Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Psychological Capital (Pengertian, Aspek, Pengukuran dan Pengembangan)

Apa itu Psychological Capital? 

Psychological Capital (PsyCap) atau modal psikologis adalah suatu bagian dari aspek psikologis positif yang dimiliki oleh individu yang berfungsi untuk meningkatkan motivasi, efikasi diri, optimisme, harapan dan resiliensi yang berorientasi pada keberhasilan dan kesuksesan di tempat kerja. Psychological capital yang dimiliki individu ditandai dengan adanya kepercayaan diri, rasa gembira dan pengharapan yang positif tentang masa depan serta kemampuan untuk menghadapi masalah yang terjadi.

Psychological Capital (Pengertian, Aspek, Pengukuran dan Pengembangan)

Modal psikologis atau psychological capital merupakan pengembangan kondisi psikologis yang positif menekankan pada kepercayaan, harapan, optimisme, dan ketahanan, sehingga memiliki hubungan dengan rasa gembira, mengontrol dan memberi dampak pada lingkungan sesuai keinginan dan kemampuan karyawan atau individu tersebut. Psychological capital tidak hanya dinilai sebagai salah satu faktor yang mendukung individu pada pekerjaan yang ia lakukan, akan tetapi psychological capital juga dapat membantu individu dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

Psychological capital adalah kondisi perkembangan psikologi positif individu yang dicirikan dengan mempunyai keyakinan (self efficacy) untuk berusaha mencapai kesuksesan dalam menghadapi tugas yang menantang; membuat atribusi positif (optimism) tentang keberhasilan saat ini dan masa mendatang; ketekunan menuju sasaran, kemampuan mengarahkan diri mencapai tujuan (hope) menuju kesuksesan; dan ketika dilanda masalah dan kesulitan, tetap bertahan dan kembali ulet bahkan melampaui (resiliency) untuk meraih sukses.

Berikut definisi dan pengertian psychological capital atau modal psikologis dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Luthans, Youssef dan Avolio (2007), psychological capital adalah suatu bagian dari psikologis positif yang dimiliki oleh setiap individu yang berguna untuk membantu individu tersebut untuk dapat berkembang dengan adanya efikasi diri, harapan, optimisme dan resiliensi dalam dirinya. 2. 
  • Menurut Peterson dkk (2011), psychological capital adalah kapasitas dasar dari seorang individu yang penting untuk memberi motivasi diri, proses kognitif, kemauan untuk berjuang serta menunjukkan kinerja yang baik di tempat kerja. 
  • Menurut Bakker dan Demerouti (2008), psychological capital adalah aspek psikologis individu yang memiliki hubungan dengan rasa gembira dan kemampuan memanipulasi, mengontrol dan memberi dampak pada lingkungan sesuai keinginan dan kemampuan karyawan, yang ditandai oleh efikasi diri, optimism, harapan, dan resiliensi. 
  • Menurut Donnely, Gibson dan Ivanceivich (1995), psychological capital adalah sebuah konstruksi individu yang positif dan berorientasi pada keberhasilan di masa depan dengan kemampuan individu tersebut untuk menemukan kesuksesannya.

Aspek-aspek Psychological Capital 

Menurut Luthans dkk (2007), Psychological Capital atau modal psikologis memiliki empat aspek utama yang dikenal dengan akronim HORE, yaitu Hope, Optimism, Resilience, dan Self Efficacy. Adapun penjelasan dari masing-masing aspek tersebut adalah sebagai berikut:

a. Hope (harapan) 

Hope atau harapan adalah kemampuan dalam merencanakan jalan keluar untuk upaya mencapai tujuan walaupun terdapat rintangan, serta menjadikan motivasi sebagai cara dalam mencapai tujuan. Hope atau harapan merupakan sebuah gaya pengaktif yang memungkinkan orang-orang, meski sedang menghadapi banyak sekali hambatan, untuk membayangkan masa depan yang menjanjikan dan untuk mengatur serta mengejar target. Individu yang memiliki harapan yang tinggi cenderung termotivasi dan lebih percaya diri dalam mengambil tugas, memiliki energi dan keinginan yang kuat serta determinasi yang tinggi untuk memenuhi harapannya, dan cenderung memiliki cara alternatif ketika hambatan muncul, sehingga menghasilkan kinerja yang lebih tinggi.

b. Optimism (optimisme) 

Optimisme adalah suatu tendensi atau kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menguntungkan. Optimisme digambarkan sebagai suatu ekspektasi positif ke depan yang terbuka terhadap pengembangan. Individu yang optimis memiliki harapan bahwa hal-hal baik akan terjadi pada dirinya, tidak mudah menyerah dan biasanya cenderung memiliki rencana tindakan dalam kondisi sesulit apapun. Mereka berusaha menggapai harapan dengan pemikiran yang positif, bekerja keras dalam menghadapi stres dan tantangan sehari-hari secara efektif, memiliki impian untuk mencapai tujuan, berjuang sekuat tenaga, tidak ingin duduk berdiam diri menanti keberhasilan yang akan diberikan oleh orang lain, ingin melakukan sendiri segala sesuatunya dan tidak ingin memikirkan ketidak-berhasilan sebelum mencoba, dan berpikir yang terbaik.

c. Resilience (resiliensi) 

Resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas insan yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan atau mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Individu yang memiliki daya resiliensi akan cenderung membuat hidupnya menjadi lebih kuat. Maksudnya yaitu bahwa resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan pada kondisi stres hebat.

d. Self-efficacy (keyakinan diri) 

Self-efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengerahkan motivasi, sumber kognitif, dan metode kerja yang dibutuhkan untuk melaksanakan dengan sukses sebuah tugas tertentu dalam sebuah konteks yang telah diberikan. Individu yang memiliki self-efficacy tinggi, yakin bahwa dirinya mampu menangani secara efektif peristiwa dan situasi yang dihadapi, tekun dalam menyelesaikan tugas, percaya pada kemampuan diri yang dimiliki, memandang kesulitan sebagai tantangan bukan ancaman, suka mencari situasi baru, menetapkan sendiri tujuan yang menantang dan meningkatkan komitmen yang kuat terhadap dirinya.

