Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Self-Directed Learning (Pengertian, Aspek, Tingkatan dan Langkah-langkah)

Apa itu Self-Directed Learning? 

Self-directed learning atau kemandirian belajar adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan seseorang untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan prestasi melalui inisiatif sendiri dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi bergantung pada kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan otonomi yang dimiliki, meskipun nantinya membutuhkan bantuan atau nasihat dari orang lain.

Self-Directed Learning (Pengertian, Aspek, Tingkatan dan Langkah-langkah)

Self-directed learning dikenal juga dengan beberapa istilah, yaitu self-planned learning, independent learning, self-education, self-instruction, selfteaching, self-study dan autonomous learning. Semua istilah tersebut merujuk pada pengertian yang sama terkait kemandirian belajar, yaitu kemampuan yang dimiliki siswa untuk melakukan kegiatan belajar secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain guna mencapai tujuan pembelajaran.

Self-directed learning merupakan proses peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan pengembangkan diri individu yang diawali dengan inisiatif sendiri dengan belajar perencanaan belajar sendiri (self planned) dan dilakukan sendiri (self conducted), menyadari kebutuhan belajar, tujuan belajar, membuat strategi belajar, menilai hasil belajar, serta memiliki tanggung jawab sendiri menjadi agen perubahan dalam belajar.

Berikut definisi dan pengertian kemandirian belajar atau self-directed learning dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Knowles (1975), self-directed learning adalah suatu proses dimana seseorang memiliki inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain untuk menganalisis kebutuhan belajarnya sendiri, merumuskan tujuan belajarnya sendiri, mengidentifikasi sumber-sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai serta mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. 
  • Menurut Merriam (2004), self-directed learning adalah proses belajar dimana siswa membuat inisiatif sendiri dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dari pengalaman belajarnya yang diambil dari berbagai sumber atau literatur. 
  • Menurut Gibbons (2002), self-directed learning adalah usaha yang dilakukan seorang siswa untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, prestasi terkait orientasi pengembangkan diri dimana individu menggunakan banyak metode dalam banyak situasi serta waktu yang dilakukan secara relatif mandiri. 
  • Menurut Huda (2013), self-directed learning adalah kondisi dimana pembelajar memiliki kontrol sepenuhnya dalam proses pembuatan keputusan terkait dengan pembelajarannya sendiri dan menerima tanggung jawab utuh atasnya, meskipun nantinya mereka membutuhkan bantuan dan nasihat dari seorang guru.
  • Menurut Rachmawati dkk (2010), self-directed learning adalah metode pembelajaran yang bersifat fleksibel namun tetap berorientasi pada planning, monitoring, dan evaluating bergantung pada kemampuan siswa dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan otonomi yang dimilikinya.

Aspek-aspek Self-Directed Learning 

Menurut Gibbons (2002), terdapat lima aspek dasar dalam aktivitas dan program kegiatan yang menjadi elemen penting dalam self-directed learning, yaitu sebagai berikut:

a. Siswa mengontrol banyaknya pengalaman belajar yang terjadi 

Perubahan utama dari teacher-directed learning menjadi self-directed learning adalah sebuah perubahan pengaruh dari guru ke siswa. Untuk siswa, hal ini menunjukkan sebuah perubahan kontrol dari luar menjadi kontrol dari dalam. Siswa memulai membentuk pendapat dan ide mereka, membuat keputusan mereka sendiri, memilih aktivitas mereka sendiri, mengambil tanggung jawab untuk diri mereka sendiri, dan dalam memasuki dunia kerja. Mengisi siswa dengan tugas untuk mengembangkan pembelajaran mereka, mengembangkan mereka secara individual, dan membantu mereka untuk berlatih menjadi peran yang lebih dewasa. Self-directed learning tidak hanya membuat siswa belajar secara efektif tetapi juga membuat siswa lebih menjadi diri mereka sendiri.

