Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Locus of Control (Pengertian, Aspek, Jenis dan Karakteristik)

Locus of control adalah sumber keyakinan yang dimiliki seseorang untuk percaya bahwa dia mampu mengendalikan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya atau kendali atas peristiwa yang terjadi dalam hidupnya berasal dari hal lain yang membuat dia dapat menerima tanggung jawab atau tidak atas tindakannya.

Locus of Control (Pengertian, Aspek, Jenis, Karakteristik dan Faktor yang Mempengaruhi)

Locus of control merupakan keyakinan individu mengenai sumber penyebab dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam hidupnya. Seseorang juga dapat memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatur kehidupannya, atau justru orang lainlah yang mengatur kehidupannya, bisa juga ia berkeyakinan faktor, nasib, keberuntungan, atau kesempatan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya.

Locus of control dibagi menjadi dua, yaitu locus of control internal dan locus of control eksternal. Adapun individu dengan locus of control internal cenderung menganggap bahwa ketrampilan (skill), kemampuan (ability), dan usaha (effort) lebih menentukan apa yang mereka peroleh dalam hidup. Sedangkan individu dengan locus of control eksternal cenderung menganggap hidup mereka lebih ditentukan oleh kekuatan dari luar diri mereka, seperti nasib, takdir dan keberuntungan.

Berikut definisi dan pengertian locus of control dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Soemanto (2012), locus of control adalah bagaimana individu merasa atau melihat garis atau hubungan antara tingkah lakunya dan akibatnya, apakah dia dapat menerima tanggung jawab atau tidak atas tindakannya. 
  • Menurut Munir dan Sajid (2010), locus of control adalah cerminan dari sebuah kecenderungan seorang individu untuk percaya bahwa dia mengendalikan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya (internal) atau kendali atas peristiwa yang terjadi dalam hidupnya itu berasal dari hal lain. 
  • Menurut Jaya dan Rahmat (2005), Locus of Control adalah suatu cara yang mana individu memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan yang terjadi di dalam kontrol atau di luar kontrol dirinya. 
  • Menurut Kreitner dan Kinicki (2014), locus of control adalah salah satu variabel kepribadian yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib sendiri.
  • Menurut Allen (2003), locus of control adalah Tingkat sejauh mana seseorang mengharapkan bahwa penguatan atau hasil dari perilaku mereka tergantung pada penilaian mereka sendiri atau karakteristik pribadi. 
  • Menurut Duffy dan Atwarer (2005), locus of control adalah sumber keyakinan yang dimiliki oleh individu dalam mengendalikan peristiwa yang terjadi baik itu dari diri sendiri ataupun dari luar dirinya.

Aspek-aspek Locus of control 

Menurut Rotter (2004), dalam bukunya The Social Learning Theory menyebutkan bahwa locus of control terdiri dari empat aspek, yaitu sebagai berikut: 

  1. Potensi perilaku (behavior potential). Potensi perilaku mengacu pada kemungkinan bahwa perilaku tertentu akan terjadi dalam situasi tertentu. Kemungkinan itu ditentukan dengan referensi pada penguatan atau rangkaian penguatan yang bisa mengikuti perilaku tersebut.
  2. Pengharapan (expectancy). Pengharapan merupakan kepercayaan individu bahwa dia berperilaku secara khusus pada situasi yang berikan yang akan diikuti oleh penguatan yang telah diprediksikan. Kepercayaan ini berdasarkan pada probabilitas/kemungkinan penguatan yang akan terjadi. 
  3. Nilai penguatan (reinforcement value). Merupakan penjelasan mengenai tingkat pilihan untuk penguatan (reinforcement) sebagai pengganti yang lain. Setiap orang menemukan penguat yang berbeda nilainya pada aktivitas yang berbeda-beda. Pemilihan penguatan ini berasal dari pengalaman yang menghubungkan penguatan masa lalu dengan yang terjadi saat ini. Berdasarkan hubungan ini, berkembang pengharapan untuk masa depan. Karena itulah terjadi hubungan antara konsep pengharapan (Expectacy) dan nilai penguatan (Reinforcement Value). 
  4. Situasi psikologis (psychological situatuion). Merupakan hal yang penting dalam menentukan perilaku. Secara terus menerus seseorang akan memberikan reaksi pada lingkungan internal maupun eksternal saja tetapi juga kedua lingkungan. Penggabungan ini yang disebut situasi psikologis dimana situasi dipertimbangkan secara psikologis karena seseorang mereaksi lingkungan berdasarkan pola-pola persepsi terhadap stimulus eksternal.