Pengukuran Psychological Capital 

Modal psikologis atau psychological capital diukur menggunakan kuesioner Psychological Capital Questionare (PCQ) yang dikembangkan oleh Luthans (2007). Psychological Capital Questionare memiliki 24 item yang terdiri dari empat komponen yaitu self efficacy, optimism, hope, dan resiliency. Setiap komponen, yang diwakili oleh 6 item ini, berasal dari alat ukur berbeda yang kemudian diadaptasi menjadi PCQ. Pada PCQ, komponen efikasi diri mengacu pada alat ukur self efficacy milik Parker, komponen harapan berasal dari alat ukur Snyder, komponen optimisme pada PCQ dikembangkan dari alat ukur Scheier dan Carver, dan komponen resiliensi dikembangkan dari alat ukur Wagnild dan Young.

Pengembangan Psychological Capital 

Menurut Luthans (2007), psychological capital atau modal psikologis pada diri seseorang dapat dikembangkan melalui beberapa cara sesuai dengan aspeknya masing-masing, yaitu sebagai berikut:

a. Hope 

Cara mengembangkan aspek hope atau harapan adalah:

  1. Mengatur dan mengklarifikasi target pribadi dan organisasi yang spesifik dan menantang.
  2. Melakukan metode langkah untuk memecahkan target menjadi sub langkah yang dapat diatur sehingga dapat menandai peningkatan dan membuat pengalaman langsung terkait setidaknya kemenangan dan kesuksesan kecil. 
  3. Mengembangkan setidaknya satu alternatif atau jalan kemungkinan untuk target yang telah disusun dengan disertai rencana tindakan. 
  4. Akui kesenangan dalam proses bekerja untuk menggapai target dan jangan hanya berfokus pada pencapaian akhir. 
  5. Bersiap dan bersedialah untuk menekuni rintangan dan permasalahan.
  6. Bersiap dan terampil mengetahui kapan dan jalan alternatif mana yang bisa dipilih ketika rute utama menuju pencapaian target tidak lagi dapat dilakukan atau tidak lagi produktif. 
  7. Bersiap dan pintar dalam mengetahui kapan dan bagaimana menarget kembali untuk menghindari jebakan atau harapan yang salah.

b. Optimism 

Cara mengembangkan aspek optimisme adalah: 

  1. Identifikasi keyakinan menaklukkan diri ketika dihadapkan pada sebuah tantangan. 
  2. Evaluasi keakuratan keyakinan. 
  3. Sekali keyakinan yang tidak berfungsi secara normal tereduksi, ganti dengan keyakinan yang lebih membangun dan akurat yang telah dikembangkan.

c. Resilience 

Cara mengembangkan aspek resiliensi adalah: 

  1. Hindari jebakan pemikiran negatif ketika suatu hal mulai memburuk.
  2. Uji keakuratan keyakinan terhadap permasalahan dan bagaimana mencari solusi jitu. 
  3. Tetapkan ketenangan dan kefokusan ketika emosi dan stres menyerbu.

d. Self-Efficacy 

Cara mengembangkan aspek self-efficacy atau keyakinan diri adalah: 

  1. Pengalaman ahli atau pencapaian performa. Hal ini tentunya sangat potensial untuk mengembangkan kepercayaan diri karena melibatkan informasi langsung terkait sukses. Bagaimanapun, pencapaian tidak secara langsung membangun kepercayaan diri. Proses situasional, seperti tugas yang kompleks dan proses kognitif seperti persepsi terhadap kemampuan seseorang, sama-sama berpengaruh terhadap perkembangan percaya diri.
  2. Pengalaman atas nama orang lain atau memperagakan. Jika seseorang melihat orang lain seperti diri mereka berhasil dengan usaha yang dipertahankan, mereka akan mulai percaya bahwa diri mereka juga memiliki kapasitas untuk berhasil.
  3. Persuasi sosial. Seorang individu yang kompeten dapat membantu mengembangkan kepercayaan diri orang lain dengan mempersuasi atau meyakinkan.
  4. Rangsangan atau motivasi fisik dan psikis. Orang-orang sering kali bergantung pada apa yang mereka rasakan, baik secara fisik maupun psikis, untuk mengukur kapabilitas mereka. Bagaimanapun, kondisi fisik dan mental yang sempurna dapat menyebabkan tumbuhnya kepercayaan diri.

Daftar Pustaka

  • Luthan, F., dkk. 2007. Psychological Capital: Developing the Human Competitive Edge. New York: Oxford University Press.
  • Peterson, S., dkk. 2011. Psychological Capital and Employee Performance: A Latent Growth Modeling Approach. Personnel Psychology Journal.
  • Bakker, A.B., & Evangelia, D. 2008. Towards A Model of Work Engagement. Career Development International, Vol.13, No.3.
  • Gibson, Ivancevich, & Donnelly. 1995. Organisasi. Jakarta: Binarupa Aksara.

Posting Komentar untuk "Psychological Capital (Pengertian, Aspek, Pengukuran dan Pengembangan)"