Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keterlambatan Bicara dan Bahasa (Speech Delay)

Keterlambatan bicara dan bahasa (speech delay) adalah suatu kondisi terhambatnya perkembangan bicara pada anak-anak di bawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak pada umur yang sama tanpa disertai dengan keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Speech delay dapat ditandai pada usia 2 tahun memiliki kecenderungan salah dalam menyebutkan kata, pada usia 3 tahun memiliki perbendaharaan kata yang buruk, dan pada usia 5 tahun kesulitan dalam menamai objek.

Keterlambatan Bicara dan Bahasa (Speech Delay)

Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi suara, kelancaran bicara (gagap), dan afasia (kesulitan dalam menggunakan kata-kata). Keterlambatan dan gangguan bicara bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang tidak normal (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara dan makan.

Keterlambatan bicara dan bahasa (speech delay) adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa berisiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca dan menulis, dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh.

Berikut definisi dan pengertian keterlambatan bicara dan bahasa (speech delay) dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Hurlock (1997), keterlambatan bicara dan bahasa adalah tingkat perkembangan bicara berada di bawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umurnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan kata. 
  • Menurut Papalia (2004), keterlambatan bicara dan bahasa adalah anak yang pada usia 2 tahun memiliki kecenderungan salah dalam menyebutkan kata, kemudian memiliki perbendaharaan kata yang buruk pada usia 3 tahun, atau juga memiliki kesulitan dalam menamai objek pada usia 5 tahun. 
  • Menurut Suparmiati, Ismail, dan Sitaresmi (2013), keterlambatan bicara dan bahasa adalah terhambatnya perkembangan bicara pada anak-anak tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya.

Bentuk-bentuk Keterlambatan Bicara 

Menurut Makum (1991), bentuk-bentuk keterlambatan bicara dan bahasa (speech delay) pada anak antara lain yaitu:

  1. Masalah Artikulasi suara. Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai beberapa huruf dan sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf tersebut sehingga menimbulkan kesan cara bicaranya seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch, volume atau kualitas suara.
  2. Afasia. Afasia merupakan kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain (contohnya kejang). 
  3. Gagap. Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Terdapat pengulangan suara, suku kata, kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir, dan laring. Terdapat kecenderungan adanya riwayat gagap dalam keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak aman, dan kepribadian anak.

Tahapan Perkembangan Bicara dan Bahasa 

Menurut Susanto (2005), perkembangan bicara dan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Adapun penjelasan dari tahapan perkembangan bicara dan bahasa pada anak tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Tahap I (Pralinguistik), yaitu antara 0-1 tahun Tahap ini terdiri dari tahap meraban-1 (pralinguistik pertama) dimulai dari bulan pertama hingga bulan keenam dimana anak akan mulai menangis, tertawa, dan menjerit. Tahap meraban-2 (pralinguistik ke dua) pada dasarnya merupakan tahap kata tanpa makna mulai dari bulan keenam hingga satu tahun. Tahap II (Linguistik); Tahap ini terdiri dari tahap I dan II. 
  2. Tahap 2 Holafrastik (1 tahun), ketika anak-anak mulai menyatakan makna keseluruhan frasa atau kalimat dalam satu kata. Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak hingga kurang lebih 50 kosakata. Tahap-2; frasa (1-2), pada tahap ini anak sudah mampu mengucapkan dua kata (ucapan dua kata). Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak sampai dengan rentang 50-100 kosakata. 
  3. Tahap 3 (pengembangan tata bahasa, yaitu prasekolah 3, 4, 5 tahun). Pada tahap ini anak sudah dapat membuat kalimat, seperti telegram. Dilihat dari aspek pengembangan tata bahasa seperti: SP-O, anak dapat memperjuangkan kata menjadi satu kalimat. Tata bahasa menjelang dewasa, yaitu 6-8 tahun). Tahap ini ditandai dengan kemampuan yang mampu menggabungkan kalimat sederhana menjadi kalimat kompleks.

Menurut Sadock, dkk (2015), tahap-tahap  perkembangan bicara dan bahasa pada anak juga dapat dibagai ke dalam beberapa rentang usia, yang masing-masing menunjukkan ciri-ciri tersendiri. Adapun tahapan perkembangan bicara dan bahasa pada anak pada setiap rentang umur adalah sebagai berikut:

1 Tahun 

  • Mengenali nama sendiri. 
  • Mengikuti perintah sederhana yang disertai bahasa tubuh (misalnya mengucapkan “bye-bye”). 
  • Mencampuradukkan kata-kata dan suara-suara jargon.
  • Menggunakan Bahasa tubuh yang komunikatif (misalnya menunjukkan sesuatu, menunjuk).