Jenis-jenis Locus of Control 

Menurut Rotter (2004), berdasarkan orientasinya locus of control terdiri dari dua bentuk, yaitu sebagai berikut:

a. Locus of control internal 

Mereka percaya segala sesuatu yang terjadi pada dirinya secara langsung dikontrol dan dipengaruhi oleh kemampuan dirinya sendiri seperti kecakapan (skill), kemampuan (ability), dan usaha (effort). Locus of control internal yakin bahwa apa yang terjadi atas dirinya (kesuksesan atau kegagalan) adalah disebabkan oleh faktor-faktor dalam dirinya sendiri dan dengan sifat-sifat kepribadian yang dimilikinya, baik dan buruk adalah tanggung jawab mereka sendiri. Locus of control internal lebih yakin bahwa peristiwa yang dialami dalam kehidupan mereka terutama ditentukan oleh kemampuan dan usahanya sendiri. Individu yang berorientasi pada locus of control eksternal, di kelompokkan dalam dua kategori, yaitu powerfull others dan chance. Individu dengan orientasi powerfull others meyakini bahwa kehidupan mereka ditentukan oleh orang-orang yang lebih berkuasa yang ada di sekitarnya, sedangkan mereka yang berorientasi chance meyakini bahwa kehidupan dan kejadian yang dialami sebagian besar ditentukan oleh takdir, nasib, keberuntungan dan kesempatan. 

b. Locus of control eksternal 

Individu percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya baik keberhasilan ataupun kegagalan diakibatkan oleh faktor di luar dirinya seperti nasib, kesempatan, atau kebetulan (chance), keberuntungan (luck) atau berasal dari kekuatan di luar dirinya (action of other). Individu dengan locus of control eksternal yang berkeyakinan bahwa peristiwa-peristiwa yang dialaminya merupakan konsekuensi dari hal-hal di luar dirinya, seperti takdir, kesempatan, keberuntungan atau orang lain. Individu cenderung menjadi malas, karena merasa bahwa usaha apapun yang dilakukan tidak akan menjamin keberhasilan dalam pencapaian hasil yang diharapkan. Keyakinan yang dimiliki mereka yang berorientasi locus of control eksternal menyebabkan mereka mengabaikan adanya hubungan antara hasil yang diperoleh dengan usaha yang dilakukan.

Karakteristik Locus of Control 

Menurut Silalahi (2009), karakteristik locus of control adalah sebagai berikut:

a. Locus of control internal 

Seseorang yang memiliki locus of control internal selalu menghubungkan peristiwa yang dialaminya dengan faktor dalam dirinya. Karena mereka percaya bahwa hasil dan perilakunya disebabkan faktor dari dalam dirinya. Faktor dalam aspek internal antara lain kemampuan, minat, usaha. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 

  1. Kemampuan. Seseorang yakin bahwa kesuksesan dan kegagalan yang telah terjadi sangat dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki. Kemampuan (Ability) adalah istilah umum yang dikaitkan dengan kemampuan atau potensi untuk menguasai suatu keahlian ataupun pemilikan keahlian itu sendiri.
  2. Minat. Seseorang memiliki minat yang lebih besar terhadap kontrol perilaku, peristiwa dan tindakannya. Minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. 
  3. Usaha. Seseorang yang memiliki locus of control internal bersikap optimis, pantang menyerah dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol perilakunya. Sikap optimis adalah cara berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah. Berpikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk.

