Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keintiman (Intimacy) - Pengertian, Aspek, Jenis dan Faktor yang Mempengaruhi

Keintiman (intimacy) adalah suatu kedekatan inter-personal yang ditandai dengan sikap keterbukaan dalam pengungkapan diri (self-disclosure), saling berbagi pikiran dan perasaan, menghargai satu sama lain, dan komitmen dalam menjaga hubungan atau kesetiaan sehingga akan menghasilkan suatu keterkaitan, kehangatan dan kepercayaan.

Keintiman (Intimacy) - Pengertian, Aspek, Jenis dan Faktor yang Mempengaruhi

Istilah intimacy berasal dari bahasa Latin, yaitu intimus yang artinya paling dalam. Sehingga intimacy dapat diartikan sebagai sebuah proses berbagi di antara dua orang yang sudah saling memahami sebebas mungkin dalam pemikiran, perasaan dan tindakan.

Intimacy merupakan kedekatan personal terhadap orang lain, dimana orang lain tersebut saling membagi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Intimacy bukan sebatas ketertarikan secara seksual yang pada akhirnya merupakan hubungan intim (coitus intercourse), namun intimacy merupakan kedekatan psikologis, emosional dan perasaan diantara dua manusia.

Berikut definisi dan pengertian keintiman (intimacy) dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Sternberg (2006), intimacy adalah elemen emosional dalam suatu hubungan yang melibatkan pengungkapan diri (self-disclosure), yang akan menghasilkan suatu keterkaitan, kehangatan, dan kepercayaan. 
  • Menurut Roscoe, Kennedy, dan Pope (2006), intimacy adalah perkembangan sikap keterbukaan, saling berbagi, kepercayaan, menghargai satu sama lain, afeksi dan kesetiaan, sehingga sebuah hubungan dapat dicirikan sebagai sebuah hubungan yang dekat, berlangsung lama, dan melibatkan cinta dan komitmen. 
  • Menurut Chaplin (2000), intimacy adalah kedekatan inter-personal yang melibatkan dua orang, baik kedekatan secara fisik ataupun kedekatan secara psikologis.
  • Menurut Alwisol (2005), intimacy adalah kemampuan untuk berbagi perasaan saling percaya dan melibatkan pengorbanan, kompromi, serta komitmen dalam hubungan yang sederajat, kekuatan dasar dari dewasa awal membuat orang produktif. 
  • Menurut Yesilaen (2011), intimacy adalah kedekatan dengan orang lain, yang ditandai dengan adanya saling berbagi pemikiran dan perasaan yang terdalam, atau suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan orang lain.

Aspek-aspek Keintiman 

Menurut Masters (1992), intimacy atau keintiman terdiri dari beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Memahami (Caring) 

Memahami (caring) adalah bentuk sikap atau perasaan yang dimiliki terhadap orang lain, yang secara umum dihubungkan dengan kuatnya perasaan positif terhadap orang tersebut.

b. Berbagi (Sharing) 

Berbagi (sharing) pemikiran, perasaan dan pengalaman mengiring pertumbuhan intimaci dalam hubungan yang muncul melalui kebersamaan untuk saling mempelajari satu sama lain tanpa ada batasan misalnya menutupi rahasia pribadi. Salah satu kunci dalam mengembangkan sebuah intimacy adalah adanya self-disclosure, keinginan untuk memberitahu pasangan mengenai apa yang dipikirkan dan dirasakan. Berbagi perasaan khawatir, ketidak-pastian dan masalah pribadi yang lain juga akan mempengaruhi berkembangnya intimacy dalam sebuah hubungan.

c. Kepercayaan 

Proses self-disclosure tidak terjadi dalam sebuah ruangan yang hampa, tetapi tergantung pada tingkatan sejauh mana kepercayaan pada orang yang dipilih untuk melakukan self-disclosure. Kepercayaan merupakan bagian dari intimacy, dan sama seperti komponen memahami dan berbagi, kepercayaan juga berkembang seiring dengan waktu. Saat orang-orang berusaha membentuk hubungan yang intim, usaha tersebut akan dimulai dengan menaruh kepercayaan kepada orang lain. Pada saat kepercayaan tumbuh semakin kuat, dua orang yang saling percaya tersebut dapat lebih berbagi dalam hal informasi, perasaan, pemikiran tanpa ada rasa takut bahwa keterbukaan yang mereka lakukan akan digunakan untuk menyerang mereka.

d. Komitmen 

Komponen intimacy yang lainnya adalah komitmen sebagai lanjutan dari adanya saling dan percaya terhadap pasangan yang dimulai di awal hubungan. Komitmen melibatkan ke dua pribadi yang menjadi pasangan untuk berkeinginan mempertahankan intimacy yang sudah terbentuk dalam hal apapun.