2 Tahun 

  • Menggunakan hingga 300 kata. 
  • Menggunakan frase yang terdiri atas dua kata atau lebih.
  • Menggunakan beberapa kata depan (misalnya di dalam, di atas), kata ganti (misalnya kamu, aku), akhiran kata, tetapi tidak selalu dengan benar. 
  • Menikmati bermain dengan mainan yang dapat digunakan untuk bercerita.

3 Tahun 

  1. Menggunakan hingga 1.000 kata. 
  2. Menyusun kalimat yang terdiri dari tiga hingga empat kata, biasanya dengan subjek dan predikat tetapi dengan struktur yang sederhana. 
  3. Mengikuti perintah yang diberikan dalam dua langkah. 
  4. Mengulangi kalimat dengan lima hingga tujuh suku kata. 
  5. Bicara biasanya bisa dipahami oleh anggota keluarga.

4 Tahun 

  • Menggunakan hingga 1.600 kata. 
  • Dapat mengulang kembali cerita dan kejadian-kejadian dari masa lalu yang belum lama terjadi.
  • Memahami sebagian besar pertanyaan tentang lingkungan di sekitarnya. 
  • Menggunakan kata penghubung (misalnya kalau, tetapi, karena). 
  • Bicara biasanya dipahami oleh orang asing.

5 Tahun 

  • Menggunakan hingga 2.300 kata. 
  • Dapat mendiskusikan perasaan. 
  • Memahami sebagian besar kata depan yang berhubungan dengan tempat dan waktu.
  • Mengikuti perintah yang diberikan dalam tiga langkah. 
  • Menulis nama sendiri.

6 Tahun 

  • Mendefinisikan kata-kata berdasarkan fungsi dan hal-hal yang terkait dengannya. 
  • Menggunakan berbagai kalimat kompleks yang terbentuk dengan baik. 
  • Menggunakan semua bagian dari pembicaraan (misalnya kata kerja, kata benda, kata keterangan, kata sifat, kata penghubung, kata depan). 
  • Memahami suara-huruf yang berhubungan dalam bacaan.
  • Membaca buku sederhana untuk kesenangan. 
  • Menikmati teka-teki dan gurauan.

8 Tahun 

  • Dengan segera dapat melakukan verbalisasi ide dan masalah. 
  • Memahami perintah tidak langsung (misalnya “Di sini panas” dipahami sebagai permintaan untuk membuka jendela. 
  • Memproduksi semua suara bunyi dengan cara seperti dewasa.

Faktor Penyebab Keterlambatan Bicara dan Bahasa 

Kemampuan dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik (anak) dan faktor ekstrinsik (psikososial). Faktor intrinsik ialah kondisi pembawaan sejak lahir termasuk fisiologi dari organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu, faktor ekstrinsik dapat berupa stimulus yang ada di sekeliling anak, misalnya perkataan yang didengar atau ditujukan kepada si anak. 

Menurut Leung dkk (1995), beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi keterlambatan bicara dan bahasa pada anak adalah sebagai berikut:

a. Retardasi mental 

Retardasi mental merupakan penyebab paling umum dari keterlambatan bicara, tercatat lebih dari 50% dari kasus. Seorang anak retardasi mental menunjukkan keterlambatan bahasa menyeluruh, keterlambatan pemahaman pendengaran, dan keterlambatan motorik. Secara umum, semakin parah keterbelakangan mental, semakin lambat kemampuan komunikasi bicaranya. Pada 30% - 40% anak-anak dengan retardasi mental, penyebabnya tidak dapat ditentukan. Penyebab retardasi mental di antaranya cacat genetik, infeksi intrauterin, insufisiensi plasenta, obat saat ibu hamil, trauma pada sistem saraf pusat, hipoksia, kernikterus, hipotiroidisme, keracunan, meningitis atau ensefalitis, dan gangguan metabolik.

b. Gangguan pendengaran 

Fungsi pendengaran dalam beberapa tahun pertama kehidupan sangat penting untuk perkembangan bahasa dan bicara. Gangguan pendengaran pada tahap awal perkembangan dapat menyebabkan keterlambatan bicara yang berat. Gangguan pendengaran dapat berupa gangguan konduktif atau gangguan sensorineural. Tuli konduktif umumnya disebabkan oleh otitis media dengan efusi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan pendengaran konduktif yang berhubungan dengan cairan pada telinga tengah selama beberapa tahun pertama kehidupan berisiko mengalami keterlambatan bicara. Gangguan konduktif juga dapat disebabkan oleh kelainan struktur telinga tengah dan atresia dari canalis auditoris eksterna. Gangguan pendengaran sensorineural dapat disebabkan oleh infeksi intrauterin, kernikterus, obat ototosik, meningitis bakteri, hipoksia, perdarahan intrakranial, sindrom tertentu (misalnya, sindrom Pendred, sindrom Waardenburg, sindrom Usher) dan kelainan kromosom (misalnya, sindrom trisomi). Kehilangan pendengaran sensorineural biasanya paling parah dalam frekuensi yang lebih tinggi.