b. Perkembangan keahlian 

Kontrol yang berasal dari dalam tidak akan memiliki tujuan kecuali jika siswa belajar untuk fokus dan menerapkan talenta dan kemampuan mereka. Self-directed learning menekankan pada perkembangan keahlian dan proses menuju aktivitas produktif. Siswa belajar untuk mencapai hasil program, berpikir secara mandiri, dan merencanakan dan melaksanakan aktivitas mereka sendiri. Siswa mempersiapkan lalu berunding dengan guru mereka. Maksud ini untuk menyediakan kerangka yang memungkinkan siswa untuk mengidentifikasi minat mereka dan membekali mereka untuk sukses.

c. Mengubah diri pada kinerja/performansi yang paling baik 

Self-directed learning dapat gagal tanpa tantangan yang diberikan kepada siswa. Pertama, guru memberikan tantangan kepada siswa, lalu guru menantang siswa untuk menantang diri mereka sendiri. Tantangan ini memerlukan pencapaian sebuah level performansi yang baru dalam sebuah tempat yang familiar atau mencoba pada sebuah tempat yang diminati. Menantang diri sendiri berarti mengambil risiko untuk keluar dari sesuatu yang mudah dan familiar.

d. Manajemen diri siswa 

Dalam self-directed learning, pilihan dan kebebasan dihubungkan dengan kontrol diri dan tanggung jawab. Siswa belajar untuk mengekspresikan kontrol dirinya dengan mencari dan membuat komitmen, minat dan aspirasi diri. Self-directed learning memerlukan keyakinan, keberanian, dan menentukan untuk usaha yang terlibat. Siswa mengembangkan atribut ini dan mereka menjadi ahli untuk mengatur waktu dan usaha mereka dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk melakukannya. Dalam menghadapi hambatan, siswa belajar untuk menghadapi kesulitan mereka, menemukan alternatif, dan memecahkan masalah mereka dalam rangka untuk menjaga produktivitas yang efektif. Kombinasi dari sumber yang berasal dari dalam diri dan keahlian dalam kinerja diperlukan untuk dapat memanajemen diri dalam self-directed learning.

e. Motivasi diri dan penilaian diri 

Banyak prinsip dari motivasi yang dibangun untuk self-directed learning, seperti mencapai tujuan minat yang tinggi. Ketika siswa menggunakan prinsip ini, siswa menjadi elemen utama dari motivasi diri siswa. Dengan mengatur tujuan penting untuk diri mereka, menyusun feedback untuk pekerjaan mereka, dan mencapai kesuksesan, mereka belajar untuk menginspirasikan usaha mereka sendiri. Persamaannya, siswa belajar untuk mengevaluasi kemajuan diri mereka sendiri, mereka menilai kualitas dari pekerjaan mereka dan proses yang didesain untuk melakukannya. Dalam self-directed learning, penilaian merupakan hal yang penting dari belajar dan belajar bagaimana mempelajarinya. Siswa sering memulai evaluasi diri dalam belajar yang mereka serahkan kepada guru meliputi sebuah deskripsi standar yang akan mereka capai. Seperti motivasi diri yang memampukan siswa untuk menghasilkan prestasi yang dapat dievaluasi, penilaian diri juga memotivasi siswa untuk mencari prestasi terbaik yang mungkin terjadi.

Tingkatan Self-Directed Learning 

Menurut Holstein (1986), self-directed learning dapat dibagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan karakteristik yang mengacu pada intensitasnya, yaitu sebagai berikut:

1. Tingkat rendah 

Pada tingkatan rendah, siswa masih banyak bergantung kepada guru dan teman dalam melakukan tindakan dalam belajarnya. Siswa tidak paham maksud eksplisit dari sebuah instruksi. Siswa yang berada pada tahap rendah ini kurang terampil dalam menambah referensi-referensi ilmu yang relevan, kurang motivasi, dan kepercayaan diri untuk mencapai sebuah tujuan.

