan tidak perlu mendapatkan pengobatan. Fobia yang paling sering adalah takut terhadap binatang tertentu atau fobia serangga yang paling umum adalah Arachnofobia (takut laba-laba), cynophobia (takut anjing), dan Ophidiophobia (takut ular) dan Nyctophobia (takut akan malam atau kegelapan), Acrophobia (Takut ketinggian), Glossophobia (rasa takut berbicara di depan penonton), Claustrophobia (takut ruang tertutup atau ketat), Aviatophobia (takut terbang), Dentophobia (takut dokter gigi atau prosedur gigi), Hemophobia (takut darah atau cedera).

Menurut American Psychiatric Association (2000), berdasarkan faktor penyebabnya, fobia spesifik dibagi menjadi lima jenis, yaitu sebagai berikut: 

  1. Animal type (tipe hewan atau serangga). Ini adalah subtipe yang menypesifikkan jika ketakutan yang objeknya terhadap dengan hewan atau serangga. 
  2. Natural environment type (tipe lingkungan alam). Ini adalah subtipe yang menypesifikkan jika ketakutan yang objeknya terhadap lingkungan alam seperti badai, ketinggian, air, atau sejenisnya. 
  3. Blood-injection-injury type (tipe darah, suntikan atau tusukan). Ini adalah subtipe yang menypesifikkan jika ketakutan yang objeknya terhadap darah, sebuah jarum suntik, ditusuk sesuatu, atau penggunaan prosedur medis lainnya. 
  4. Situational type (tipe situasional). Ini adalah subtipe yang menypesifikkan jika ketakutan yang objeknya terhadap situasi khusus seperti suatu transportasi publik, terowongan, jembatan, lift, penerbangan, mengemudi, tempat-tempat tertutup, atau sejenisnya. 
  5. Other type (tipe lainnya). Ini adalah subtipe yang menypesifikkan jika ketakutan yang tidak termasuk dari empat tipe sebelumnya, yang selanjutnya disebut tipe lainnya ini yang objeknya terhadap stimuli lainnya. Stimulus yang mungkin termasuk seperti ketakutan di saat terdesak, saat muntah, tertular penyakit; fobia ruang (seperti individu yang takut melihat ke bawah jika jauh dari dinding atau membutuhkan dukungan terhadap fisiknya); dan ketakutan anak-anak terhadap suara-suara, keras atau karakter-karakter yang yang berkostum, atau yang lainnya.

Selain beberapa jenis fobia yang telah disebutkan di atas, terdapat juga beberapa fobia aneh dan ekstrim yang sering ditemukan, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Mageirocophobia. Mageirocophobia adalah ketakutan akan memasak. Ketakutan akan masak ini memang sangat aneh dan dapat menyebabkan pola makan yang tidak sehat pada orang tersebut. Penderita fobia ini akan merasa terancam oleh orang yang pandai memasak dan perasaan tidak aman yang akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. 
  2. Pediophobia. Pediophobia adalah ketakutan terhadap boneka. Ketakutan yang timbul terhadap boneka ini sangat rasional, dan ketakutan ini muncul terhadap semua jenis boneka, tidak hanya pada boneka yang berbentuk mengerikan. Fobia ini timbul karena rasa takut boneka atau robot itu akan hidup. 
  3. Deipnophobia. Deipnophobia adalah ketakutan pada pembicaraan saat makan malam. Penderita fobia ini merasa ketakutan saat harus berbicara dengan orang lain saat makan, oleh karena itu mereka menghindari jika diajak keluar untuk pergi makan. 
  4. Eisoptrophobia. Eisoptrophobia adalah ketakutan oleh cermin. Orang yang menderita fobia ini akan merasa gugup saat berhadapan dengan cermin karena merasa di dalam cermin terdapat dunia supernatural lain. Mereka juga percaya jika cermin pecah dapat membawa kesialan dan nasib buruk. 
  5. Arachibutyrophobia. Arachibutyrophobia adalah ketakutan yang aneh terhadap selai kacang. Ketakutan ini timbul karena mereka berpikir selai kacang akan terperangkap di langit-langit mulutnya. 
  6. Cathisophobia. Cathisophobia adalah ketakutan yang muncul saat harus duduk. Ketakutan ini dapat dipicu oleh memori berbagai jenis hukuman yang didapatkan saat sekolah, karena kasus wasir atau karena pernah menduduki benda yang tajam.
  7. Xanthophobia. Xanthophobia adalah ketakutan terhadap warna kuning. Penderita fobia ini mempunyai ketakutan irasional terhadap segala sesuatu yang berwarna kuning. Ketakutan ini merupakan bentuk ekstrem akan ketakutan terhadap kata "kuning". 
  8. Hylophobia. Hylophobia merupakan ketakutan terhadap pohon. Ketakutan ini mungkin dipicu oleh bentuk-bentuk kayu yang mengerikan yang dibayangkan saat masih kecil. 
  9. Nomophobia. Nomophobia adalah ketakutan hidup tanpa ponsel. Fobia ini baru saja ditemukan beberapa tahun yang lalu oleh fenomena yang ditemukan oleh survey. Lebih dari separuh populasi di Ingris menderita fobia ini. 
  10. Pogonophobia. Pogonophobia adalah ketakutan terhadap berbagai jenis janggut. Semua jenis ketakutan ini secara umum terkait dengan sesuatu yang menakutkan yang terjadi di masa lalu. Berkonsultasi dengan dokter dapat membantu menghilangkan berbagai fobia tersebut.

