Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebahagiaan (Happiness) - Pengertian, Aspek, Ciri dan Faktor yang Mempengaruhi

Kebahagiaan (happiness) adalah suatu perasaan menyenangkan yang ditunjukkan dengan kenikmatan, kepuasan, kenyamanan, kegembiraan atau emosi positif yang membuat kehidupan menjadi baik dalam kesejahteraan, keamanan atau pemenuhan keinginan. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan.

Kebahagiaan (Happiness) - Pengertian, Aspek, Ciri dan Faktor yang Mempengaruhi

Kebahagiaan merupakan perasaan positif yang dapat membuat pengalaman menyenangkan berupa perasaan senang, damai, termasuk juga di dalamnya kesejahteraan, kedamaian pikiran, kepuasan hidup serta tidak adanya perasaan tertekan ataupun menderita. Beberapa tanda yang ditemukan pada orang yang memiliki kebahagiaan dalam hidupnya yaitu orang yang menghargai dirinya sendiri, optimis, terbuka, dan mampu mengendalikan diri.

Berikut definisi dan pengertian kebahagiaan atau happiness dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Rahmad (2009), kebahagiaan adalah suatu perasaan yang menyenangkan serta penilaian seseorang akan kehidupan yang dijalaninya. 
  • Menurut Seligman (2005), kebahagiaan adalah suatu hasil penilaian terhadap diri dan hidup, yang memuat emosi positif, seperti kenyamanan dan kegembiraan yang meluap-luap, maupun aktivitas positif yang tidak memenuhi komponen emosi apapun, seperti absorbsi dan keterlibatan.
  • Menurut Biswas, Diener dan Dean (2007), kebahagiaan adalah kualitas dari keseluruhan hidup manusia apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi, pendapatan yang lebih tinggi dan tempat kerja yang baik.
  • Menurut Indriana (2012), kebahagiaan adalah istilah umum yang menunjukkan kenikmatan atau kepuasan yang menyenangkan dalam kesejahteraan, keamanan, atau pemenuhan keinginan. Kebahagiaan adalah pencapaian cita-cita dan keberhasilan dalam apa yang diinginkan.

Aspek-Aspek Kebahagiaan 

Menurut Seligman (2005), terdapat lima aspek utama kebahagiaan, yaitu sebagai berikut:

a. Terjalinnya hubungan positif dengan orang lain 

Hubungan positif bukan sekedar memiliki teman, pasangan, ataupun anak, tetapi dengan menjalin hubungan yang positif dengan individu yang ada di sekitar. Hubungan positif akan tercipta bila adanya dukungan sosial yang membuat individu mampu mengembangkan harga diri, meminimalkan masalah-masalah psikologis, kemampuan pemecahan masalah yang adaptif, dan membuat individu menjadi sehat secara fisik.

b. Keterlibatan penuh 

Keterlibatan penuh bukan hanya pada karier, tetapi juga dalam aktivitas lain seperti hobi dan aktivitas bersama keluarga. Melibatkan diri secara penuh, bukan hanya fisik yang beraktivitas, tetapi hati dan pikiran juga turut serta dalam aktivitas tersebut.

c. Penemuan makna dalam keseharian 

Dalam keterlibatan penuh dan hubungan positif dengan orang lain tersirat satu cara lain untuk dapat bahagia, yakni menemukan makna dalam apapun yang dilakukan. Individu yang bahagia akan menemukan makna di setiap apapun yang dilakukannya.

d. Optimisme yang realistis 

Individu yang optimis mengenai masa depan merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Individu yang mengevaluasi dirinya dengan cara yang positif, akan memiliki kontrol yang baik terhadap hidupnya, sehingga memiliki impian dan harapan yang positif tentang masa depan. Hal ini akan tercipta bila sikap optimis yang dimiliki individu bersifat realistis.

e. Resiliensi 

Orang yang berbahagia bukan berarti tidak pernah mengalami penderitaan. Kebahagiaan tidak bergantung pada seberapa banyak peristiwa menyenangkan yang dialami, melainkan sejauh mana seseorang memiliki resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit dari peristiwa yang tidak menyenangkan sekalipun.

Masih menurut Seligman (2005), kebahagiaan juga dapat diidentifikasikan secara objektif ke dalam pemenuhan beberapa hal, yaitu sebagai berikut: 

  1. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis (material), misalnya makan, minum, pakaian, kendaraan, rumah, kehidupan seksual, kesehatan fisik, dan sebagainya. 
  2. Terpenuhinya kebutuhan psikologis (emosional), misalnya, adanya perasaan tenteram, damai, nyaman, dan aman, serta tidak menderita konflik batin, depresi, kecemasan, frustrasi, dan sebagainya. 
  3. Terpenuhinya kebutuhan sosial, misalnya memiliki hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya, terutama keluarga, saling menghormati, mencintai, dan menghargai. 
  4. Terpenuhinya kebutuhan spiritual, misalnya mampu melihat seluruh episode kehidupan dari perspektif makna hidup yang lebih luas, beribadah, dan memiliki keimanan kepada Tuhan.