2. Tingkat sedang 

Pada tahap sedang, siswa sudah dapat menyadari bahwa siswa adalah bagian dari sebuah proses belajar. Siswa siap dalam mengembangkan konsep-konsep dalam belajar tetapi pengembangan ini harus dilakukan secara lebih mendalam pada suatu konsep, harus lebih percaya diri, dan lebih peka terhadap petunjuk. Siswa pada tahap sedang bisa memahami bagaimana siswa seharusnya belajar, seperti siswa dapat menetapkan sebuah strategi dalam belajar. Siswa sudah bisa berorientasi pada masa depan tetapi masih kurang dalam pengalaman dan motivasinya, serta masih adanya keinginan akan keterlibatan orang dewasa dalam proses belajar siswa.

3. Tingkat tinggi 

Pada tingkatan tinggi, siswa mampu melakukan kemandirian dalam belajarnya dengan menetapkan tujuan belajar tanpa bantuan dari pihak manapun. Siswa akan memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk dipakai dalam mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan. Siswa dengan kemandirian pada tahap tinggi mampu bertanggung jawab, memiliki manajemen waktu yang teratur, dan banyak mengumpulkan informasi dari referensi manapun. Siswa dengan kemandirian belajar yang tinggi akan tahu apa yang harus siswa lakukan, bagaimana siswa harus melakukan, dan kapan siswa melakukannya. Kesadaran akan pemenuhan kebutuhan belajar tersebut didasari oleh inisiatif yang dimiliki oleh siswa.

Tahapan Self-Directed Learning 

Menurut Rusman (2014), self-directed learning atau kemandirian dalam belajar ini perlu diberikan kepada peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya serta dapat mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Ciri utama suatu proses pembelajaran mandiri ialah adanya kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk ikut menentukan tujuan, sumber, dan evaluasi belajarnya.

Tugas guru dalam proses belajar mandiri ialah menjadi fasilitator, yaitu menjadi orang yang siap memberikan bantuan kepada peserta didik jika diperlukan. Bentuknya berupa bantuan dalam menentukan tujuan belajar, memilih bahan ajar dan media belajar, serta memecahkan kesulitan yang tidak dapat dipecahkan peserta didik sendiri.

Teman dalam proses Self Directed Learning sangat penting. Jika menghadapi kesulitan, peserta didik sering kali lebih mudah atau lebih berani bertanya kepada teman daripada kepada guru. Teman sangat penting karena dapat menjadi mitra dalam belajar bersama dan berdiskusi. Di samping itu, teman dapat dijadikan alat untuk mengukur kemampuannya. Dengan berdiskusi bersama teman, peserta didik akan mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan temannya.

Menurut Huda (2013), tahapan yang dilakukan dalam proses pembelajaran menggunakan metode self-directed learning adalah sebagai berikut:

a. Planning 

Yang termasuk dalam tahap ini antara lain: menganalisis kebutuhan peserta didik, institusi dan persoalan kurikulum, melakukan analisis terhadap skill atau kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, merancang tujuan pembelajaran yang continum, memilih sumber daya yang tepat untuk pembelajaran, serta membuat rencana mengenai aktivitas pembelajaran harian.

b. Implementing 

Pendidik mempromosikan kemampuan yang dimiliki peserta didik, menerapkan pembelajaran sesuai dengan hasil adopsi rencana dan setting, penyesuaian yang telah dilakukan, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih metode yang sesuai dengan keinginannya.

c. Monitoring 

Pada tahap ini pendidik melakukan mind-tas monitoring atau melakukan pengawasan terhadap pengerjaan tugas yang diberikan, study balance monitoring atau melakukan pengawasan peserta didik selama mengerjakan aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengan tugas utama pembelajaran, serta awareness monitoring atau mengawasi kesadaran dan kepekaan peserta didik selama pembelajaran.

d. Evaluating 

Pendidik membandingkan hasil peserta didik, menyesuaikan dan melakukan penilaian peserta didik dengan tujuan yang telah dirancang sebelumnya, serta meminta pernyataan kepada peserta didik, dengan mengajukan pertanyaan mengenai proses penyelesaian tugas.

