Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Strategi Membaca KWL (Know Want to know Learned)

Metode membaca KWL (Know Want to know Learned) adalah singkatan dari K (Know) apa yang telah diketahui (sebelum membaca), W (Want) apa yang hendak diketahui (sebelum membaca), dan L (Learned) apa yang telah diketahui (setelah membaca). Strategi membaca KWL mengarahkan siswa menjadi aktif pada saat sebelum membaca, saat membaca dan sesudah membaca (Suryosubroto, 1997).

Strategi Membaca KWL (Know Want to know Learned)

Strategi membaca KWL pertama kali dikenalkan oleh Donna Ogle pada tahun 1986. Metode ini adalah suatu teknik membaca kritis, dimana pembaca mengingat dulu apa yang telah diketahui atau menentukan apa yang ingin diketahui sebelum membaca, kemudian apa yang telah diperoleh dari pembacaan yang baru dilakukan. Metode ini akan membiasakan pelajar mengaitkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan apa yang dibaca dan menentukan apa yang telah diperoleh dari pembacaannya.

Metode membaca KWL membantu siswa untuk memikirkan informasi baru yang diterima. Metode ini juga bisa memperkuat kemampuan siswa mengembangkan berbagai pertanyaan tentang berbagai topik. Siswa juga bisa menilai hasil belajar siswa mereka sendiri. Selain itu strategi KWL juga mampu menarik siswa sehingga termotivasi, mudah didapat, murah, dan tidak sulit untuk dipergunakan, tidak bersifat abstack, serta mampu membangkitkan minat siswa.

Prinsip Dasar Pemahaman Membaca 

Menurut Rahim (2008), terdapat beberapa prinsip dasar yang harus diketahui dalam pemahaman bacaan, yaitu sebagai berikut: 

  1. Pemahaman merupakan konstruktivisme sosial. Dalam membaca, konsep ini direfleksikan pada perkembangan belajar yang didasarkan skema, yang meyakini bahwa belajar terjadi apabila informasi baru diintegrasikan dengan apa yang diketahui. Konstruktivisme dimanifestasikan dalam kelas yang dicirikan oleh siswa yang bisa membangkitkan gagasan-gagasan, pemilihan sendiri, kreativitas, interaksi, berpikir kritis, dan konstruksi makna pribadi. 
  2. Guru membaca yang profesional mempengaruhi belajar siswa. Peranan guru dalam proses membaca antara lain menciptakan pengalaman yang memperkenalkan, memelihara, atau memperluas kemampuan siswa untuk memahami teks. Guru yang profesional memahami bahwa membaca adalah proses sosial konstruktivisme yang paling berfungsi dalam situasi nyata.
  3. Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif dalam proses membaca. Pembaca yang baik ialah pembaca yang berpartisipasi aktif dalam proses membaca. Pembaca mempunyai tujuan yang jelas serta memonitor tujuan membaca mereka dari teks yang mereka baca. Pembaca yang baik menggunakan strategi pemahaman untuk mempermudah membangun makna. Strategi ini mencakup tinjauan, membuat pertanyaan sendiri, membuat hubungan, memvisualisasikan, mengetahui bagaimana kata-kata membentuk makna, memonitor, meringkas, dan mengevaluasi. 
  4. Membaca hendaknya terjadi dalam konteks yang bermakna. Siswa perlu setiap hari mengakrabi teks dalam berbagai tingkat kesukaran. Ketika tingkat teks yang sedang digunakan, maka guru membantu siswa meningkatkan pengalaman belajar dan siswa menerima berbagai tingkat dukungan, tergantung pada tujuan dan setting pengajaran.