Ciri-ciri Orang yang Bahagia 

Menurut Myers (2002), kebahagiaan pada diri individu dapat ditandai dengan beberapa karakteristik atau ciri-ciri, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Menghargai diri sendiri 

Orang yang bahagia cenderung menyukai dirinya sendiri. Mereka cenderung setuju dengan pernyataan seperti “Saya adalah orang yang menyenangkan”. Umumnya orang yang bahagia adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk menyetujui pernyataan seperti di atas.

b. Optimis 

Individu yang bahagia akan menunjukkan optimisme yang tinggi. Individu biasanya telah memprediksi dan membayangkan masa depan secara lebih optimis dan yakin akan berhasil. Hal ini membuat individu lebih sukses, sehat dan lebih bahagia di kemudian hari.

c. Terbuka 

Individu yang bahagia biasanya lebih terbuka terhadap orang lain serta membantu orang lain yang membutuhkan bantuannya. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang tergolong sebagai orang ekstrover akan mudah bersosialisasi dengan orang lain sehingga memiliki kebahagiaan yang lebih besar.

d. Mampu mengendalikan diri 

Orang yang bahagia pada umumnya merasa memiliki kontrol pada hidupnya. Mereka merasa memiliki kekuatan atau kelebihan sehingga biasanya mereka berhasil lebih baik di sekolah atau pekerjaan. Dengan demikian orang yang mampu mengendalikan diri akan merasa lebih bahagia.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebahagiaan 

Terdapat beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi kebahagiaan pada seseorang, yaitu sebagai berikut:

a. Uang dan kesuksesan 

Korelasi antara mempunyai uang dan merasakan kebahagiaan pada dasarnya lemah. Uang menjadi penting ketika individu tidak memilikinya. Penilaian seseorang terhadap uang akan memengaruhi kebahagiaan seseorang tersebut, lebih daripada uang itu sendiri. Kesuksesan tidak dengan sendirinya membawa kebahagiaan. Kegagalan jamaknya mengakibatkan ketidak-bahagiaan. Baik kesuksesan maupun kegagalan mengandung muatan subjektif yang signifikan.

b. Kepribadian 

Dalam budaya barat individu yang memiliki tipe kepribadian ekstrover lebih bahagia daripada individu tipe neurotisisme. Individu ekstrover memiliki kecocokan dengan lingkungan sosial sehingga sering terlibat dalam interaksi sosial. Individu yang memiliki tipe kepribadian ekstrover memiliki suasana hati yang positif dalam bersosialisasi.

c. Kehidupan sosial dan persahabatan 

Orang yang bahagia dalam kehidupannya menjalani kehidupan sosial yang kaya dan memuaskan. Dalam kehidupannya seorang individu yang bahagia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersosialisasi daripada sendirian. Hubungan dengan teman berkorelasi dengan kebahagiaan. Kehidupan sosial dimanfaatkan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sehingga menjadi orang luar biasa dalam membangun dan memelihara persahabatan. Orang-orang yang bahagia lebih sering dipilih sebagai teman dan kepercayaan.

d. Cinta dan perkawinan 

Perkawinan merupakan faktor kunci dalam mengenyam kebahagiaan. Perkawinan adalah sesuatu yang baik. Sebagaimana hal-hal baik lainnya. Agar membuahkan hasil-hasil yang bagus, termasuk kebahagiaan dan kepuasan, perkawinan harus dipandang sebagai penyatuan spiritual dari dua mitra sejajar yang saling setia dan menanggung beban masing-masing.

e. Kesehatan 

Kesehatan berhubungan dengan kebahagiaan. Emosi positif memungkinkan individu untuk meningkatkan toleransi. Emosi positif yang dikembangkan dan persepsi yang baik mengenai kesehatan, akan meningkatkan kebahagiaan. Hal ini berdampak pada sistem kekebalan tubuh individu, karena individu yang bahagia akan bekerja lebih efektif daripada orang yang tidak berbahagia.

f. Dukungan sosial 

Ada hubungan antara dukungan sosial dengan kebahagiaan. Hubungan antara anggota keluarga lainnya saling memberikan dukungan sosial untuk semua anggota keluarga. Dukungan sosial ini tidak hanya membawa kebahagiaan tetapi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

g. Agama dan spiritualitas 

Ada hubungan antara kebahagiaan dengan religius. Orang yang terlibat dalam agama lebih bahagia daripada yang tidak terlibat dalam agama. Agama memberikan sistem kepercayaan yang memungkinkan orang untuk menemukan makna hidup dan berharap untuk masa depan sehingga lebih bersikap optimis tentang kehidupan. Individu yang terlibat dalam agama sering terkait dengan gaya hidup sehat secara fisik dan psikologis. Dengan demikian individu yang memiliki religius yang tinggi, akan lebih berbahagia.

h. Kepuasan kerja 

Perasaan puas dengan pekerjaan sendiri dan perasaan berfaedah berkorelasi erat dengan kebahagiaan. Sebaliknya, pengangguran membawa dampak yang merusak kesejahteraan subjektif. Pekerjaan menjadi bukan hanya alat untuk mendapatkan uang, tetapi juga isyarat bahwa seseorang dihargai dan dibutuhkan oleh orang lain, dan juga meyakinkan bahwa dirinya melakukan sesuatu yang berfaedah. Pengangguran bukan sekedar tiadanya penghasilan, melainkan juga rasa ditolak dan tidak berguna.