e. Kejujuran 

Kejujuran adalah hal yang penting dalam intimacy, meskipun untuk sepenuhnya jujur tidak terlalu baik dalam sebuah hubungan. Terlalu jujur dapat menghancurkan hubungan jika tidak memahami bagaimana isi pesan yang disampaikan. Terdapat perbedaan dalam memutuskan menjaga sesuatu hal yang sifatnya sangat pribadi dengan kebohongan yang bersifat pribadi, kebohongan yang muncul dalam sebuah hubungan merupakan sesuatu peringatan bahwa ada manipulasi yang dilakukan salah satu pasangan dalam hal hubungan tersebut.

f. Empati 

Empati merupakan kemampuan untuk merasakan pengalaman yang dialami oleh pasangan, mengenali dan mengalami emosi pasangan, pikiran dan sikap pasangan tanpa harus membicarakannya.

g. Kelembutan 

Salah satu hal yang paling sering ditolak dalam sebuah intimacy adalah kelembutan hati yang bisa dicapai melalui pembicaraan atau dengan bahasa tubuh, contohnya memeluk, menggenggam tangan. Komponen intimacy sering menjadi hal yang sulit bagi seorang pria, karena pria yang dipandang sosial sebagai yang berpikir rasional, berorientasi pada tindakan, sehingga pria merasa tidak menjadi seorang pria saat melakukan komponen ini. Beberapa pria akan mampu memberikan kelembutan secara fisik, tetapi merasa kurang nyaman dalam menyampaikan kalimat-kalimat yang lembut terhadap pasangan.

Jenis-jenis Keintiman 

Menurut Santrock (2002), keintiman atau intimacy terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut: 

  1. Intimate style. Individu membentuk dan mempertahankan satu atau lebih hubungan yang mendalam dan cinta yang bertahan lama serta memiliki komitmen. Mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan, berbagi masalah dengan pasangan dan mampu mengekspresikan rasa marah dan kasih sayang kepada pasangannya. Terbuka terhadap perasaan-perasaan dan masalah yang ada dengan baik. Mempunyai komitmen yang kuat dengan pasangan dan berusaha untuk mengatasi permasalahan dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang tepat.
  2. Preintimate style. Individu menunjukkan keambiguan sebuah komitmen sebagai tanda cinta yang ada tanpa rasa kewajiban atau bertahan lama. Individu ini memiliki kesadaran diri yang baik dan benar-benar tertarik pada orang lain. 
  3. Stereotype sytle. Hubungan yang dangkal, didominasi oleh persahabatan dengan rekan sebaya dan memiliki sifat konvensional. Penekanan dalam hubungan berdasarkan apa yang mereka dapatkan dari orang lain daripada menguntungkan satu sama lain. 
  4. Pseudointimate style. Seseorang mempertahankan kedekatan seksual yang menetap dengan sedikit atau tanpa adanya kedekatan terhadap pasangan. Individu ini menjalani hubungan yang cenderung dangkal, hanya bersedia untuk menceritakan hal-hal yang baik. 
  5. Isolated style. Individu menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak memiliki kedekatan dengan individu lain. Individu ini cenderung menghindar dan tidak memiliki keahlian sosial, menolak beberapa kebutuhan atau keinginan untuk dekat dengan orang lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keintiman 

Menurut Atwater (1983), faktor-faktor yang mempengaruhi keintiman hubungan antara individu adalah sebagai berikut: 

  1. Saling terbuka. Saling berbagi pikiran dan perasaan yang dalam, serta rasa saling percaya diperlukan untuk membina dan mempertahankan intimacy. 
  2. Kecocokan pribadi. Adanya kesamaan atau kesamaan latar belakang, kebudayaan, pendidikan dan persamaan lain yang membuat pasangan memiliki kecocokan. Meskipun begitu, beberapa perbedaan pasti muncul di dalam suatu hubungan, maka yang terpenting adalah bagaimana mengatasinya. Dengan demikian, bukan tidak mungkin dengan adanya perbedaan individu tidak dapat melengkapi satu sama lain. 
  3. Penyesuaian diri dengan pasangan. Berusaha mengerti pandangan pasangan, memahami sikap dan perasaan pasangan. Dalam hal ini di tekankan pentingnya berkomunikasi secara efektif, yaitu kemampuan untuk mendengarkan secara efektif dan memberikan respon dengan cara tidak mengadili. Hal ini akan menciptakan rasa saling percaya pada pasangan.