Langkah-langkah Strategi Membaca KWL 

Metode KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan suatu peran aktif, siswa sebelum, sesaat, dan sesudah membaca. Menurut Rahim (2008), teknik yang digunakan dalam strategi membaca KWL dilakukan melalui langkah-langkah atau tahapan sebagai berikut:

a. Langkah Know (What I Wont Know: Apa yang ingin saya ketahui) 

Langkah ini merupakan langkah K (Know) yaitu apa yang saya ketahui. Langkah ini merupakan sarana sumbangan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya tentang topik. Kemudian membangkitkan kategori informasi yang dialami dalam membaca ketika sumbangan saran terjadi dalam diskusi kelas. Guru mulai mengajukan pertanyaan seperti "apa yang kamu ketahui tentang?" kemudian guru menuliskan tanggapan siswa di depan papan tulis. Setelah itu, dilanjutkan diskusi dengan mengajukan pertanyaan berikutnya "dimana Kamu pelajari tentang itu?" atau "bagaimana kamu mengetahinya?" ketika siswa menggunakan diskusi di dalam kelas dan berpartisipasinya, siswa mencatatkan informasi yang telah mereka ketahui tentang topik yang sedang dibicarakan. Setelah sumbang saran guru bertanya tentang informasi yang disajikan. Dalam kegiatan ini, guru perlu mencontohkan proses membaca kepada siswa dengan menyajikan beberapa contoh.

b. Langkah Want (What I Want to Learn: Apa yang ingin saya pelajari) 

Dalam langkah kedua, yaitu What I want to learn (W), guru menuntun siswa menyusun tujuan khusus membaca suatu topik. Dari minat, rasa ingin tahu, dan ketidakjelasan, yang ditimbulkan selama langkah pertama, guru memformulasikan kembali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Pertanyaan yang sudah diformulasikan dituliskan guru di papan tulis. Kemudian guru berusaha memancing pertanyaan-pertanyaan siswa dengan menunjuk pertentangan informasi dan khususnya menimbulkan gagasan-gagasan. Siswa didorong menulis pertanyaan mereka sendiri atau memilih satu pertanyaan yang tersedia di papan tulis. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian disajikan sebagai tujuan membaca suatu topik yang akan dipelajari.

c. Langkah Learned (What I Have Learned: apa yang telah saya pelajari) 

Langkah What I have Learned (L), adalah langkah yang terjadi setelah membaca suatu topik. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut untuk menentukan, memperluas, dan menemukan seperangkat tujuan membaca. Setelah itu siswa mencatat informasi yang telah mereka pelajari, mengidentifikasikan pertanyaan yang belum terjawab. Dalam kegiatan ini guru membantu siswa mengembangkan perencanaan untuk menginvestigasi pertanyaan-pertanyaan yang tersisa. Dengan cara ini, guru memberikan penekanan pada tujuan membaca untuk memenuhi rasa ingin tahu pribadi siswa, tidak hanya sekadar yang disajikan dalam teks.

Kelebihan dan Kekurangan Strategi Membaca KWL 

Penerapan Strategi KWL (Know Want to Know Learned) dapat merangsang semangat siswa dalam belajar, karena tiap siswa memiliki kesempatan untuk membaca atau membahas pelajaran secara langsung. Kemudian siswa terlatih untuk berani memberikan suaranya dalam belajar, dengan demikian siswa tidak akan merasa kaku mengikuti pelajaran, dengan adanya suasana belajar yang demikian siswa akan merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran.

Adapun kelebihan atau keunggulan dari strategi membaca menggunakan metode KWL adalah: 

  1. Dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa. 
  2. Merangsang siswa untuk lebih bergairah dalam belajar membaca puisi. 
  3. Memberikan peluang bagi siswa untuk lebih berani mengemukakan tanggapan dan saran dalam belajar.
  4. Meningkatkan motivasi belajar siswa.

Sedangkan kekurangan atau kelemahan dalam penerapan strategi KWL hanya menguntungkan bagi siswa yang memang telah memiliki mental dan keberanian untuk mengemukakan pendapat dalam belajar sedangkan siswa yang tidak memiliki itu justru merasa minder karena tersaingi oleh anak yang lebih pintar.

Daftar Pustaka

  • Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.