Faktor Penyebab Fobia 

Penyebab fobia bisa diperoleh dari melalui pengalaman langsung yang traumatis, dimana keadaan bahaya atau sakitnya akan menghasilkan respon yang berlebihan. Ketakutan dan kecemasan manusia menjadi sumber utama yang mendorong kemunculan fobia dengan kecenderungan teror dan perasaan terancam akan dikaji lewat tinjauan filosofis. Reaksi yang timbul dari dorongan kecemasan dan ketakutan kemudian memicu perilaku yang tidak wajar menjadi begitu penting sebagai bentuk ekspresi takut dan ikut menentukan seberapa fatal akibat dari dorongan fobia yang dialami.

Menurut Chaerany (2010), terdapat beberapa faktor yang dianggap menjadi penyebab individu mengalami fobia, yaitu sebagai berikut: 

  1. Kerentanan biologis menyeluruh (generalized biological vulnerability). Kecenderungan untuk gelisah atau tegang itu tampaknya diturunkan atau diwariskan. Tetapi, kerentanan biologis menyeluruh untuk mengalami kecemasan bukanlah kecemasan itu sendiri. 
  2. Kerentanan psikologis menyeluruh (generalized psychological vulnerability). Artinya, berdasarkan pengalaman awal, mungkin tumbuh dewasa dengan disertai keyakinan bahwa dunia ini berbahaya dan di luar kontrol, dan tidak mampu mengatasi bila ada hal buruk yang menimpa. 
  3. Kerentanan psikologis spesifik (specific psychology vulnerability). Dimana manusia belajar dari pengalaman awal, misalnya dari apa yang diajarkan oleh orang tua, bahwa situasi atau objek tertentu berbahaya (meskipun sebenarnya tidak). Contohnya apabila ayah takut anjing, maka anak juga akan takut pada anjing karena beranggapan bahwa anjing adalah sesuatu yang berbahaya.

Penyembuhan dan Penanganan Fobia 

Menurut Davison, dkk (2006), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam penanganan dan penyembuhan fobia yang berlebihan, yaitu sebagai berikut:

a. Pendekatan Psikoanalisa 

Tujuan dari terapi psikoanalisa adalah untuk mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya kecemasan berupa ketakutan-ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan fobia. Beberapa kombinasi teknik dapat digunakan, misalnya asosiasi bebas dan analisis mimpi, namun beberapa analisis ego kontemporer melakukan penanganan terhadap fobia dengan meminta orang tersebut menghadapi (mengkonfrontir) fobianya. Hal ini penting untuk mengobati simtom, meskipun tidak dapat menyelesaikan konflik yang diasumsikan menyebabkan fobia.

b. Pendekatan Behavioral 

Pendekatan ini menggunakan desensitisasi sistematis sebagai metode utama. Individu yang mengalami fobia membayangkan gambaran sesuatu (stimulus) fobia yang makin lama makin menakutkannya, sementara mereka dalam keadaan tenang (ada proses relaksasi). Namun metode relaksasi tidak dapat diterapkan pada individu yang memiliki fobia darah dan suntikan karena bisa meningkatkan kecenderungan pingsan serta meningkatkan ketakutannya. Bagi mereka justru disarankan untuk mengencangkan otot-otot saat mengalami ketakutan. Untuk individu yang mengalami fobia sosial dapat dilakukan dengan mengajarkan keterampilan sosial melalui bermain peran dan pengulangan interaksi sosial di dalam ruang terapi.

c. Pendekatan Kognitif 

Penderita fobia spesifik, menunjukkan bahwa mereka memiliki pandangan kognitif yang skeptis. Menurut para ahli dibidang kognitif, individu telah menyadari bahwa ketakutan pada fobia merupakan suatu hal yang berlebihan dan mereka-pun dianggap telah mengetahui bahwa objek fobia sesungguhnya merupakan sesuatu yang tidak berbahaya. Sedangkan untuk menangani fobia sosial, individu dipersuasi untuk mempersepsi reaksi orang lain secara lebih akurat dan mulai mengurangi ketergantungan terhadap persetujuan dari orang lain, agar dapat timbul perasaan berharga dalam dirinya.

d. Pendekatan Biologis 

Penanganan biologis untuk fobia adalah pemberian obat-obatan sedatif, tranqulizer, atau anxiolytics yang dapat mengurangi kecemasan dan kebanyakan obat-obat yang digunakan sekarang adalah obat-obat anti depresi. Penggunaan obat-obatan tentunya memberikan efek samping bila dikonsumsi dalam dosis yang berlebihan. Beberapa obat dapat menyebabkan ketergantungan dan kematian bila mengalami overdosis serta mempengaruhi berat badan.

Daftar Pustaka

  • Davison, G.C.,  Neale, J.M., dan Kring, A.M. 2006. Abnormal Psychology. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Purnama, Suhendri. 2016. Phobia? No Way!!. Yogyakarta: Andi.
  • Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Nevid, J.S., Rathus, S.A., dan Greene, B. 2005. Abnormal Psychology in a Changing World. Jakarta: Erlangga.
  • Durand, V.M., & Barlow, D.H. 2006. Essentials of Abnormal Psychology. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorders: Text Revision. Washington DC: American Psychiatric Association.
  • Chaerany, Fathiah. 2010. Analisis Phobia Sebagai Pemahaman Kesadaran Manusia dalam Pemusatan Perhatian pada Pengalaman Subjektif. Depok: FIB UI. 

Posting Komentar untuk "Fobia (Pengertian, Karakteristik, Jenis, Penyebab dan Penanganan)"