Self-directed learning adalah ciri khas belajar orang dewasa, meskipun hasil yang optimal akan tercapai justru kalau sikap belajarnya meniru sikap belajar anak, yaitu belajar dengan gembira dan tanpa beban. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan self-directed learning adalah sebagai berikut: 

  1. Kegiatan belajarnya bersifat self-directed atau mengarahkan diri sendiri, tidak dependent atau bergantung orang lain. 
  2. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses pembelajaran dijawab sendiri atas dasar pengalaman, tidak sepenuhnya mengharapkan jawaban dari guru atau orang lain. 
  3. Orang dewasa mengharapkan immediate application atau penerapan dengan segera dari apa yang dipelajari, mereka tidak dapat menerima delayed application atau penerapan yang tertunda. 
  4. Lebih menyukai collaborative learning, karena belajar dan tukar pengalaman dengan sama-sama orang dewasa menyenangkan, dan dapat sharing responsibility atau berbagi tanggung jawab. 
  5. Perencanaan dan evaluasi belajar lebih baik dilakukan dalam batas tertentu antara peserta didik dengan guru. Belajar harus dengan berbuat, tidak cukup hanya dengan mendengarkan dan menyerap.

Kelebihan dan Kekurangan Self-Directed Learning 

Menurut Huriah (2018), setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing begitu juga dengan self-directed learning. Kelebihan dan kekurangan self-directed learning adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan 

Kelebihan atau keunggulan metode self-directed learning yaitu: 

  1. Siswa bebas untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka sendiri, sesuai dengan kecepatan belajar mereka dan sesuai dengan arah minat dan bakat mereka dalam menggunakan kecerdasan majemuk yang mereka miliki.
  2. Menekankan sumber belajar secara lebih luas baik dari guru maupun sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukasi.
  3. Mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang dimiliki secara menyeluruh. 
  4. Pembelajaran mandiri memberikan siswa kesempatan yang luar biasa untuk mempertajam kesadaran mereka akan lingkungan mereka dan memungkinkan siswa untuk membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka akan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari.
  5. Mahasiswa memiliki kebebasan untuk memilih materi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan. Di samping itu, cara belajar yang dilakukan sendiri juga lebih menyenangkan.

b. Kekurangan 

Kekurangan atau kelemahan metode self-directed learning yaitu: 

  1. Siswa bodoh akan semakin bodoh dan siswa pintar akan semakin pintar karena jarang terjadi interaksi satu sama lainnya. 
  2. Bagi siswa yang malas, maka siswa tersebut untuk mengembangkan kemampuannya atau pengetahuannya. 
  3. Ada beberapa siswa yang membutuhkan saran dari seseorang untuk memilih materi cocok untuknya atau karena siswa yang bersangkutan tidak mengetahui sampai seberapa kemampuannya.

Daftar Pustaka

  • Merriam, Sharan B. 2004. The Changing Landscape of Adult Learning Theory. Mahwah: Lawrence Erlbaum Associates.
  • Knowles, Malcolm S. 1975. Self-directed Learning, A Guide for Learners and Teachers. Chicago: Associates Press Follett Publishing Company.
  • Gibbons, Maurice. 2002. The Self-Directed Learning Handbook: Challenging Adolescent Students to Excel. USA: John Wiley & Sons. 
  • Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Rahmawati, Yeni dan Kurniati, Euis. 2010. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-kanak. Jakarta: Kencana.
  • Holstein, Herman. 1986. Murid Belajar Mandiri. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Huriah, Titih. 2018. Metode Student Center Learning Aplikasi Pada Pendidikan Keperawatan. Jakarta: Prenada Media.

Posting Komentar untuk "Self-Directed Learning (Pengertian, Aspek, Tingkatan dan Langkah-langkah)"