Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prokrastinasi Akademik (Pengertian, Aspek, Ciri, Jenis dan Faktor Penyebab)

Prokrastinasi adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang untuk menghindari atau menunda suatu tugas, kegiatan atau pekerjaan dengan alasan menghindari penyalahan atau keyakinan-keyakinan lain yang irasional sehingga dapat menghasilkan dampak buruk atau tidak menyenangkan bagi individu yang melakukan.

Prokrastinasi Akademik (Pengertian, Aspek, Ciri, Jenis dan Faktor Penyebab)

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa latin, yaitu procrastinus. Kata pro artinya forward, yaitu meneruskan atau mendorong ke depan, dan crastinus artinya belonging to tomorrow atau milik hari esok. Apabila digabungkan menjadi procrastinus yang berarti forward it to tomorrow (meneruskan hari esok) atau saya akan melakukannya nanti. Dari istilah tersebut dapat dimaknai bahwa pengertian procrastinus atau prokrastinasi adalah suatu keputusan untuk menunda pekerjaan ke hari berikutnya (Burka & Yuen, 2008).

Penundaan yang dikategorikan sebagai prokrastinasi adalah penundaan yang sudah merupakan kebiasaan atau pola menetap yang selalu dilakukan seseorang ketika menghadapi tugas. Penundaan tersebut disebabkan oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irasional dalam memandang tugas. Prokrastinasi biasanya berkaitan dengan takut gagal, tidak suka dengan tugas yang diberikan, menentang dan melawan kontrol, mempunyai sifat ketergantungan dan kesulitan dalam membuat keputusan.

Menurut Fibrianti (2009), berdasarkan karakteristiknya, prokrastinasi mempunyai dua pengertian. Pertama, prokrastinasi dapat berarti menunda sebuah tugas yang penting dan sulit daripada tugas yang lebih mudah, lebih cepat diselesaikan, dan menimbulkan lebih sedikit kecemasan. Kedua, prokrastinasi berarti menunggu waktu yang tepat untuk bertindak agar hasil lebih maksimal dan risiko minimal dibandingkan apabila dilakukan atau diselesaikan seperti biasa, pada waktu yang telah ditetapkan.

Berikut definisi dan pengertian prokrastinasi dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Steel (2007), prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun individu mengetahui bahwa perilaku penundaannya tersebut dapat menghasilkan dampak buruk. 
  • Menurut Gufron (2003), prokrastinasi adalah salah satu perilaku yang tidak efisien dalam penggunaan waktu dan adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai pekerjaan ketika menghadapi tugas. 
  • Menurut Fibrianti (2009), prokrastinasi adalah kecenderungan untuk menunda-nunda suatu tugas atau pekerjaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang. 
  • Menurut Akinsola dkk (2007), prokrastinasi adalah bentuk penghindaran dari suatu kegiatan, memang sengaja atau terlambat dan mempunyai alasan untuk membenarkan perilaku tersebut serta menghindari penyalahan. 
  • Menurut Wulandari (2006), prokrastinasi adalah suatu penundaan untuk memulai maupun untuk menyelesaikan tugas yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak mendukung dalam proses penyelesaian tugas yang pada akhirnya dapat menimbulkan keadaan emosional yang tidak menyenangkan bagi pelakunya.

Aspek-Aspek Prokrastinasi 

Menurut Ferrari, dkk (2003), prokrastinasi sebagai suatu perilaku penundaan memiliki beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Perceived time 

Seseorang yang cenderung prokrastinasi adalah orang-orang yang gagal menepati deadline. Mereka berorientasi pada masa sekarang dan tidak mempertimbangkan masa mendatang. Prokrastinator tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan, tetapi ia menunda-nunda untuk mengerjakannya atau menunda menyelesaikannya jika ia sudah memulai pekerjaannya tersebut. Hal ini mengakibatkan individu tersebut gagal memprediksikan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas.

b. Intention-action 

Celah antara keinginan dan tindakan Perbedaan antara keinginan dengan tindakan senyatanya ini terwujud pada kegagalan siswa dalam mengerjakan tugas akademik walaupun siswa tersebut punya keinginan untuk mengerjakannya. Ini terkait pula dengan kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu. seorang siswa mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugasnya pada waktu yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi saat waktunya sudah tiba dia tidak juga melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan sehingga menyebabkan keterlambatan atau bahkan kegagalan dalam menyelesaikan tugas secara memadai.

c. Emotional distress 

Adanya perasaan cemas saat melakukan prokrastinasi. Perilaku menunda-nunda akan membawa perasaan tidak nyaman pada pelakunya, konsekuensi negatif yang ditimbulkan memicu kecemasan dalam diri pelaku prokrastinasi. Pada mulanya siswa tenang karena merasa waktu yang tersedia masih banyak. tanpa terasa waktu sudah hampir habis, ini menjadikan mereka merasa cemas karena belum menyelesaikan tugas.