b. Locus of control eksternal 

Seseorang yang memiliki locus of control eksternal percaya bahwa hasil dan perilakunya disebabkan faktor dari luar dirinya. Faktor dalam aspek eksternal antara lain nasib, keberuntungan, sosial ekonomi, dan pengaruh orang lain. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Nasib. Seseorang akan menganggap kesuksesan dan kegagalan yang dialami telah ditakdirkan dan mereka tidak dapat mengubah kembali peristiwa yang telah terjadi, mereka percaya akan firasat baik dan buruk. 
  2. Keberuntungan. Seseorang yang memiliki tipe eksternal sangat mempercayai adanya keberuntungan, mereka menganggap bahwa setiap orang memiliki keberuntungan. 
  3. Sosial ekonomi. Seseorang yang memiliki tipe eksternal menilai orang lain berdasarkan tingkat kesejahteraan dan bersifat materialistik.

Faktor yang Mempengaruhi Locus of Control 

Menurut Hamedoglu, Kantor & Gulay (2012), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi locus of control seseorang, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Faktor keluarga 

Lingkungan keluarga tempat seorang individu tumbuh dan dapat memberikan pengaruh. Orang tua yang mendidik anak, pada kenyataannya mewakili nilai-nilai dan sikap atas kelas sosial mereka. Kelas sosial yang disebutkan di sini tidak hanya mengenai status ekonomi, tetapi juga memiliki arti yang luas, termasuk tingkat pendidikan, kebiasaan, pendapatan dan gaya hidup. Individu dalam kelas sosial ekonomi tertentu mewakili bagian dari sebuah sistem nilai yang mencakup gaya membesarkan anak, yang mengarah pada pembangunan karakter kepribadian yang berbeda. Dalam lingkungan otokratis di mana perilaku di bawah kontrol yang ketat, anak-anak tumbuh sebagai pemalu, suka bergantung. Di sisi lain, ia mengamati bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang demokratis, mengembangkan rasa individualisme yang kuat menjadi mandiri, dominan, memiliki keterampilan interaksi sosial, percaya diri, dan rasa ingin tahu yang besar.

b. Faktor pelatihan

Program pelatihan telah terbukti efektif mempengaruhi locus of control individu sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan peserta pelatihan dalam mengatasi hal-hal yang memberikan efek buruk. Pelatihan adalah sebuah pendekatan terapi untuk mengembalikan kendali atas hasil yang ingin diperoleh. Pelatihan diketahui dapat mendorong locus of control internal yang lebih tinggi, meningkatkan prestasi dan meningkatkan keputusan karier.

Daftar Pustaka

  • Soemanto, Wasty. 2012. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Munir, S., & Sajid, M. 2010. Examining Locus of Control (LOC) as a Determinantof Organizational Commitment among University Professors in Pakistan. Journal of Bisiness Studies Quarterly.
  • Jaya, E.D.G., dan Rahmat, I. 2005. Burnout Ditinjau dari Locus of Control Internal dan Eksternal. Majalah Kedokteran Nusantara.
  • Kreitner, Robert dan Kinicki, Angelo. 2014. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.
  • Allen, B.P. 2003. Personality Theories: Development, Growth, and Diversity. United States of America: Pearson Education Inc.
  • Duffy, K.G. & Atwater, E. 2005. Psychology for Living: Adjustment, Growth, and Behavior Today. New Jersey: Prentice Hall.
  • Rotter, J.B. 2004. The Social Learning Theory of Julian B. Rotter. Online.
  • Silalahi, V. 2009. Hubungan Locus of Control dengan Perilaku Kesehatan pada Masyarakat Pedesaan. Medan: Universitas Sumatera Utara.
  • Hamedoglu, M., Kantor, J., dan Gulay, E. 2012. The Effect of Locus of Control and Culture on Leader Preferences. International online Journal of Educational Sciences, Vol.4.