c. Autisme 

Autisme adalah gangguan perkembangan neurologis yang terjadi sebelum anak mencapai usia 36 bulan. Autisme ditandai dengan keterlambatan perkembangan bahasa, penyimpangan kemampuan untuk berinteraksi, perilaku ritualistik, dan kompulsif, serta aktivitas motorik stereotip yang berulang. Berbagai kelainan bicara telah dijelaskan, seperti ekolalia dan pembalikan kata ganti. Anak-anak autis pada umumnya gagal untuk melakukan kontak mata, merespon senyum, menanggapi jika dipeluk, atau menggunakan gerakan untuk berkomunikasi. Autisme tiga sampai empat kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

d. Mutasi selektif 

Mutasi selektif adalah suatu kondisi dimana anak-anak tidak berbicara karena mereka tidak mau. Biasanya, anak-anak dengan mutasi selektif akan berbicara ketika mereka sendiri, dengan teman-teman mereka, dan kadang-kadang dengan orang tua mereka. Namun, mereka tidak berbicara di sekolah, dalam situasi umum, atau dengan orang asing. Kondisi tersebut terjadi lebih sering pada anak perempuan daripada anak laki-laki Secara signifikan anak-anak dengan mutasi selektif juga memiliki defisit artikulatoris atau bahasa. Anak dengan mutasi selektif biasanya memanifestasikan gejala lain dari penyesuaian yang buruk, seperti kurang memiliki teman sebaya atau terlalu bergantung pada orang tua mereka. Umumnya, anak-anak ini negativistik, pemalu, penakut, dan menarik diri. Gangguan tersebut bisa bertahan selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

e. Cerebral palsy 

Keterlambatan bicara umumnya dialami oleh anak dengan cerebral palsy. Keterlambatan bicara terjadi paling sering pada orang-orang dengan tipe athetoid cerebral palsy. Selain itu juga dapat disertai atau dikombinasi oleh faktor-faktor penyebab lain, diantaranya; gangguan pendengaran, kelemahan atau kekakuan otot-otot lidah, disertai keterbelakangan mental atau cacat pada korteks serebral.

f. Kelainan organ bicara 

Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf "t", "n", dan "l". Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti "f", "v", "s", "z", dan "th". Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolalia aperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti "s", "k", dan "g".

Selain itu, menurut Leung dkk (1999), terdapat beberapa faktor eksternal yang menjadi penyebab terjadinya keterlambatan bicara dan bahasa pada anak, antara lain yaitu: 

  1. Lingkungan yang sepi. Bicara adalah bagian tingkah laku, jadi keterampilannya melalui meniru. Bila stimulasi bicara sejak awal kurang (tidak ada yang ditiru) maka akan menghambat kemampuan bicara dan bahasa pada anak. 
  2. Anak kembar. Pada anak kembar didapatkan perkembangan bahasa yang lebih buruk dan lama dibandingkan dengan anak tunggal. Mereka satu sama lain saling memberikan lingkungan bicara yang buruk karena biasanya mempunyai perilaku yang saling meniru. Hal ini menyebabkan mereka saling meniru pada keadaan kemampuan bicara yang sama–sama belum bagus. 
  3. Bilingualisme. Pemakaian dua bahasa dapat menyebabkan keterlambatan bicara, namun keadaan ini bersifat sementara. Smith meneliti pada kelompok anak dengan lingkungan bilingualisme tampak mempunyai perbendaharaan yang kurang dibandingkan anak dengan satu bahasa, kecuali pada anak dengan kecerdasan yang tinggi. 
  4. Teknik pengajaran yang salah. Cara dan komunikasi yang salah pada anak sering menyebabkan keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak sebab perkembangan mereka terjadi karena proses meniru dan pembelajaran dari lingkungan. 
  5. Pola menonton. Menonton baik itu televisi ataupun smartphone pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat menonton, anak akan lebih berperan sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu, yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi, maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

Daftar Pustaka

  • Hurlock, E.B. 1997. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
  • Papalia, D.E. dan Olds, S.W. 2004. Human Development. New York: McGraw-Hill.
  • Suparmiati, A.,  Ismail, D., dan Sitaresmi, M.N. 2013. Hubungan Ibu Bekerja dengan Keterlambatan Bicara pada Anak. Sari Pediatri, Vol. 14, No. 5.
  • Makum, A.H. 1991. Gangguan Perkembangan Berbahasa, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI. 
  • Leung, dkk. 1995. Mental Retardation. J.R. Soc Health. 
  • Leung, dkk. 1999. Evaluation And Management of the Child With Speech Delay. Am Fam Phys.