d. Perceived ability 

Walaupun prokrastinasi tidak berhubungan dengan kemampuan kognitif seseorang, namun keragu-raguan terhadap kemampuan dirinya dapat menyebabkan seseorang melakukan prokrastinasi. Hal ini ditambah dengan rasa takut akan gagal menyebabkan seseorang menyalahkan dirinya sebagai yang tidak mampu, untuk menghindari munculnya dua perasaan tersebut maka seseorang dapat menghindari tugas-tugas sekolah karena takut akan pengalaman kegagalan.

Ciri-ciri Prokrastinasi 

Menurut Ferrari dkk (2003), prokrastinasi akademik pada seseorang dapat dilihat melalui beberapa ciri, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi ia menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya.
  2. Adanya keterlambatan dalam mengerjakan tugas dan menyelesaikan tugas akademik. Prokrastinator memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Bahkan kadang-kadang tindakan itupun disertai dengan tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara memadai. Kelambanan dan keterlambatan inilah yang menjadi ciri utama dalam prokrastinasi akademik. 
  3. Adanya kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya, atau melanggar hal-hal yang telah direncanakan untuk memulai suatu tugas. 
  4. Memilih untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan. Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang ia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membaca majalah hiburan, menonton film, dan kegiatan rekreasi lainnya.

Jenis-jenis Prokrastinasi 

Menurut Gufron (2003), prokrastinasi akademik dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu:

a. Functional procrastination 

Functional procrastination adalah penundaan dalam mengerjakan tugas yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat. Prokrastinasi fungsional ini biasanya dilakukan untuk mengumpulkan data-data penting, referensi atau informasi lain yang terkait dengan tugas primer (tugas yang penting). Dalam kenyataannya, untuk mengumpulkan data-data memang membutuhkan waktu yang tidak pasti sesuai dengan jenis informasi yang akan dicari. Ada informasi yang membutuhkan waktu sebentar, dan ada juga yang lama. Prokrastinasi macam ini sering terjadi pada tugas-tugas yang berhubungan dengan penelitian.

b. Disfunctional procrastination 

Disfunctional procrastination adalah penundaan yang tidak memiliki tujuan, berakibat buruk dan menimbulkan masalah. Prokrastinasi disfungsional ini dibagi menjadi dua jenis berdasarkan tujuan mereka melakukan penundaan, yaitu:

  1. Decisional procrastination, yaitu suatu penundaan yang terkait dengan pengambilan keputusan. Bentuk prokrastinasi ini merupakan sebuah anteseden kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu kerja dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stres. Prokrastinasi dilakukan sebagai suatu bentuk coping yang digunakan untuk menyesuaikan diri dalam perbuatan keputusan pada situasi yang dipersepsikan penuh stres. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam mengindentifikasikan tugas, yang kemudian menimbulkan konflik dalam diri individu, sehingga akhirnya seorang menunda untuk memutuskan masalah. Decisional procrastination berhubungan dengan kelupaan, kegagalan proses kognitif, akan tetapi tidak berkaitan dengan kurangnya tingkat intelegensi seseorang. 
  2. Avoidance procrastination atau behavioral procrastination, yaitu suatu penundaan dalam perilaku tampak. Penundaan dilakukan sebagai suatu cara untuk menghindari tugas yang dirasa tidak menyenangkan dan sulit untuk dilakukan. Prokrastinasi ini dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam menyelesaikan pekerjaan yang akan mendatangkan nilai negatif padanya atau mengancam self esteem-nya. Avoidance procrastination berhubungan dengan tipe self presentation, keinginan untuk menjauhkan diri dari tugas yang menantang dan implusiveness.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi 

Menurut Catrunada dan Puspitawati (2008), faktor-faktor yang dianggap dapat mempengaruhi prokrastinasi akademik pada seseorang adalah sebagai berikut: 

  1. Kecemasan (anxiety). Kecemasan yang tinggi yang berinteraksi dengan tugas-tugas yang diharapkan dapat diselesaikan menyebabkan seseorang cenderung menunda tugas tersebut. 
  2. Pencelaan terhadap diri sendiri (self-depreciation). Pencelaan terhadap diri sendiri termanifestasi ke dalam penghargaan yang rendah atas dirinya sendiri, selalu menyalahkan diri sendiri ketika terjadi kesalahan, dan rasa tidak percaya diri untuk mendapat masa depan yang cerah menyebabkan seseorang cenderung melakukan prokrastinasi.
  3. Rendahnya toleransi terhadap ketidak-nyamanan (low discomfort tolerance). Kesulitan pada tugas yang dikerjakan membuat seseorang mengalami kesulitan untuk menoleransi rasa frustrasi dan kecemasan, sehingga mereka mengalihkan diri sendiri kepada tugas-tugas yang dapat mengurangi ketidak-nyamanan dalam diri mereka.
  4. Pencari kesenangan (pleasure-seeking). Seseorang yang mencari kenyamanan cenderung tidak mau melepaskan situasi yang membuat nyaman tersebut. Jika seseorang memiliki kecenderungan tinggi dalam mencari situasi yang nyaman, maka orang tersebut akan memiliki hasrat kuat untuk bersenang-senang dan memiliki kontrol impuls yang rendah.
  5. Tidak teraturnya waktu (time disorganization). Mengatur waktu berarti bisa memperkirakan dengan baik berapa lama seseorang membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Lemahnya pengaturan waktu disebabkan sulitnya seseorang memutuskan pekerjaan apa yang penting dan kurang penting untuk dikerjakan hari ini. Semua pekerjaan terlihat sangat penting sehingga muncul kesulitan untuk menentukan apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
  6. Tidak teraturnya lingkungan (environmental disorganisation). Salah satu faktor prokrastinasi adalah kenyataan bahwa lingkungan di sekitarnya berantakan atau tidak teratur dengan baik, hal itu terjadi kemungkinan karena kesalahan mahasiswa tersebut. Tidak teraturnya lingkungan bisa dalam bentuk interupsi dari orang lain, kurangnya privasi, kertas yang bertebaran dimana-mana, dan alat-alat yang dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut tidak tersedia. Adanya begitu banyak gangguan pada area wilayah pekerjaan menyulitkan seseorang untuk berkonsentrasi sehingga pekerjaan tersebut tidak bisa selesai tepat pada waktunya.
  7. Pendekatan yang lemah terhadap tugas (poor task approach). Seseorang merasa siap untuk bekerja, kemungkinan dia akan meletakkan kembali pekerjaan tersebut karena tidak tahu dari mana harus memulai sehingga cenderung menjadi tertahan oleh ketidaktahuan tentang bagaimana harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan tersebut. 
  8. Kurangnya pernyataan yang tegas (lack of assertion). Kurangnya pernyataan yang tegas disebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk berkata "tidak" terhadap permintaan yang ditujukan kepadanya ketika banyak hal yang harus dikerjakan karena telah dijadwalkan terlebih dulu. Hal ini bisa terjadi karena mereka kurang memberikan rasa hormat atas semua komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki. 
  9. Permusuhan terhadap orang lain (hostility with others). Kemarahan yang terus menerus bisa menimbulkan dendam dan sikap bermusuhan sehingga bisa menuju sikap menolak atau menentang apapun yang dikatakan oleh orang tersebut. 
  10. Stres dan kelelahan (stress and fatigue). Stres adalah hasil dari sejumlah intensitas tuntutan negatif dalam hidup yang digabung dengan gaya hidup dan kemampuan mengatasi masalah pada diri sendiri. Semakin banyak tuntutan dan semakin lemah sikap seseorang dalam memecahkan masalah, dan gaya hidup yang kurang baik, semakin tinggi stres seseorang.

Daftar Pustaka

  • Burka, J.B., & Yuen, L.M. 2008. Procrastination. Cambridge: Da Capo Press.
  • Ferrari, J.R., dkk. 1993. Procrastination and Task Avoidance: Theory, Research,and Treatment. New York: Plenum Press.
  • Fibrianti, I.D. 2009. Hubungan Antara Dukungan Sosial Orang Tua dengan Prokrastinasi Akademik dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Semarang: Universitas Dipenegoro.
  • Steel, Piers. 2007. The Nature of Procrastination: A Meta-Analytic and Theoritical Review of Quintessential Self-Regulatory Failure. Psychological Bulletin.
  • Ghufron. M.N. 2003. Hubungan Kontrol Diri dan Persepsi Remaja terhadap Penerapan Disiplin Orang tua terhadap Prokrastinasi Akademik. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
  • Akinsola, M.K., dkk. 2007. Correlates of Academic Procrastination and Mathematics Achievement of University Undergraduate Students. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Tecnology Education.
  • Wulandari, Ayu. 2017. Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Prokrastinasi Akademik pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran. Salagita: Universitas Kristen Satya Wacana.
  • Catrunada, L., dan Puspitawati, I. 2008. Perbedaan Kecenderungan Prokrastinasi Tugas Skripsi Berdasarkan Tipe Kepribadian Introvert dan Ekstrovert. Jakarta: Universitas Gunadarma.